
Setelah semalaman tidur dalam satu ruang yang sama, dengan Dave di lantai dan Kimmy di ranjang, Lena membukakan pintu bagi keduanya.
"Turun yuk kita sarapan sama-sama."
Ujar Lena dengan wajah sedih.
"Mama kenapa?"
Tanya Kimmy.
"Sedih kalian gak pernah akur. Udah yuk, kita makan."
Jawab Lena.
"Iya, iya nih kita akur."
Kimmy menarik pergelangan tangan Dave yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Ketiganya turun bersamaan. Dave memimpin doa makan pagi ini. Lena terus mengusap air matanya yang terjatuh saat mereka berdoa.
"Mama mau suapin kamu ya Dave. Kan kamu belum sembuh benar."
Minta Lena menawarkan diri.
Dave hanya mengangguk seolah dua orang tersebut menyembunyikan sesuatu dari Kimmy.
"Kim, nanti kamu berangkat sendiri ya."
Ucap Dave dan Kimmy mengiyakan tanpa banyak bicara.
Kimmy berangkat menumpangi sebuah transportasi online. Didalam perjalanan, terlintas wajah Dave yang babak belur karena melindunginya. Ia baru mengingat setiap inchi kejadian, ketika dirinya datang Dave belum separah itu. Pria itu mengalami luka yang banyak justru setelah melawan Hendrik saat menghina dirinya.
Namun bukannya sebuah ucapan terimakasih yang diterima Dave, Kimmy lebih sering menganggapnya biang onar. Terlebih lagi kesalahan mengenai gigitan vampir, bukan dirinya meminta maaf malah melimpahkan kesalahan pada Dave.
"Bang, bang puter balik ada yang ketinggalan."
Kimmy menginstruksikan agar supir berbalik ke rumah Lena.
Ia tahu sikapnya salah pada Dave. Maka dari itu, ia akan mulai berteman dan memperbaiki sikapnya yang buruk. Sesaat sampai di depan teras rumah Lena, Dave sedang memasukkan koper di bantu James ke dalam mobilnya.
"Dave mau kemana?"
Tanya Kimmy bingung.
"Loh kok kamu pulang lagi? Ada yang ketinggalan?"
Tanya Lena. Kimmy mengangguk.
"Mau kemana? "
Kimmy menabrak kasar tubuh Dave.
"Dave mau melanjutkan pelatihannya, Kim. Tanggung dua tahun lagi. Kemarin pas dia minta, om langsung usahain walaupun dengan jaminan kedudukan om sekarang."
Jawab James.
"Kok mendadak?"
Tanya Kimmy.
"Ini keputusan dari kemarin, pas mama baru keluar pintu rumah untuk pamit belanja. Om James telepon mama ngabarin Dave minta dijemput untuk lanjutin pelatihannya."
Ujar Lena.
Berarti sebelum kejadian memalukan kemarin. Ada apa sama Dave buat keputusan mendadak begini? Apa karena omongan gue tentang kedekatan kita mengundang bahaya. Oh mulut . .kenapa kejam banget kalau ngomong!
Kimmy menyesali perkataannya.
"Kamu kenapa balik lagi?"
Tanya Lena.
"Mau ngomong sama Dave. Tapi ya udahlah. Lain kali aja."
Jawab Kimmy kecewa.
"Dave masih ada sisa waktu lima belas menit. Sebelum temui Maminya."
James melirik arloji di tangannya.
Dave mempersilahkan Kimmy masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.
"Dave, em itu, gue mau minta maaf udah kasar selama ini."
Ucap Kimmy menunduk.
"Cuma mau ngomong itu? Hahaha, gak kok. Kamu gak salah. Kamu benar menempatkan kemarahan ke aku."
Jawab Dave sambil mengelus kepala Kimmy.
"Kamu mau pergi lagi? "
Tanya Kimmy tak berani menatap.
"Iya, aku titip mama Lena ya."
Pesan Dave.
"Kamu gak mau nepatin janji sama Ali?"
"Yang mana?"
Dave kembali bertanya.
"Kita akan saling menjaga."
Jawab Kimmy, dunia Dave berputar di kepala.
Rasanya ia ingin terbang ketika wanita itu sedikit membuka celah baginya. Namun apa daya, ia sudah menyetujui kembali menuntut ilmunya.
Dave menarik Kimmy ke lantai atas menuju kamar Ali. Ia membuka lemari, mengambil sebuah kotak dan mengeluarkannya.
"Saat terakhir Ali, ada benda ini di genggamannya. Terus dia bilang untuk aku sematkan di lehermu. Aku pikir setelah beberapa saat kita lewatin setelah kepergian Ali. Rasanya gak mungkin memakaikan ini ke lehermu. Makanya aku simpen di lemari ini supaya kamu temui sendiri."
Dave mengangkat sebuah kalung yang akan Ali berikan pada Kimmy di pesta pernikahan mereka.
Kimmy membalik tubuhnya membelakangi Dave dan ia mengangkat rambutnya tinggi. Agar Dave leluasa memakaikan kalung tersebut.
"Kamu yakin?"
Tanya Dave tak percaya.
"Ya."
Jawab Kimmy singkat.
Dave dengan lembut menautkan ke dua pengait tersebut di leher Kimmy. Setelahnya, Dave membalik tubuh Kimmy dan mendekatkan wajah mereka dan kemudian menyatukannya. Dalam dan lembut. Kimmy terpejam menikmati setiap sentuhan Dave.
Aku gak mau menyesal dua kali. Kehilangan dua orang yang aku sayang. Kimmy.
Al, Apa lu terlalu dekat sama Tuhan sampai dengan cepat hati perempuan ini berubah drastis? Padahal tadi pagi masih nyebelin. Dave
"Dave, Dave.."
James memanggil dari bawah.
"Aku tetap harus pergi. Selama aku gak ada, pergunakan waktu ini untuk menata hatimu kembali. Aku takut cuma jadi bayangan Ali. Apapun nanti yang terjadi sama kamu di dua tahun ke depan. Aku siap menerimanya. Entah kamu tetap mencintai Ali atau mencintai laki-laki lain atau kalau boleh aku berharap laki-laki itu, aku."
Ucap Dave tersenyum penuh harap.
"Laki-laki lain yang mungkin aku cinta cuma Omen. Berdoalah supaya dia gak kembali dalam dua tahun ke depan."
Jawab Kimmy meledek.
"Sayangnya dia pasti kembali."
Dave mengerlingkan matanya.
"Jadi peramal? Terus gimana sama kamu sendiri?"
Tanya Kimmy.
"Aku dua tahun ke depan cm akan siapin mental baja, hati besi, dan nyali besar untuk menghadapi apapun yang akan kamu pilih di tahun kedua."
Jawab Dave yakin.
Kimmy tak menjawab apapun, ia melihat ada keseriusan di ucapan Dave. Sedikit banyak ia takut Dave meninggalkannya seperti dulu. Namun ia juga mulai menyadari perubahan Dave didasari kemauan ibunya.
Kimmy mengantar Dave sampai ke bawah, Lena dan James tersenyum melihat keduanya sudah membaik.
"Ma, Dave pergi dulu. Doain Dave ya."
Dave menyalami Lena dan memeluknya meminta restu dalam pelatihannya.
"Aku pergi dulu. Jaga mama dan jaga diri yang bener."
Ucap Dave kemudian mencium pucuk kepala Kimmy.
Kimmy tersenyum malu saat dua orangtua dihadapannya melihat tingkah Dave bak seorang suami yang mau berperang entah kapan kembalinya.
"Ehem, udah baikkan nih ceritanya?"
Tanya Lena.
"Atau balikkan?"
Goda James.
Kimmy tersenyum malu mendengar godaan dari kedua orang tersebut. Sedangkan Dave terkesan tak peduli. Ia masuk ke dalam mobil, dengan diantar James hendak menemui Anne meminta restu dan kembali ke akademi.
Bagaimanapun Anne, dia tetap seorang ibu bukan? Doamya sangat dekat dengan telinga dan tangan Tuhan.
"Mi, Dave pamit mau lanjutin pelatihan Dave. Minta doanya ya Mi supaya Dave bisa banggain Mami Papi."
Minta Dave rendah hati.
"Pergilah, apapun yang kamu buat. Gak akan buat Mami bahagia. Karena semuanya sudah hancur.
Jawab Anne membuang muka.
" Ayo Dave kamu nanti ketinggalan pesawat."
James menghentikan pembicaraan Anne yang akan menyakiti Dave.
Dave mengangguk patuh dan pergi dari tempat itu. Melihat Anne untuk yang terakhir kalinya.
Jangan lupa Like, Comment, dan Vote nya yah 💕