Mr.Snowman

Mr.Snowman
Ber-enam



Mereka berlima berkumpul di ruang makan tepat jam lima sore. Entah makan apa namanya, dibilang makan siang tapi terlalu telat, tapi disebut makan malam juga terlalu cepat. Yang pasti semuanya tengah kelaparan. Marcel akan memimpin doa ketika ketukan dari pintu depan berbunyi, Kimmy bangun dari kursinya dan membuka pintu.


"Kim, Marcelnya ada?"


Tanya wanita yang ternyata adalah Gea. Dari pakaiannya, ia masih menggunakan seragam Bank swasta tempatnya bekerja. artinya ia langsung menuju kesini setelah selesai bekerja.


Kimmy mengajaknya masuk, keluarga ini menyambut hangat kedatangan Gea. Tidak dengan Marcel, tangannya berkeringat, mulutnya membisu. Ia takut ditanya perihal semalam.


Kimmy, Tomi, Dave dan Dayana merubah posisi duduk mereka. Dave duduk di sebelah Kimmy, Dayana disebelah Tomi, dan Marcel berhadapan dengan Gea.


"Ayo Kak doa."


Desak Kimmy pada Marcel.


Boro-boro doa, napas gue aja gemeter. Ni anak gak tau situasi banget.


Gumam Marcel sambil memelototi Kimmy.


"Tomi aja atau Dave."


Ucap Marcel menahan getaran lidahnya yang kelu.


Tomi memimpin doa makan mereka, ia tahu Marcel pasti masih sangat syok. Kemudian mereka makan dengan hening tidak ada candaan seperti biasa. Kedua Kakak menjadi kaku.


"Jadi beginilah kurang lebih penampakan kalau kita udah nikah semua."


Ucap Kimmy berniat mencairkan suasana, namun berbuntut tersedaknya kelima orang lainnya yang sedang makan.


"Uhuk...uhuk.."


Tomi, Marcel, dan Dave mengeluarkan suara batuk yang paling nyaring.


Dayana memberi air pada Tomi, begitu juga Kimmy, ia menyodorkan segelas air pada Dave.


"Kak Gea, kok diem aja? tolong tuangin minum Kak Marcel."


Ucap Kimmy memerintah.


Gea merasa serba salah, ia takut dimarahi Marcel melakukan hal yang akan disebut Marcel sebagai kelancangan. Dengan ragu, ia menuang air ke gelas kosong miliknya. Lalu berjalan menuju tempat Marcel. Ketika dirinya sudah sampai disebelah Marcel, laki-laki itu malah menarik gelas berisi air yang sedang diminum Tomi.


"Kelamaan."


Ucap Marcel dingin.


Gea yang sudah mengetahui akan terjadi hal seperti itu, memilih kembali ke kursinya dengan membawa gelas tersebut bersamanya. Setelah Gea duduk, Kimmy menyeruput air yang hendak di letakkan Gea ke meja sampai habis.


"Makasih Kak Gea."


Ucap Kimmy menolong Gea keluar dari rasa malu karena sikap Marcel barusan. Kimmy memelototi Marcel dengan tatapan mengancam. Sedang Dave merasa bangga dengan tindakan kecil Kimmy yang berarti.


Selesai makan, keempat lainnya mencari alasan untuk memberi ruang pada Marcel dan Gea.


"Gue cuci piring dulu ya."


Kata Tomi sambil memberi isyarat pada Dave.


Dayana ikut berdiri membawa gelas yang tersisa di meja menyusul Tomi ke dapur.


"Kim, ayo lanjut belajarnya."


Ujar Dave pada Kimmy. Kemudian keduanya masuk ke dalam kamar.


Saat ini bukan hanya Gea dan Marcel yang memiliki kesempatan berdua, namun ketiga pasangan tersebut dapat menggunakan momen ini untuk saling membuka perasaan masing-masing. Andai saja ketiga pria ini bukan sejenis manusia salju.


Terdapat kecanggungan antara Tomi dan Dayana setelah kejadian tadi.


"Nikahin aku."


Minta Dayana sambil memperhatikan piring yang sedang dicucinya dengan tatapan hampa, membuat Tomi menjatuhkan sebuah piring dari tangannya.


"Baiklah, tapi bukan sekarang."


Jawab Tomi.


"Aku gak punya waktu lebih lama lagi, Tom. Sudah ada yang melamarku. Orangtuaku juga sudah mendesak."


Ucap Dayana menghentikan kegiatannya.


"Menikahlah. Menungguku mau sampai kapan? Keburu kau tua. Aku harus menunggu Kimmy menikah, setelahnya menunggu Marcel. Kau liat sendiri bagaimana ia memperlakukan perempuan yang dicintainya? Aku mungkin akan jadi bujang lapuk mengingat Marcel yang entah kapan akan mengakui perasaannya."


Jawab Tomi putus asa.


Kata Dayana menjelaskan laki-laki yang akan meminangnya.


"Apa pekerjaannya?"


Tanya Tomi yang paling gentar menghadapi lawannya, jika perbandingannya adalah mengenai pekerjaan.


"Bos di sebuah club malam."


Jawab Dayana. Tomi menghela napas panjang. Mengingat lawan sebelumnya saja tak ada, ia bisa di remehkan. Apalagi seorang yang sudah mempunyai usaha besar.


"Menikahlah Day, apa lagi yang kurang? Dia bos. Hidupmu akan berkelimpahan."


Ucap Dave yang disusul tamparan Dayana.


"Kau kira aku matre?"


Ucap Dayana sambil pergi dari hadapan Tomi dan meninggalkan pria itu sendiri.


Sedang suasana di ruang makan tak kalah mencekam, Gea dan Marcel hanya terdiam tidak ada yang memulai percakapan. Sampai akhirnya Dayana melewati mereka dengan menangis.


"Kenapa Day?"


Tanya Marcel khawatir.


"Gak apa, Kak."


Jawab Dayana menyeka air mata, kemudian pulang.


Gea merasa Marcel tidak sepenuhnya membatu, hatinya bisa mencair. Buktinya ia peduli terhadap Dayana yang bukan saudara kandungnya.


"Kenapa gak masuk kerja? Aku kira kamu sakit karena terlalu banyak minum semalam."


Tanya Gea setelah Dayana pergi.


"Ya memang saya sakit. Apalagi alasan saya kalau bolos bekerja?"


Ucap Marcel menutupi kenyataan.


"Oh aku pikir kamu mau bekerja awalnya."


Tebak Gea sambil menunjuk kemeja dan celana yang masih melekat di tubuh Marcel.


"Em, Jadi kau mau apa?"


Tanya Marcel sekali lagi.


"Mau tanya ucapanmu semalam, apakah itu sungguhan?"


Tanya Gea serius.


"Ucapan yang mana? Kau tau saya sedang mabuk tadi malam, jangankan ditanya benar atau tidak, ingat pun tidak sama sekali. Lagian bodoh rasanya percaya sama perkataan orang yang tak sadar."


Jawab Marcel dengan sangat cepat. Ia seperti sudah mempersiapkan kalimat ini saat di kamar tadi.


"Oh baiklah, aku pulang. Terimakasih untuk makan sorenya."


Ucap Gea kemudian berlalu pergi. Ia percaya dengan jawaban Marcel. Dan cukup baginya untuk tak memberi kesempatan pada pria yang bersamanya tadi malam. Ryo, teman kerja mereka berdua.


Kimmy dan Dave yang sedari tadi tak mengerjakan apapun, mencuri dengar percakapan kedua kakaknya dengan wanita yang mereka cintai dari dalam kamar.


Diatas kasur, Kimmy menatap langit-langit dengan seribu pikirannya, Dave yang tidur di lantai juga melakukan hal yang sama.


"Jadi orang dewasa tuh gak enak yah? mau bilang suka aja banyak pertimbangannya."


Ucap Kimmy. Dave tercekat seperti kena sindir.


"Tidurlah jangan berpikir macam-macam. Lu harus sembuh udah ketinggalan banyak materi."


Ucap Dave tak mampu menjawab perkataan Kimmy.


Kimmy patuh dan segera memejamkan matanya, berharap waktu berjalan cepat dan ketika ia bangun, dirinya telah menjadi wanita dewasa yang menikah dengan laki-laki sesuai kriteria kedua Kakaknya. Kemudian ia akan segera melihat Marcel dan Tomi menjemput kebahagiaannya masing-masing. Ah andai saja dalam hidup, kita sendiri yang mengatur skenarionya pasti sudah berakhir bahagia. Gumam Kimmy sebelum akhirnya benar-benar terlelap dalam tidur nyenyaknya.


Dave menyelimuti wanita itu dari ujung kaki hingga menutupi lehernya.


"Sesusah gue ngakuin kalo rasa ini udah buat lu."


Ucap Dave sambil keluar dari kamar Kimmy.