
"Bos sekarat. Siapa yang izinin mereka lewat?"
Tanya seorang kepala keamanan yang bertanggung jawab atas club malam itu.
"Saya bos. Soalnya mereka datang menggunakan mobil bos besar. Saya kira itu dia."
Jawab seorang pengawal dengan jabatan terkecil yang bertugas mengurus parkiran.
**
Pesta dilanjutkan dirumah, beberapa makanan istimewa disajikan secara prasmanan. Beberapa tamu yang terdiri dari keluarga dan kerabat dekat terlihat berbaris menyendokkan makanan keatas piring masing-masing.
Marcel dan Gea akan pergi berbulan madu setelah ini. Marcel sudah menyewa sebuah penginapan ditengah gunung untuk merayakan pernikahan mereka sekaligus menggantikan hubungan mereka yang sempat merenggang selama kurang lebih sebelas tahun belakangan ini.
"Dave, Kak Tomi kemana sih?"
Tanya Kimmy.
"Paling ngejar cewek cantik tadi."
Jawab Wanda. Ia jelas-jelas melihat ketika Tomi mengejar Dayana.
"Kenapa gak lu larang kalo lu sayang?"
Tanya Kimmy pada Wanda. Mereka sedang asik menikmati es krim cokelat yang disuguhkan tepat di teras rumah.
"Ya kita liat seberapa lelah dia kejar cintanya. Kalo memang mereka masih saling mencintai, cinta gue gak harus memiliki kan?"
Ucap Wanda sesantai mungkin padahal jauh di lubuk hatinya teriris mengucapkan hal tersebut. Kimmy memeluk Wanda dan menciumi pipinya berkali-kali.
"Seneng lu ya kalo Tomi sama cewek tadi ketimbang gue?"
Tanya Wanda yang heran melihat reaksi Kimmy.
"Bukan. Gue seneng karena lu udah berbesar hati nerima apapun keputusan Kak Tomi. Walaupun nantinya dia milih lu, gue tetep seneng. Asal jangan lu ambil semua perhatiannya untuk gue."
Jawab Kimmy sambil melepaskan pelukannya dan beralih memeluk Dave. Dave hanya tersenyum, kini mata mereka saling menatap.
"Kamu percaya cinta gak harus saling memiliki, Dave?"
Tanya Kimmy.
"Enggak. Kalau seperti itu lebih baik saling melupakan daripada menyakitkan."
Jawab Dave.
"Kalo gitu jangan lepasin aku."
Ucap Kimmy sambil mengerlingkan matanya.
"Gak akan. Kalo pun terjadi, tunggu aku kembali lagi. Aku selalu tau tempat aku pulang."
Jawab Dave sambil mencubit hidung Kimmy.
"Huwek.. bucin!"
Goda Wanda. Ketiganya tertawa bersama. Sedang Marcel dan Gea sibuk menyambut tamu mereka.
Selang beberapa menit, ponsel Dave berbunyi dari nomor yang tidak dikenal. Perasaannya tak karuan, ia kepikiran Tomi dan Ali semenjak tadi.
"Selamat siang, saya dari kepolisian kota. Kami mendapatkan saudara Jericho Thomas dan saudara Ali Christian membuat keonaran di club malam hingga melukai sembilan orang. Salah satunya kritis."
Ucap seorang Polisi. Dave menjauhi Kimmy, ia takut kedua wanita ini akan histeris dan membuat berantakan acara.
"Saya akan kesana."
Jawab Dave seraya mematikan telepon.
"Kim, Wan.. gue harus pergi. Kalian bantu Kak Marcel dengan tidak membuat keributan."
wajah Dave yang mendadak serius membuat keduanya mengangguk patuh.
Dave mengendarai motornya melesat kencang menuju kantor Polisi tempat yang sama saat dirinya digiring pertama kali setelah menganiaya Ali. Tak butuh waktu lama, ia sampai. Langkahnya terhenti di pintu masuk. Tempat ini selalu membuatnya merasa berdosa pada Ali. Pukulan demi pukulan ia layangkan membabi buta diseluruh tubuh Ali yang tidak berdaya. Senyum Ali selalu terlihat jelas, tak ada yang bisa membuatnya berhenti waktu itu. Ali justru menambah kemarahan Dave.
"Pukul gue sepuas lu dan lu akan tahu siapa ibu yang sedang lu bela."
Ucap Ali menyeringai dibalik kelemahannya.
"Mas..ada keperluan apa?"
Tanya seorang polisi yang bertugas di pintu masuk. Ia sudah empat kali menanyakan hal yang sama, namun suara itu begitu jauh dan makin mendekat di telinga Dave.
"Teman saya di dalam. Jericho Thomas dan Ali Christian."
Jawab Dave. Petugas tersebut langsung mengantar Dave pada kedua sahabatnya tersebut.
Ali dan Tomi menjelaskan peristiwa tadi siang yang terjadi pada Dave. Dengan segala kebimbangan akhirnya Dave memilih menelpon Pak James untuk membereskan masalah ini.
"Gue yakin ada harga yang harus lu bayar Dave untuk membebaskan kami."
Ucap Ali.
"Bokap gue gak gitu."
Jawab Dave.
"Bukan Pak James."
Ucap Ali.
Dave menyatukan alis.
"Dave, lu gak usah bebasin gue. Kesalahan gue fatal. Gue harus dihukum. Tolong jaga Kimmy dan Dayana."
Tomi memotong pembicaraan keduanya.
"Gak Kak. Apapun bakal gue lakuin supaya Kimmy gak sedih. Lu kakak yang selalu dia banggain. Jangan sedikitpun mencoret itu dari pikirannya."
Jawab Dave.
"Dave Norman! Ini kesempatan terakhirmu dan kamu merusaknya!"
Suara itu menggema di ruangan. Kedatangan pak James dengan kemarahan yang memuncak, ia mengira Dave terlibat perkelahian lagi.
"Selamat siang komandan."
Semua anggota polisi di tempat itu memberi hormat pada ayah Dave.
"Apa yang anak nakal ini perbuat?"
Tanya James pada seorang polisi yang menangani kasus mereka.
"Tidak ada pak. Kawan-kawannya yang berbuat."
Jawaban yang membuat James bernafas lega.
"Pi, tolong Tomi sama Ali."
Minta Dave mengiba. Baru kali ini Dave memohon pada ayahnya.
James mendengarkan semua kejadian secara rinci. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kalo papi tolong, apa bayarannya untuk papi?"
Tanya James.
"Oke, Dave akan ambil kesempatan pelatihan kepolisian seperti yang papi mau."
Jawab Dave pasrah. Ia harus mengalah toh hanya empat tahun. pikirnya.
James kembali duduk bersama tim kepolisian yang menangani kasus ini. Terlihat James mengeluarkan keringat sebesar biji jagung. Entah apa yang membuatnya sepanik itu.
"Bos cafe tersebut tidak mau mencabut tuntutannya."
Ucap James setelah kembali pada keempat orang tersebut.
"Pi, papi gak bisa berbuat apa-apa?"
Tanya Dave . James menggeleng.
"Lawan kita tangguh Dave. Orang yang sangat berpengaruh, bahkan pada kehidupan kita."
Jawab Pak James.
"Memohonlah padanya."
Pak James melanjutkan ucapannya
"Saya akan memohon Pak. Apapun akan saya perbuat. Ini semua karena saya."
Ucap Dayana.
"Tidak. Bukan kamu, kamu atau kamu. Cuma Dave yang bisa memohon."
James memijat-mijat keningnya sambil menunjuk Ali, Tomi dan Dayana.
"Gak usah Dave ! Biar gue bayar kesalahan gue disini."
Ucap Tomi.
"Ya, gue juga lebih milih disini daripada lu harus membayar mahal untuk semuanya."
Timpal Ali.
"Dave harus nemuin dia dimana Pi?"
Tanya Dave antusias.
"Sebentar lagi dia akan kesini. Berjanjilah kamu tetap memegang ikrarmu akan mengambil pelatihan setelah masalah ini."
James memohon. Dave berpikir ayahnya hanya sekedar berambisi.
"Dave lu akan nyesel. Berhentilah sekarang! Lu akan lanjutin hidup lu. Jangan membuat kesepakatan sama iblis itu."
Ucap Ali membuat Dave makin tak mengerti. Sedangkan pak James menepuk bahu Ali memintanya menahan ucapannya.
Suara sepatu berhak tinggi mengalun di ruangan itu, semakin dekat dan Dave terkesiap melihat seorang yang sangat ia kenali itu.
Yang suka sama cerita ini, yuk di like. Dijamah kolom komentarnya. Jangan dilewatin pliss.
Makasih 💕