Mr.Snowman

Mr.Snowman
Menangkap belalang



Kimmy memilih berjalan kaki setengah perjalanan dari kampus sampai ke rumahnya, ia sedang butuh angin segar untuk menghilangkan penat dan sedihnya.


Dave terlihat memboncengi Jemima pulang. Menuntaskan janjinya yang kurang dari seminggu.


Kimmy kembali menangis melihat keduanya lewat. Dave memperhatikan dari spion motornya. Ia sebenarnya ingin berhenti dan menemui Kimmy, namun tak dilakukan. Prasangka buruknya merusak hubungannya dengan wanita yang ia cintai.


Seusai menurunkan Jemima di depan rumahnya, Dave mencoba menyusuri kembali jalan yang tadi dilalui Kimmy. Ternyata perempuan itu masih ada. Duduk merenung di kursi yang disediakan pengurus taman kota.


Gak boleh nangis, gak boleh nangis sampe di rumah. Nanti Kak Marcel curiga.


Kimmy menyemangati dirinya sendiri. Dave masih memperhatikan dari kejauhan.


Sesekali ia melihat Kimmy menyeka air matanya.


Dulu Jemima waktu mutusin gue juga nangis. Abis itu dia lupa.


Batin Dave berusaha tak mendekat.


Berselang beberapa lama, sebuah motor menghampiri Kimmy. Dia adalah Ali. Sudah sejak tadi ia berputar mencari Kimmy. Dari menunggunya di rumah, hingga bertolak ke kampus Kimmy namun tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan gadis ini. Putaran ketiga ia perlahan mengendarai kendaraannya dan akhirnya menemukan perempuan berjaket denim tersebut terduduk lemas.


"Lu kenapa?"


Tanya Ali sambil memegang kedua bahu Kimmy.


"Gak apa-apa."


Jawab Kimmy menggeleng.


"Ayo gue anter pulang."


Ucap Ali sambil menarik tangan Kimmy.


Sesampainya di rumah, Ali membuatkan secangkir teh untuk Kimmy. Gadis itu masih saja melamun.


"Kalo lu mau cerita, gue siap denger."


Ucap Ali. Kimmy hanya terdiam. Masih dengan pendiriannya tak ingin di kasihani.


"Ya udah gue balik. Jaga diri."


Ali berpamitan setelah tak mendapat jawaban dari Kim.


"Gue diputusin Dave, Li."


Tangis Kimmy pecah ketika Ali hendak keluar pintu. Kimmy menceritakan setiap kejadian pada Ali tanpa terlewat mulai dari pertengkarannya dengan Jemima dan ucapan Dave Mau keluar kota? Yang Kimmy tak paham hingga sekarang.


Ali mencerna setiap perkataan Kimmy dan murka dengan kedua orang yang telah membuat gadis yang disayanginya itu menangis.


"Dia kira, lu bakal ninggalin dia karena gue. Itu alasan yang Jemima pake waktu mutusin Dave."


Ucap Ali.


"Biar gue yang ngomong sama dia."


Kata Ali melanjutkan. Namun dicegah Kimmy.


"Buat apa?"


Tanya Kimmy heran.


"Kalian kalau mau putus lurusin dulu masalahnya. Jangan salah paham begini karena ulah Jemima. Gue emang suka sama lu, tapi bukan dengan kaya gini caranya!"


Ucap Ali sambil keluar dari pintu.


"Gak usah Al. Please"


Minta Kimmy yang tak di dengar oleh Ali.


Ia menghampiri Dave ke sasana milik orangtua Dave.


"Mau apa kesini?"


Tanya Dave tanpa menoleh sedikitpun ke Ali.


"Kenapa lu buat nangis Kim?"


Tanya Ali.


"Bukannya itu yang lu mau?"


Dave mengeluarkan dugaannya.


"Gue akan ngambil hati dia dengan cara yang gentle."


Ucap Ali menekankan.


"Mau berapa lama lagi sampe lu puas balas dendam sama gue?"


Tanya Dave sambil melepas sarung tangannya.


"Urusan kita udah kelar di atas ring waktu itu. Gue suka Kimmy secara pribadi. Kalaupun dia bukan pacar lu, gue tetap suka dan berusaha milikin dia."


Jawab Ali tegas.


"Ya udah ambil."


Ucap Dave mencoba kuat.


"Sayangnya dia bukan Jemima yang gampang ditaklukin. Dia Kimberly yang sampai saat ini cintanya masih buat lu. Tapi gak tau semenit lagi. Mungkin udah untuk gue."


Ucap Ali menggetarkan dada Dave.


Ia mulai paham bahwa dirinya korban kecemburuan yang tak beralasan.


Beep.beep.


Pesan singkat di ponsel Dave menyadarkannya.


Pesan masuk dari Renata.


Dave, gue kira makhluk terbodoh di kampus itu gue. Ternyata ada yang lebih parah. Itu elo. Kuat tapi bodoh. Nih simak baik-baik videonya.


Nb: Awas lu macem-macem ke gue di kampus. Gue bilangin Kenny biar nilai lu jelek!


Renata mengirim pesan disertai video ketika kimmy mengambil gambar Dave bertanding. Terdengar jelas keributan antara Jemima dan Kimmy.


"Maafin gue, Kim dari awal gak percaya sama lu."


Dave kini terkulai lemas. Setelah melihat dan mendengar semua kenyataan yang ada.


"Kak Marcel, anter aku ke rumah Paman Lukas. Aku udah bilang sama bibi Monic mau nginep disana dua hari mumpung weekend. "


Minta Kimmy, yang sebenarnya ingin mencari ketenangan dan melupakan segala sesuatu mengenai Dave.


"Tumben nginep sampai dua hari, ada apa?"


Tanya Marcel sedikit menaruh curiga.


"Gimana sih kan Grace punya adik baru. Jadi sementara Bibi sibuk sama bayi. Aku bisa temenin Grace."


Jawab Kimmy meyakinkan Marcel.


"Oke, siap-siap satu jam lagi kita jalan."


Ucap Marcel menyetujui.


Ia lalu mengantar adik bungsunya ke rumah Paman Lukas, sementara Dave baru saja datang ingin meminta maaf dan memperbaiki hubungan dengan Kimmy. Namun tak ada yang menyahut.


"Tadi baru aja jalan bang. Kimmy sama abangnya."


Ucap seorang pemuda yang diketahui adalah Romi.


"Kemana?"


Tanya Dave.


"Lah kagak tau saya bang. Saya kan bukan Ge pe es bang."


jawab Romi.


"Ge pe es? maksudnya?"


Tanya Dave tak mengerti.


"Itu yang petunjuk jalan."


Jawab Romi percaya diri.


"Oh GPS?"


Tanya Dave yang malah asik meladeni.


"Iya ji pi es"


Ucap Romi membetulkan.


"Abang bawa es krim cokelat? Tau ya kesukaan keluarga ini. Eh tapi ngomong-ngomong pacarnya Kimmy , abang ini atau abang Ali?"


Cerocos Romi tak berhenti.


"Kok kenal Ali?"


Tanya Dave.


"Iya kan dia suka ngintipin Kimmy dari situ warung enyak aye."


Jelas Romi sambil menunjuk sebuah warung milik ibunya.


"Orangnya bae bang. Untung waktu itu dia masih disini pas bang Marcel mabok malem-malem, si Kimmy dilempar gelas beling bang sampe kepalanya berdarah. Untung dah bang Ali nyelametin. Kalo gak kasian Kimmy bisa anemia gak inget aye."


Jelas Romi panjang lebar.


"Amnesia."


Sempat-sempatnya Dave membetulkan ucapan Romi ditengah kegundahannya mendengar kisah kepahlawanan Ali.


"Ni es krimnya. Makan aja."


Ucap Dave sambil berlalu meninggalkan Romi yang senang mendapatkan es krim.


"Makasih bang. Abang siapa dah tuh namanya lupa nanya."


Gerutu Romi sambil menggaruk-garuk kepalanya.


Bener kata Renata, gue itu bodoh. Sok kuat tapi nyatanya bodoh. Kak Marcel ada masalah gue gak tau, Kimmy hampir celaka gue juga gak tau. Gue malah sibuk ngurusin perempuan yang udah hancurin gue dua kali. Maafin gue Bang Tomi, gak becus jagain titipan lu.


Gumam Dave diatas motornya, menyusuri malam yang bertambah sunyi. Makin menambah perasaan bersalahnya.


Kimmy bermain dengan Grace anak paman Lukas yang berusia lima tahun. Ia melihat keriangan anak itu tanpa beban. Tanpa kesedihan yang dibuatnya sendiri. Hanya berlari mengejar sesuatu yang ia fokuskan dan kemudian melompat gembira ketika belalang yang dikejarnya kini berada di genggaman.


Seperti itulah aku sebaiknya. Aku belum cukup dewasa untuk mengerti suka dan sakit yang datang bersamaan. Aku belum bisa menerima seseorang menyakitiku tanpa alasan. Aku Kimberly gadis delapan belas tahun yang masih harus meraih mimpinya.