Mr.Snowman

Mr.Snowman
Aplikasi kencan online



Diam-diam di dalam kamar, Kimmy masih rutin menggambar wajah Dave, semakin hari semakin sulit melupakan pria ini. Apalagi dia selalu muncul di hari-hari Kimmy.


Selain untuk menghilangkan kekuatiran berlebih kedua Kakak, tujuan Kimmy ingin segera punya pacar juga untuk melupakan perasaannya pada Dave.


"Gambar apa?"


Tanya Dave yang sedari tadi sudah berada di samping Kimmy.


"Kok gak ketuk pintu dulu sih Snowman?"


Protes Kimmy sambil membalik kertas gambarnya.


"Dari tadi gue ketok, tapi lu gak nyahut. Ya gue masuk."


Ucap Dave sambil mengembalikan bolpoin milik Kimmy yang tadi dipinjamnya.


Saking takutnya Dave melihat gambar yang ia pegang, Kimmy berdiri dari kursi dan segera berjalan dengan tidak hati-hati. Ia hampir jatuh kedepan tersandung kaki mejanya sendiri. Beruntung Dave yang berada di depannya berhasil menangkap tubuh kecil wanita itu, ia menahan tubuh Kimmy tepat di sepasang gundukan kenyal miliknya.


"SNOWMAAAANNN....!!"


Teriak Kimmy tak terima dengan perlakuan Dave.


"Gue gak sengaja."


Tutur Dave sambil menutup mulut Kimmy.


"Lu megang dada gue. Emangnya lu mau tanggungjawab nikahin gue?"


Bentak Kimmy sambil memukuli kepala Dave dengan kertas yang ia pegang.


"Kalo nanti gak ada yang mau sama gue, karena udah ternodai sama lu. Lu mau tanggung jawab?"


Oceh Kimmy tak berhenti masih sambil memukuli kepala Dave.


Apa sih anak ini, dia bilang ternodai? Tanggung jawab? Dasar anak kecil.


Batin Dave gemas melihat ketakutan Kimmy yang berlebihan.


Muach.


Dave memberi kecupan singkat di bibir Kinmy, ia pikir dengan cara ini akan menghentikan perempuan tersebut berbicara.


Kimmy terdiam, ia merasakan hal yang aneh, darah dalam tubuhnya berdesir.


Diam kan dia?


Ucap Dave pada dirinya sendiri.


"SNOWWMAAAANNN...Kalo gue hamil gimana? Lu mau tanggung jawab?"


Teriak Kimmy makin menjadi. Dave menepuk dahinya.


"Gak usah tepuk jidat lu sendiri, sini biar gue pukulin kepala lu. Dasar otak mesum. Gue masih polos aja, gak ada yang mau sama gue. Apa lagi udah begini. Kalo gue gak laku sampe tua. Emangnya lu mau nikahin gue ?! Kan enggak!"


Ucap Kimmy sambil memukuli kepala Dave dengan buku yang lebih tebal.


"Iya gue bakal tanggung jawab, nikahin lu."


Jawab Dave sambil mengelus-elus kepalanya yang kesakitan.


Kimmy berhenti memukul dan mengocehi Dave. Ia tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Udah sana keluar. Gue gak mau dikasihanin."


Ucap Kimmy sambil mendorong tubuh Dave keluar. Ia pikir Dave hanya kasihan terhadapnya yang tak akan punya pasangan sampai tua.


Karena kesalahpahamannya itu, Kimmy sungguh-sungguh menjalankan niat beberapa waktu lalu yang tak sempat ia lakukan, yaitu mencari pacar melalui aplikasi online. Dalam dua jam ponselnya telah berbunyi, seorang laki-laki mengajaknya berkenalan. Ia menyambutnya dengan baik.


Walaupun ada perasaan senang karena besok-besok akan ada pertanyaan Lagi apa? udah makan belum? selamat tidur. Seperti yang ia lihat di aplikasi cari jodoh milik Renata. Tapi tak dapat dipungkiri sejujurnya ia lebih senang saat Dave menciumnya tadi. Ada perasaan seolah telah ditandai. Ia menjadi milik Dave walaupun itu hanya khayalannya saja.


Hus minggir ... lupain lupain lupain!


Kimmy mengusir bayangan kejadian tadi yang masih jelas di kepalanya. Belum lagi ucapan Dave yang akan menikahinya, walaupun ia anggap suatu bualan tetap saja ia bahagia mendengarnya.


Dave terduduk di teras, tak mengerti mengapa Kimmy tak mempercayai ucapannya. Ia betul-betul sudah merasakan perasaan lebih dari teman pada perempuan itu.


Tring tring..


Ponsel Dave berbunyi, lamunannya buyar seketika. Dilayar tertera nomor yang tak ia ketahui.


Halooo..


Ucap wanita dari sebrang sana suaranya lirih.


Ya, dengan siapa?


Tanya Dave.


Ini aku, Jemima. Boleh ketemu sekarang? Ada yang mau aku omongin.


Jawab Jemima.


Gak bisa Je. Gue sibuk.


Ucap Dave.


Sebentar aja Dave. Plis sekali ini aja. Di cafe depan kampus.


Dave akhirnya menuruti permintaan wanita yang pernah mengisi hatinya. Segera ia nyalakan motornya, bersamaan dengan Kimmy yang memanggilnya..


"Snowman. Mau kemana?"


Tanya Kimmy yang sudah berdandan rapi dan cantik.


"Mau ke Cafe Olive. Lu mau kemana?"


Tanya Dave kembali.


"Kok sama? Gue nebeng ya."


Jawab Kimmy yang baru saja membuat janji bertemu seorang kenalan dari aplikasi kencan onlinenya.


Dave menyetujui, sebenarnya ia ragu. Takut Kimmy berpikir tidak-tidak mengenai hubungannya dan Jemima.


"Lu mau ngapain Snowman?"


Tanya Kimmy.


"Ketemu orang. Lu sendiri?"


Jawab Dave ragu.


"Sama."


Jawab Kimmy singkat.


Keduanya turun bersamaan. Ia mengatur penampilannya yang sedikit berantakan akibat terpaan angin selama diatas motor .


Mata Kimmy mencari-cari pria yang menggunakan kemeja polos ungu, celana kotak-kotak seperti yang sudah mereka sepakati. Sedangkan Dave langsung menemukan Jemima yang duduk membelakanginya.


"Ya udah lu cepetan. Gue juga gak lama. Biar nanti pulangnya gue anter."


Bisik Dave di telinga Kimmy. Ia hanya mengangguk masih fokus mencari.


Saya di lantai atas.


Pria misterius tersebut memberitahu letak duduknya. Kimmy buru-buru keatas. Ia tak mengetahui Dave hendak bertemu dengan siapa.


Sesampainya di lantai dua cafe, ia menemukan laki-laki dengan ciri yang dimaksud. Badannya tinggi tegap, gagah, otot-otot tangannya besar bak binaragawan. Menurutnya sangat cocok untuk menjadi pelindungnya seperti yang diminta Kakak-kakaknya.


"Hai, aku Kimmy."


Ucap Kimmy ramah.


"Loh kok perempuan?"


Tanya Pria kekar tersebut kebingungan.


"Iya emang perempuan."


Jawab Kimmy ikut kebingungan.


"Tapi profil kamu tadi ada dua laki-laki".


Ucap Pria itu menjelaskan.


"Oh itu saudaraku Om."


Tak sadar, ia memanggil laki-laki tersebut dengan sebutan om.


"Ya udah kenalin saya sama yang ini. Nanti kamu saya bagi jajan."


Ucap si pria lagi sambil menunjuk foto Tomi.


"Maksudnya gimana sih om?"


Tanya Kimmy tak paham.


"Mm.. Saya nyari pasangan laki-laki juga."


Jawab Si Om berbisik.


Kimmy terkejut. Ia permisi dari hadapan laki-laki yang dipanggilnya om tersebut. Sepanjang menuruni tangga ia bergidik sambil tertawa geli membayangkan Tomi dengan pria yang ia panggil om itu. Namun seketika tawanya terhenti ketika kakinya menginjakkan anak tangga terakhir. Dengan jelas ia melihat Dave sedang berciuman dengan Jemima.


Kimmy berjalan dengan menghentakkan kaki sekeras-kerasnya disebelah meja mereka. Lalu ia keluar tanpa bicara apapun. Dave yang terkejut langsung mendorong tubuh Jemima dan berlari mengejar Kimmy. Sedangkan Jemima tersenyum puas rencananya berjalan baik tanpa perlu bersusah payah.


"Kim, gue gak ada apa-apa sama dia."


Teriak Dave.


"Lu ada hubungan apa enggak bukan urusan gue. Gue bukan siapa-siapa lu."


Jawab Kimmy berbalik badan.


"Terus kenapa lu harus lari? Lu cemburu kan?"


Tanya Dave.


"Ternyata bibir lu obralan."


Ucap Kimmy seraya meninggalkan Dave sendiri.