Mr.Snowman

Mr.Snowman
Janji dihadapan Tuhan



Kimmy menatap diam di depan cermin. Gaun lace putih dan make up natural menambah kecantikannya di hari spesial ini. Sampai kemarin, dirinya belum menegur Dave. Pria yang akan resmi menjadi suaminya dalam beberapa jam lagi.


"Cel, Liat bayi kecil kita. Sebentar lagi dia bakal benar-benar ninggalin kita."


Tomi meneteskan air matanya.


"Hapus tuh air mata lu. Cengeng! Malu sama otot."


Marcel menegur Tomi.


Kimmy tersenyum mendengar celotehan kedua Kakak yang sedang berjalan kearahnya.


"Gak usah sok kuat deh Cel. Gue tau dua malem ini lu gak bisa tidur, gelisah karena Kimmy mau nikah."


Sanggah Tomi. Marcel mendelikkan matanya.


"Jangan kira, gue gak itung botol bir gue di kulkas berkurang banyak."


Lanjut Tomi.


"Ya, ya, ya. Entar gue ganti."


Jawab Marcel ketus.


Kimmy menyongsong keduanya, tak kuasa menahan haru mendengar kegelisahan para Kakak.


"Sampai kapanpun, aku tetap adik kecil Kak Marcel dan Kak Tomi."


Kimmy memeluk keduanya.


Tomi semakin mengencangkan suara tangisnya. Diiringi Marcel yang tak kalah sedihnya. Tangisan ketiga mengundang Lena yang tak jauh dari tempat itu mendatangi Kimmy.


"Astaga Kimmy, make up mu luntur kalo begini. Ayo touch up lagi. Setengah jam lagi acara dimulai."


Lena yang bertugas menggantikan kedua ibu mempelai terlihat sangat sibuk.


Setelah memastikan Dave, ia kembali memastikan Kimmy di ruangan terpisah yang jaraknya tak terlalu jauh. Tak mau ada sedikitpun kesalahan dalam pernikahan dua manusia yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.


Marcel dan Tomi bertolak keluar ruangan. Mereka memilih berdiam di toilet tepat di depan wastafel.


"Ngapain ikut-ikut?"


Tanya Marcel ketus.


"Mau ikut abisin stok air mata. Daripada nanti nangis disana."


Jawab Tomi.


"Liat tuh di kaca, kita berdua kelihatan lemah banget. Tapi gak apa lah, daripada diliat Miracle. Bisa gak selesai dibahas sampai kiamat juga."


Marcel membuka kacamatanya. Membersihkan airmata yang belum usai surut.


"Papi, Uncle Tom. Hahaha nangis seperti baby Jo."


MIracle yang keluar dari toilet bersama ibunya. Tertawa terbahak hingga memegangi perutnya.


"Kalian ngapain disini?"


Marcel buru-buru memasang kembali kacamatanya.


"Ini toilet perempuan pi."


Miracle menunjuk tanda di pintu.


"Aku paksa Miracle buang air kecil sekarang. Supaya nanti gak kebelet di tengah acara."


Jawab Gea sambil menepuk dahinya.


"Uncle Tom sama papi lagi akting nangis untuk nanti, sayang."


Ujar Tomi agar Miracle berhenti tertawa.


Gea segera membawa Miracle yang akan menjadi bridesmaid keluar dari toilet sebelum banyak bertanya perihal air mata kedua pria dewasa tersebut.


"Miracle.. "


Baru keluar toilet, langkah Miracle dan ibunya terhenti.


Tomi bersimpuh mensejajarkan diri dengan ponakan semata wayangnya tersebut. Lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Miracle. Berbisik pelan.


"Jangan ada yang tau soal tadi ya. Itu rahasia. Sama kaya uncle jaga rahasia Miracle poop dicelana dua hari yang lalu."


Seketika gadis itu mengunci bibirnya rapat-rapat, tak ada lagi tawa kencang seperti tadi.


"Lu ngomong apa sama anak gue? Sampe diem gitu."


Marcel penasaran.


"Adalah.. Rahasia."


Tomi mengerlingkan matanya kepada Miracle. Miracle pun tak berani berkutik, kejadian dua hari lalu yang pasti akan menjadi bahan untuk membuatnya malu dan dasar tercepat yang akan membuat dirinya dalam masalah dengan sang ibu.


...***...


Kimmy memasuki altar dengan iring-iringan dari bridesmaid kecil yaitu dua anak kakaknya dan beberapa anak pos Bahagia yang sudah di dandani sedemikian rupa sehingga terlihat jauh berbeda dari biasanya.


Dave yang terkesima melihat pengantinnya, tetap mengkhawatirkan sikap Kimmy terhadapnya. Ia takut Kimmy akan membatalkan pernikahan mereka di depan banyak orang.


Setelah beberapa rangkaian acara pembuka, kini tiba Dave mulai mengucapkan janji sucinya terhadap Kimmy di hadapan Tuhan dan para tamu undangan.


"Saya Dave Norman, dihadapan Tuhan dan semua mata berjanji akan mencintaimu Kimberly Douglas dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit. Kita akan beranak cucu, menua bersama sampai maut memisahkan."


Kimmy mulai mencucurkan airmatanya mendengar perkataan Dave untuk dirinya. Sampai beberapa kali seorang yang memimpin pernikahan ini memintanya untuk mengucap janji pernikahan tak digubrisnya.


"Saya akan bertanya satu kali lagi pada kesempatan ini. Maukah kamu menjadi istri Dave Norman dalam suka duka dalam sehat maupun sakit sampai maut memisahkan? "


Pertanyaan ketiga atau terakhir yang mampu menggugurkan niat Dave menikah dengan perempuan pilihannya jika sampai Kimmy tak menjawabnya kali ini.


Kimmy masih tak bergeming. Entah apa yang dipikirkannya. Suara-suara tamu terdengar berbisik riuh menggunjing.


"Kayanya ini nikah di jodohin ya? Kasian perempuannya terpaksa. "


"Tapi kalo gue yang dipaksa nikah sama cowo sekeren itu. Gak bakal mikir sekali juga. Langsung iya-in"


"Wah fix batal nikah ni si Dave."


Suara-suara mulai terdengar mempertanyakan bahkan beberapa teman Lena membuat gosip yang tidak-tidak.


Dave menatap Kimmy perasaannya teramat cemas. Sedang Kimmy masih menunduk dan menangis.


Dengan inisiatifnya, Dave memegang tangan Kimmy dan berbisik.


"Kalau kamu belum siap atau belum maafin aku. Gak apa kita undur. Sampai kapan pun aku terus nunggu kamu."


"GIMANA BISA? DALAM KEADAAN MARAH PUN AKU TETEP CINTA SAMA KAMU DAVE! JANGANKAN DALAM SUKA ATAU DUKA, KEKECEWAAN YANG KAMU BUAT, KAMU JUGA YANG BUAT AKU TERUS BERHARAP. ATAU BERJANJI DALAM KEADAAN SEHAT DAN SAKIT? KAMU SELALU JADI OBAT PENYEMBUHKU. DAN AKU JADI PENOLONGMU YANG SEPADAN. KITA AKAN TERUS BERSAMA SAMPAI MAUT MEMISAHKAN. "


Teriak Kimmy sambil menangis tersedu.


Semua orang berdiri dan bertepuk tangan setelah Kimmy selesai mengambil alih perhatian mereka. Kali ini Dave tak kuasa menahan air matanya. Ia beberapa kali menyeka matanya dengan ibu jari. Masih ingin terlihat kuat padahal hatinya terenyuh oleh perkataan Kimmy yang spontan.


"Dengan janji yang kalian ucap, mulai hari ini Dave Norman dan Kimberly Douglas telah resmi menjadi suami istri dihadapan Tuhan."


Kimmy tersentak, ia baru sadar luapan emosinya tadi dijadikan janji suci pernikahannya pada Dave. Dave memeluk Kimmy dan beberapa kali mengecup kening istrinya tersebut.


"Makasih Kim, udah maafin aku. Dan kasih kesempatan untukku lagi."


Ucap Dave.


"Makasih Omen udah nepatin janjimu."


Jawab Kimmy datar. Ia masih malu mengingat semua orang mendengar kalimatnya tadi yang tak teratur. tak seperti yang ia hafalkan semalaman.


Mereka melanjutkan perayaaan pernikahan di sebuah hotel milik Anne, ibu kandung Dave. Seluruh keluarga mengatur tempat begitu indah. Seakan mengajak Anne merestui pilihan anak semata wayangnya.


Mi, restui pernikahan ini. Agar lancar perjalanan rumah tangga kami.


Batin Dave saat memasuki ballroom dimana dahulu Anne sering berada saat perayaan pernikahan client nya.


"Wah ini mewah banget."


Ucap Kimmy tak menyangka.


"Kamu suka?"


Tanya Dave.


"Tadinya aku ragu, karena aku tetap pengen dengan konsep pilihanku. Tapi semenjak kejadian di tol, aku ngerti itu bukan hal yang penting. Asal kamu tetap sama aku, aku bersyukur. Tapi ternyata ini lebih dari yang kubayangkan. Indah banget."


Jawab Kimmy sambil memandangi langit-langit mengagumi setiap detail dekorasi pernikahan mereka.


Dave menarik pinggang Kimmy agar lebih mendekat padanya seakan tak ingin berjarak sedikitpun.