Mr.Snowman

Mr.Snowman
Tetap milikmu



Wanda tak bisa tidur, suara tangisan Kimmy begitu mengganggu istirahatnya. Semenjak kepulangannya kerumah ia kembali teringat akan Dave.


"Tom, lu bisa berhentiin tangisan adek lu gak sih? gue gak bisa tidur. Gue tanya ada apa makin nangis."


Wanda membangunkan Tomi dan Ali.


Tomi dan Ali bergegas ke kamar Kimmy. Perempuan itu menangis dibalik bantal gulingnya.


"Dek, sini. Jangan nangis terus."


Tomi mengelus kepala adiknya. Kimmy bangun dan memeluk saudara laki-lakinya itu. Kemudian menangis di bahunya.


"Kak, Dave mutusin gue tadi siang. Padahal sebelum dia pergi, kita baik-baik aja."


Kimmy menjelaskan sambil menangis.


"Dave pasti punya alasan. Lanjutin hidup lu sebaik-baiknya. Kalian kan masih bisa berteman."


Jawab Tomi mencari jawaban yang tepat.


"Huaaaa"


Kimmy menangis sejadi-jadinya.


"Tadi katanya it's a beautiful day... sekarang nangis juga."


Ucap Ali. Kimmy mengerucutkan bibirnya dan Ali tergelak.


"Besok gue mau pergi, lu sedih begini. Gue gak bisa tenang. Gue resign aja kalo gini."


Ucap Tomi.


"Enggak deh, gue gak nangis lagi."


Kimmy menyeka air mata dengan bajunya.


"Oh iya kak, nyokap gue minta gue pulang besok. Dia kesepian. Gue gak bisa nemenin Kim."


Ali teringat pesan singkat dari ibunya sebelum ia tidur.


"Ahh gue ikut. Gue mau ketemu Tante Lena."


Rengek Kimmy.


"Gimana Al kalo dia nginep di rumah lu selama Marcel dan Gea pergi?"


Tanya Tomi.


"Bolehlah, nyokap gue pasti seneng banget."


Ucap Ali bersemangat.


"Ya udah tidur. Jangan nangis lagi."


Tomi mencium kening Kimmy.


"Mau tidur sama Kak Tomi."


Kimmy merengek lagi.


Tak banyak bicara, ia menuntun sang adik ke kamarnya. Ali hendak mengambil selimut lalu dihentikan oleh Tomi.


"Mau kemana?"


Tanya Tomi.


"Tidur di sofa, Kak"


Jawab Ali.


"Disini aja. Muat kok. Lu dipinggir, gue di tengah, Kim di pojok dekat tembok. Waktu sama Dave juga begini."


Ucap Tomi.


"Huaaa.."


Kimmy menangis lagi mengejutkan keduanya.


"Kenapa?"


Tanya Tomi dan Ali serempak.


"Jangan sebut nama Dave lagi. Gue jadi inget."


Dorongan tangan Tomi di kepala belakang Kimmy membuatnya berhenti menangis.


"Gue kira kenapa."


Tomi dan Ali merebahkan tubuhnya bersamaan.


Mereka tertidur lelap. Dengan kebiasaan buruknya, Kimmy sudah berpindah tempat ditengah dan memeluk Ali. Ali yang terkejut, terbangun dan perlahan melepaskan pelukan Kimmy. Namun lagi-lagi Kimmy makin mempererat pelukannya. Wajahnya terbenam di dada Ali. Ali yang mengantuk akhirnya lelah dan pasrah. Ia melanjutkan tidurnya.


Wanda yang hendak buang air kecil menyempatkan diri mengintip ketiga orang tersebut. Betapa usil isi kepalanya dengan segera meraih ponsel Kimmy yang terletak di meja kamar Tomi dekat dengan pintu. Ia mengambil gambar Kimmy yang sedang memeluk Ali saat tertidur menggunakan kamera ponsel Kimmy.


"Imut banget sih kalian."


Wanda terkekeh.


**


Alarm ponsel Ali berbunyi memenuhi ruangan. Ali meraba-raba nakas tempatnya meletakkan ponsel. Masih sangat berat baginya membuka mata.


"Lama banget sih. Matiin dong."


Ucap Kimmy dengan mata masih terpejam. Tangannya ikut meraba nakas. Perlahan tubuhnya bergeser dan lambat laun berpindah diatas tubuh Ali.


"Turun Kim. Lu berat banget."


Ali setengah sadar. Keduanya tersentak dengan perkataan itu. Kini Kimmy menindih Ali, wajah mereka berhadapan dan sangat dekat.


"Mesum lu."


Kimmy mendorong tubuh Ali, namun akhirnya dirinya sendiri yang terjatuh. Dengan sigap Ali menolongnya.


"Jelas-jelas lu yang tidur diatas gue."


Ali berdiri hendak meninggalkan kamar.


"Ih tadi gue ngerasa kok ada yang colek paha gue."


Ucap Kimmy polos. Ali berhenti di pintu dan berbalik mendatangi Kimmy.


"Mau kenalan?"


Goda Ali.


"Ih jijik."


Kimmy kembali mendorong tubuh Ali.


Selesai Wanda dan Tomi berkemas, keduanya berpamitan. Tomi memeluk Kimmy memberi kekuatan pada adiknya agar dapat memahami situasi yang Dave hadapi.


"Marcel pernah bilang, kalau jodoh gak akan kemana. Kalau gak jodoh ya takdir."


Kimmy mengangguk pelan. Mengerti makna ucapan Tomi.


"Hmm kalau gak jodoh sama Dave, mungkin jodoh lu Ali. Kalian juga cocok. Liat aja di hp lu"


Ucap Wanda sambil memeluk Kimmy. Kimmy terheran, namun ketika hendak membuka ponselnya, Tomi menarik dan memeluk Kimmy sangat erat untuk kedua kalinya.


"Al, Please jaga malaikat kecil gue."


Tomi menghapus air matanya di balik punggung Kimmy.


Selesai keduanya berangkat, Ali pun pergi dengan mengantar Kimmy terlebih dahulu ke kampusnya.


Baru selangkah turun dari motor Ali, Kimmy mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Dave, namun tak ditemukan.


Ia berjalan ke kelas dengan cepat. Dan benar dugaannya, Dave telah sampai dan duduk sambil membaca sebuah buku seperti kebiasaannya dahulu.


"Dave, aku mau ngomong sebentar."


Kimmy menarik tangan Dave agar berjalan keluar kelas.


"Disini aja."


Dave menepis kasar tangan Kimmy.


"Kamu kenapa mendadak putusin aku?"


Tanya Kimmy.


"Kamu waktu itu mau fokus bahagiain kakak-kakakmu kan? "


Jawab Dave.


"Tapi kamu sendiri yang minta balik terus bilang semuanya gak masalah dan akan dukung aku."


Protes Kimmy.


"Aku berubah pikiran."


Jawab Dave tak sedikitpun menatap Kimmy.


"Kamu seenaknya bilang balik, seenaknya juga bilang putus. Ingat aku pernah bilang itu kesempatan terakhirmu."


Kimmy dengan cepat membalikkan tubuhnya.


"Tiga Minggu lagi aku ambil pelatihan kepolisian."


Ucap Dave.


"Aku dukung. Kenapa harus putus? Aku kan bisa nunggu."


Kimmy mengira itulah alasan Dave memutuskannya.


"Aku gak bisa berhubungan jarak jauh."


Dave menatap tajam mata Kimmy.


"Oh kalau sama perempuan ini bisa?"


Kimmy menunjuk Jemima yang sudah berada ditengah mereka.


"Iya dia udah dijodohin sama gue setelah lulus pelatihan kita nikah."


Jemima menggelayut di lengan Dave.


Jemima akan menjadi mata Mami di kampusmu selama tiga pekan ini sampai kau berangkat. Jangan kau berani usik dia atau Kimmy akan merasakan yang Dayana rasakan.


Ucapan Mami terngiang di telinga Dave.


Ia akan pergi. Kimmy akan sendiri tak ada yang dapat menjamin keamanannya kecuali Ali. Marcel akan disibukkan dengan keluarga kecilnya, Tomi bekerja sangat jauh, dirinya akan keluar kota. Hanya patuh pada perintah konyol ibunya untuk sementara waktu yang dapat ia lakukan.


Pintu kelas ditutup oleh Pak Ridwan dosen killer. Jemima terkurung dikelas mereka.


"Aku gimana ini Dave?"


mendadak nyali Jemima ciut.


"Sukuuurr"


Kimmy mengumpat. Dave tersenyum jahat mendapati Jemima kelabakan.


"Pak--"


Belum sempat Jemima melanjutkan ucapannya, Pak Ridwan menunjukkan taringnya


"Gak ada yah izin ke toilet. Duduk! Kalau saya lagi berbicara jangan ada yang menginterupsi."


Pak Ridwan membentak Jemima.


"Ih bapak dia cuma mau bilang gak bawa tugas Minggu lalu."


Kimmy mengerjai Jemima.


"Beneran tugas mu gak ada?"


Tanya Pak Ridwan.


"Enggak pak, tapi kan karena saya --"


Lagi-lagi perkataan Jemima dipotong.


"Gak ada alasan. kamu itu sebagai generasi penerus bangsa seharusnya disiplin. Tanggungjawabmu itu harus dibentuk. Mau jadi apa negara kita kalau punya mahasiswa seburuk kamu?"


Ocehan Pak Ridwan bak pidato di depan kelas pada Jemima. Seluruh isi kelas menahan tawa mengetahui Jemima bukan salah satu mahasiswa kelas mereka.


Jemima mendelik kearah Kimmy dengan tampang kesal.


"Kenapa kamu liatin Kimberly begitu? seharusnya kamu contoh dia, mahasiswi unggulan di angkatan ini."


Ucap Pak Ridwan, Kimmy menjulurkan lidahnya meledek Jemima.


"Kimberly kasih tau dia cara supaya bisa bertanggungjawab dengan tugasnya."


Pak Ridwan meminta Kimmy menjelaskan kiat-kiat menjadi mahasiswa yang teladan.


"Cuma satu pak. Fokus sama tujuan jangan fokus dengan milik orang."


Kimmy menyindir telak. Dave mengangkat wajahnya ada rasa bangga ketika perempuan itu berhasil menguliti Jemima didepan umum. Apalagi ia jelas tahu yang dimaksud Kimmy adalah dirinya.


Iya aku milikmu, Kim.


Batin Dave.