
Hari sudah mulai sore, sudah waktunya pulang bagi mahasiswa yang tak memiliki tugas kelompok seperti kelas Kimmy.
Kimmy berjalan keluar secepatnya, takut diomeli Dave bila terlambat seperti kemarin.
Dia menunggu angkutan umum, lalu saat tak ada satupun yang lewat, ia teringat informasi yang tadi pagi dikatakan Tomi.
Tapi masa taksi juga gak lewat?
Gerutu Kimmy. Lalu ia berjalan menuju tempat para supir kendaraan beroda dua biasanya menunggu penumpang.
"Pak, ojeknya demo juga?"
Tanya Kimmy pada penjaga warung kelontong persis sebelah pangkalan ojek.
"Gak sih neng, cuma permintaan banyak. Jadi mereka lagi nganter penumpang semua."
Jawab bapak-bapak yang sudah paruh baya tersebut.
Kimmy pergi setelah mengucapkan terimakasih. Ia terus melanjutkan perjalanan ke pasar yang sudah ditentukan Dave dengan berjalan kaki.
Kakinya sudah pegal berjalan kurang lebih lima ratus meter dari kampusnya.
Tiiinnn...Tiinnn..
Dave membunyikan klakson motornya.
"Lu kenapa gak nunggu gue?"
Tanya Dave yang daritadi menunggu Kimmy menemuinya di parkiran.
"Aduh serba salah ya sama lu. Gue nebeng disuruh turun, gue udah jalan sendiri ditungguin. Maunya gimana sih?"
Tanya Kimmy kesal sambil menggaruk kepalanya yang berkeringat.
"Ya gue tau gak ada angkutan umum hari ini. Otak lu di pake dong dikit."
Ucap Dave sinis.
"Ya udah gue salah. Maaf."
Ucap Kimmy mengalah. Ia sangat menghindari perdebatan kosong.
"Naik."
Minta Dave membentak.
Kimmy menurutinya, ia naik ke atas motor Dave dan memeluknya. Keringat Dave mendadak berkucuran deras. Ia merasakan kulitnya menjadi dingin tetapi tubuhnya merasakan panas. Itu pasti karena pelukan wanita dibelakangnya ini.
"Lepas!"
Perintah Dave keras.
Kimmy malah makin mengikat keras pelukannya dan bersandar di punggung Dave.
"Lepas atau turun!"
Bentak Dave sambil memukul tangan Kimmy pelan.
"Iya iya... gue cuma nyium parfum lu enak banget bau bayi."
Ucap Kimmy jujur sambil melepaskan pelukannya. Berangsur tubuh dan perasaan Dave kembali normal.
"Kiww..Kiww.."
Preman pasar menyiulkan siulan nakalnya pada Kimmy yang berjalan sendiri.
Kimmy yang tak sadar sedang diperhatikan, tak menghiraukan. Membuat tiga pemuda tersebut mendekatinya.
"Kimberly, sayang..."
Dave memanggil Kimmy dengan suara keras. Membuat ketiga pemuda tadi membatalkan niatnya. Padahal hanya tinggal beberapa langkah mereka sudah berada di sebelah Kimmy.
"Lu manggil gue saa...?"
Tanya Kimmy tak percaya, ia bahagia tak terkira.
Dave menutup mulutnya dengan tangan kirinya sedang tangan kanannya merangkul bahu Kimmy agar segera menjauh dari tempat tersebut.
Setelah jauh dari para pemuda iseng tadi, Dave melepas rangkulannya.
"Snowman manggil gue sayang tadi?"
Tanya Kimmy masih penasaran apakah ia salah dengar.
"Enggak. Kuping lu bermasalah."
Ucap Dave bohong. Kimmy terpaksa menghentikan kesenangannya yang ternyata hanya salah dengar kata Dave.
"Hmm padahal udah seneng."
Kata Kimmy polos sambil melanjutkan perjalanannya ke depan.
Lalu tiba-tiba merasa senang lagi, reaksinya selalu tiba-tiba susah diduga. Dave kaget melihat perempuan ini serta merta melompat ke arahnya.
"Tapi tadi ngerangkul gue kaya gini..suka ya? hayoo ngakuuu.."
Ucap Kimmy sambil memperagakan cara Dave merangkulnya. Ia berjinjit kepayahan menggapai Dave yang jauh lebih tinggi.
Dave menggeleng dan memukul dahinya, dipikirnya ada hal penting apa. Lalu diam tak ingin menjawab.
Mereka mewawancari tiga pedagang bahan baku sambil merekamnya di memori ponsel Kimmy. Beruntung tak ada kesulitan berarti, hanya terkadang terhenti lama jika pembeli mendadak ramai.
Mengerti kan tipikal ibu-ibu konsumen di pasar tradisional, mereka mendadak akan ikut mengantri di toko yang pengunjungnya terlihat lebih dari satu orang. Dipikirnya sedang ada diskon gila-gilaan atau bagaimana. Padahal sedang wawancara. Toko yang biasanya sepi bisa mendadak ramai juga karena kehadiran Dave dan Kimmy.
Selesai sudah tugas mereka hari ini, Dave meminta Kimmy naik ke atas motornya.
"Heh. Besok bagi tugas aja biar cepet selesai. Lu ke pasar X gue ke pasar Y."
Ucap Dave memberi gagasan.
"Kenapa sih sendiri-sendiri? gak seneng lama-lama sama gue?"
Tanya Kimmy.
"Ia lu nyusahin."
Jawab Dave membuat Kimmy menyetujui. Ia paling tak ingin menyusahkan orang lain. Mengingat kedua kakaknya sudah disusahkan olehnya saja membuatnya tak enak hati apalagi menyusahkan manusia dingin di depannya ini.
Dave mengintip ekspresi wajah Kim yang sedih mendengar kata nyusahin. Ia sedikit merasa bersalah, namun bersikukuh tak ingin mengakuinya.