
Pagi-pagi sekali Kimmy mengendap-endap pergi ke kampus menggunakan angkutan umum,
Sekali-kali ngerjain kalian. Enak aja bilang besok pagi moodnya balik lagi. hahaha..
Gumam Kimmy.
Memang sesungguhnya ia sudah tak marah, hanya saja mau menunjukkan dirinya sudah berubah menjadi wanita dewasa yang bisa marah dengan durasi lebih lama. Dasar Kimmy tak ingat tabiat kedua kakaknya yang lebih menyebalkan daripada dirinya.
Dirumah, Marcel dan Tomi mendapati Kimmy yang sudah tak ada lengkap dengan sepatu dan tas kuliahnya.
"Gimana nih?"
Tomi bertanya pendapat pada Marcel.
"Pantau aja. Tapi diemin kaya biasa."
Jawab Marcel yang disanggupi Tomi.
Keduanya berniat mendiamkan Kimmy selama seminggu.
"Mr. Snowmaaaannn..."
Kimmy berlari menggelayuti tangan kanan Dave yang sedang berjalan di depannya.
"Lepas, buat malu aja."
Ucap Dave ketus sambil menepis tangan Kimmy.
Kimmy pun melepaskan tangannya.
Didepan kelas mereka, Kenny sudah berdiri kurang lebih sepuluh menit menunggu kedatangan Kim.
"Pagi Kim, maaf saya ganggu, cuma mau kasih ini."
Ucap Kenny sambil memberikan dua buah sandwich yang rencananya akan dimakan bersama dengan Kimmy.
Menurutnya dengan cara ini, mereka sedikit bisa mulai membuka pertemanan.
Kimmy tak menolak ia mengambil kedua rotinya dengan senyum merekah, karena memang dirinya lapar belum sarapan tadi pagi akibat niatnya mengerjai kedua Kakaknya.
Lalu memberikan satu sandwich ke tangan Dave yang sedari tadi menunggu Kimmy di belakangnya. Berharap perempuan ini sedikit menyingkir dari pintu masuk.
"Rejeki jangan ditolak."
Ucap Kimmy pada Dave.
Bila itu ruang kosong, Dave ingin tertawa terpingkal.
Manusia gak ada pikiran.
Gumam Dave pada Kimmy, Dave cukup mengerti maksud Kenny.
"Makasih ya Kak Ken..Makin diberkati."
Ucap Kimmy pada Kenny yang masih tak percaya dengan tindakan Kimmy.
Kimmy melambaikan tangan dan meninggalkan Kenny, lalu menyantap sandwich berisi tuna tersebut di tempat duduknya.
"Heh freak.. lu gak ada otak apa gak ada hati?"
Tanya Dave yang selalu duduk di belakang Kimmy.
"Ah lu aja gak punya hati, gue gak komplain."
Jawab Kimmy sambil menggigit roti.
"Dia naksir sama lu."
Ucap Dave tak peduli jawaban Kimmy barusan.
"Gue naksir lu. Terus masalahnya apa?"
Tanya Kimmy sambil terus mengunyah.
Tukas Dave mengira Kimmy bercanda.
"Terus gue harus diem gitu? Dipendem aja? Gue suka, ya gue ngomong."
Ucap Kimmy terus terang.
Obrolan terhenti ketika Dosen mata kuliah bahasa inggris masuk ke kelas.
Dave lagi-lagi dibuat tak fokus oleh ulah perempuan di depannya ini.
Jemima..gue suka, karena pola tingkahnya buat gue penasaran, manusia ini apanya yang buat gue penasaran? Semua perasaannya diungkapin gitu aja.
Pikir Dave membandingkan keduanya yang jelas berbeda.
Lamunannya kembali pada sosok Jemima, Gadis anggun dan kharismatik idola pria di sekolah. Mereka bertemu pertama kalinya setelah Dave mengulang sekolahnya di tempat baru tepat satu hari setelah masa tahanannya berakhir.
"Halo, gue Jemima, cukup panggil Je."
Ucap Jemima memperkenalkan dirinya pertama kali pada Dave.
Berbeda dengan Kim, setelah memperkenalkan diri, Je tak pernah mencoba mengajak Dave berbicara lagi. Hingga Dave lah yang mencoba membuka obrolan dengannya. Wanita hangat, Dave nyaman berada disisinya. Sama halnya dengan Je, ia nyaman berada berlama-lama dengan Dave.
Mereka selalu menghabiskan waktu istirahat dan pulang sekolah bersama, menjadi bahan cibiran dan omongan orang-orang yang tahu tentang masa lalu Dave, tapi tak pernah satupun memberitahukan cerita itu pada Je. Alasannya karena takut dengan citra Dave yang katanya tak ada belas kasih, tak ada ampunan jika menyenggol dirinya.
Lagi juga mereka tak pernah sedetikpun menjauh jika berada di lingkungan sekolah. Bagaimana murid lain dapat berbicara dengan Jemima?
Sampai suatu ketika tepat satu hari setelah hari kelulusan,
"Coba kalau kamu dulu gak pindah ke sekolah ini. Mungkin masa SMA ku berlalu gitu aja. Gak ada yang spesial untuk diingat."
Ucap Je pada Dave.
"Sama. Aku juga kalo gak ketemu kamu, mungkin gak pernah ngerasain perasaan seindah ini."
Jawab Dave mengingat hal terindah sepanjang hidupnya yang hampir tak ada, kecuali bersama dengan Je.
"Eh ngomong-ngomong takdir apa yang bawa kamu pindah sekolah terus ketemu aku?"
Tanya Je lagi. Bertahun tahun dekat, namun baru hari ini ia mempertanyakan hal itu.
Tadinya Dave tak ingin membuka luka lamanya, aib yang sudah ia kubur. Namun hubungan ini harus berjalan dilandasi keterbukaan. Pikirnya naif.
Akhirnya Dave menjelaskan dengan semampunya. Luka yang hampir sembuh terpaksa ia buka dan lubangi sedikit, agar ingat rasa sakitnya dan penyebabnya. Mulai dari kenakalannya, hingga berakhirnya ia di dalam bui.
Seperti dugaan Dave, Je adalah wanita yang akan menerima dia dengan masa lalunya. Tidak mengatakan sepatah katapun, hanya tersenyum mendengar kisah Dave lalu berpamitan pulang.
Malamnya Je mengirim pesan singkat. Dave berharap isinya adalah kerinduan atau ucapan semangat atau sekedar selamat malam. Namun pupus saat kalimat yang diketik Je tak sesuai dugaannya.
Dave, sorry kita gak bisa lanjut. Orangtuaku kuliahin aku di luar kota.
Pesan dari Je.
Aku sanggup LDR.
Balas Dave.
Aku gak bisa kalo jalanin hubungan kaya gitu.
Je masih bersikukuh berpisah.
Apa karena masa laluku?
Dave mengingat terakhir mereka bertemu, hanya itu kesalahan yang ia miliki.
Maaf Dave.
Balas Je, setelah itu ia memblokir semua akses Dave untuk menghubunginya.
Dave percaya Jemima mengatakan maaf di pesan terakhir bukan atas dasar ia tidak bisa berhubungan jarak jauh. Namun karena ia tak dapat menerima masa lalu Dave.