
Kimmy memeluk Lena yang sedang membuat kue. Tak seperti dirinya, Lena justru seperti biasanya. Membuat kue dengan senandung kecilnya. Bahagia sekali.
"Mama, Kim mau nginep. Tidur di kamar Ali boleh ya?"
Tanya Kimmy sambil memeluk manja wanita tersebut.
"Emm, boleh tapi di kamar mama aja ya."
Jawab Lena panik.
"Loh kenapa? Emang kenapa di kamar Ali?"
Tanya Kimmy heran sambil melepas pelukannya.
"Gak kenapa-napa. Cuma biar mama ada temen tidurnya."
Jawab Lena.
"Oh gitu. Ya udah, Kim tidurnya sama mama. Tapi sekarang mau ke kamar Ali. Mana tau masih kesisa wanginya dia disana."
Jawab Kimmy sumringah sambil berlari keatas menuju kamar Ali.
"Kim.. "
Lena menepuk dahinya. Tak bisa menahan Kimmy.
Kimmy sampai di depan pintu kamar Ali, ia membuka handle pintu dan menghisap dalam aroma yang keluar. Ya dirinya mencari bau maskulin tubuh Ali yang tertinggal, namun kamar ini memiliki bau yang lain.
Mungkin karena sebulan ditinggal Ali.
Batin Kimmy.
Diperhatikan kamar itu dengan seksama. Masih bersih, persis seperti ada atau tidak ada Ali. Hanya kasur yang sedikit berantakan. Selimutnya menutupi bantal guling. Mungkin Lena habis tidur disini. Pikir Kimmy positif.
Kimmy tak menaruh curiga sedikitpun. Ia tidur di samping tumpukan guling yang berantakan tersebut. Menciumi bantal yang mungkin masih menyisakan bau sampo Ali. Tapi nihil.
Lalu ia menarik selimut itu dan ikut masuk ke dalamnya membelakangi guling, kemudian terlelap.
Dalam tidurnya samar-samar merasakan pelukan yang menghangatkan. Kimmy menarik tangan tersebut untuk makin erat memeluknya.
Kalau ini mimpi, Al. biar aku tidur lebih lama.
Mimpi menjadi kenyataan, pelukan itu lama dan menghangatkan. Kimmy bisa merasakan tangan yang menyentuhnya sekekar Ali.
Ya Tuhan ini mimpi paling indah dalam sebulan ini.
Kimmy enggan membuka mata, takut mimpinya segera berakhir.
Namun karena posisi ini sudah berlangsung selama tiga jam, Kimmy mulai tak nyaman. Pegal di sisi badan yang ia tiban.
Kimmy pun memutar badannya dan membiarkan wajahnya tenggelam ke dada bidang yang ia yakini milik Ali. Lalu membalas pelukan itu.
Ini akan terus jadi tempat ternyaman, Al.
Batin Kimmy yang masih belum sadar.
Wait, sejak kapan Ali tidur gak pake baju?
Kimmy mulai merasakan kejanggalan. Kalau benar ini mimpi, kenapa wangi tubuh ini nyata namun bukan milik Ali.
Ia pun memaksa membuka matanya. Kimmy terkejut bukan main. Ini bukan mimpi seperti yang ia pikirkan daritadi. Tubuh ini nyata. Perlahan ia mendorong pria tersebut agar melepas pelukannya. Kemudian ia memberanikan diri mencoba melihat wajah pria yang selama tiga jam mengungkung tidurnya.
"Aawrrrghhh"
Teriak Kimmy kencang.
"Kamu kok disini Kim? "
Tanya suara itu tak kalah terkejut.
"Lo ngapain meluk-meluk gue? Gak pake baju lagi."
Ucap Kimmy ketus.
"Aku tidur udah lama. Dari pas pulang dari rumah mu."
Jawab Dave tak suka dirinya dituduh yang tidak-tidak.
Braakkkk
Pintu kamar ditutup kencang oleh Lena dan dikunci dari luar. Ia tertawa cekikikan saat kedua orang tersebut sama-sama terkejut. Sebelumnya ia hanya takut jika Kimmy marah mengetahui Dave memakai kamar Ali. Tapi siapa sangka perempuan itu tertidur begitu saja di sebelah Dave yang ia sangka tumpukan guling berselimut.
"Mama buka ma. Gak lucu."
Teriak Kimmy. Namun Lena pura-pura tak mendengar.
"Udahlah mama Lena gak beda sama Ali. Sama-sama jahil. Jangan teriak-teriak terus. Berisik tau."
Ucap Dave yang kembali merebahkan dirinya.
"Lo ngapain di kamar Ali?"
Tanya Kimmy minta penjelasan.
"Nemenin Mama Lena biar gak kesepian."
Jawab Dave sambil menguap.
"Sejak kapan?"
Tanya Kimmy lagi.
"Dari hari pertama Ali gak ada. Papi minta aku nemenin tante Lena."
Jawab Dave.
Pantes tadi masuk kamar ini bukan wangi Ali lagi. Dan gue gak sadar ini bau parfum lo. Dasar nyebelin. Kimmy menggerutu dalam hati.
"Kamu mau sampe kapan duduk situ? Semakin kamu ngeyel, semakin lama tante Lena bukain pintu."
Ucap Dave.
"Mama gak tau aku disini. Yang penting jangan bersuara."
Jawab Kimmy masam.
"Tuh."
Dave menunjuk cctv yang terpasang di kamar Ali.
"Sejak kapan ada cctv di kamar Ali?"
Tanya Kimmy sambil mendekat ke arah Dave untuk duduk di tepi kasur.
Jawab Dave yang sudah mulai mengantuk lagi.
Kimmy terperangah. Selama ini sering tidur di kamar ini tapi tak mengetahuinya. Pantas waktu dulu dirinya menangisi Dave di kamar ini, Ali tau.
Kimmy mencoba menelpon Lena dengan telepon genggam miliknya.
"Ma bukain dong pintunya."
Rengek Kimmy.
Nanti kalau sudah baikkan. Kata Ali mama harus bantu kalian bersatu lagi.
Jawab Lena terkekeh.
"Astaga mama itu gak mungkin."
Jawab Kimmy.
Setidaknya baikkan dulu. Maafin Dave. Dia kan gak salah. Yang salah ibunya.
Jawab Lena tetap tak mau membukakan pintu.
Kimmy pada akhirnya menyerah dan membiarkan Lena bermain bersama mereka sesuka hati. Mungkin menjadi hiburan tersendiri baginya.
"Gimana?"
Tanya Dave.
"Biarin lah. Mungkin mama Lena happy ngerjain kita begini."
Jawab Kimmy pasrah.
"Ya udah tidur lagi. Besok pagi paling baru dibukain."
Ucap Dave cuek.
"Ya lo pake bajulah. Risih gue."
Ucap Kimmy.
"Ya ampun Kim. Kan dari dulu pas tidur di kamar bang Tomi, kamu udah tau kebiasaan ku ini kalau tidur."
Jawab Dave.
"Pake nih."
Kimmy melemparkan baju Dave ke dadanya.
Dave yang hilang kesabaran menangkap wanita itu dan memeluknya erat.
"Lepasin gak Dave. "
Ancam Kimmy.
"Gak akan. Dari tadi cerewet banget."
Ucap Dave makin kencang memeluk Kimmy.
Kimmy yang meronta-ronta akhirnya kehabisan tenaga juga menghadapi Dave yang jauh lebih besar. Ia mulai melunak dan membiarkan Dave memeluknya hingga tertidur karena lelah setelah mencoba melepaskan diri dari Dave.
Setelah melihat Kimmy terlelap pulas, Dave merenggangkan pelukannya dan perlahan meletakkan kepala Kimmy diatas bantal, kemudian menyelimuti wanita itu. Sedangkan ia memilih tidur di lantai beralaskan karpet tipis.
Tengah malam, Kimmy terbangun dan melihat Dave di bawahnya meringkuk kedinginan. Ia pun memberikan selimut miliknya ke atas tubuh Dave.
Ada rasa iba dibenaknya. Namun bila mengingat kejadian penembakan itu, rasanya pria ini pantas mendapat perlakuan buruk darinya.
Kim, aku bahagia disini . Kamu berbahagialah disana. Kembalikan hati putih milikmu ke tempatnya.
Sayup-sayup ia mendengar suara Ali di dalam mimpinya ketika melanjutkan tidurnya.
Kimmy duduk dan termenung mengingat perkataan Ali. Sambil melihat ke lantai, tak ada lagi sosok Dave disana. Kini dirinya yang mengenakan selimut itu kembali.
Aku pasti akan bahagia Al. Tapi bukan sama manusia itu.
Batin Kimmy.
"DAVE!!!! "
Kimmy menutup mata saat Dave keluar dari toilet kamar Ali.
"Kenapa sih? mau dipeluk lagi? "
Tanya Dave menggoda.
"Pake baju. Lo ngapain sih kaya tarzan."
Kimmy tengkurap.
"Tadi kan kamu masih tidur. Ya makanya aku percaya diri aja pake handuk doang."
Jawab Dave sambil mengenakan pakaian lengkap.
"Udah selesai Kim"
Ucap Dave.
"Gila semua orang-orang."
Gerutu Kimmy sambil meraih handle pintu namun masih belum bisa dibuka.
"Di depan tante Lena akting sikap yang normal bisa kan? Biar kita cepat keluar darisini."
Usul Dave.
Kimmy mengangguk tak paham lagi mesti bertindak apa.
Dave pun menghubungi Lena dan mengalihkan panggilan tersebut ke panggilan video. Kimmy dan Dave pura-pura bermesraan di depan Lena.
"Kim laper Ma. Iya kan Dave?"
Ucap Kimmy sembari mengelus elus pipi Dave di hadapan Lena.
Lena yang puas dengan hasil kejahilannya membuka pintu kamar mereka dengan tawa bahagia.
"Ish mama. Aku tidur sama mama malem ini. Gak ngeyel lagi. Janji. "
Kimmy mengacungkan dua jarinya ke udara.
Lena hanya tertawa sambil mengusap kepala Kimmy.