Mr.Snowman

Mr.Snowman
Tanpa Jawab



Tanggal dan waktu sudah ditetapkan. Berita bahagia itupun telah sampai ke telinga Dayana. Melalui teman-teman lamanya di tempat ia pernah bekerja dulu. Kimmy yang bersemangat membagikan kabar bahagia itu saat ia berhenti untuk membeli barang keperluan rumah yang sudah kosong. Dengan sukacita ia membeberkan waktu yang tinggal sebulan lagi. Tepatnya bertepatan dengan hari pernikahan Raka dan Letty.


Hati perempuan cantik tersebut seakan patah. Bagian sebelahnya hilang. Padahal sebelumnya bagian itu sudah retak, namun masih ia pegang kuat agar tak terjatuh. Kali ini benar-benar sudah usang. Hati itu harus diganti yang baru.


Dengan kecepatan kencang, ia menginjak pedal gasnya dengan kuat. Tak peduli apapun yang terjadi, Dayana bertekad bertemu dengannya.


Aku hanya memastikan mulut manis si penipu itu!


Batin Dayana kesal.


Tiba ia ditempat yang penuh kenangan bersama Tomi dahulu. Ia memaksa masuk dan menggebrak meja perempuan tua itu.


"Tak apa bila saya saja, kau bohongi! Tapi jangan membodohi orang lain lagi untuk percaya dengan omong kosong anda!"


Dayana berteriak. Entah kekecewaan semacam apa yang membuatnya sebrutal ini.


"Nona cantik, saya tidak pernah memaksa siapapun datang ke tempat saya ini. Mereka termasuk nona datang begitu saja untuk saya bacakan kartu-kartu yang kalian pilih."


Mami Ruwi tersenyum. Sedang Dayana mengatur napas, kekecewaan membuatnya menjadi orang lain yang mungkin ia sendiri tak kenali.


"Ambillah satu kartu lagi. Tak usah nona bayar, anggap permintaan maaf dari saya."


Ucap lembut peramal tersebut.


Dayana sungkan, namun entah bagaimana isi kepala dan gerakan tangannya tak sejalan. Ia menunjuk satu dari sekian banyak kartu yang di letakkan peramal tua tersebut.


"Berjalan teruslah nak. Badaimu sudah berlalu. Ada pelangi di depan sana. Jangan kau tutupi bekas jejak kaki di belakangmu saat hujan kemarin. Itu pengingat agar tak lupa kau bersyukur."


Mami Ruwi membacakan kartu yang Dayana pilih.


"Hah bagaimana bisa saya percaya lagi. Kau bilang waktu itu kami harus tetap bersama dan tak boleh berbalik arah. Satupun dari kami tidak berbalik."


Ungkap Dayana dengan tatapan kosongnya.


"Bagaimana bila salah satu mendorong atau terjun kedalam ombak besar itu? menganggap perahunya terlalu banyak beban. Salah satu kalian berpikir seperti itu. Padahal artinya kalian akan kehilangan."


Ucapan Mami Ruwi membuat Dayana terduduk lemas di lantai.


"Iya, aku yang melompat ke dalam badai. Aku pikir akan menolongnya. Tapi perahu itu terus berjalan ke depan dan aku masih terombang-ambing ditempat itu selamanya."


Jawab Dayana menatap cahaya lampu. Seakan disitu kenangannya terbuka.


"Ya nona, begitulah sebuah hubungan. Tak peduli berapa lama kalian di perahu yang sama. Tak penting jika jarak kalian hanya sejengkal lagi sampai tujuan. Jika takdir berkata lain, kau perlu menumpangi perahu berikutnya. Dan belajar mengikhlaskannya."


Mami Ruwi mendekati Dayana dan memeluk wanita itu. Seakan paham apa yang sedang dirasakan Dayana.


Setelah bercerita panjang lebar, Dayana mulai merasakan hatinya lebih lega, pikirannya perlahan terbuka. Bukan karena ramalan selanjutnya. Melainkan ia hanya butuh teman untuk mendengarnya menangis menumpahkan kekesalan dan kekecewaannya.


Dayana keluar dengan perasaan lebih baik, seolah ia telah bercerita pada sahabat terbaik.


"Emm, terimakasih. Saya pikir kau lebih baik menjadi psikolog dibanding pembaca tarot."


Teriak Dayana sambil tersenyum di depan pintu rumah ramal tersebut. Sedang Mami Ruwi tersenyum mendengar pendapat Dayana.


Bisa-bisanya selama ini aku percaya ramalan. Seperti tak punya Tuhan saja.


Batin Dayana. Lagi ia tersenyum. Langkahnya menjadi lebih ringan kali ini.


Sementara itu di tempat lain, Kimmy yang sibuk mengantar Wanda bersiap untuk acara pernikahannya, mulai dari pergi ke butik, memilih hidangan catering, tempat dan beberapa persiapan lainnya dikejutkan dengan kemunculan Anne. Yang tak lain merupakan pemilik gedung yang telah di sewa Tomi dan Wanda untuk pernikahan mereka.


"Huffht, sial perputaran saya dan Dave selalu ada kamu."


Anne menghina pelan.


"Tante kurang bersyukur nih, kalau yang tante liat malaikat bukan saya lagi, berarti tante udah di surga."


Jawab Kimmy membuat Wanda terkekeh.


Anne melemparkan senyum penuh arti.


"Udah yuk Kim, gak usah di dengerin."


Wanda mengajak Kimmy menjauh.


Kimmy berjalan dengan dorongan penuh dari Wanda, kakinya seakan berat melangkah. Ia ingin tau apa maksud perkataan Anne. Ia berbalik dan berlari mendekati ibunda Dave dengan sejuta keingintahuannya yang besar.


"Apa ancaman itu yang membuat Dave berubah sebelum akhirnya dia pergi?"


Tanya Kimmy tanpa basa-basi.


"Ibu mana yang tega mengancam anak yang dilahirkan dari rahimnya sendiri?"


Kimmy tak ingin menerima jawaban apapun, karena baginya itu hanyalah bagian dari masa lalu. Yang ia inginkan hanya Dave bahagia tanpa tekanan dari ibunya.


"Kalau iya, kamu mau apa? Sudah ada Ali, mau kembali ke Dave? Haha murahan! serakah !"


Jawaban telak dari Anne membuat Kimmy bergetar. Rasanya ingin membalas namun ia menahan.


"Saya sudah bahagia bersama Ali. Saya hanya mengingatkan satu hal. Sepertinya mendoakan jauh lebih sempurna daripada mengancam. Biarkan Dave bahagia dengan pilihannya. Jangan memaksa Dave untuk mencintai pilihan tante."


Kimmy berbalik meninggalkan Anne.


"Urusanmu apa?"


Teriak Anne.


"Saya tidak mengurusi apa-apa. Anggap saja tadi tidak terjadi apa-apa."


Jawaban Kimmy membuat harga diri Anne terasa runtuh. Didepan para karyawannya, Kimmy berani memperlakukan Anne dengan rendah. Kali ini bukan hanya tak ada restu, namun kebencian menjalar di hati Anne.


Wanda mencubiti pipi Kimmy yang cemberut.


"Mikirin apa? Dave? Jadi sebenernya lu masih suka sama Dave?"


Wanda menggoda.


"Iya mikirin. Jadi perubahan sikap Dave waktu itu karena tante Anne. Tapi gue begitu benci Dave saat itu. Gue nyesel bersikap kaya gitu sama dia."


Jawab Kimmy termenung.


"Terus kalo Dave bilang masih suka sama lu, lu akan bersikap gimana setelah tau hal ini? "


Tanya Wanda.


"Gue hanya akan meneruskan apa yang sedang gue jalani tanpa menengok ke belakang."


Jawab Kimmy yakin.


"Seandainya dulu Tomi setegas lu, gue gak akan pernah ngerasain sakit hati."


Timpal Wanda.


"Udah lewat juga kan bu. Happy ending."


Tutur Kimmy memeluk Wanda.


Keduanya melanjutkan rencana perjalanan hari ini. Dengan banyak pertanyaan dibenak Kimmy namun ia bingung akan mendapatkan jawaban memuaskan dari siapa.


Sebaiknya gue gak mencari tau, karena hanya akan menyakiti Ali. Batin Kimmy


Jangan lupa Like, Vote dan Commentnya ya readers 💕