
Dave mengunci pintu kamar Tomi dan diam-diam sudah berada di samping wanitanya yang masih mengoceh tak karuan.
CUP
Dave seketika mencium bibir Kimmy lembut. Kimmy terkejut namun tak menolaknya.
"Jangan marah-marah nanti cepat tua."
Ucap Dave sambil mengelus pipi Kimmy.
"Dave, kalo kamu pergi kaya Kak Tomi gitu, sumpah aku gak akan maafin."
Kimmy masih meracau tak jelas.
"Bang Tomi punya alasan untuk pergi, Kim. Jangan salahin dia. Dia cuma sedang mengalah sama keadaan."
Jawab Dave.
"Buat kami para pria, kami harus bisa berpegangan pada ucapan. Tadi dia terlanjur berucap kaya gitu. Dia butuh waktu untuk membuktikannya."
Dave melanjutkan kata-katanya.
"Ya udah kalo gitu, lu jangan pernah asal berucap."
Ucap Kimmy sambil memeluk tubuh Dave. Dave tersenyum sambil mencium kepalanya.
Tomi menendang-nendang botol kaleng kosong. Ia kacau tak tahu harus berbuat apa. Cita-citanya tiga tahun terakhir ini harus pupus begitu saja. Melihat Dayana terpukul seperti tadi, membuatnya terpaksa mengeluarkan kata-kata yang tak sekehendak dengan hatinya.
"Tom..yuk."
Seorang gadis cantik memanggil Tomi untuk segera kembali ke mess.
"Duluan Wan."
Jawab Tomi.
Wanda menarik tangan Tomi untuk mengikutinya. Perempuan yang lebih muda tiga tahun dari Tomi ini, sangat mengagumi dirinya.
Entah mengapa selain dengan Dayana, sikap Tomi tak bisa sehangat biasanya. Ia tak beda dengan Marcel dan Dave dalam urusan seperti ini.
"Lepasin."
Tomi menarik kasar tangannya, kemudian masuk ke dalam tempat yang menjadi kamarnya. Menunggu keberangkatan besok pagi.
"Dasar Snowman."
Gerutu Wanda.
"Apa lu bilang?"
Tanya Tomi sambil mengangkat dagu Wanda kasar. Perasaan perempuan itu menjadi berkecamuk, ada rasa takut bercampur dengan rasa bahagia ketika mata mereka bertemu.
Wanda menutup matanya. Ia tak kuasa memandang lekukan bibir Tomi yang begitu menawan.
"Lu mikirin apa?"
Tanya Tomi seraya melepaskan tangannya.
"Aku suka sama kamu, Tom."
Ucap Wanda gemetar.
"Oke gue terima."
Jawab Tomi tanpa berpikir kemudian ia kembali masuk ke dalam kamar. Pikirannya kalut. Ia tak peduli telah menjadikan Wanda hanya sebuah pelarian. Yang terpenting saat ini bisa melupakan Dayana.
Gadis itu tak percaya bahwa dirinya telah menjadi kekasih dari pria yang ia kagumi.
Di kediaman keluarga Douglas ..
Kimmy telah tertidur pulas di ranjang Tomi, Dave keluar dari kamarnya dan menemani Ali yang tengah menonton televisi. Dayana masih meratapi kisahnya yang ditakdirkan oleh dirinya sendiri.
Gea yang kelelahan, memilih merebahkan diri di kamar Marcel. Ia tak mau mengganggu Dayana. Marcel menemaninya sambil mengerjakan beberapa pekerjaan yang belum terselesaikan.
"Kamu gak bantu ngasih pengertian sama Tomi?"
Tanya Gea sambil mengelus-elus perutnya.
"Mereka sudah besar. Saya gak bisa lagi masuk mencampuri kehidupan pribadi Tomi maupun Kimmy."
Jawab Marcel sambil tetap mengerjakan pekerjaannya.
"Kamu istirahatlah. Jangan banyak pikiran. Kasian bayimu."
Ucap Marcel perhatian.
"Gak bisa, aku laper. Pengen makan sate deh."
Jawab Gea seraya memiringkan tubuhnya.
"Ge, daritadi kita udah pesen empat macam makanan. Dari tongseng, sop iga, ayam bakar, dan baru sejam lalu udang asam manis. Kamu cuma cicip sedikit setelah itu saya yang harus habisin. Kali ini harus habis ya."
Minta Marcel lembut. Ia menelpon salah satu rumah makan untuk mengantarkan pesanannya.
Gea tersenyum ke arah perutnya. Seakan bersekongkol mengerjai pria di hadapannya.
Ucap Marcel seraya menerjang tubuh Gea yang masih dalam posisi tidur. Marcel mendekapnya erat.
"Jadi selama kamu ngidam tanpa saya. Siapa yang habisin makanan kalian?"
Tanya Marcel.
"Gak ada. Karena anak ini juga gak banyak maunya selama kita berjauhan. Dia gak sedikitpun ngerepotin aku."
Jawab Gea mengelus perutnya kembali.
"Oh jadi ini ulahmu hah?"
Marcel ikut mengelus perut Gea.
"Makasih udah banyak memberi cinta pada kami."
Ucap Gea sambil memilin rambut Marcel.
"Saya cinta kalian berdua. Terimakasih telah melengkapi hidup saya."
Ucap Marcel seraya mendekatkan wajahnya dengan Gea. Bibir mereka kini bersentuhan, Marcel menghisap lidah Gea dengan lembut. Perlahan turun ke leher dan ke belakang telinga Gea. Membuat wanita itu sedikit mengeluarkan suara mendesah.
"Jangan Cel. Jangan ulangi dosa yang sama. Sebentar lagi."
Cegah Gea.
Marcel menurutinya. Ia segera melepaskan tubuh perempuan calon ibu anaknya itu.
"Cel, kenapa kamu lebih dukung Ali untuk sama Kimmy?"
Tanya Gea setelah mereka berbaring berhadapan.
"Kalau feeling saya gak salah, Ali lebih sabar menghadapi tingkah Kimmy yang manja. Belum lagi dulu Dave pernah buat Kim nangis karena dia lebih suka perempuan lain."
Jawab Marcel mengingat.
"Itu kan dulu, buktinya sekarang Dave selalu ada untuk Kimmy."
Sanggah Gea.
"Jadi kamu dukung Dave?"
Tanya Marcel menjauhi wajahnya dari Gea
"Bukan. Aku setuju siapapun yang sama Kimmy nanti udah pasti yang terbaik. Cuma, kamu jangan terlalu mematahkan semangat Dave. Kalo ternyata mereka jodoh kamu mau bilang apa?"
Jawab Gea memainkan salah satu perannya sebagai calon istri yaitu menjadi penasehat yang bijak.
"Jadi menurut kamu, aku harus gimana?"
Tanya Marcel sambil mencium pucuk kepala Gea.
"Bersikap netral lah . Biar hati Kimmy yang memilih. Kamu cukup berdoa buat kebahagiaan mereka."
Jawab Gea disusul sentuhan lembut di rambut Marcel.
"Baik. Saya akan mencoba percaya pada pilihan Kimmy."
Marcel menyetujui.
Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00, Gea berpamitan untuk pindah ke kamar Kimmy.
Namun Marcel mencegahnya. Ia menggenggam tangan Gea ketika wanita itu hendak turun dari ranjang. Hingga tubuh Gea menindih tubuhnya.
"Temani saya sampai tidur. tetap elus kepala saya. Rasanya sudah lama tidak mendapat belaian seperti itu. Terakhir sebelum papa pergi. Setelah itu seakan beban dunia sudah pindah ke bahu saya."
Ucap Marcel mengingat. Gea mengangguk setuju. Ia mengelus kepala Marcel dengan penuh kasih sayang. Tapi justru malah Gea yang tertidur lelap.
"Tidurlah sayang. Saya akan tidur di sofa."
Ucap Marcel sambil berdiri dan mencium kening Gea.
Marcel tertidur di sofa kamarnya. Ia menggunakan tangannya sebagai tumpuan kepala. Satu jam kemudian Gea terbangun mendapati Marcel sedang lelap tertidur tak jauh dari ranjangnya. Ia bangkit dan menyelimuti Marcel.
"Sayang, tampan sekali papamu. Kau pasti akan setampan dia."
Gea berbicara pada janin di dalam kandungannya.
-- Maaf ya Readers, tadinya kan udah direncanain Babang bule visualnya.
Sempet kan Renata bilang Marcel Tomi mirip Hemsworth Brothers??
Tapi setelah pihak NT ganti cover karyaku jadi Asian people gitu, gak nyambung rasanya tetap pada rencana. Jadi aku pilih idol K-Pop yang paling pas menggambarkan mereka.
Tapi yang mau ngebayangin Adipati Dolken, Iqbal Ramadhan, Jonas Brothers, Zayn Malik, personil One Direction. Bebaass.
Haha
salam sayang,
Ch_Mastya