Mr.Snowman

Mr.Snowman
Masa lalu dan masa depan



Pagi pagi sekali Dave sudah menjemput Kimmy mengajaknya mengundang seseorang yang sangat berpengaruh bagi tumbuh kembang keduanya sewaktu kecil.


Mereka telah sampai di sebuah bangunan dengan pagar berwarna cokelat. Bertuliskan Panti Asuhan Kasih.


"Kamu tau tempat ini Dave? Aku malah belum tau gedung baru mereka. Pasti Kak Marcel atau Kak Tomi yang kasih info ya?"


Ucap Kimmy menerka-nerka.


"Kalau gedung lamanya ingat?"


Dave menguji ingatan Kimmy.


"Enggak juga. Aku terlalu kecil waktu dibawa keluar sama paman Lukas."


Jawab Kimmy.


Dave sedikit kecewa dengan jawaban Kimmy. Berharap wanita itu sedikit mengingatnya, mudah baginya menjelaskan siapa dirinya di masa kecil.


"Kamu kenapa gak bilang sih mau kesini? Tadi kan kita bisa berhenti dulu beli buah tangan untuk semua penghuni panti."


Protes Kimmy.


"Kimberly sayang, makanya jangan main hp aja di jalan. Itu di jok belakang aku udah borong isi toko kue mama Lena untuk dibawa kesini."


Ucap Dave sambil mulai mengangkuti satu persatu kotak kue ke dalam pelukannya.


"Hehe maaf ya gantengku sayang."


Kimmy menunjukkan barisan giginya yang rapi sembari membantu Dave membawa kotak kotak kue tersebut.


Seorang penjaga mengerahkan anak-anak penghuni panti tersebut untuk membantu Kimmy dan Dave. Mereka begitu bahagia mendapatkan banyak cemilan manis sepagi ini.


Sedangkan penjaga tadi mengantarkan Dave dan Kimberly ke ruangan lain.


Saat pintu dibuka, bibir Kimmy begitu kelu. Lututnya terasa lemas. Seorang perempuan tua duduk di kursi roda dan merentangkan tangannya pada kedua orang itu.


"Kimberly kecilku yang manis. Tadi Marcel telepon kalian mau kemari. Ibu gak sabar."


Ucap Ibu asuh Kimmy tersebut.


"Ibu, maaf Kimmy gak pernah kesini."


Kimmy memeluknya dengan berurai tangis. Ia merasa dirinya sangat durhaka. Sampai tidak mengetahui bahwa perempuan tersebut sudah tak gagah lagi seperti dulu.


"Gak apa-apa, Kim. Ibu tau kalian sangat sibuk. Tapi ibu bersyukur di balik kesibukan kalian, Marcel dan Tomi masih sering membantu mendanai panti ini sehingga bisa berdiri sampai sekarang ini."


Jawab Ibu panti.


"Benar begitu bu? Mereka sering kesini?"


Tanya Kimmy heran karena tak pernah mendengar cerita mengenai hal ini.


"Mereka gak pernah kesini. Kita hanya berhubungan via telepon. Bahkan Marcel dan Tomi tidak saling mengetahui satu sama lain. Mereka masih memegang teguh prinsip tangan kanan memberi, tangan kiri tidak perlu tau. Ibu bangga sama mereka."


Ibu panti mengelus-elus kepala Kimmy.


Dave yang masih menyaksikan pertemuan itu lewat pintu, hanya diam berdiri. Tidak ingin mengganggunya.


"Omen juga gitu. Sampai sekarang masih berkontribusi baik secara langsung maupun tidak di panti ini. Iya kan Omen? Sini masuk sayang. Kenapa kamu berdiri disitu?"


Ibu Panti memanggil Dave ke dalam.


"Itu Dave bu. Calon suami Kimmy."


Sahut Kimberly.


"Ibu terkejut. Kalian akan menikah? Memang dari kecil sudah jodoh. Mau diapakan tetap bersatu ya."


Jawab Ibu panti sumringah. Sedangkan Kimmy mengernyitkan alis. Menganggap faktor usia membuat ibu menjadi sedikit pelupa.


"Iya bu, makanya saya dan Kim kemari. Mau undang ibu untuk datang ke pernikahan kita hari sabtu ini."


Ucap Dave sambil membawa masuk sebuah kotak berisi bolen keju kesukaan Ibu panti.


"Ibu jadi ingat dulu Omen jagain Kimmy dari anak-anak nakal. Sampai satu panti menjodohkan kalian kan. Hahah ternyata itu sebuah doa."


Ibu mengingat sambil tertawa.


"Ibu maaf, ini Dave. Bukan Omen. Ibu kangen Omen ya?"


Kimmy tak enak hati jika ibu panti terlalu sering menyebut masa lalunya di depan Dave.


"Iya memang Dave Norman. Bukannya waktu kecil kamu manggil dia Omen juga, Kim? Anak nakal yang suka diam-diam bawain makanan untuk Tomi kalau lagi di hukum. Anak dengan keluarga lengkap tapi dia lebih senang berada di panti.Hahah Dave dave."


Ibu panti kini mengelus kepala Dave yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.


Kimmy melihat kedekatan Dave dan Ibu panti membuatnya semakin ragu dengan dugaannya bahwa ibu panti hanya sedang lupa.


Dave mengecup kening ibu panti dengan tulus. Begitupun sebaliknya.


Kimmy semakin tak percaya dibuatnya.


Setelah berpamitan, mereka masuk ke dalam mobil kembali.


"Aku tau ibu pikun. Tapi kenapa kalian seakrab itu?"


Tanya Kimmy sambil menggigit kukunya.


"Ibu gak pikun, sunshine. Apa yang dibilang ibu benar."


Jawab Dave.


Kimmy menggeser tubuhnya menjauh, menatap tajam mata Dave.


"Enggak. Gak mungkin. Kamu cuma cemburu sama Omen kan?"


Kimmy mulai panik.


"Itu benar Kimberly. Kalau kamu sadar rumahku gak pernah ada perubahan selain warna cat. Rumah besar persis di samping panti yang lama."


Dave menepikan mobilnya memberi ketenangan pada Kimmy. Namun wanita itu menepis dan menolak.


"Sejak kapan kamu tau, kalau kamu itu Omen yang aku maksud?"


Tanya Kimmy.


"Sejak buka kaos kakimu waktu tidur. Luka di kakimu sama dengan luka kaki sansanku."


Jawab Dave.


"Kak Marcel dan Kak Tomi tau ini?"


Kimmy bergetar saat mendapatkan kenyataan.


"Mereka tau saat mami meninggal. Ingatan mereka gak seburuk kamu."


Dave memeluk Kimmy namun lagi lagi ditolak.


"Aku benci pembohong Dave."


Kimmy berteriak.


"Aku cuma cari waktu yang tepat Kim. Waktu aku sadar, aku masih cari bukti dan yakinin diri aku kalau kamu bagian masa kecil ku. Aku jadi sering ke panti saat itu untuk korek informasi tentang kamu dari Ibu. Tapi waktu semuanya udah jelas, kita harus pisah karena tuntutan mami. Setelah itu kamu sama Ali. Aku gak mau hancurin semuanya hanya karena aku masa lalumu, Kim."


Jelas Dave.


"Hanya kamu bilang? Omen itu bukan hal yang bisa kamu sepelein, Dave. Dia impian aku bertahun -tahun."


Ucapan Kimmy membuat hati Dave terenyuh, sebegitu berharga dirinya bagi gadis ini.


"Terus kalau Omen bukan aku, dan sekarang dia datang. Kamu bakal milih siapa?"


Tanya Dave sedikit cemburu.


"Bodoh! Aku akan pilih masa depanku. Sedang Omen, aku belum sempat ucapin makasih sama dia selama ini."


Jawab Kimmy.


Dave membulatkan matanya mendengar perkataan Kimmy.


"Kamu cuma mau bilang terimakasih?"


Tanyanya heran.


"Hmm apalagi?"


Tanya Kimmy menantang.


Dave menggeleng kecewa. Ia pikir Kimmy akan berharap lebih padanya yang dulu.


"Terimakasih sudah menjadi masa depanku, Omen. Kamu menepati janjimu."


Kimmy mencium hidung Dave dan tersenyum tipis, masih kesal dengan kenyataan yang disembunyikan Dave terlalu lama.


Terserah sikapmu hari ini, aku terima. Kamu gak batalin pernikahan kita karena masalah ini, aku udah bahagia banget.


Batin Dave.


Kemudian Dave mengelus kepala Kimmy dan menciumnya. Namun gadis itu masih memaksakan senyumnya.


Aku gak suka Dave, kamu lebih tau kenyataan ini sejak lama. Tapi gak kasih tau aku. Tapi aku juga bahagia, karena anak kecil itu kamu. Masa lalu dan masa depanku.


Batin Kimmy.