
"Hmm, Tomi oh Tomi.. lu udah kaya bos lu aja. Banyak jaimnya. Usaha dong kalau cinta. Mau jadi perjaka tua kaya dia?"
Kedatangan Letty mengejutkan Tomi yang menghabiskan malamnya memandangi langit di geladak utama.
"Oh jadi lu kira gue gak usaha? Lu nya aja yang galak kaya singa buat laki-laki manapun maju mundur."
Raka yang datang membawa dua buah kopi hangat untuk dirinya dan Tomi membalas perkataan menohok Letty.
"Dih, situ sensitif banget perasaannya. Lagian kok ikut-ikut kesini?"
Ketus Letty.
"Heh Letty, gue dari tadi disini nemenin tim gue yang galau. Nih gue bawain kopi biar dia mikirnya enak."
Raka melewati Letty dan menyodorkan satu gelas kopi tersebut pada Tomi.
"Oh ya udah. BYE! -- Eh Iya Tom, inget pesen gue. Jangan sampai nyesel."
Ucap Letty hendak berlalu pergi.
"Nenek sihir urusan kita belum kelar. Lu abis ngatain gue perjaka tua."
Raka menghentikan langkah perempuan itu.
"Gue gak nyebut nama! Baper lu, pantes gak laku."
Jawab Letty.
Tomi menepuk dahi, seakan peperangan mereka setiap hari di dapur tak cukup untuk saling melempar hinaan.
"Weeiitss, jangan salah. Gue laku keras. Banyak cewek yang deketin gue. Emang elu kesepian terus?"
Ujar Raka tak mau kalah.
Letty terdiam dan mengepal jemari tangannya. Ada rasa sesak ketika Raka mengakui itu. Biasanya perdebatan di dapur tak sampai membuat Raka menyakiti hatinya. Tapi kali ini benar-benar melukainya.
"Haha akhirnya gue menang. Kalah kan lu?"
Tawa Raka pecah. Sedangkan Letty kembali membalikkan badannya dan melangkah meninggalkan mereka.
"Kok?"
Raka melirik pada Tomi. Pria tersebut hanya mengangkat bahu tak mengerti juga apa yang membuat wanita bawel tersebut mendadak diam.
"Kalo lu suruh gue kejar, gue bakal kejar Tom."
Bisiknya malu-malu.
"Haha, kejar sana."
Tomi tersenyum meledek. Ia tau persis Raka mencintai wanita itu.
Tak butuh waktu lama. Raka berlari kencang dan menahan tangan Letty untuk tetap berada bersama mereka.
"Lu nangis? Nenek sihir nangis?"
Tanya Raka heran saat tatapan mata mereka bertemu.
"Enggak. Gak usah urusin gue! Kan banyak cewe yang perlu perhatian lu."
Letty menghapus airmatanya.
"Lu cemburu?"
Tanya Raka spontan.
"Jadi selama ini, lu baik sama semua perempuan. Haha dasar. Naifnya gue."
Letty menunjukkan kelemahannya.
"Lu kenapa sih aneh banget? Kita kan biasa adu mulut kaya gini."
Raka masih tak paham.
"Gak apa. Udah sana cepet nikahin salah satunya. Jangan bangga deket sama banyak cewek."
Letty melepas kasar tangannya. Namun Raka mencengkramnya semakin kuat.
"Jadi itu kemauan lu? Ya udah, disini di tempat kita bekerja, disaksikan langit, laut dan angin."
"Jangan lupa ada gue, chef."
Celetuk Tomi.
"Hmm.. gue ulang. -- Disini di tempat kita bekerja, disaksikan langit, laut, angin dan Tomi. Bersediakah kamu Letty Soraya menjadi pendamping hidupku?"
Raka menatap tajam wanita yang dicintainya selama bertahun-tahun itu.
"Gak lucu! Lu lamar perempuan yang deket sama lu. Tadi kan lu bilang banyak."
Ucap Letty.
"Lu doang nenek sihir yang deket sama gue."
Jawab Raka.
"Tadi lu bilang laku keras, banyak cewe yang deket sama lu.-- Tom lu gak tuli kan pas dia ngomong gitu?"
Letty menarik tangannya dari genggaman Raka.
"Gue bilang cewe deketin gue. Guenya enggak mau. Karena gue setia nunggu satu orang yang menyihir gue sampai tergila-gila sama dia. Makanya gue panggil perempuan itu nenek sihir."
Jelas Raka.
Ucapan Raka meluluhlantahkan tembok pertahanan yang dibangun Letty dengan seketika. Ia tersenyum dan menitikan airmata. Terharu, bahagia dan kesal bercampur jadi satu.
"Jadi mau ya terima gue? Gue takut makin tua, nanti pas punya anak kaya jalan sama cucu."
Raka menunduk malu.
Tanya Letty.
"Ini kan dadakan karena lu minta dinikahin. Kalau ada mermaid yang buka toko perhiasan dibawah juga gue beli."
Ucap Raka.
"Heh! gue gak minta dinikahin. Lu yang maksa untuk gue terima."
Balas Letty.
Tomi menepuk dahi untuk yang kedua kalinya.
"Gue kira bakal manis. Malah asem lagi."
Tomi berjalan meninggalkan keduanya.
...***...
Sejak hari itu, semua tampak biasa saja. Tak ada yang berbeda. Raka dan Letty masih dua orang yang sering bertengkar di depan para bawahannya.
"Gue minta tambahan tim dong dari tempat lu."
Ucap Letty pada Raka.
"Wanda kemana? Sakit?"
Tanya Tomi membuat semua karyawan ikut menengok kearahnya.
"Kan dia mau balik. Kakeknya sakit, minta Wanda supaya cepat nikah sebelum si Kakek gak ada."
Jawab Letty.
"Balik? Gimana caranya? Kan masih seminggu lagi."
Tanya Tomi panik.
"Dia udah pesan speedboat buat jemput. Nanti diantar ke dermaga terdekat. Terus ya naik pesawat."
Jawab Letty sambil sibuk mengupas buah.
Seketika Tomi melepas apronnya dan menemui Raka. Tak perlu banyak bicara karena Raka sudah menjadi tempatnya berkeluh kesah selama ini. Pimpinan chef itu hanya mengangguk. Tomi berlari ke kamar Wanda namun wanita itu sudah tidak ada.
Tak berhenti sampai disitu, ia berlari mencari keberadaan Wanda di semua tempat namun tak juga ketemu. Tomi bersimpuh, kali ini ia rapuh. Kisahnya menjadi sama untuk kedua kalinya. Semua selalu terlambat disadari.
Ia berdiri dan berjalan gontai kearah dapur. Bagaimanapun perasaannya, kewajiban tetap harus dijalankan. Ia membuka pintu perlahan seakan tak ada daya mendorongnya.
Pemandangan pertama ketika pintu terbuka membuatnya kembali bergairah. Entah ada kekuatan darimana yang membuatnya kembali bersemangat.
"Wanda??"
Ucapnya pada wanita yang sedang menepuk-nepuk lengan bajunya yang kotor.
"Kamu gak jadi berangkat?"
Tanya Tomi lagi.
"Berangkat kemana?"
Kini Wanda yang balik bertanya.
"Kata Mbak Letty kamu mau pulang nemuin Kakek."
Jawab Tomi.
"Aku dari toilet, abis ganti pembalut."
Ucap Wanda. Tomi menatap Letty yang menyeringai seakan menertawakan kebodohannya.
"Ah terserah."
Tomi memeluk erat tubuh Wanda dihadapan semua rekan kerjanya. Ia sudah tak peduli lagi dengan situasi yang ada. Seakan tak mau melepas Wanda. Pelukan itu semakin kencang.
"Ehm, ehem... Profesional Tom. Ini lagi jam kerja."
Raka mendekat dan merangkul bahu Letty.
"Maaf chef."
Tomi tersenyum. Namun berbeda dengan semua mata yang melihat pemandangan langka ini. Baru dikejutkan dengan Wanda dan Tomi yang mempublikasikan hubungan mereka. Kini harus bertambah syok karena dua musuh berangkulan mesra.
"Attention.. Bulan depan kalian semua diundang ke pernikahan kami. Note ya. Jangan sampai ada yang gak dateng!"
Pernyataan Raka membuat semua karyawan tersentak.
"Ah cuma prank. Tadi Tomi udah kena."
Timpal salah satu karyawan magang.
"Prank prank ndasmu! Beneran gue sama Letty mau jadi musuh seumur hidup, setiap waktu. Gak ditempat kerja doang. Jadi kita putusin untuk serumah juga, caranya ya kan harus menikah dulu. Kalian semua diundang. Harus hadir sebelum acara dimulai ya."
Ucap Raka membuat seluruh karyawan mengernyitkan dahi tak mengerti niatnya menikah yang antimainstream.
"Wah supaya kita cicipin makanan duluan ya chef?"
Tanya karyawan magang tersebut.
"Iya cicipin karena kalian yang masakin. OKE team?"
Jawab Raka nyeleneh.
"Huuuuu"
Seluruh karyawan menyoraki kedua pasangan yang merepotkan ini.
Jangan lupa Like, Comment, dan Votenya ya . Terimakasih💕