Mr.Snowman

Mr.Snowman
Perangkap



"Jadi pas kejadian lu lagi videoin Dave?"


Tanya Renata. Kimmy hanya mengangguk sambil sesekali menyeka air matanya.


"Sini gue liat."


Renata merebut ponsel Kimmy dan mengeceknya. Visualnya memang tak jelas terlihat setelah merekam Dave, tapi suara keributan yang terjadi antara keduanya sebelum akhirnya video itu berakhir sangat jelas.


"Sini gue kirim ke Dave."


Ucap Renata.


"Gak usah! Biar aja dia dengan persepsinya"


Tolak Kimmy.


Renata diam-diam mengirim video tersebut ke ponsel miliknya. Ia akan memberitahu Dave jika diperlukan.


Kimmy tertidur setelah menangis lama. Renata memandangi perempuan yang kini sudah ia anggap saudara. Kemarin lu bantu gue sama Kak Kenny. Sekarang gantian gue yang bantuin lu.


Batin Renata.


**


Marcel terbangun pukul tiga pagi, ia menggosok-gosok matanya. Menyadari ada yang aneh pagi ini begitu dingin, pakaiannya sudah terlepas dari tubuhnya. Ia tidur tak menggunakan sehelai baju pun. Marcel mencoba duduk perlahan, masih merasakan pusing akibat minuman beralkohol yang ia konsumsi kemarin.


"GEA?!"


Betapa terkejut dirinya, melihat Gea tertidur dalam posisi duduk di sudut kamar sambil berselimutkan bed cover miliknya.


Marcel mulai mencerna apa yang telah terjadi kemarin. Ia mendekati perempuan itu perlahan.


"Gea, apa yang sebenarnya terjadi?"


Tanya Marcel sambil meraih selimut yang menutupi tubuh Gea. Ia ingin meyakinkan apakah dugaannya benar.


"Pergi sana! lepasin aku, Cel."


Ucap Gea yang mengira Marcel akan melakukan hal itu lagi padanya.


"Saya yang berbuat ini sama kamu, Ge?"


Tanya Marcel terperangah.


"Kamu udah sadar?"


Gea bertanya dengan wajah ketakutan.


"Ge, Jawab! Saya yang melakukan ini terhadap kamu?"


Tanya Marcel sekali lagi. Gea hanya mengangguk sambil menangis pelan. Suara dan air matanya sudah habis akibat menangis kemarin.


Marcel menengadah ke langit. Ia merutuki dirinya sendiri sambil memukul-mukul kepala dan tinjunya ke dinding secara bergantian. Gea berdiri mendekatinya.


"Sudah terjadi Cel. Kamu gak usah kuatir, aku gak akan minta kamu bertanggungjawab. Kamu ngelakuin itu gak sadar kemarin."


Ucap Gea sambil menangis dan mengelus bahu Marcel.


"Perempuan sesabar apa sih kamu ini Ge? Sudah saya sakiti berkali-kali masih memaafkan saya."


Marcel meratapi perbuatannya selama ini kepada Gea. Kini ia mendekap perempuan itu dengan penuh cinta dan penyesalan.


"Saya akan tanggung jawab Ge."


Ucap Marcel.


"Gak, Cel. Aku gak mau kamu nikahin cuma karena rasa bersalah."


Gea menolak.


"Selama ini saya cinta kamu Ge. Apa kamu gak pernah sadar itu?"


Ucap Marcel jujur. Kini Gea yang terperanjat.


"Aku sudah punya Ryo."


Gea melepaskan pelukan Marcel.


"Saya yang akan ngomong sama Ryo."


Timpal Marcel.


"Aku gak mau nyakitin Ryo. Dia udah baik banget sama aku."


Ucap Gea.


Tanya Marcel meninggi. Gea hanya diam tak dapat menjawab.


"Aku pengen bersihin diri. Tapi kunci kamu lempar keluar."


Ucap Gea mengalihkan pembicaraan.


Marcel mengakali mencungkil pintu kamar hingga terbuka. Ia melihat dari belakang wanita yang dicintainya terluka karena perbuatan bodohnya. Ia meminjamkan baju milik Kimmy, karena pakaian wanita itu sobek akibat ulahnya.


Setelah selesai Gea mandi, sekarang giliran Marcel membasuh dirinya. Ia berjanji akan mengantar wanita ini pulang. Saat menunggu Marcel, berkali-kali air mata Gea turun tak dapat di tahan. Marcel yang baru keluar dari kamar mandi memeluknya lagi. Seberapapun ia meminta maaf, luka Gea tak akan sembuh. Ia melukai Gea lebih dalam dari pada yang pernah diperbuat sebelumnya.


Marcel mengantar Gea sampai ke rumahnya. Tak ada satupun anggota keluarga yang peduli padanya karena tak pulang semalaman. Marcel yang baru menyadari hal itu, mulai mencari tau segala sesuatu tentang Gea yang tak ia ketahui.


"Kakkk Marcel, aku pulang..."


Ucap Kimmy saat memasuki pintu rumah. Tak ada sahutan. Rumah ini begitu sepi.


Kimmy masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan diri. Sesekali ia melirik ke arah ponselnya, semenjak kejadian kemarin Dave tak menghubunginya juga.


Marcel pulang tengah malam, ia baru saja menemui teman lama sewaktu sekolah dulu. Bisa dikatakan sahabat Gea di SMA. Ia mencari tau tentang kehidupan Gea yang selama ini tak dipedulikannya. Marcel terkejut mengetahui latar belakang keluarga Gea. Bahkan sesekali Marcel teringat kata-kata Gea sewaktu menunggunya bekerja paruh waktu. Perhatikan aku sedikit Cel. Sedikit saja. Aku tak akan meminta lebih.


Marcel hampir menangis mengingat perjuangan Gea mendapatkan perhatiannya.


Pagi hari diatas meja makan suasana hening tak seperti biasanya. Marcel dan Kimmy tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


Kimmy berangkat dengan menumpangi angkutan umum, sepertinya Marcel lupa ia meninggalkan adiknya yang sedang memakai sepatu tadi.


Di tengah perjalanan ketika hendak berpindah angkutan. Kimmy berpapasan dengan Dave yang juga melihatnya. Namun bukannya menawarkan tumpangan, Dave pergi begitu saja. Laki-laki itu masih kesal dengan kekalahannya kemarin.


"Kim.. gimana lu sama Dave?"


Tanya Renata.


"Lu liat aja sendiri."


Jawab Kimmy. Renata bisa melihat jelas keduanya masih bertengkar dalam diam.


Dave meninggalkan Kimmy saat istirahat tiba. Ia memilih ke Pos Bahagia sendiri. Sedangkan Kimmy memilih menghabiskan waktu ke perpustakaan.


"Dasar perempuan keras kepala. Apa susahnya minta maaf?"


Gerutu Dave yang masih menyalahkan Kimmy.


"Dia kira, dia doang yang kesel? Gue juga!"


Batin Kimmy dalam hati.


Jemima yang mengetahui pertikaian antara keduanya mengemis perhatian Dave dengan berpura-pura berjalan pincang. Dave yang lewat setelah dari Pos mendekatinya. Merasa ia bertanggungjawab atas kesalahan Kimmy. Membantu Jemima berjalan dengan menuntunnya.


Kimmy yang melihat keduanya, sengaja menghentakkan kaki sekeras-kerasnya agar Dave mengerti keberadaannya.


"Sudah Dave, aku bisa sendiri. Gak enak sama Kim."


Ucap Jemima pura-pura peduli.


"Biarin aja. Dia harus berpikir lebih dewasa. "


Jawab Dave tak peduli. Jemima tersenyum senang rencana yang tak disengaja malah berjalan baik. Ia akan menggunakan kesempatan ini untuk mendapatkan Dave kembali.


"Dave bisa nanti antar aku pulang? Supirku sedang antar mama ke bandara."


KataJemima melanjutkan rencananya.


"Emmm...."


Dave berpikir dengan banyak keraguan. Ia takut kalau Kimmy salah paham, lagipula dirinya tak ingin membuka celah untuk dekat lagi dengan Jemima.


"Oh ya udah Dave kalo gak bisa, nanti aku tunggu supirku aja. Mungkin sebelum malam udah sampe sini."


Ucap Jemima memelas.


"Ok, nanti gue anter."


Dave mengalah tak enak hati.


Kimmy melihat Dave sedang menunggu di parkiran. Ia baru saja akan menghampiri kekasihnya, namun Jemima tiba-tiba naik ke belakang Dave. Dan memeluknya dengan senyum kemenangan.


"Gitu tuh Jemima dari dulu licik mau dapet nilai bagus aja, dia bisa lakuin apa pun. Apalagi dapetin Dave."


Ucap Renata menggosip.


"Huh.. cowonya juga gatel."


Timpal Kimmy menambahkan.