
Dua bulan berlalu, tiba saat hari kelulusan Dave.
Aku gak sabar keluar darisini dan siap mencari kamu, Kim. Dimanapun.
Batin Dave bersemangat.
"Dave, dipanggil sama komandan."
Wardhana mengaburkan lamunan Dave.
Dave berlari mengikuti perintah. Kini giliran dirinya menerima surat tugas pertamanya. Ya di kota asalnya, dia akan mengabdi bersama dengan ayahnya. Demi mencari Kimmy, ia akan tetap bertahan di kota ini dengan bantuan sang Ayah. Sementara teman-teman seangkatannya di tugaskan ke daerah-daerah yang jauh dari jangkauan.
"Dave, kamu akan ditugaskan di kepolisian kota X"
Tangan Dave bergetar menerima surat tugasnya.
"Loh pak bukannya saya harusnya di kota yang sama dengan ayah saya? "
Tanya Dave.
"Jangan manja. Atau mau yang lebih jauh lagi biar saya tukar dengan yang lain? Kalau kamu mau mengabdi ditempatkan dimana saja tidak masalah."
Jawab perwira tersebut.
*Kalau sama Kimmy, ditempatin di ujung bumi pun aku mau.
"Baik pak*."
Ucap Dave bertolak belakang dengan kemauan hatinya.
Dave duduk termenung, semangatnya sesaat lalu hilang.
"Kenapa lu?"
Wardhana menepuk bahunya dengan wajah meledek.
Dave hanya mengangsurkan surat tugasnya ke wajah pria yang dijulukinya sebagai playboy kacangan.
"Haha, jodoh emang gak kemana."
Ucap Wardhana sambil tertawa.
"Maksud lu? "
Tanya Dave.
"Kita di tempatin di tempat yang sama."
Jawab pria itu senang.
"Jodoh kata lu? Kebanyakan nyakitin perempuan. Udah belok otak lu."
Ucap Dave kesal.
"Lu gak senang kita satu tempat lagi?"
Tanya Wardhana tak percaya.
"Enggak. Gue seneng kalo ada Kimmy di samping gue."
Jawabnya melemah.
"Astaga Kima Kimi, bosen gue dengernya. Nanti disana kita hunting cewek-cewek . Itu kota penghasil cewe tercantik di negara kita, boy."
Celetuk Wardhana.
"Jangan macem-macem sama baju dinas lu."
Dave memukul kepala Wardhana dan berlalu.
Dave mengemasi barangnya, sebelum ia pergi untuk urusan pekerjaannya esok. Hari ini, dirinya akan pamit dan meminta penjelasan sang ayah sekaligus menemui Lena.
Ia masuk ke rumah Lena, kemudian makan masakan favoritnya. Yaitu buatan Lena.
"Kangen masakan mama. Tapi masak segini banyak untuk apa?"
Tanya Dave.
Tok tok tok..
Suara ketukan pintu menghentikan Lena untuk menjawab pertanyaan Dave. Ia kemudian berlari ke depan dan membukakan pintu.
Dave tetap asik dengan makanannya. Maklum selama pelatihan, makanan yang ia terima tak pernah selezat ini.
Namun kunyahannya terhenti saat dilihatnya sosok yang berdiri di hadapannya saat ini yang kemudian mendatanginya serta memeluknya.
"Kok disini?"
Tanya Dave heran.
"Tadi katamu mau ketemu. sekalian aja kita ketemu disini."
Jawab sosok tersebut sambil tanpa malu menyendokkan makanan ke piringnya.
"Tuh Cah kangkung kesukaanmu. Sama ini ikan gurame goreng keringnya."
Lena membantu memindahkan lauk ke piring tamunya tersebut.
Dave mengernyitkan alisnya, memutar bola matanya tak percaya.
"Jadi yang mau kasih pengumuman aku atau kalian? "
Tanya Dave.
"Ya kamu lah. Kita mau umumin apaan emangnya?"
Sahut Lena.
"Oh Dave kira bakal ada pengumuman pernikahan."
Celetuk Dave.
"Pernikahan siapa emangnya?"
Tanya Lena lagi tak paham.
"Papi sama Mama Lena."
Jawab Dave.
Membuat kedua orangtua tersebut terbatuk dan sibuk meraih air minum.
"Ngaco kamu Dave."
Tukas Lena.
"Ya gak apa-apa, Ma. Dave seneng ada yang urusin papi. Daripada dia ganjen-ganjen diluaran sana karena kesepian."
"Emang kamu jelatatan James? Udah bangkotan gak usah aneh-aneh."
Lena mengancam James.
"Kamu cemburu atau gimana ini?"
Tanya James yang tak kalah usil dengan anaknya.
"Ge-er aki aki"
Lena salah tingkah.
"Ya kalau mau aku gak jelalatan, kamu cariin dong jodoh buat aku."
Minta James.
"Hemm. Entar aku kenalin sama temen-temenku yang udah janda. Emang mau yang kaya gimana? "
Lena mendelik kesal.
Huffhhtr udah tua aja masih banyak pake kode. Kaya anak SMP.
Dave menghembuskan kasar napasnya.
"Yang bisa masak seenak inilah."
Jawab James.
"Ada tuh temenku punya usaha catering. Anaknya tiga masih kecil-kecil."
Ucap Lena.
"Ah ribet, nanti yang ada sibuk urusin anak bukan urusin aku. Yang anaknya udah besar aja. Atau yang sendiri kaya kamu gini gak apa-apa."
James semakin terbuka. Lelah dengan Lena yang tak juga peka.
"Udah ah tebak-tebakkannya. Jadi intinya papi ngelamar tante Lena. Tante terima gak?"
Tanya Dave pada intinya.
"Masa kamu yang lamarin Dave? "
Protes James.
"Kelamaan kodenya Pi. Tante Lenanya keburu bete."
Jawab Dave.
Wajah Lena yang masam mendadak berubah sumringah.
"Hemm gak seru anak muda. Pantes Kimmy kabur. Gak ada romantis-romantisnya jadi orang."
James meledek anaknya.
"Iya pi, aku dikasih tugas ke kota X. Gimana sih? Makin susah dong cari Kimmy."
Dave teringat tujuan.
"Ah entar dulu. Papi mau selesaiin urusan sama Lena. --Jadi gimana Len terima gak? "
James melanjutkan.
"Gak ah. Aku udah tua. Gak mau kaya gitu-gituan."
Jawab Lena, membuat Dave dan James kecewa.
"Maunya langsung nikah aja. Malu pacar-pacaran."
Lanjut Lena.
James seketika memeluk Dave. Perasaannya kini amat bahagia.
"Iya iya kita nikah. Nanti kamu pake baju princess."
Jawab James.
"Gak usah gitu. Kita nikah sederhana aja gak usah dirayain. Malu tau udah tua gini."
Minta Lena.
"Iya iya terserah kamu. Yang penting nikah."
James naik keatas kursi merayakan kebahagiaannya. membuat Dave geleng-geleng kepala dengan tingkah ayahnya.
Selesai ketiganya makan, James mengantarkan Dave sampai pintu depan. Ia menyerahkan kunci mobilnya untuk dibawa Dave menempuh perjalanan ke kota tujuannya.
"Cuma setahun Dave. Habis itu kamu disini kok.".
Ucap James memeluk Dave.
" Butuh waktu satu tahun lagi untuk cari Kimmy?"
Tanya Dave sedih.
"Jodoh gak akan kemana Dave."
Lena memeluk Dave.
Kedua orangtua tersebut melambaikan tangan mengiringi kepergian Dave.
...***...
Dua bulan yang lalu, saat kepulangan dua kakak dan keluarganya. Kimmy masih bersikukuh untuk tinggal di kota ini. Menghabiskan masa kontraknya yang kurang lebih satu tahun lagi.
"Kakak bisa bayarin penalti kontrak mu."
Ucap Marcel memberi tawaran.
"Enggak Kak, makasih. Kimmy juga bisa. Tabungan Kimmy lumayan semenjak kerja disini. Tapi kan itu gak profesional namanya. Lagipula Kimmy janji gak akan ngerepotin kalian berdua lagi."
Kimmy menolak halus.
"Terus nanti kalau Dave bosan nunggu gimana? "
Celetuk Wanda.
"Haha namanya gak jodoh."
Jawab Kimmy getir. Ada sedikit perasaan berharap. Namun egonya tetap lebih besar.
Kimmy tetap pada pendiriannya. Ia bersikeras membuktikan kepada keluarganya kalau ia mampu menjadi pribadi yang mandiri. Juga berpikir bahwa janjinya yang terlontar di hadapan Anne harus digenapi.
Kecuali kita bertemu secara tak sengaja, Dave. Di kesempatan yang lain.
Jangan Lupa Like, Comment Dan Votenya ya. Terimakasih💕