Mr.Snowman

Mr.Snowman
Penyesalan dan Dendam



Pagi hari ketika seluruh keluarga berkumpul, termasuk ayah kandung Ali. Pemakaman pun di laksanakan. Semburat penyesalan terlihat jelas di wajah pria paruh baya tersebut.


"Maafin papa Al. Papa yang berbuat, kamu yang menanggung deritanya."


Ia menitikkan air mata di samping peti Ali yang akan diturunkan. Tangannya mengepal, tak hanya penyesalan. Dendam pun turut hadir bersamaan dengan peti Ali yang mulai masuk ke dalam tanah.


Tampak Lena yang masih terus memandangi peti anaknya dengan tangis tak berkesudahan, Dave terus memeluk wanita itu untuk kuat di sisinya.


Sedangkan Kimberly, tangisannya pecah, meraung-raung tak kuasa kekasihnya meninggalkannya disaat menjelang hari bahagianya. Tomi terus menerus merangkul adik kesayangannya tersebut.


"Ali gak mungkin ninggalin Kimmy, Kak. Katanya begitu."


Ucap Kimmy mengingat semua perkataan Ali.


"Iya, Kakak masih inget dia bilang akan jaga kamu seumur hidupnya. Dan dia gak pernah ingkar, Dek. Dia jaga kamu sampai bertaruh nyawa."


Marcel memeluk adiknya menguatkannya.


Makasih Ali.


Batin Marcel, Tomi, dan Dave bersamaan. Ketika tanah mulai menutup lubang pusara Ali.


Selesai ditutup, semua kerabat bergantian menaburkan bunga di tanah yang masih basah tersebut.


Prosesi tersebut akhirnya berjalan lancar, satu persatu pelayat pergi meninggalkan pemakaman.


Hanya tersisa keluarga Douglas, Magdalena, Dave dan James, kemudian Ayah kandung Ali.


Lena masih menangis di nisan Ali, sedangkan Kimmy memeluk tanah gundukan pusara Ali, seolah ia sedang memeluk kekasihnya itu.


"Mi, pulang ayo. Panas sekali disini mommy. Akel Ali kenapa bobo disana? Ayo kita bawa pulang."


Miracle merengek, ia dan Ali begitu dekat. Kehilangan itu juga dirasakannya.


"Uncle Ali sudah ketemu malaikat, ketemu opa, oma. Sudah diatas sana."


Gea mencoba memberi pengertian.


"No.. no.. akel Ali dont go. i love him, mommy."


Miracle menangis makin jadi.


"Semua kita disini cinta uncle Ali. Tapi Tuhan lebih cinta uncle, makanya diangkat keatas duluan."


Gea menunjuk langit.


Namun tangisan Miracle tetap tak dapat dihentikan, sehingga Gea mengajaknya ke dalam mobil.


"Dek ayo kita pulang."


Ajak Marcel.


"Enggak, Kimmy masih mau disini."


Kimmy menolak.


"Dek, ayo besok kesini lagi."


Bujuk Tomi. Tapi Kimmy hanya menggeleng.


"Udah bang, nanti gue aja yang anter dia balik"


Dave berkata pada Tomi.


Kimmy sekilas mengangkat kepalanya, ingin menolak tapi tak kuasa. Yang ia inginkan hanya berlama-lama menemani Ali. Tak peduli lagi dengan siapa ia pulang, menginap pun akan dilakukannya.


Tomi, Wanda, dan Marcel pun berpamitan dengan Lena yang masih memandangi pusara Ali.


Perlahan tapi pasti semua orang satu persatu meninggalkan pemakaman itu. Hanya ada orang-orang yang sungguh-sungguh merasa kehilangan bertahan di beberapa jam setelahnya.


"Len, ayo aku antar pulang."


Ayah kandung Ali yang juga mantan suami Lena memintanya.


"Duluan aja. Aku masih mau disini."


Tolak Lena.


"Nanti gimana kamu pulang?"


Tanyanya lagi.


"Biar saya yang antar."


James menjawab pertanyaan pria yang merusak hubungannya dengan Anne.


Tak ada lagi pembicaraan, ia pergi membawa kekecewaan dan dendam yang menjalar dihatinya.


Nyawa ganti nyawa. Kalau aku tak bisa menyentuhmu, putramu akan merasakan yang Ali rasa.


Batin pria tersebut.


Jarum jam terus berputar sudah tiga jam semenjak ayah Ali meninggalkan mereka, keempat orang ini masih belum beranjak.


"Mari James, kita pulang. Kim kamu juga sebaiknya pulang.".


" Enggak ma. Kimmy masih mau disini."


Tolak Kimmy.


"Kasihan Dave, Kim. "


Lena mengingatkan.


"Gak ada yang suruh dia untuk nunggu Kimmy. Bawa aja dia pergi sekalian ma."


Ucap Kimmy ketus.


"Ya udah mama pulang."


Lena mencium pucuk kepala Kimmy.


"Kamu yang sabar ya Dave, tante yakin Kimmy hanya masih terpukul."


Anne memeluk Dave dan pergi dari tempat itu bersama James.


Dave berpindah posisi, ia ikut duduk di sebrang Kimmy. memandangi perempuan itu rasa hatinya teriris. Ingin membelai kepalanya, namun Kimmy sangat membencinya, menyalahkan dirinya atas kejadian ini.


"Siapa lagi Al yang bilang masakanku enak? Sama siapa aku habisin coklat panas kesukaanmu? Stok cumi di kulkas untuk siapa? Kalau gelap, siapa yang tuntun aku lagi supaya gak sendirian? Ingetkan waktu kelahiran Miracle, Al? Kamu yang jagain aku sampe kamu gak tidur."


Kimmy mengoceh terus menerus.


"Apa kamu ingat first kiss kita di gerbang kampus? ah bukan bukan, itu gak pake rasa. first kiss kita di dapur rumahku. Kita sama-sama sadar dan menikmatinya."


Ucap Kimmy tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian bersama Ali.


Dave terdiam mendengar semua kisah indah Ali dan Kimmy. Ia tahu bahwa akan sangat sulit menggantikan kenangan tentang Ali di pikiran Kimmy. Lambat laun suara Kimmy menghilang, ia hanya terdiam sambil terus memeluk tanah.


"Kim hari udah mulai gelap, kita pulang yuk."


Ucap Dave. Tapi tak ada jawaban.


"Kim, ayo pulang."


Dave menyentuh tubuh Kimmy namun tak ada reaksi apapun.


Dave membalikkan tubuh Kimmy dan ternyata wanita itu sudah tak sadarkan diri.


Astaga Dave, harusnya sadar satu jam dia gak berkicau ternyata pingsan.


Batin Dave menyalahkan dirinya sendiri.


Dave menggendong tubuh kecil itu. persis beberapa tahun lalu ketika ia harus mengantarkan Kimmy dari kendaraan sampai ke kamar.


Satu langkah saat ia harus meninggalkan pusara Ali, Dave membalikkan badannya.


"Gue akan berjuang untuk dia, Al. Perempuan yang kita sayang. Terimakasih udah jaga dia untuk gue."


Kemudian Dave berbalik badan lagi dan melanjutkan membopong Kimmy ke dalam mobilnya.


Dave meletakkan Kimmy berbaring disebelah kursi kemudi. Saat hendak memasangkan sabuk pengaman, Kimmy bergerak dan berhalusinasi.


"Jangan tinggalin aku."


Kimmy memeluk Dave erat.


Dave terkejut dengan perlakuan Kimmy, ia bisa merasakan napas perempuan ini begitu panas dan berat. Ya Kimmy sakit, kepergian Ali menyisakan sakit yang luar biasa. Tak hanya di hati, tetapi juga tubuh Kimmy.


Beberapa menit Kimmy tak juga melepaskan pelukannya.


Sampai ketika Dave berkata


"Iya aku gak akan ninggalin kamu lagi."


Kimmy melepaskan pelukannya.


"Makasih, Al."


Ucap Kimmy dalam tidurnya.


Hati Dave terasa perih, Kimmy begitu mencintai Ali. Tapi seperti yang sudah ia ucapkan tadi. Ia akan berjuang mendapatkan hati Kimmy kembali.


Sepanjang perjalanan, Dave menitikkan air mata. Tak sanggup melihat kisah cinta Kimmy dan Ali yang berakhir tragis karena dirinya.


Andai gue mau ikutin kemauan Mami, gak akan begini jadinya.


Dave memukul kasar stir mobil hingga Kimmy terbangun.


Buru-buru ia menyeka air matanya, namun sesungguhnya Kimmy sempat melihat itu. Tapi hatinya masih membatu untuk memaafkan pria disebelahnya tersebut.


"Kalau gak iklhas nganternya, gue turun aja disini."


Ucap Kimmy ketus dengan suara lemah karena ia lelah menangis semalaman.


"Maaf maaf, tadi gak sengaja mau nabrak kucing."


Jawab Dave berbohong.