
Persiapan pernikahan Marcel dan Gea memasuki tahap akhir. Marcel begitu cekatan mempersiapkan segala sesuatunya. Kini mereka berdua tengah bersantai di teras rumah menunggu Kimmy dan Dave pulang. Sedang Dayana mulai memperbaiki hidupnya. Ia bekerja lagi di minimarket tempatnya bekerja dulu. Beruntung pemiliknya begitu baik mau memberi pekerjaan untuk Dayana.
"Cel, Ge, gue salah apa sama kalian sampe tega gak kabarin gue kaya gini?"
Tanya Ryo yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
"Gue minta maaf, ini salah gue. Gea gak salah apapun. Gea begini karena gue. Sekarang Gea sedang hamil."
Jawab Marcel menjelaskan. Gea hanya tertunduk, ia tahu semenjak kepulangannya tak sekalipun ia memberitahu Ryo mengenai rencananya.
"Gue kesini cuma mau ngucapin selamat dan berpamitan, mulai besok gue akan dipindahtugaskan ke luar kota. Seberapapun gue berusaha hati Gea cuma punya lu."
Ryo menepuk bahu Marcel dan mereka berpelukan sebagai ucapan perpisahan.
Sepuluh tahun perjuangan Gea sangatlah tak mudah, segala rintangan ia lewati asalkan bisa mendapatkan secuil perhatian Marcel. Kini Gea tengah memetik hasil yang ia tanam dengan jerih payah dan kesetiaan menunggu dan tetap percaya bahwa tunas baru akan muncul. Inilah ia sekarang, bersama di dalam dekapan pria yang menjadi pokok doanya di setiap malam dan paginya.
Kemunduran Ryo menyisakan kelegaan di hati Gea. Ia tak perlu lagi merasa bersalah. Langkahnya terasa lebih ringan sekarang. Tiga puluh hari menjelang pernikahan, semua berjalan dengan semestinya.
Tok Tok Tok
Ali menghentikan kesibukannya mengerjakan tugas kuliah. Tahun depan ia akan memasuki semester akhir. Maka ia sangat serius dan antusias menjalankan perkuliahannya.
"Kalian? ngapain disini?"
Tanya Ali berbisik.
"Dia yang minta."
Jawab Dave menunjuk Kimmy.
"Gue kesini karena lu gak balas pesan gue. Gue kesini mau minta maaf."
Ucap Kimmy.
"Siapa yang datang Al?"
Belum sempat Ali menjawab pertanyaan Kimmy, suara perempuan bertanya dari dalam rumah.
Langkahnya semakin mendekat ke arah pintu. Kemudian membuka pintu yang semula hanya Ali buka sedikit menjadi menganga lebar. Hingga mempertontonkan area dalam rumah tersebut yang bernuansa serba cokelat.
"Kamu ngapain disini? Belum puas dengan ulah ibumu yang merusak keluarga saya? Atau mau buat celaka Ali lagi?"
Tanya wanita tersebut yang tak lain adalah Magdalena, Ibunda Ali.
"Dasar ibu dan anak pengacau! Pergi dari sini!” Teriak Magdalena sambil memukul tubuh Dave.
"Bukan Ma, Dave kesini mau antar Kimmy ketemu Ali."
Jawab Ali sambil menarik tubuh ibunya.
"Jangan bergaul lagi sama dia! Anak gak tau diuntung. Disini diterima baik. Bisa-bisanya buat Ali cacat. Kamu tau seberapa susah saya urus dia sendiri waktu itu? Angkat-angkat tubuhnya yang lebih besar dari saya. Belum lagi kotorannya. Sedangkan papanya memilih meninggalkan kami dengan ibumu."
Magdalena tak lagi dapat menahan emosi. Ia memukuli Dave membabi buta.
"Jangan pukul Dave terus, Tan. Dia kan udah terima ganjarannya."
Ucap Kimmy memohon sambil mendekap tubuh Dave. Membuat pukulan-pukulan Magdalena mendarat di punggung Kimmy.
"Berhenti, Ma!"
Minta Ali seraya mendekap ibunya agar tenang.
"Al, gue sama Dave pamit. Maaf ganggu ketenangan di rumah ini."
Kimmy berpamitan.
"Iya Kim, gue juga minta maaf atas perlakuan nyokap gue barusan."
Jawab Ali tak enak hati.
"Kenapa kamu minta maaf? Dia pantas terima itu!"
Ucap Magdalena kasar.
"Saya minta maaf atas kesalahan saya maupun mami saya, Tante Lena."
Kata Dave.
"Buat apa? Papanya Ali bisa balik lagi kalau kamu minta maaf?"
Tanya Magdalena membentak.
"Serba salah. Minta maaf salah. Gak minta maaf lebih salah."
Gerutu Kimmy pelan namun tetap terdengar.
"Kamu siapa? Saya ingatkan jangan terlalu dekat dengan laki-laki ini. Bisa-bisa kau kehilangan ayah dan ibumu menjadi janda."
Ucap Magdalena pada Kimmy.
"Maaf Tante bukan saya gak berempati, tapi pantas saja Papanya Ali milih perempuan lain. Mulut Tante jahat."
"Dasar anak kurang ajar!"
Hampir saja Magdalena menampar Kimmy namun dicegah oleh Dave.
"Kalau mau pukul saya Tante sama puas. Jangan Kimmy."
Minta Dave.
"Jangan sentuh saya dengan tangan kotormu itu. Kau sama kotornya dengan ibumu."
Magdalena menarik kasar tangannya yang digenggam Dave.
"Jangan ngomong gitu lagi sama Dave! Kalau ibunya yang salah jangan hukum Dave. Emang Dave bisa milih untuk lahir dari rahim siapa?"
Protes Kimmy.
"Apa Tante gak tau perselingkuhan terjadi karena kesalahan dua orang. Bukan satu. Jadi salahin juga papanya Ali."
Kimmy melanjutkan. Magdalena hanya terdiam mendengar perkataan Kimmy yang terlalu berani.
"Bawa pergi Kim, Dave."
Minta Ali pada Dave.
Dave membawa Kimmy pergi bersamanya. Sesekali Kimmy memperhatikan Dave menyentuh wajahnya. Kimmy yakin Dave tengah menangis. Anak mana yang tak terluka jika ibu yang melahirkannya dihujat sedemikian rupa di depannya langsung.
Kimmy memeluk Dave erat di pinggangnya. Rasanya ia ingin Dave berbagi kesedihan padanya, namun Kim cukup tau Dave bukan orang yang seperti itu.
"Dave, di samping walikota ada pasar festival malam ini. Kesana yuk."
Ujar Kimmy berusaha menghibur Dave.
Dave tak menjawab, hanya mengangguk pelan. Ia takut suaranya terdengar parau dan membuat Kimmy curiga bahwa dirinya sedang menangis.
Kimmy kian mempererat pelukannya, memberi semangat dan kekuatan untuk Dave melalui bahasa tubuhnya.
Setelah menghabiskan tiga puluh menit di perjalanan. Kimmy menarik tangan Dave memasuki pusat perbelanjaan. Mereka melewati pedagang baju maupun makanan.
"Mau kemana?"
Tanya Dave tak mengerti.
"Tuh."
Kimmy menunjukkan kincir raksasa.
"Yakin?"
Tanya Dave lagi dan Kimmy mengangguk.
Dave membeli dua buah tiket kemudian mereka masuk menempati kincir yang di cat berwarna merah jambu. Kincir perlahan mulai berputar.
Tiba di puncak, kincir berhenti berputar.
"Loh kok berhenti? Gue takut Dave."
tanya Kimmy sambil menutup matanya.
"Hahahaa emang begini. Semua akan ngerasain di puncak lebih lama. Tadi katanya yakin?"
Ledek Dave sambil tertawa kecil. Ia menarik tangan Kimmy agar tak terus menutupi wajahnya dan menggenggamnya.
"Buka mata! Lihat dari sini semuanya indah."
Dave menunjuk lampu-lampu rumah warga.
"Wahhh iya bener juga Dave. Kita juga semakin dekat dengan langit."
Jawab Kimmy takjub.
"Mama, Papa, kita dekat sekarang."
Teriak Kimmy melihat kearah langit. Dave tersenyum melihatnya. Perlahan kesedihannya memudar.
"Ih kok senyum-senyum. Sini ngomong sama Papa Mama mumpung dekat."
Kimmy meminta Dave melakukan hal yang sama.
Dave mendongakkan kepalanya keluar dan berteriak seperti Kimmy.
"Om, Tante saya Dave Norman meminta izin langsung untuk menjaga anak perempuan kalian Kimberly Douglas."
Kimmy terkejut dibuatnya.
"Apa sih Dave? Gue malu sama Mama Papa."
Ucap Kimmy seraya menarik tangan Dave dan memukulinya.