Mr.Snowman

Mr.Snowman
Bocah Gendut



Hari sudah malam, kedua Kakak masih tak mengajak bicara adik bungsunya, begitu juga Kim, ia hanya mengurung diri di kamar. Bukan karena marah, ia hanya kelelahan menghabiskan waktu dengan Dave beberapa hari ini.


Tadi sebelum Dave menurunkan Kim di tempat biasa, Dave meminta Kim membawa helm miliknya. Namun ditolak, karena akan lebih mudah jika Dave yang membawanya. Selain itu, jika Tomi melihat akan banyak pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Apalagi menyangkut Dave.


"Gue kuatir sama dia."


Ucap Tomi pada Marcel. Mereka sedang menyantap makan malam hanya berdua.


"Gue juga, kita liat berapa lama dia sanggup."


Tukas Marcel.


"Dia balik jam berapa?"


Tanya Marcel setelah memberi gagasan tadi.


"Jam tujuh, dua minggu ini dia izin pulang telat kerjain tugas sm Renata temennya."


Jelas Tomi mengulang laporan seminggu yang lalu.


"Ok."


Tutur Marcel menyudahi obrolan.


Hatinya sedang tak enak, bukan hanya mengenai adiknya. Tapi soal Ryo yang gencar mendekati Gea. Itu sangat mengganggu pikirannya.


Tadi di kantor tepat jam makan siang


"Ge, makan bareng yuk."


Ryo yang sedang berjalan dengan Marcel, menghentikan langkahnya di depan Gea.


"Ayo."


Gea menerima ajakan Ryo dengan semangat. Mumpung dengan Marcel juga, batinnya. Berbeda pikir dengan Marcel, ia mengira Gea sudah membuka hatinya pada Ryo.


Ah jika jatuh cinta serumit ini, aku tak mau tercemplung di dalamnya.


Ucap Marcel dalam hati.


Marcel masuk ke dalam kamarnya, memandangi foto masa SMA, saat-saat Gea terus memperhatikannya, namun tak ia hiraukan.


"Cel, gue bantu ya."


Ucap Gea pada Marcel yang sedang membersihkan cafe tempatnya bekerja paruh waktu. Gea selalu membuntutinya.


Marcel reflek mendorong tubuh Gea dengan keras, saat perempuan itu hendak mengambil sapu di tangannya.


"Maaf."


Ucap Marcel sambil mengulurkan tangan membantu Gea berdiri.


Gea terseyum, tak pernah marah sedikitpun atas tindakan Marcel yang tak mengenakkan.


"Lu pulang aja. Jangan disini!"


Minta Marcel pada Gea.


Seperti yang sudah-sudah, Gea keluar dari Cafe dan menunggu Marcel di trotoar sampai Marcel pulang bekerja. Setelah Marcel keluar, ia akan berharap diajak pulang bersama, namun Marcel selalu berjalan meninggalkannya. Hatinya keras. Jangankan memikirkan wanita, dirinya saja tak diurusnya. Untung Paman Lukas sangat perhatian, enam bulan sekali rajin membelikan sepatu sekolah baru dan baju untuk ketiga ponakannya.


Begitu masa-masa SMA, Gea lewati tanpa menerima balasan yang baik. Tapi ia tetap berjuang mendapatkan perhatian Marcel hingga saat ini.


Dimatanya, Marcel adalah makhluk yang pantas dicintai dengan tulus. Ia sudah banyak mengorbankan waktu dan masa mudanya untuk kedua adiknya.


Selain itu bagi Gea, jika suatu waktu ia sampai mendapatkan cinta dari Marcel, itu adalah suatu kebahagiaan terbesar, karena untuk kedua adiknya saja Marcel bisa mencintai mereka dengan sempurna, apalagi kelak jika menjadi pasangannya. Gea berharap sedikit saja Marcel dapat mencintainya, walaupun kasih sayang yang diterima merupakan sisaan dari kedua adiknya tak apa. Itu saja cukup menggantikan cinta kedua orangtuanya yang hilang karena keegoan masing-masing.


Orangtua Gea berpisah dan masing-masing membentuk keluarga baru, tanpa pernah memikirkan Gea. Satu-satunya anak hasil pernikahan singkat kedua orangtuanya itu.


Gea masih berusia lima tahun ketika itu terjadi, ia tinggal dengan ayah dan ibu tirinya setelah perpisahan. Ibu tiri yang tak pernah mengasihinya, namun masih lebih baik ketimbang ibu kandungnya yang tak pernah mencarinya sekalipun. Mungkin malah sudah lupa bahwa dirinya punya anak perempuan dari pernikahan sebelumnya. Hah sudahlah, masih hidup hingga saat ini saja, dirinya sudah cukup bersyukur.


Walaupun dibedakan dengan kedua saudara tirinya, Gea bersyukur masih mendapat makanan yang cukup dan tempat tinggal yang layak. Tidak seburuk kisah cinderella atau bawang merah bawang putih.


"Aaarrrgghhhh demi apaaaa?"


Teriakan Kimmy dalam kamarnya mengusik ketenangan kedua saudaranya.


Keduanya berlari menuju pintu kamar Kimmy. Mereka diam di depannya, tak mendengar suara apapun lagi setelah itu. Membuat Marcel dan Tomi saling melempar tanya.


"Tanya gak?"


Bisik-bisik Tomi bertanya pada Marcel.


"Gak usah, mungkin dia lagi nonton drama korea atau baca novel. Yuk tidur."


Ucap Marcel menghentikan langkah Tomi untuk maju.


Baru kali ini gue seneng didiemin kalian. Maaf ya Kak..


Gumam Kimmy dalam hati.


Ia senang bukan main saat Dave menawarkan tumpangan esok pagi. Katanya menggantikan hukuman keterlambatan yang ia terima pagi tadi.


Malam Snowman.. Gak sabar besok ketemu lagi.


Kimmy mengirim pesan pada incarannya.


Kenapa lu gak bareng Kakak lu beberapa hari ini?


Pesan balasan dari Dave mendarat ke ponsel Kimmy.


Kan masih ngambek. Wkwkwk..


Balas Kimmy menjelaskan.


Selesaiinlah masalahnya.


Dave memberi saran pada Kimmy.


Iya nanti satu minggu lagi, abis kelar janji sama lu.


Kalo gue baikkan sekarang, nanti gak bisa liat lu latihan dong?


Panjang lebar Kimmy menjelaskan maksud dan tujuannya yang datang secara tiba-tiba di otaknya.


Ya udah besok gue jemput, anggep ganti hukuman lu tadi pagi. Lagi juga sayang ini helm cuma dipake seminggu .


Balas Dave yang membuat Kimmy berteriak seperti tikus kejepit tadi.


Ah iya oke.. gue pasti mimpi indah malem ini.


Balas Kimmy pada percakapan teks terakhir mereka.


Dave tersenyum membaca kejujuran Kimmy.


"Dasar aneh, gak bisa pura-pura sedikit apa?!"


Ucap Dave pelan.


Kimmy tertidur, berharap hari ini akan memimpikan Dave, tapi yang terjadi


"Nanti kalo udah besar, aku udah jadi petinju hebat, kamu pasti aku jagain terus deh."


Ucap bocah berbadan gemuk, kakak kelas Kimmy di sekolah dasar dua tingkat diatasnya.


"Janji yah ?"


Tanya Kimmy kepada bocah laki-laki tersebut.


"Iya."


Mereka saling menautkan kelingking berjanji satu sama lain.


Setelah itu ia menghilang, kedua orangtuanya memindahkan anak mereka ke sekolah lain karena sang anak terlibat perkelahian yang mengakibatkan pergelangan tangan teman sekelasnya patah. Tak lain karena membela Kimmy ketika sedang dirundung habis-habisan.


Bahkan ia sudah tak bisa lagi ditemukan dikediamannya yang berada tepat di samping panti asuhan mereka, kabar yang beredar orangtuanya menitipkan si anak di tempat neneknya setelah kenakalan yang berbahaya itu.


Namun setelah kejadian itu, bayangannya masih tetap ada. Tak ada satupun orang yang berani mengganggu Kimmy. Tak ada.


"Genduuuuuttttt!! plis gue mau mimpi indah. Kenapa dateng setiap gue jatuh cinta sih?"


Teriak Kimmy yang terbangun dari tidurnya.


"Itu namanya jodoh!"


Sahut Tomi dari luar kamar Kimmy yang mendengar teriakan adiknya.


Ternyata sudah pagi, Marcel dan Tomi sudah rapi dan bersiap berangkat.


Kimmy mengambil handuk dan segera mandi dengan muka tertekuk mendengar perkataan Tomi.


Daridulu memang cita-cita kedua kakaknya akan menjodohkan adik mereka dengan si gendut jika sudah besar nanti. Mereka percaya laki-laki itu dapat menggantikan keberadaan mereka dalam menjaga Kimmy.


"Gak mau sama gendutt.. gue kan kecil, dia gede bangeeeettt..."


Kimmy berteriak teriak dibawah kucuran air. Kedua kakaknya yang sedang sarapan tertawa mendengar celotehan Kimmy.


"Udah yuk berangkat, yang ada nanti kita jadi disalahin lagi sama dia."


Ucap Marcel pada Tomi.