
Pagi-pagi sekali Tomi sudah memasak untuk mereka berempat. Ia terbangun setelah mendapati dirinya sedang memeluk Dave menjadikannya sebagai guling.
"Sekali aja."
Gerutu Tomi di dapur.
Aroma bawang bercampur dengan cabai yang sedang ditumis oleh Tomi, membuat seisi rumah terbangun dan berkumpul di meja makan.
"Lu gak bantuin?"
Tanya Dave pada Kimmy.
"Gak bisa.Hehe"
Jawab Kimmy menyeringai.
"Terus nanti kalo kita nikah, siapa yang masak?"
Tanya Dave keceplosan. Sehingga membuat Marcel menumpahkan teh panasnya yang baru ia seduh.
"Apa tadi?"
Tanya Kimmy penasaran, mengira telinganya salah dengar.
"Jangan ada niat macam-macam kamu sama adik saya."
Ucap Marcel memperingatkan.
"Maksud gue, kalo lu berkeluarga gimana? siapa yang masak?"
Tanya Dave merubah kalimatnya.
"Ya makanya kita gak asal-asalan cariin Kim pasangan. Mesti yang multi talenta. Bisa masak, bisa cari nafkah, pokoknya nutupin semua kekurangan Kim lah intinya."
Jawab Tomi yang baru saja datang dengan membawa beberapa piring di tangannya. Dave langsung sigap membantu Tomi yang kewalahan.
Kimmy hendak makan ketika tangannya dipukul oleh Tomi.
"Cuci tangan, sikat gigi, berdoa."
Ucap Tomi yang langsung dipatuhi Kimmy.
Dave ikut sarapan bersama tiga anggota keluarga ini, diatas meja mereka tak hanya diam, banyak cerita yang dibagikan. Kehangatannya mulai terasa di hati Dave. Amat berbeda dengan suasana makan dalam keluarganya, sudah jarang bertemu sekalinya makan di satu meja yang sama tidak boleh ada yang bicara.
"Maaf ya Dave, gak biasa ngobrol didepan makanan ya? mereka berdua udah kebiasaan. Karena emang gak ada yang ngajarin dari kecil."
Ucap Marcel sambil tersenyum melihat wajah Dave yang nampak kebingungan.
Kimmy melakukan ritualnya diatas meja. Ia menyuapi satu sendok makanan miliknya ke Marcel dan Tomi. Tradisi yang sudah ia biasakan semenjak kecil jika sedang makan bersama.
"Aaaaa..."
Ucap Kimmy pada Dave agar membuka mulutnya. Ia menyodorkan satu suap juga untuk Dave.
Marcel mengangkat wajahnya sambil tersenyum memberi kode pada Dave agar menerima suapan ditangan Kimmy. Dan seketika Dave melahapnya. Ada perasaan terharu ketika ia diperlakukan baik oleh keluarga ini. Dave terdiam, raut wajahnya menampakkan kesedihan. Hal itu dilihat jelas oleh Marcel, Tomi dan Kimmy.
"Kenapa? Gak enak ya?"
Tanya Tomi.
"Enggak, gue baru ngerasain rasanya punya keluarga."
Jawab Dave jujur.
"Keluarga lu kemana?"
Tanya Marcel prihatin.
"Ada, cuma dari gue kecil sibuk sendiri-sendiri. Hehe."
Jawab Dave mencoba tegar. Sedikit memaksakan tawanya.
Kimmy berdiri dari kursinya menghampiri Dave dan memberi pelukan. Begitu juga Marcel dan Tomi, keduanya menepuk bahu Dave memberi kekuatan.
"Selamat datang di keluarga baru."
Teriak Kimmy sambil melompat menghibur Dave.
"Iya selamat datang. Mulai sekarang lu bisa tinggal disini kalo lu mau. Bisa ngabisin waktu sama Tomi, atau belajar sama Kimmy."
"Bisa curhat sama Kak Marcel sampe kuping lu selebar kuping Kak Tomi. Hahaha"
Timpal Kimmy sambil tertawa. Tomi pun ikut tertawa, mengingat kebiasaan Marcel menceramahi mereka berjam-jam.
Setelah selesai sarapan, ketiganya bersiap pergi.
"Tunggu, tunggu foto dulu."
Kimmy mengambil foto ketiga laki-laki itu dan kemudian ia posting di media sosialnya.
Lalu Marcel dan Tomi mencium pipi adik mereka sesaat sebelum pergi.
Kimmy menunjuk pipinya pada Dave, meminta agar pria itu melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh kedua kakaknya.
"Dek, yang itu enggak."
Ucap Marcel tegas.
Keduanya telah berangkat terlebih dahulu, sementara Dave kembali lagi ke kamar mengambil ponselnya yang tertinggal.
"Nanti gue pulang ke rumah sebentar ya ambil baju sama buku."
Ucap Dave berpamitan pada Kimmy.
Lalu tinggal ia sendirian di rumah. Untuk mengusir kebosanan, Kimmy berinisiatif membereskan meja makan, mencuci piring, dan membersihkan seluruh ruangan. Membuat kesehatan fisiknya yang hampir pulih menjadi drop kembali. Kemudian ia memutuskan untuk berbaring di kamar sambil menunggu Dave pulang.
Sementara di kampus, Renata bolak-balik melihat kearah Dave. Ia masih tak percaya manusia yang ia klaim si raja tega ini bisa berfoto dengan akrab di antara kedua brothers hemsworth KW versinya. "Cocok sih mereka bertiga jadi sodara, ganteng semua. Tapi kalo inget sifatnya manusia satu inu... iyuhh malesin." Renata menggerutu sendiri di kursinya.
Re, nanti istirahat gue traktir bakmi depan yuk.
Pesan dari Jemima di ponsel Renata.
Istirahat pun tiba, Dave menemui adik-adik di Pos Bahagia. Ia menceritakan kondisi Kimmy yang sedang sakit, mengajak semuanya mendoakan kesehatan Kimmy. Kemudian tak lupa makan siang bersama.
Sedang Renata memenuhi undangan Jemima. Je tentu memiliki keperluan khusus mengajak Renata makan siang bersama. Renata tau itu, dia tak bodoh-bodoh amat. Ketika SMA, Je tidak pernah mau terlalu dekat dengan Renata yang tidak masuk kategori siswa pintar. Semua yang menjadi teman Je, adalah orang-orang yang bisa dimanfaatkan menaikkan popularitasnya. Maka ketika Dave menjadi siswa baru di sekolahnya dan sangat dikenal, ia langsung dekati. Tanpa pernah tau alasan Dave seterkenal itu.
"To the point aja. Ada apa?"
Ucap Renata.
"Temen lu sama Dave udah jadian?"
Tanya Jemima.
"Kayanya udah. Ni liat aja postingan di instagramnya Kim. Dave bahkan udah deket sama keluarga Kimmy."
Jawab Renata bergosip sambil memperlihatkan foto di beranda media sosialnya.
Jemima mulai berkeringat. Ia menyesal memberikan Dave pada Kimberly. Kalau jadinya seluruh keluarga Kimmy menerimanya. Ia pikir semua orang sama sepertinya yang hanya memikirkan pandangan orang.
Seperti karma yang dapat menyerang siapa saja dan kapan saja, Jemima terus menerus memikirkan Dave. Berandai bagaimana jika Ali memcampakkannya, apakah Dave masih mau menerimanya? atau bagaimana jika perhatian Dave hilang? atau bagaimana jika Dave kedepannya memilih jalan yang sudah di rencanakan ayahnya yaitu menjadi perwira polisi, apa tidak amat menyesal dirinya telah menyia-nyiakan Dave?
Pikirannya membuat dirinya kehilangan harga dirinya yang tinggi, selesai makan siang dengan Renata, Je tak malu menunggu Dave di gedung kampusnya.
"Dave, kamu marah sama aku?"
Tanya Jemima menghadang Dave.
"Enggak, ada apa Je?"
Tanya Dave keheranan.
"Gak apa, biasanya kamu nunggu aku di situ."
Jemima menunjuk tempat biasa Dave menunggu.
"Oh itu yang kamu mau kan? Aku gak akan ganggu kamu lagi."
Jawab Dave.
"Kata siapa? Aku gak pernah bilang kaya gitu."
Ucap Jemima sok polos. Ia mengira Kimmy menyampaikan perkataannya tempo hari pada Dave.
Dave hanya membalas dengan tersenyum dan berjalan meninggalkan Jemima yang masih menunggu jawaban. Seperti keadaan yang terbalik saat Dave berhari-hari menanti jawaban dari perempuan itu.
Dave menggeleng heran. Bukan dengan Jemima, tapi terheran dengan dirinya sendiri, mengapa pernah mencintai wanita itu sampai mengabaikan perasaan Kimmy yang tulus.