Mr.Snowman

Mr.Snowman
Pengorbanan Terbesar



Kimmy dan Ali mengosongkan waktu mereka untuk memilih kemeja pernikahan Ali. Sekaligus mengganti waktu mereka berkencan karena seminggu yang lalu keduanya sibuk dengan urusan masing-masing.


Dari satu tempat perbelanjaan ke tempat perbelanjaan yang lain mereka tak juga menemukan jas dan kemeja yang mereka inginkan.


"Kamu capek? "


Tanya Ali perhatian.


"Enggak sih, cuma laper."


Kimmy mengusap-usap perutnya yang belum sempat terisi.


"Kalo gitu kita makan dulu."


Ucap Ali sambil merangkul kekasihnya.


Mereka memilih sebuah kedai bakso pinggir jalan untuk mengisi kekosongan perut.


Bukan Kimberly namanya kalau matanya tak menjelajah ke tempat lain dari sudutnya berada sekarang.


"Ahh emang kita harus nikah."


Ucap Kimmy sumringah.


"Maksudnya? "


Tanya Ali tak paham.


"Itu butik di depan sana. Liat baju yang di sebelah kiri patung."


Kimmy berdiri menunjuk yang ia maksud.



"Oke oke sayang, baksonya aja baru jadi. Kita makan dulu baru kesana."


Bujuk Ali. Dan Kimmy pun menurut.


Setelah makan, mereka mendatangi butik tersebut. Kemeja dan jas yang persis digunakan Beast dalam film Beauty & the Beast terpampang disudut kaca. Impian Kimmy akan menjadi nyata. Hari bahagianya dengan baju pilihannya. Pernikahan yang ia impikan sewaktu kecil.


Ali segera mencoba pakaian tersebut di ruang ganti.


Sayup-sayup terdengar suara keributan dari dalam ruang karyawan butik tersebut.


"Please mi, udahlah jangan ganggu dia lagi. Dia gak salah apapun."


Mohon seorang pria dari dalam ruangan tersebut.


"Kamu beberapa kali melanggar perjanjian Dave. Mami tau itu. Kamu suka buntutin perempuan itu diam-diam di kampus. Kamu datang ke pernikahan kakaknya. Mami gak bisa punya kesepakatan dengan orang yang gak konsisten kaya kamu."


Ujar Anne yang ternyata suara dibalik kebisingan itu.


"*Dave udah keluar dari akademi. Sebagai harga yang harus dibayar karena kelalaian Dave. Apalagi mau mami*? "


Tanya Dave putus asa.


"Jalanin semua usaha mami."


Jawab Anne licik.


"Itu usaha kotor. Mami mafia di kota ini. Dave gak bisa mi bersenang-senang dari keringat orang lain."


Tolak Dave.


"Itu namanya bertahan hidup Dave. Hukum alam, siapa yang tidak memakan akan dimakan."


Ucap Anne.


"Dave gak akan pernah mau."


Dave keluar dari ruangan tersebut.


"Kalau begitu kamu akan lihat mami gak main-main dengan ancaman mami. Nasib perempuan itu ada ditanganmu. "


Ancam Anne kemudian mendahului langkah Dave yang terhenti karena perkataan ibunya.


Anne tau betul kelemahan Dave kali ini ada pada Kimberly. Gadis yang bisa menjadi umpan untuk ambisi Anne.


Tak disangka, targetnya benar-benar ada di depan mata. Anne mendidih melihat wanita itu tertawa bahagia bersama Ali.


"Kamu benar gak mau tukar keselamatan wanita ini dengan menjalankan usaha mami? "


Tanya Anne yang berhenti dan menatap sosok Kimmy penuh kebencian.


"Enggak Mi. Dengan alasan apapun."


Dave tegas menolak menyingkirkan nama Kimmy dari perdebatan mereka. Berharap sang ibu tak lagi menganggap Kimmy sebagai suatu kelemahan.


"Oke."


Anne kembali masuk ke dalam ruangannya dan membuka laci meja kerjanya. Mengambil sepucuk pistol yang selalu ia bawa kemanapun.


"Mami gak main-main Dave."


Anne kembali ke sisi Dave yang masih belum paham apa maksudnya.


"Maksud mami apa? "


Tanya Dave, namun seketika matanya membulat penuh ketika menoleh kearah dimana bola mata Anne berfokus.


Anne mengeluarkan senjatanya dan mulai menodongkan ke arah Kimmy. Ia berpikir ini tak serius. Hanya membutuhkan Dave mengatakan Ya saya akan mengurus usaha Mami.


"Dave kenapa Dave? "


Tanya Kimmy yang terkejut saat pria besar tersebut memeluknya.


Dooorrr


Akhirnya sebuah peluru melesat ke dada seseorang yang dicintainya.


"Pembunuuuuuuhhhhh"


Teriak Kimmy dengan gemetar. Hatinya tak karuan. Hanya ada amarah yang meluap, yang sebelumnya tak pernah ia tunjukkan ke siapapun.


"Sakit hati Mami, Dave. Mami yang ngelahirin kamu tapi kamu lebih mentingin perempuan itu daripada mami."


Suara Anne menggema diruangan.


"Telepon Ambulans. Siapapun tolong."


Kimmy menangis memeluk pria itu.


Para staff yang terpaku langsung menghubungi rumah sakit.


Dalam lima menit ambulans sudah datang. Berbagai selang disematkan ke tubuh pria itu.


"Jangan tinggalin aku. Aku cinta kamu."


Kimmy menggenggam dan menciumi tangan pria yang sekarang tak sadarkan diri tersebut. Betapa pilunya seseorang disampingnya mendengar kenyataan itu.


Sesampainya di rumah sakit, Kimmy berlarian mengejar para perawat yang mendorong brankar sampai ia terpeleset dan terjatuh.


"Kimmy.. "


Pria tersebut membantu mengangkat tubuh Kimmy yang lemah.


"Jangan sentuh gue! Urus ibu lu! "


Kimmy menyorot tajam matanya.


"Maafin Mami, Kim."


Dave mengiba.


"Bukan cuma Tante Anne. Bahkan lu pun gak akan terima maaf dari gue kalau sampai Ali kenapa-napa."


Kimmy menepis kasar tangan Dave.


Hati Dave sakit teriris perih mendengar kalimat Kimmy tersebut. Gadis lugu dan pemaaf yang ia kenal hilang seketika.


Ali sudah masuk ke dalam ruang operasi guna pengangkatan peluru yang berada di dadanya. Namun sebelumnya, Dokter meminta Kimmy memanggil keluarganya untuk meminta persetujuan dari operasi yang beresiko ini.


Lena datang dengan wajah panik mendengar anaknya menjadi korban salah sasaran Anne.


Ya, selagi Dave memeluk Kimmy, Ali pun memasang badan untuk melindungi keduanya.


"Apa Ma kata dokternya? "


Tanya Kimmy setelah Lena menandatangani perjanjian.


"Kata Dokter, 50:50 Kim. Pelurunya bersarang tepat didekat jantung."


Jawab Anne menangis di pelukan Kimmy.


Kimmy mendatangi Dave yang duduk di seberang mereka. Memukul kasar dada dan punggung Dave yang pasrah menerima amukan Kimmy.


"Mau buat Ali menderita gimana lagi? Bahkan trauma bekas pukulan lu waktu itu masih membekas di Ali. Ali pingsan di laut karena trauma itu."


Kimmy masih memukuli Dave yang terkejut mendengar penuturan Kimmy.


"Dek, Dek.. Jangan begitu. Ini bukan salah Dave."


Tomi dan Marcel yang baru sampai menarik adik mereka menjauh dari Dave.


"Sama aja. Sama-sama pembawa bencana! "


Ucap Kimmy benar-benar membuat Dave terluka.


Iya Kim aku memang pembawa sial bagi siapa pun disekelilingku.


Dave berdiri hendak meninggalkan ruang tunggu pasien.


Ia pun kuatir dengan keadaan Ali tapi baginya saat ini ketenangan Kimmy dan Tante Lena juga menjadi prioritasnya. Maka ia putuskan untuk menunggu Ali di ruangan lain.


"Maafin Kimmy , Dave."


Tomi menepuk bahu pria kekar itu.


"Gak apa kak. Semua yang dibilang Kim benar."


Dave tersenyum pahit.


Pada akhirnya Dave menunggu di kantin rumah sakit. Ia berdoa terus-menerus untuk kesembuhan Ali. Perasaan bersalah pada Ali menghukumnya untuk kedua kali.


Gue yakin Al lu bisa berjuang lagi hari ini, seperti beberapa tahun lalu.


Dave memberi keyakinan pada Ali lewat doanya.


Jangan lupa Like, Comment dan Votenya yah 💕