Mr.Snowman

Mr.Snowman
Patah Hati



Seberapapun Jemima mengecewakan Dave, hatinya tetap mencintai wanita itu dengan tulus.


Dave berkeinginan mencari tahu alasan Jemima meninggalkannya dengan cara berbohong seperti itu. Selain itu Dave sangat ingin mengetahui, hubungan apa yang terjalin antara Jemima dan Ali.


Pagi-pagi sekali Dave sudah sampai di kampusnya, menunggu Jemima yang tak tau akan sampai pukul berapa. Selama apapun akan ditunggunya, walaupun artinya ia membolos.


"Snowmaaann tumben udah dateng."


Sapa Kimmy yang bertemu Dave di depan gerbang.


Yang disapa tak menyahut, ia malah memperhatikan sosok yang ditunggunya semenjak tadi, turun dari mobil berwarna putih, yang Dave ketahui milik orangtua Jemima. Mobil dengan nomor plat yang sama dengan yang dulu sering mengantar jemput Jemima di SMA.


"Je..."


Dave berlari kearah Jemima, meninggalkan Kimmy yang memperhatikan mereka dari kejauhan.


"Kenapa?"


Jawab Jemima masih sama halusnya seperti dulu.


"Kenapa bohong?"


Tanya Dave langsung tak ingin berbasa-basi.


"Sorry Dave, aku buru-buru."


Jemima enggan menjawab. Ia meninggalkan Dave mematung ditempatnya.


Kimmy menghampiri Dave yang terdiam.


"Udah yuk masuk kelas."


Ucap Kimmy menarik tangan Dave.


Dave tak menolak, ia berjalan dengan gontai. Kimmy yang merasa kasihan berusaha menghiburnya. Sebenarnya ia tau alasan Jemima meninggalkan Dave, Renata cukup dekat semasa SMA dengan perempuan itu.


Je meninggalkan Dave karena tak mau citranya sebagai anak yang berprestasi, terganggu karena berpacaran dengan Dave setelah tau masa lalu Dave yang buruk.


"Snowman, yuk ke Pos."


Tiba waktu istirahat Kimmy mengajak Dave yang masih murung.


Dave tak mempedulikan Kimmy, ia keluar kelas dan sibuk mencari Jemima di gedung sebelah. Kimmy mengekor, mengkhawatirkan sesuatu terjadi pada Dave.


Dilihatnya Dave sedang menarik tangan Je menuju tempat yang jauh dari keramaian.


Ia mendengarkan semua percakapan keduanya dengan jelas.


"Je, kasih aku satu kesempatan. Aku akan buktiin, bisa kamu banggain."


Ucap Dave mengiba.


"Dave, maaf aku gak bisa. Aku sayang sama Ali. Lagian juga kamu udah punya pacar kan temennya Rena?"


Kimmy menolak permintaan Dave.


"Dia bukan pacar aku, Je. Aku gak punya perasaan apapun ke dia."


Jawab Dave. Kimmy lemas mendengar pengakuan Dave.


"Coba buka hati untuk dia, aku rasa dia baik buat kamu."


Paksa Jemima agar Dave tak mengganggunya lagi.


"Dia cuma anak manja, Je. Jauh Berbeda sama kamu."


Dave berkata jujur dengan membandingkan keduanya.


Kimmy patah hati mendengarnya. Ia terima jika Dave tak membalas perasaannya. Tapi jika sampai dibandingkan rasanya terlalu menyakitkan. Kimmy pergi menjauh dari tempat itu sebelum Dave melihatnya. Ia menangis dalam kesedihan.


Jalan yang tak terarah membawanya ke pos tempat adik-adik menunggu mereka membawa makan siang atau sekedar cemilan. Tapi ia datang dengan tangan kosong.


"Kak Kim kenapa?"


Tanya mereka yang ikut bersedih melihat air mata Kimmy.


"Gak apa-apa."


Kimmy mencoba mengembalikan keceriannya, ia tak mau banyak orang bersedih karena dirinya.


Lalu Kimmy mengeluarkan uang dari dompetnya, dan diberikan pada Gugun.


"Gun, tolong beliin ya. Tadi Kak Kim lupa."


Ucap Kimmy sambil mencoba tersenyum dan menghapus air matanya.


"Iya, Kak."


Ucap Gugun tak banyak tanya.


Kimmy diam terus mengingat apa yang didengarnya dari mulut Dave.


Seharian ini kalimat itu terus berdengung di telinganya.


"Ahhhh gak mau dengeeerr.."


Teriak Kimmy di dalam kamarnya. Membuat kedua Kakaknya segera mendatanginya.


"Lu kenapa sih dek?"


Tanya Tomi pada Kimmy yang terkejut melihat kedua kakaknya ada di dalam ruangannya.


Ia sama sekali tak sadar teriakannya terdengar sampai keluar. Bahkan dirinya belum siap menghapus butiran air mata yang tumpah akibat patah hatinya.


"Kim sedih? Siapa yang jahatin?"


Tanya Marcel sembari mendatangi adiknya yang masih duduk dan memeluknya.


Kimmy tak berani menjawab. Ia hanya memeluk pinggang Marcel dengan erat.


"Kenapa Dek?"


Tanya Tomi mengelus kepala adik kesayangannya ini.


"(Menangis) Jangan ditanya Kak, nanti Kim jadi inget lagi, sedih lagi."


Jawab Kimmy yang sedang berusaha menghapus memori buruknya.


Marcel dan Tomi diam menunggu tangisan adiknya reda. Kali ini butuh waktu agak lama. Tak seperti biasanya dalam beberapa detik sudah lupa.


Satu jam sudah tak juga diam. Kimmy masih menangis.


"Siapa sih orang yang buat lu jadi gini? Gue udah gak sabar."


Tomi emosi melihat adiknya tak kunjung membaik. Sepertinya yang menyakiti sudah keterlaluan. Dugaan Tomi seperti itu.


"Gak ada. Kim sendiri, Kak. Kimmy gak boleh punya orang yang Kim sayang. Semuanya pergi. Semuanya benci sama Kim. Kim anak manja yang nyusahin. Papa Mama aja ninggalin Kim waktu bayi. (Menangis)."


Kimmy mengutuki dirinya sendiri.


"Kak Marcel gak bisa sama Kak Gea. Kak Tomi gak bisa sama Kak Dayana, semua karena Kimmy. Kim emang cuma jadi beban buat siapa aja."


Kimmy menangis sejadi-jadinya melampiaskan kesedihannya.


Marcel dan Tomi memeluk adiknya.


"Siapa yang bilang kaya gitu? Justru karena Tuhan liat Kamu mampu dan hebat. Makanya papa mama diajak kesana duluan. Kalo Kim manja gak mungkin bisa laluin waktu sejauh ini. Ya kan Tom?"


Ucap Marcel menguatkan adiknya yang rapuh.


"Siapa yang bilang lu manja dan nyusahin, hah?"


Tanya Tomi mengepal kedua tangannya.


Kimmy menggeleng tak ingin menjawab.


Tomi yang dihantui rasa ingin tahu, memperhatikan seisi kamar Kimmy, berharap ada jawaban. Lalu pandangannya terfokuskan pada benda yang digantung di dinding kamar Kimmy.


"Mr.Snowman dan Ms.Sunshine."


Tomi membaca stiker di belakang helm.


"Lu pacaran? Mr.Snowman yang lu maksud si Dave kan? Orang yang pernah dorong lu sampe jatuh?"


Tanya Tomi menginterogasi.


"Di dorong? Lu gak pernah cerita sama gue Tom."


Marcel mulai terlihat kesal ada sesuatu yang dirahasiakan darinya.


Tomi akhirnya menceritakan kejadian saat ia berkelahi dengan Dave.


"Kamu pacaran?"


Marcel mengulang pertanyaan Tomi.


"Enggak Kak, Kim yang suka sama dia. Dianya suka sama orang lain."


Jawab Kimmy sambil menangis.


Marcel dan Tomi hampir saja tertawa mendengar penuturan adiknya.


"Jangan diapa-apain, Tom. Kita gak ada urusan sama anak itu. Urusan kita cuma sama Kimmy."


Ucap Macel bijak. Dirinya sungguh sosok pengganti ayah yang baik bagi kedua adiknya.


"Kim, niat kamu kuliah mau bantu kita kan? Sekarang kembaliin fokusmu ke tujuanmu. Gak usah pikirin soal perasaan. Omong kosong lah."


Marcel melanjutkan perkataannya. Kimmy menggangguk patuh. Ia memang merasa sudah melenceng dari tujuan awalnya.


Melihat adiknya yang sudah membaik, Marcel dan Tomi sepakat keluar dari kamar Kimmy.


Mereka berlari ke teras, tertawa sepuasnya. Menertawai adik mereka yang masih sangat polos.


"Hahahaha, gue kira kenapa.. Ternyata bertepuk sebelah tangan."


Ucap Tomi tertawa terbahak.


Marcel mendorong kepala Tomi.


"Jangan kenceng-kenceng, nanti dia denger."


Kata Marcel sambil ikut tertawa terkekeh.