
"Liat yang kau lakukan. Kau kira akan bisa membuatku berlama-lama di dalam penjara? Bahkan kota ini tunduk padaku."
Ucap mantan suami Dayana, menarik paksa tangan perempuan itu meninggalkan pesta.
Ali dan Tomi yang melihat dari kejauhan segera mengejarnya namun terlambat. Mobil pria itu telah berjalan menjauh.
"Dave, gue pinjem mobil lu. Nanti tolong antar Kimmy dan Wanda ke rumah naik taksi."
Ucap Tomi terengah-engah.
"Ada apa, Bang?"
Tanya Dave khawatir.
"Udah, pokoknya tugas lu jagain dua perempuan rusuh itu. Jangan sampe mereka bertengkar lagi."
Tomi mengambil kunci dari tangan Dave dan segera menyusul Ali yang sudah lebih dulu menunggunya di parkiran.
Tomi mengendarai mobil dengan cepat. Mencari jejak mobil yang membawa Dayana.
"Siapa laki-laki yang memperlakukannya sekasar tadi?"
Gumam Tomi namun terdengar oleh Ali.
"Mantan suaminya, Kak."
Jawab Ali yang mengenali pria itu setelah peristiwa di club malam.
"Astaga mau apa lagi dia? Terus kenapa dia bebas secepat itu?"
Tomi memukul-mukul stir mobilnya.
"Dia orang berpengaruh di kota ini. Banyak orang-orang besar dibelakangnya."
Jawab Ali yang mengetahui sepak terjang mantan suami Dayana tersebut melalui karyawan club yang sewaktu itu mengantarnya pada Dayana.
"Ah seharusnya sudah gue buat cacat manusia itu setelah tau apa yang dia perbuat pada Dayana ."
Tomi memukul kasar stir mobil.
"Jangan lu sentuh dia, Kak. Karena kita akan berurusan panjang dengan hukum. Orang itu terlalu kuat."
Minta Ali.
"Gue gak peduli. Kalo dia sentuh Dayana lagi kali ini, gue pastiin dia celaka."
Geram Tomi. Ali hanya menghela nafas panjang. Bersama Tomi, jangankan berpikir tenang dan panjang. Emosinya yang meledak-ledak tak dapat di kontrol baik.
"Terserah lu aja."
Pasrah Ali.
Tomi mempercepat laju kendaraannya, ia mendatangi club malam milik mantan suami Dayana tersebut. Di area parkir lantai bawah, mereka menemukan mobil yang digunakan membawa Dayana dari tempat pernikahan Marcel.
"Gue tunggu sini."
Ucap Ali.
"Kenapa? Lu takut?"
Tanya Tomi.
"Mereka udah hapal muka gue. Dalam lima belas menit lu gak keluar, gue masuk."
Jawab Ali sambil menyalakan sebatang rokok yang ia temukan di laci dashboard mobil Dave.
Tomi menutup pintu mobil dan berjalan ke dalam lift.
Hmm lucu sejak kapan lu merokok Dave? Bukannya lu anti ?!
Gumam Ali sambil memutar batang rokok dan menghembuskan asapnya ke udara.
"Lepasin..!!"
Sayup-sayup suara terdengar di ruangan yang masih begitu sepi. Waktu menunjukkan pukul 12.00 tidak ada kegiatan apapun kecuali samar-samar terdengar teriakan seorang perempuan dari ruang atas. Penjagaan pun tak seketat pada malam hari.
PLAAAKKKK
Suara tamparan begitu keras.
"Kau buat saya kehilangan banyak uang! Sekarang sebagai gantinya, kau harus bekerja dengan saya. Layani pelanggan pertamamu dengan becus!"
Bentakan itu terdengar jelas ditelinga Tomi. Seseorang keluar dengan menutup kasar pintu kamar yang menjadi pusat keberadaan beberapa orang disana.
Perlahan Tomi menunggu pria itu pergi. Kemudian ia mendatangi ruangan atas yang kemungkinan adalah tempat Dayana dipekerjakan secara paksa.
Tomi membuka perlahan pintu kamar, betapa terkejutnya ia saat seorang laki-laki hendak menindih tubuh Dayana yang sudah polos tak mengenakan sehelai benangpun. Terlihat beberapa memar dan darah segar dari sudut bibir wanita yang dicintainya itu. Dengan kemarahan yang memuncak, ia memukul pria itu tanpa ampun. Dayana langsung menutup dirinya dengan selimut. Berkali-kali pria tersebut mencoba memberi perlawanan, tapi tak ada gunanya. Kemarahan Tomi membuat tenaganya bertambah besar hingga pria yang diduga pelanggan Dayana tersebut pingsan dan terkapar.
"Pakai bajumu!"
Tomi membuang muka.
Jawab Dayana ketakutan.
"Pakai pakaian dalammu! Sobek juga?"
Perintah Tomi, Dayana menggeleng. Tomi pun segera membuka kemeja putihnya dan melemparnya kearah Dayana. Ditubuhnya, kemeja tersebut menjadi panjang menutupi paha.
Beruntung Tomi masih mengenakan kaos berwarna putih.
Saat Tomi hendak mengeluarkan Dayana dari ruangan itu, tiga orang laki-laki bertubuh tegap menghadangnya. Mereka bergantian mencoba melumpuhkan Tomi. Tapi tak berhasil. Sampai ketika mantan suami Dayana datang dengan sebuah pisau dipusatkan ke leher Dayana.
"Kau keluar dan masalah ini saya anggap selesai atau tetap di perpanjang?"
Tanya mantan suami Dayana tersebut. Kejadian itu membuat Tomi tak berdaya, sehingga dengan mudah ia dilumpuhkan oleh ketiga pria kekar tadi.
Bruaakk
Ali menendang tangan mantan suami Dayana hingga pisau terlempar. Laki-laki tersebut mundur dan melepaskan Dayana. Ali pun tak menghiraukannya, ia menghajar ketiga pria yang melumpuhkan Tomi.
Perlahan Tomi bangkit berdiri dan membantu Ali menghadapi ketiga pria kekar tersebut sampai tergeletak tak berdaya.
"Keamanan!"
Mantan suami Dayana mengambil walkie talkie milik salah seorang pengawalnya yang sudah tumbang. Meminta bantuan tambahan.
Tak lama derap langkah sepatu terdengar berlari beriringan kearah mereka. Tomi dan Ali bersiap menghadapi segala kemungkinan yang ada. Lima orang yang tak kalah besar sudah mengepung mereka.
Tomi dan Ali mengahadapi bersamaan. Tenaga mereka seakan belum habis, keempat orang dilumpuhkan dengan mudah. Sisa satu orang yang sedang menghadapi Ali sendiri.
Tomi memeluk erat Dayana. Sesaat mantan suaminya berjalan kearah mereka dan hendak menikam Tomi dari belakang dengan pisau yang ia raih bersamaan dengan walkie talkie milik salah seorang petugas keamanan tadi.
JLEB!
Pisau menembus perut dan membuat mantan suami Dayana jatuh terhuyung. Dayana yang sedaritadi mengamankan pisau yang telah dijatuhkan pria itu, berusaha menjauhkannya agar tak ada yang terluka parah. Namun malah dirinya sendiri yang mengotori tangannya.
Cipratan darah mengenai baju Tomi.
"Day.. apa yang kamu lakukan?"
Tanya Tomi tak percaya.
Ali yang sedang bertarung, mendorong musuh terakhirnya hingga terjerembab. Ia terkejut dengan apa yang Dayana lakukan.
"Aku liat dia mau tusuk kamu, Tom. Aku benci sama dia."
Dayana menangis sambil bersimpuh. Tomi memeluknya memberi kekuatan.
"Jangan takut. Kita akan lewati ini sama-sama."
Ucap Tomi menenangkan. Tomi segera menelpon rumah sakit untuk mengirim ambulans. Beberapa polisi turut hadir menyelidiki kasus yang melukai beberapa orang ini.
"Siapa yang bertanggungjawab atas ini semua? Terutama penusukan ini."
Tanya seorang Polisi.
"Saya."
Tomi dan Ali menjawab serempak. Keduanya digiring memasuki mobil tahanan bersama Dayana.
"Kamu cukup diam."
Tomi berbisik pada Dayana. Matanya kembali berair, tetesnya turun mengenai tangan Tomi. Tomi menyekanya meminta agar perempuan tersebut tenang.
Setelah sampai di kantor Polisi, mereka dimintai keterangan. Ali mengaku sebagai orang yang memukuli para penjaga hingga jatuh. Dan Tomi mengaku dirinya lah yang melakukan penusukan.
"Siapa yang bisa kami hubungi?"
Tanya Polisi dengan nada keras.
"Dave."
Ali dan Tomi serempak menyebut nama pria itu. Setelah berpikir tak mungkin menyusahkan Marcel di hari bahagianya dan tidak mungkin juga meminta bantuan Kimberly yang pasti akan terus menangis dan membuat kekacauan di pesta Marcel.
Dayana terus menangis, ia cukup bahagia dengan yang dilakukannya. Namun juga teramat sedih karena melibatkan pria yang begitu ia cintai.
"Tom, cabut pernyataanmu. Biar aku bertanggungjawab atas apa yang aku lakukan. Hidupmu masih panjang. Jangan kau kotori namamu."
Minta Dayana dan Tomi menggeleng serta menutup mulutnya.
"Biar aku yang ada di dalam sini. Toh masa depanku memang sudah hancur."
Dayana melanjutkan permintaannya.
"Day, berjanjilah perbaiki hidupmu. Aku gak akan minta kamu kembali denganku. Tapi setidaknya belajar membuat hubungan baru dengan orang yang bisa membantumu membangun mimpi lagi."
Tomi tersenyum menatap Dayana dengan mata sendunya. Mata yang selalu meneduhkan Dayana, mata yang membuatnya berulang kali jatuh cinta pada pria yang sama.
Diusap likenya, dikecup kolom komentarnya.
💕