
Melihat adiknya yang tak kunjung bahagia, Marcel dan Tomi mencoba membuka pintu kebahagiaannya yaitu menyatukan Kimmy dan Ali.
"Gue masih mau kuliah, mau kerja. Enak aja tiba-tiba nyuruh nikah."
Tolak Kimmy.
"Oke, gak mesti sekarang. Tapi kamu mesti coba buka hati untuk Ali. Karena kami dan Tante Lena sudah setuju menjodohkan kalian."
Ucap Marcel, membuat Kimmy dan Ali saling menatap.
Ali kemudian menarik Tomi menjauh dari yang lainnya.
"Kak, lu gak bisa ikut setuju. Dave ngelakuin ini untuk kita. Inget kan?"
Protes Ali pada Tomi.
"Iya gue ingat, tapi gue juga gak bisa serahin adik gue ke perempuan jahat itu. Gimana pun nenek sihir itu ibunya Dave, kalau Kimmy dengan Dave artinya mereka akan terus disakiti, Al."
Ucap Tomi merinding membayangkan adiknya disiksa oleh Anne.
Ali tetap pada pendiriannya, tugasnya hanya menjaga Kimmy sementara waktu. Ia sudah memupuskan harapannya untuk bersatu dengan wanita pujaannya itu, semenjak mengetahui betapa besar cinta Dave pada Kimmy.
"Kapan Mama ngomong begitu? "
Tanya Kimmy heran.
"Kamu beberapa bulan ini sering tidur disana, Kak Marcel sama Gea beberapa kali juga kesana. Gimana juga kami gak enak karena ngerepotin keluarga Ali. Terus Tante Lena beri usulan kaya gitu, ya Kak Marcel langsung telepon Tomi. Kami berdua setuju."
Jelas Marcel.
"Gimana nih Al? "
Bisik Kimmy. Raut wajah takut terlihat jelas. Ia tak mau menentang kedua kakaknya namun hatinya juga tak bisa berbohong, ia masih sangat mencintai Dave.
"Kita iyain aja dulu. Nanti Dave pulang, gue janji bakal bantu perbaikin hubungan kalian . Daripada kita tolak, terus lu dijodohin sama cowo lain lagi dan cowo itu gak mau lepasin lu ketika Dave pulang, gimana? "
Usul Ali.
"Oke Kimmy dan Ali setuju."
Jawab Kimmy lantang. Marcel dan Tomi sangat puas mendengarnya.
"Ya udah sekarang Al tolong antar Kim pulang. Dia harus siapin kamar dan sterilin rumah untuk kepulangan Miracle."
Ucap Marcel.
"Kak Tomi enggak balik bareng kita? "
Tanya Kimmy.
"Gue nyusul, mau antar Wanda balik ke rumahnya dulu."
Jawab Tomi sambil menerima kunci mobil Marcel.
"Kepiting ini gak nginep? "
Tanya Kimmy kecewa.
"Enggaklah gue juga punya keluarga."
Jawab Wanda sambil memukul lengan Kimmy keras sehingga menimbulkan reaksi dari kedua kakaknya. Kimmy hanya tertawa melihat Wanda diceramahi Tomi.
Sesuai instruksi Marcel, Kimmy dan Ali pulang terlebih dahulu. Nanti malam disusul Tomi dan besok Marcel, Gea beserta Miracle akan pulang.
Kimmy begitu antusias membersihkan rumah demi kepulangan Miracle, dibantu Ali tentunya. Berulang kali ia menyapu dan mengepel lantai tak lupa menyemprotkan cairan disinfektan di semua benda terutama yang berada di dalam kamar Marcel, tempat dimana Miracle akan berada lebih lama.
"Kim, lu gak capek? "
Tanya Ali yang heran melihat semangat Kimmy menggebu-gebu, berbeda jauh dengan Kimmy lima bulan belakangan ini yang terlihat tak bergairah menjalani hidupnya, terkecuali bila bersama Lena seolah Kimmy bisa melupakan kenangan tentang Dave.
"Tenang aja kan selama ini tenaga gue udah gue tumpuk menjadi lemak. Jadi harus dikeluarin."
Jawabnya bersemangat.
Ali hanya tersenyum kemudian melanjutkan mendorong lemari ke tempat semula setelah tadi dibersihkan Kimmy. Mereka membersihkan dan menata rumah hingga malam. Banyak perubahan letak barang yang membuat rumah itu seketika berbeda. Menjadi lebih luas dan lebih cantik.
Kelelahan itu mereka singkirkan dengan menyesap dua gelas cokelat hangat kesukaan Ali.
"Al, nanti kalau kita udah berkeluarga kayanya kita bakal buat konsep rumah jadi lebih keren deh."
Ucap Kimmy.
"Uhuk.. "
Ali tersedak minumannya sendiri. Kimmy segera menepuk-nepuk punggung Ali dan mengambil tisu untuk segera membasuh dagu hingga leher Ali yang terkena tumpahan cokelat.
"Lu pengkhayal tingkat tinggi, Kim. "
"Loh kenapa? Kalo impian kita gak tercapai setidaknya kita pernah mengkhayal. Hahaha"
Tawa Kimmy pecah.
"Khayalan berkeluarga sama gue? Heh Dave mau dikemanain? Lu jangan mancing-mancing gue. Gue udah gak minat sama lu."
Jawab Ali berbohong. Ia takut Kimmy berniat serius dengan perjodohannya, sedangkan ia harus menuntaskan ikrar yang dibuatnya pada Dave.
"Diihh lu Ge-er, Al. Kalau kita berkeluarga itu ya lu nikah sama siapa, gue sama siapa. Bukan gue sama lu. Hiii..."
Kimmy menutupi kesalahannya dalam berbicara. Ia juga tak tahu mengapa pikiran dan mulutnya tak sejalan.
Ali lega dan kecewa bersamaan mendengar penuturan Kimmy. Ia kecewa karena tak pernah ada dirinya dipikiran dah hati Kimberly, juga lega jika Kimmy tak pernah membalas perasaannya. Artinya tak ada kebimbangan untuk membawa Kimmy kembali pada Dave. Perasaan yang sulit diartikan. Satu sisi ingin cintanya dibalas tapi di sisi lain, perempuan ini milik sahabatnya yang harus ia jaga karena hutang budinya.
Dek, gue gak balik malem ini. Gue balik bareng Marcel besok. Lu baik-baik dirumah. Jangan begadang!
Pesan dari Tomi mendarat di ponsel Kimmy.
Al, nginep dulu malam ini ya temenin Kim. Gue tadi udah minta izin sama tante Lena juga. Tomi gue suruh nginep disini nemenin gue.
Pesan dari Marcel di ponsel Ali.
Keduanya saling menatap tak percaya dengan apa yang dibacanya. Seperti ada unsur settingan di dalamnya.
"Kak Marcel, Kak Tomi, Mama.. Udahlah fix! Kita dikerjain."
Ujar Ali dan Kimmy bersamaan.
"Aarrgghh.. gak lucu ih kalo ngerjain pake mainin listrik."
Kimmy berteriak ketika mendadak listrik padam.
Ia segera meraba tangan Ali dan mendekat kearah laki-laki itu. Ali menyalakan senter di ponselnya. Kimmy ikut mengambil ponsel miliknya dan menghubungi Tomi.
"Kak, gak lucu ih bercandanya. Udah masuk sini."
Ucap Kimmy.
Gue di rumah sakit. Emang ada apaan?
Tanya Tomi tak paham.
"Gak percaya! "
Jawab Kimmy. Tomi mengalihkan panggilan suara mereka ke panggilan video. Jelas Tomi berada di ruang tunggu rumah sakit.
Kok gelap?
Tanya Tomi.
"Mati lampu."
Jawab Kimmy mulai lebih takut dari sebelumnya karena memang ini bukan kerjaan Tomi.
Selesai mematikan telepon, Ali hendak berdiri mencari lilin namun dihentikan oleh Kimmy.
"Kenapa? "
Tanya Ali.
"Ikuutt."
Rengeknya.
Ali menuntun Kimmy melewati lorong menuju dapur. mencari lilin namun tak ditemukan.
"Kok gak ada ya Kim? "
Tanya Ali heran.
"Tadi kan abis gue rapihin tapi gue lupa taruh dimana."
Jawab Kimmy penuh sesal.
"Emm, yaudah ke warung Romy pasti ada."
Usul Ali.
"Ini udah jam sebelas, Al. Udah tutup. "
Jawab Kimmy.
Akhirnya keduanya memutuskan untuk bergelap-gelapan sepanjang malam selama lima jam. Kimmy tidur di sofa, kepalanya bertumpu pada paha Ali. Sedangkan Ali tidur dengan posisi duduk karena perempuan ini sama sekali tak mau menjauh sedikitpun darinya. Bisa saja mereka di kamar, namun Ali terus mengingat perkataan Lena Jangan merusak anak perempuan orang jadilah laki-laki sejati yang gak akan nyakitin wanitanya. Jangan jadi papamu!
Ucapan Lena selalu menggema di telinganya. Padahal banyak perempuan yang rela ia tiduri karena wajah dan kepopulerannya di dunia hiburan khususnya ajang bertinju, tapi ia tak pernah melakukannya barang sekali. Itu Karena nasihat Lena.