Mr.Snowman

Mr.Snowman
Satu hari bersama



Sesampainya di kediaman Ali betapa terkejutnya Lena melihat penampilan Dave yang tak berbentuk sedang dibantu berjalan oleh Kimmy.


Kimmy menceritakan segala kejadian dengan rinci, sembari membantu Lena mengambilkan obat luka dan pereda nyeri.


"Terus tadi kalian pulang naik apa? "


Tanya Lena.


"Taksi, ma. Motor Dave aku titip di kampus."


Jawab Kimmy.


"Dave menurut tante kamu sebaiknya lanjut kuliah lagi daripada gak ngapa-ngapain. Sekalian jaga Kimmy."


Lena memberi saran.


"Justru kita gak usah terlalu deket Ma. Tiap deket ada aja bahayanya."


Jawab Kimmy.


"Orang yang berjodoh pasti gitu. Rintangannya banyak. "


Celetuk Lena membuat wajah Kimmy cemberut.


Lena terus merawat luka-luka Dave dengan penuh kasih sayang. Membuat Dave merasakan kehadiran seorang mama di hatinya.


"Aww"


Dave meringis kesakitan sewaktu Kimmy menekan luka di bibirnya.


"Gak usah liatin mama kaya gitu! Selera lu jadi tante-tante gitu?"


ucap Kimmy sewot.


"Hahaha Kimmy cemburu Dave."


Jawab Lena membuat Kimmy makin tak nyaman.


"Dave boleh panggil mama kaya Kimmy?"


Tanya Dave ragu. Tak terbayang, Lena malah menitikkan air mata.


"Maaf tante, Dave buat tante sedih."


Ucap Dave tak enak hati. Kimmy melemparkan botol antiseptik ke dada Dave.


"Tante gak sedih. Tante senang. Ali itu benar-benar hidup di kamu."


Jawab Lena menangis.


"Jadi Dave boleh panggil mama?"


Tanya Dave sumringah. Lena mengangguk dan berpelukan dengan Dave.


"Tuh Al, liat deh Al. yang selingkuh bukan aku. Tapi mama Lena."


Ucap Kimmy sambil menengadah ke langit-langit. Membuat Lena dan Dave tertawa terbahak - bahak.


Lena pun menarik Kimmy ikut dalam pelukan kebahagiaan ini.


Setelah sesi bahagia tersebut, Dave naik keatas untuk beristirahat. Dengan berjalan pincang perlahan mencapai anak tangga demi anak tangga.


"Sok kuat lu. Susah amat tu mulut minta tolong."


Ucap Kimmy sambil memapah tubuh Dave.


Kimmy mengantarkan Dave hingga ke atas ranjang. Kemudian dalam sekejap pria tersebut langsung terlelap. Kejadian siang tadi membuat tenaganya habis.


"Jadi selama ini lu juga nyalahin diri lu? Gue minta maaf udah nambahin prasangka ke diri lu."


Ucap Kimmy sambil menyelimuti Dave.


Kimmy kembali turun ke bawah dan menemui Lena yang sedang bersiap untuk berbelanja.


Ia menyodorkan beberapa lembar uang kepada Lena.


"Apa ini? "


Tanya Lena.


"Uang belanja. Sekarang kan udah gak ada Ali yang nafkahin mama. "


Jawab Kimmy.


"Halah sotoy kamu. Uang jajan aja masih minta Marcel sama Tomi."


Ledek Lena.


"Ih terima dong Ma. Anggep uang kos aku selama nginep disini."


Paksa Kimmy.


"Gak lah, kamu kan anak mama. Gak ada bayar kos-kosan. Lagian toko kue mama masih bisa kasih penghasilan. Belum lagi Om James ngasih uang kompensasi setiap bulan."


Ucap Lena lagi.


"Ciyee ... Sayang Om James beristri. Harusnya nikah sama mama aja."


celetuk Kimmy.


"Huss kamu itu kalo ngomong kaya orang mabok. Suka ngaco. Emang mama pelakor?"


Lena memukul kepala Kimmy dan bersiap pergi.


Kimmy mengelus - elus kepalanya yang terasa sakit akibat ketukan Lena.


"Titip Dave. Lukanya parah itu. Bawain makanan ke kamarnya kalau dia udah bangun, tadi mama udah buatin bubur."


Pesan Lena dan Kimmy mengangguk patuh.


Dan setelah Lena pergi, Kimmy mengambil pigura Ali yang sama dengan yang Lena peluk pagi tadi.


"Maaf ya aku gak bisa ke tempat kamu beberapa hari ke depan. Hmm soalnya harus ngurusin si pembuat onar yang tadi babak belur. Al, banyak yang care sama kamu. Masa kamu gak mau balik lagi? "


Ucap Kimmy sambil merengut.


Ia duduk di sofa ruang tamu sambil terus memandangi wajah Ali. Tenang, damai, dan rindu itu yang ia rasakan kini. Kenyamanan yang menghanyutkan, membuatnya terlelap dalam mimpinya.


Sudah dua jam Dave tertidur, ia haus dan turun dari ranjangnya menuju dapur. Kimmy yang tertidur di ruang tamu lupa tugasnya mengurus keperluan Dave.


Setelah menenggak sebotol penuh air mineral dingin, Dave mencari keberadaan dua perempuan di rumah ini. Tapi tak di dapati, semuanya hening.


Namun suara dengkuran halus dari ruang tamu membuatnya berjalan mengikuti asal suara. Ia tersenyum tipis mendapati wanita itu tertidur disana. Namun senyumnya memudar menjadi raut sedih ketika ternyata Kimmy memeluk foto Ali.


Dave mendekat dan mengamati wajah lelah Kimmy.


"Maaf aku yang merenggut semua kebahagiaan kalian. Sepertinya ucapanmu tadi benar Kim. Kita harus menjauh, kedekatan kita hanya membuat bahaya untukmu."


Dave yang masih kesakitan, berusaha mengangkat Kimmy untuk dipindahkan ke dalam kamar Lena. Jalannya pincang, membuatnya sungguh berhati-hati. Ia sampai di kamar Lena yang jaraknya tak jauh dari ruang tamu.


Namun ketika hendak meletakkan tubuh Kimmy diatas ranjang, wanita tersebut sedikit memberontak. Membuat kakinya yang masih sakit tak lagi dapat menahan bobot tubuhnya sendiri. Ia jatuh menindih tubuh Kimmy.


Kimmy membuka lebar matanya. Dave menggelengkan kepala, bersiap mendapat ocehan panjang dari wanita ini. Namun dugaannya salah, Kimmy malah menarik wajah Dave dan mencium lembut bibir itu dengan kesadaran yang entah dimana. Saat ini ia sedang bermimpi bertemu Ali. Jadi dalam bayangannya, ia masih bermimpi dan tak mau menyia-nyiakan waktu ini. Bisa dikatakan Kimmy sedikit mengalami depresi akibat kepergian Ali yang mendadak. Terkadang halusinasi sering membuatnya bertindak yang tidak-tidak. Tapi beruntung, itu terjadi hanya ketika dia bersama Dave. Entah memang arwah Ali yang sedang mempermainkan mereka atau Ali hidup di dalam Dave seperti yang dikatakan Lena.


Dave hendak melepaskan jeratan Kimmy, namun tangan wanita itu menekan leher Dave agar tak terlepas. Dave yang tubuhnya masih lemah, terbawa oleh tarikan Kimmy sehingga tubuh mereka kini sejajar dan berhadapan.


"Kim.. "


Dave mencoba memperingatkan.


"Al, one more."


Minta Kimmy dengan mata terpejam. Hati Dave terasa panas, saat mengetahui kenyataan bahwa Kimmy berpikir dirinya adalah Ali.


Dave diam, ia hanya pasrah saat Kimmy menyatukan wajah mereka kembali. Keduanya tenggelam dalam perasaan yang berbeda.


Saat kehangatan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih panas, Dave mendorong pelan tubuh Kimmy. Ia tak mau terjebak lebih jauh dalam situasi ini dan membuat kesalahan baru.


Dave bangkit dan pergi meninggalkan Kimmy di dalam kamar itu.


"Yuhuuu Dave, Kimmy.. mama sudah pulang."


Teriak Lena dari pintu depan.


Kimmy terbangun heran mendapati dirinya sudah di dalam kamar. Dan lebih terkejut lagi melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul sembilan malam, sudah tiga jam ia tertidur.


Kimmy segera berlari membuka pintu untuk Lena. Dan membantunya membawa belanjaan ke dapur.


"Kalian udah makan?"


Tanya Lena.


"Kimmy belum. Eh Dave... "


Kimmy langsung buru-buru berlari menyendokkan bubur dan keatas menemui Dave.


"Dave belum makan juga Kim?"


Teriak Lena dari lantai bawah.


"Belum ma.. Kimmy ketiduran."


Jawab Kimmy langsung berangsur masuk ke kamar Dave tanpa mengetuk.


Terlihat Dave sedang bertelanjang dada membasuh wajahnya yang babak belur di samping tempat tidur.


"Arrgghh, lo gak bisa pake baju?"


Tanya Kimmy histeris.


"Kamu sendiri gak bisa masuk kamar orang lain tanpa nyelonong?"


Tanya Dave tak kalah sengit.


Kimmy hanya mencibirkan bibirnya, enggan menjawab. Memang pada kenyataannya ia salah.


"Nih makan."


Kimmy menyodorkan sendok berisi bubur ke mulut Dave.


"Taruh situ aja. Nanti aku makan."


Jawaban Dave sangat dingin, mulai mengganggu pikiran Kimmy.


"Oke gue minta maaf tadi gak permisi dulu. Jangan gak makan. Nanti gue dimarahin mama."


Ucap Kimmy melunak.


"Aku gak marah, tapi masih sibuk bersihin ini."


Dave menunjuk luka di bibirnya.


"Sini gue bantu."


Kimmy menarik kain yang ada di tangan Dave dan mulai membasuh luka pria itu.


Tak ada suara apapun yang mereka keluarkan saat ini, keduanya sibuk menahan perasaan masing-masing. Dave dengan perasaan cintanya. Dan Kimmy dengan perasaan yang entah apa namanya, ada rindu namun juga kekecewaan tiap mengingat kepergian Ali dikarenakan ibu dari orang dihadapannya ini.


Selesai membasuh luka di wajah, Kimmy menurunkan tangannya ke bawah tanpa perintah dari Dave. Tubuh kekar Dave yang atletis. Ia menyeka setiap sudut dengan seksama. Membuat jantung Dave berdegup kencang.


"Kim itu gak usah."


Tolak Dave pelan saat hatinya tak lagi bisa dikendalikan.


"Arrghh Dave, lu nakal banget. Digigit vampir mana ini?"


Tanya Kimmy cekikikan.


Dave terkejut dan segera melihat ke kaca. Tanda merah di lehernya begitu besar dan nyata. Jelas ini baru.


Dave segera mengenakan kaos berkerah, agar menutupi tanda merah tersebut.


"Hahaha ditutupin. -- ya udah sini gue suapin."


Ucap Kimmy tertawa.


Dave mengambil mangkuk dan sendok dari tangan Kimmy, namun wanita ini selalu lebih menyebalkan. Ia mengambil kembali dan menyuapi Dave dengan perlahan.


Dia gak tau apa gue gak bisa napas kalau dia masih disini!


Batin Dave.


"Emm jadi, itu tanda dari cewek lu? Haha.. Sebelum dipukulin atau jangan-jangan pas tadi rumah sepi ya?"


Kimmy menyelidik.


"Hemm"


Ucap Dave tak mau banyak bicara.


"Kalo lu gak mau ngaku, berarti bener pas tadi disini sepi lu manggil cewe? Gue bilangin mama nih! "


Ucap Kimmy sambil berlalu ke pintu untuk melapor pada Lena.


"Bilangin aja. Paling kamu yang dihukum."


Tantang Dave, seketika membuat Kimmy berbalik.


"Maksud lu apa?"


Tanya Kimmy.


"Vampirnya kamu. Perempuan yang kamu tuduh itu ya dirimu sendiri. Kamu kira aku Ali."


Jawab Dave sambil menyuap bubur ke mulutnya sendiri.


Kimmy terperangah, hampir mau pingsan dibuatnya.


Ia betul itu tadi mimpi gue. Dan itu bukan mimpi.


Kimmy menabrak tubuh Dave di tepi kasur sehingga rebah. Dan Kimmy menindihnya dan memukuli dadanya.


"Lo kan bisa bangunin gue. Lo cari kesempatan banget."


Teriak Kimmy terdengar oleh Lena.


Cklek


Dan kamar itu sudah terkunci lagi dari luar.


"Setiap ribut, mama kunci!"


Teriak Lena.


"Dan sekarang kita dikurung lagi gara-gara lo."


Kimmy mendengus kesal.


Pukulan Kimmy tak sengaja mengenai bibir Dave yang terluka tadi hingga lukanya menganga lagi.


"Haha, KDRT banget kamu Kim."


Dave menyeka ujung bibirnya.


Kimmy terlihat menyesal dan bangkit dari tubuh Dave. Kemudian mengobati luka itu kembali.


"Maaf"


Ucap Kimmy tak banyak bicara lagi.


Seberapa kali pun kamu membuat luka, aku percaya kamu juga yang akan mengobatinya.


Dave


Jangan lupa Like, Comment dan Votenya yah💕