Mr.Snowman

Mr.Snowman
Wahana permainan



Tomi telah pergi kemarin diiringi tangis Kimmy yang memecah gendang telinga para pekerja di perusahaan tempat Tomi bekerja.


Sampai-sampai ketika mereka pulang, Dave harus menggantikan Marcel menyetir. Sedang Marcel duduk di belakang menenangkan adiknya.


Seminggu sudah ia tak mau kuliah, karena rindu dengan saudaranya. Tak ada sarapan buatan Tomi, tak ada suapan makan saat Kimmy sibuk belajar, tak ada yang menjahili seisi rumah ini. Semuanya hilang begitu saja bersamaan dengan cita-cita yang sedang Tomi raih.


Sudah satu minggu juga Marcel cuti mendadak dengan alasan yang tak jelas. Menemani adik yang menangis walaupun itu, bukan suatu alasan yang masuk akal. Tapi apapun akan Marcel lakukan demi Kimmy. Berimbas dirinya harus menerima cacian dari para atasan karena banyak pekerjaan yang terbengkalai. Alhasil cuti Marcel habis bukan untuk berlibur, namun tetap melakukan pekerjaan dari rumah.


"Besok kuliah ya. Dave akan disini sampai kamu bisa ditinggal."


Ucap Marcel pada Kimmy, ia terpaksa merepotkan Dave karena kalau tidak posisinya di kantor terancam.


"Kak Marcel, boleh gue ajak Kimmy jalan?"


Tanya Dave meminta izin pada Marcel. Marcel menyetujui yang penting adiknya bisa lupa dengan perasaan sedihnya.


Dave membawa Kimmy ke rumahnya. Kimmy sempat heran mengapa dirinya dibawa ke rumah pria ini. Mereka masuk ke dalam, lalu Dave mengambil sesuatu di dalam kamarnya. Yang ternyata merupakan sebuah kunci mobil.


"Rumah lu gede banget Snowman. Tapi kok sepi?"


Tanya Kimmy takjub.


"Yah beginilah. Semua sibuk sendiri-sendiri. Lupa kayanya punya anak."


Ucap Dave.


"Jangan-jangan lu mau perkosa gue kaya di film-film? Penjahatnya bawa korban ke rumah kosong."


Ucap Kimmy sambil berlari keluar.


"Lu nonton film apa sih sebenernya? Waktu itu dinodai, sekarang perkosa."


Tanya Dave penasaran.


"Berita kriminal. hehe"


Jawab Kimmy menyeringai.


Aneh tapi gemesin.


Gumam Dave.


"Naik."


Dave membukakan pintu mobil untuk Kimmy. Ternyata kepentingannya pulang hanya untuk menukar kendaraan.


"Kenapa harus naik mobil?"


Tanya Kimmy bingung.


"Soalnya Gugun sama Devi mau ikut. Mereka minta diajak jalan-jalan ke mall. "


Jawab Dave sambil menyetir menjemput kedua anak itu. Mereka sudah menunggu dengan pakaian yang lebih layak daripada biasanya.


Kimmy sesaat mulai lupa dengan kesedihannya. Ia banyak mengobrol dengan Devi dan Gugun. Kadang terselip ramalan Devi mengenai dirinya.


Sampailah mereka di pusat perbelanjaan terbesar. Yang berdiri kokoh ditengah kota. Dave mengajak mereka bermain di wahana permainan. Gugun dan Devi tak sabar mencoba berbagai permainan. Begitu juga dengan Kimmy, tingkahnya tak beda dengan anak seusia Gugun dan Devi.


"Ini kartu Gugun, ini kartu Devi. Jadi kalau kalian mau main. Digesek dulu kartunya. Nanti saldonya akan berkurang. Ngerti kan?"


Dave menjelaskan tata tertib permainan.


"Gue mana?"


Tanya Kimmy kecewa.


"Oh Kakak Kimmy juga mau?"


Ucap Dave meledek Kimmy. Kemudian ia memberikan satu kartu lagi pada Kimmy.


Kimmy segera berlari kearah mesin dance yang biasa disebut PIU atau Pump it up. Ia menari-nari menghilangkan segala kesedihannya. Dave hanya memperhatikan Kimmy yang seakan tak ada lelahnya.


"Snowman gantian."


Minta Kimmy.


"Gue gak bisa."


Jawab Dave.


"Itu ada arahnya. Tinggal injek-injek aja sesuai panah."


Kimmy mendorong Dave. Akhirnya ia mau melakukan hal yang menurutnya memalukan. Dengan terseok-seok Dave meneruskan tariannya. Kimmy merekamnya di ponsel sambil tertawa-tawa.


"Puas lu?"


Tanya Dave kesal ketika permainan sudah selesai. Ia bahagia bisa melihat Kimmy kembali ceria.


Kimmy malah semakin tertawa melihat wajah Dave yang memerah karena malu dilihat banyak orang.


Tiba-tiba jantung Dave berdegup lebih cepat, ketika Kimmy menyeka keringat di pelipisnya.


"Gue aja sendiri."


Ucap Dave dingin. Ia tak tahan dengan sikap manis Kimmy pada dirinya.


Kimmy melempar tisu kearahnya dengan kesal.


"Gue kira udah berubah."


Gerutu Kimmy pelan.


"Maaf."


Ucap Dave sambil mengelus kepala Kimmy. Ia lupa hendak menghibur Kimmy malah membuatnya tambah kesal.


Dave mengeluarkan ponselnya. Ia menyalakan kamera lalu mulai mengajak Kimmy berfoto dengannya. Seketika wajah Kimmy yang tadi masam berubah manis.


"Mau main apa lagi?"


Tanya Dave.


"Masih capek. Mau liat Gugun sama Devi dulu deh."


Jawab Kimmy sambil duduk di kursi yang disediakan untuk pengunjung. Dave pergi sebentar untuk membeli beberapa botol minum dan kembali duduk di sebelah Kimmy.


Kimmy meletakkan kepalanya di bahu Dave. Kali ini ia berusaha sekuat mungkin agar tak salah tingkah.


"Snowman, kita main bumper car yuk. Gue sama Devi, lu sama Gugun."


Ajak Kimmy.


Dave tak menolak. Ia memang menyukai wahana ini. Mereka tertawa riang ketika mobilnya beradu keras.


"Kak, naik itu yuk kereta terbang."


Minta Gugun setelah puas bermain bumper car.


"Roller coaster, Gun."


Ucap Devi membetulkan.


"Kalian aja. Kak Kim gak berani."


Tolak Kimmy.


"Ayolah kak sekali aja. Kakak duduk sama Kak Dave deh supaya kalo mau jatuh, bisa dipegangin."


Ucap Gugun malah membuat Kimmy tambah merinding.


Kimmy tetap menolak, hingga akhirnya ia menyerah saat Devi dan Gugun memasang raut wajah sedih. Kimmy duduk di samping Dave. Belum juga mulai, Kimmy sudah menggenggam tangan Dave erat.


Dave tersentak. Kali ini Ia lebih takut berhadapan dengan perasaannya ketimbang naik roller coaster sampai wahana ini tutup.


"Yakin? Kalo takut turun aja."


Ucap Dave khawatir dengan Kimmy.


"Iya yakin. Tapi jagain gue ya."


Minta Kimmy pada Dave. Laki-laki tersebut malah menangkap maksud lain, seolah Kimmy meminta ia menjaga bukan hanya di tempat ini.


"Iya gue akan jaga lu terus."


Dave berjanji dengan penuh kesadaran.


Permainan dimulai. Kereta sudah mulai berjalan. Kimmy tak berani membuka mata sedikitpun. Ia meraih tubuh Dave memeluknya dengan kencang, dan kepalanya bersadar di Dada Dave. Dave pun membalas pelukan itu dengan erat. Ia takut jika terjadi hal-hal yang buruk menimpa Kimmy.


"Snowman, gue yang takut. Tapi kok detak jantung lu lebih keras suaranya?"


Tanya Kimmy sambil teriak ketakutan.


Dave malu bukan main. Andai Kimmy tau, detak jantung Dave berbunyi keras karena pelukannya bukan karena wahana ini.


"Karena gue suka sama lu."


Jawab Dave tapi tak terdengar oleh Kimmy. Suara teriakan penumpang wahana ini makin kencang.


"Apa?"


Tanya Kimmy sekali lagi.


Dave tak menjawab sepatah katapun. Ia mengangkat dagu Kimmy dan menciumnya diatas roller coaster. Kali ini Kimmy benar-benar lemas. Selain karena wahana, ditsmbah serangan Dave yang tiba-tiba.


Kimmy turun dengan muka masam, ia berjalan menjauhi kerumunan. Dave mengikutinya.


"Kan gue bilang. Gue gak suka bibir obralan. Abis lu cium gue, besok lu cium cewek lain lagi."


Protes Kimmy tak terima dipermainkan oleh Dave.


"Kan gue bilang kasih kesempatan gue jelasin apa yang terjadi sama gue dan Jemima waktu itu."


Ucap Dave. kemudian ia menceritakan kejadian yang sebenarnya pada hari itu.


"Ya udah, lu mau gimana pun sama Jemima bukan urusan gue. Urusan gue cuma, jangan sembarangan cium gue lagi, Snowman!"


Perintah Kimmy. seraya meninggalkan Dave.


"Nama gue Dave. Dave Norman."


Teriak Dave di balik punggung Kimmy.


"Gue udah tau nama lu. Tapi gue bilang kan, gue gak mau tau sampe ..."


Ucapan Kimmy terhenti. Ia menoleh ke belakang.


"Sampe gue suka sama lu. Dan gue udah suka."


Ucap Dave yang membuat Kimmy hampir pingsan.