
"Kenapa kepalamu Dek?"
Tanya Marcel yang sedang sarapan.
"Sampe kapan mau berenti mabuk?"
Tanya Kimmy ketus.
"Urus urusanmu sendiri, Dek. Jangan ikut campur!"
Bentak Marcel.
"Kalo gitu jangan pernah tanya luka yang aku terima!"
Kimmy balas membentak.
"Itu karena Kak Marcel, Dek?"
Marcel melemah.
"Kak Marcel pikir aja! Rasanya aku mending ikut Kak Tomi."
Ucap Kimmy sambil pergi dari hadapan Marcel.
Marcel termenung dengan apa yang dilakukan. Semua orang yang ia sayangi mulai menjauh. Karena egonya begitu tinggi.
Kimmy berjalan mencari angkutan umum. Lagi-lagi motor Dave melewatinya, seolah ia memang masih mengawasi Kimmy.
"Gue anter."
Tiba-tiba motor Ali berhenti di hadapan wanita itu.
"Gak usah. Kita beda kampus."
Tolak Kimmy.
"Atau perlu gue pindah kampus supaya lu mau naik ke motor gue?"
Ucap Ali. Kimmy tertawa mendengar celotehannya.
"Gak perlu."
Jawab Kimmy sambil naik ke atas motor Ali.
Setelah mengantar Kimmy sampai ke depan gerbang, Ali langsung melanjutkan perjalanan menuju kampusnya.
"Kepala lu kenapa?"
Tanya Renata panik. Dave menahan pertanyaan itu semenjak tadi. Ia berharap Kimmy menghampirinya dan menceritakan apa yang ia alami. Namun Dave lupa Kimmy bukan orang yang suka minta belas kasihan.
"Nanti ajalah ngobrolnya. Gue lagi gak mood."
Minta Kimmy dan Renata patuh.
Sepanjang pelajaran, Dave terus memperhatikan Kimmy. Berharap wanita ini sedikit melunakkan isi kepalanya. Bagaimanapun Dave masih sangat mencintai kekasihnya.
Masa gue yang duluan minta maaf? Ah dasar keras kepala! Buat lu, gue rela lakuin apa aja.
Batin Dave menguat.
Dave menunggu ruang kelas kosong. Berharap hanya menyisakan dirinya dan Kimmy disini. Harapannya baru saja hampir tercapai, ketika Jemima masuk ke dalam kelas dan menghampirinya.
"Dave makan siang bareng ya."
Ucap Jemima manja.
Kimmy keluar meninggalkan mereka berdua sambil bibirnya meledek mengikuti cara Jemima berbicara.
"Kaki lu udah sembuh kan Je? Artinya bisa sendiri kan?"
Tanya Dave sambil menghela napas. Gagal lagi upayanya mendekati Kimmy.
Namun Jemima tetap memaksa, ia menarik-narik tangan Dave hingga pria itu terpaksa menurut.
"Tuh pacar lu dibawa lagi sama miskunti."
Ucap Renata yang melihat Dave dan Jemima berada di kantin yang sama dengan mereka.
"Biarin dululah. Gue lagi gak mikirin itu. Kak Marcel tambah hari tambah parah, Re. Gue gak tau masalahnya apa."
Jawab Kimmy sambil memijit-mijit keningnya dan menjelaskan apa yang terjadi dengan Kakak sulungnya itu.
"JADI KEPALA LU ITU DILEMPAR GELAS?"
Teriak Renata karena terkejut. Kimmy langsung menutup mulut sahabatnya itu. Merasa malu ketika semua mata melihat ke arahnya.
Begitu juga Dave. Ia mendidih mendengar seseorang melempar dan membuat kepala wanitanya terluka.
Dave berdiri ingin mendatangi Kimmy dan meminta penjelasannya, namun dicegah lagi oleh Jemima dengan alasan yang membuat Dave menurut.
Renata yang melihat hanya terdiam, tak mau membicarakan hal yang dapat membuat Kimmy tambah sedih.
Tapi bagaimana perempuan tersebut tak bertambah murung, sepulang kuliah ia mesti melihat Jemima pulang dengan Dave lagi.
"Udahlah, lu cari pacar lagi. Gak usah peduliin dia."
Ucap Renata yang kesal melihat Kimmy mematung setiap hari seperti ini sampai keduanya lewat.
"Gak mikirin itu, cuma mau tau dia anggep gue apa sih?"
Jawab Kimmy.
Tiinnn..
Ali mengklakson, memanggil Kimmy dari kejauhan.
"Katanya gak mikirin? Tuh udah ada yang baru."
Goda Renata.
"Ih bukan. Dia Ali. Gue juga gak tau ada perlu apa."
Jawab Kimmy membuat mulut Renata menganga lebar.
Renata dan Ali berkenalan, sebelumnya kedua orang ini hanya tau nama. Ali mengetahui Renata dari Jemima, sedangkan Renata mengenal Ali dari cerita-cerita gosip semasa SMA.
"Yuk gue anter pulang."
Ali menepuk-nepuk jok belakang motornya.
"Lu kok jadi anter jemput gue? tadi kebetulan. Sekarang kebetulan lagi?"
Tanya Kimmy heran.
"Kayanya kita jodoh."
Jawab Ali percaya diri.
"Udah naik sana. Gak kalah ganteng dari Dave kok. Lebih friendly lagi."
Bisik Renata.
"Apaan sih lu? Gimana pun Snowman tetep pacar gue."
Bisik Kimmy.
"Ayo naik.Ngapain bisik-bisik?"
Tanya Ali sambil terkekeh.
Kimmy akhirnya mengalah dan naik ke atas motor Ali. Ia mengantarkan Kimmy lalu segera pulang.
"Besok pagi gue jemput ya."
Ucap Ali sambil menarik gas sepeda motornya. Belum sempat Kimmy menjawab. Ia sudah berlalu.
Aduh besok kalo dia ketemu Kak Marcel gimana? Gue gak punya nomer teleponnya juga.
Kimmy gelisah menanti besok pagi.
Malam ini Marcel pulang tanpa kebiasaan buruknya, hubungan kedua kakak beradik ini berangsur membaik.
Marcel berjanji pada dirinya sendiri untuk membenahi sikap dan cara berpikirnya agar tak menyakiti siapapun.
Pagi hari, ia mulai memasak sarapan dan bekal adiknya. Seharian kemarin terpikirkan ucapan Kimmy ketika membandingkannya dengan Tomi. Ia merasa memang Tomi jauh lebih baik daripada dirinya.
"Kim..."
Teriak Ali di depan pintu. Kimmy terbatuk-batuk, ia baru saja memperbaiki hubungan dengan Marcel. Bisa rusak lagi karena kehadiran Ali.
"Buka pintunya Dek."
Ucap Marcel. Kimmy patuh berjalan ke arah pintu dan perlahan membukakan pintu untuk Ali.
"Lu mau cari mati?"
Bisik Kimmy pada Ali.
"Kenapa? Kakak lu mabuk lagi?"
Tanya Ali kebingungan.
"Justru dia lagi gak mabuk."
Jawab Kimmy membuat Ali tertawa namun buru-buru Kimmy menutup mulut Ali.
Marcel mendekati keduanya, ingin tahu tamu yang datang.
"Sini masuk. Saya Marcel."
Sambut Marcel ramah. Kimmy tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Saya Ali, Kak. Temannya Kimmy."
Balas Ali sambil masuk mengekor Marcel.
"Teman atau pacar? Sudah sarapan? ayo sarapan sama-sama."
Ucap Marcel sambil tersenyum.
"Ya kalo diizinin, maunya lebih dari teman Kak."
Jawab Ali malu-malu.
"Ya kalo soal itu saya serahin ke Kim. Asal gak sembunyi-sembunyi dari saya."
Kata Marcel sambil menyendok nasi ke piring Ali.
"Kak! Ali tuh temen aku doang."
Ucap Kimmy ke Marcel.
"Lu juga apa-apaan sih ngomong kaya gitu". Kemudian Kimmy protes pada Ali.
"Kamu gimana sih Kim, kalo Kak Marcel keras katanya nyebelin. Kak Marcel sekarang kasih lampu hijau bolehin kamu pacaran. Apalagi kelihatannya Ali baik kok. Tadi aja izin ke kakak sebelum pacarin kamu."
Ucap Marcel panjang lebar.
"Kakak kebanyakan mabuk ni. Jadi gak beres otaknya."
Timpal Kimmy.
"Jadi maunya Kak Marcel yang dulu? Oke dicabut nih ya izin pacarannya?"
Ancam Marcel.
"Eh, enggak gitu. Ya udah oke, aku terima lisensi pacarannya. Tapi gak sama Ali juga kali."
Ucap Kimmy cemberut.
Marcel dan Ali tersenyum melihat tingkah Kimmy.
Perubahan sikap Marcel didasari rasa penyesalannya kehilangan Gea. Ia tak mau kehilangan adiknya juga. Maka ia putuskan menurunkan egonya agar semua orang yang ia sayangi dapat bahagia.