
1 tahun kemudian..
Kimmy kembali pada rutinitasnya, hanya saja setiap hari Minggu ia menyempatkan diri mengganti bunga di pusara Ali. Bunga tulip putih yang melambangkan harapan, semangat baru dan pengampunan ia letakkan di vas granit tepat di samping nisan bertuliskan Christian Ali.
"Aku pengennya tiap hari kesini Al untuk ganti tulip ini. Biar kamu tau setiap hari aku penuh harapan dan semangat. Tapi, nanti kakak-kakakku mikir aku sakit jiwa lagi. haha
. Oh iya, dan soal tante Anne, aku maupun mama Lena sudah mengampuni dia. Walaupun proses hukum tetap berjalan. Karena papa kamu orang yang paling gak ikhlas kalau tante Anne gak mendapat hukuman."
Kimmy berbicara pada tanah makam Ali.
Tak ada lagi kesedihan di wajah wanita itu. Hatinya yang mau mengampuni, membuatnya lebih cepat menerima dan merelakan apa yang telah terjadi.
"Besok aku wisuda, Al. Kamu keberatan gak kalau Dave hadir dampingin aku?"
Kimmy bertanya namun tetap tak ada yang dapat menjawab.
"Jawab dong Al. Lewat cuaca kaya biasa. Kalau kamu gak suka aku tidur disini kan biasanya turun hujan. Supaya aku pulang. Nah sekarang kalau kamu setuju, kasih tanda lewat angin. Dan kalau gak setuju, tetap lewat hujan."
Ucap Kimmy mencoba peruntungan.
Hanya semilir angin lembut yang tiba-tiba membelai rambutnya, seakan mengisyaratkan bahwa Ali menjawab pertanyaannya.
"Makasih Ali. Terus aku mau tanya lagi. Kamu lebih suka aku sama Dave atau Omen? Angin untuk Dave dan hujan untuk Omen."
Kimmy bertanya hal lain untuk kedua kalinya.
Seketika angin bertiup begitu kencang. Dan Kimmy menyadari apa yang menjadi pertanda jawaban dari pertanyaannya. Namun baru ingin menyimpulkan. Angin membawa titik-titik hujan ke atas kepalanya.
"Sumpah aku bingung dengan jawaban ini. Aku pulang dulu ya, Al. You'll always in my heart."
Ucap Kimmy sambil berlari kecil meninggalkan area pemakaman itu.
Tahun yang begitu berat sudah terlewat. Tentu saja berkat dukungan keluarga, Lena dan Dave. Meskipun jauh, keduanya intens berkomunikasi via chatting ataupun tatap muka jarak jauh.
...***...
Hari yang ditunggu tiba, Kimmy mengenakan balutan kebaya berwarna soft dengan bentuk lebih panjang dibelakang. Selain membuatnya anggun dan cantik, model kebaya tersebut membuat Kimmy tampak sedikit lebih tinggi. Belum lagi dengan high heels yang ia kenakan senada dengan warna kebayanya.
"Yok Dek."
Seluruh keluarga mengantarnya termasuk Lena.
"Ntar dulu, kak. Ada yang belum dateng."
Jawab Kimmy gelisah melihat jam di tangannya.
"Siapa sih? Tante Lena disini, Kak Marcel, Kak Gea sama Miracle juga udah. Gue, Wanda dan balon diperut Wanda juga udah di dalam semua."
Ucap Tomi kesal karena sang adik mengulur waktu.
Kamu dimana? Aku berangkat duluan. Acaranya keburu dimulai.
Kimmy mengirim pesan pada Dave dan kemudian masuk ke dalam mobil.
Sesampainya di aula tempat wisuda berlangsung, Kimmy begitu terkejut dengan keberadaan Dave dengan satu buket mawar merah.
"ihh dikirain gak bakal dateng."
Gerutu Kimmy.
"Aku udah janjian sama Mama untuk duluin kamu sampe sini."
Ucap Dave.
Kedua kakak terlihat heran dengan dua orang dihadapannya.
Mau bertanya, tetapi acara segera berlangsung. Mereka masuk ke dalam dan tak sempat tahu apa yang terjadi antara adiknya dan Dave.
Sepanjang sesi, kerisauan terjadi di hati Tomi dan Marcel. Bagaimana tidak, ibunda Dave adalah orang yang ingin mencelakai adik mereka jika Ali tidak mencegah. Kedekatan mereka tidak boleh lebih dari sekedar teman.
"Mereka deket lagi, Tan?"
Marcel bertanya pada Lena.
"Iya."
Jawab Lena sumringah.
Kimmy duduk di sebelah Renata, mereka berpelukan dan tertawa bahagia. Sedangan Dave duduk bersebelahan dengan Kenny.
"Jangan putus lagi. Pacar lu banyak yang naksir."
Goda Kenny.
"Salah satunya elu?"
Tanya Dave tertawa sumbang.
"Enggaklah. Gue udah punya bidadari. Walaupun spek nya belum se-upgrade cewe lu. Seenggaknya dia lulus tepat waktu. Jadi gue gak lama-lama ngebujang sampai berjamur gini nunggu dia lulus."
Jawab Kenny yang disusul tawa dari Dave.
"Jadi sekarang udah gak ngebujang?"
Tanya Dave.
Ucap Kenny serius.
Dave mengangguk mengiyakan undangan dari Kenny dan Renata.
Selesai acara, seperti biasa Marcel mengajak keluarganya merayakan kelulusan Kimmy di sebuah restoran. Dave ikut serta dalam perayaan itu.
Sambil menunggu pesanan mereka tiba, Marcel membahas hal yang sejak tadi dipikirkannya.
"Ehem, kalian pacaran lagi? "
Tanya Marcel mendelik ke arah Kimmy dan Dave.
"Enggak kak, kita cuma temenan."
Jawab Kimmy.
"Bener itu Dave? "
Marcel meminta jawaban lengkap.
"Iya kak. Tapi kalau gak ada halangan, tahun depan izinin saya untuk melamar Kimmy Kak."
Jawab Dave membuat Marcel tersedak cocktail yang ia nikmati.
"Gimana sih cuma temen tapi mau nikah?"
Tanya Tomi.
"Ya karena gue masih berusaha masuk ke hati Kimmy. Itu juga kalau dia izinin."
Jawab Dave membuat Kimmy tersipu malu.
Marcel memijit-mijit pelipisnya, sedangkan Tomi mendentingkan gelasnya berkali-kali dengan sendok.
"Aku ke toilet dulu."
Ucap Kimmy menghentikan suasana yang tegang seketika.
"Oty, Akel ikut."
Miracle berlari kearah Kimmy mengikutinya ke toilet.
Sementara Kimmy dan Miracle tak ada, ketegangan kembali terjadi.
"Kan kamu janji cuma berteman sama Kimmy. Tolong jangan terlalu jauh. Saya dan Tomi keberatan."
Ucap Marcel pada Dave.
Wanda, Gea dan Lena membulatkan matanya benar-benar terkejut dengan perkataan Marcel ditengah hari yang berbahagia ini.
"Kalian berdua tuh gimana? Milih Kimmy di makam tiap hari atau lanjutin hidupnya sama orang yang bisa jaga dia?"
Tanya Lena.
"Ya kita maunya terbaik buat Kimmy, tan. Tapi bukan sama Dave. Kami takut terjadi hal buruk lagi mengingat Tante Anne orangnya nekat."
Jawab Tomi .
"Udah cukuplah kalian menghakimi Dave kaya gitu. Gimana juga Dave pernah berkorban untuk kalian. Tante tau soal kejadian setelah pernikahan Marcel. Ali cerita saat kamu tolongin perempuan yang bernama Dayana itu. Dave sampai rela jauhin Kimmy supaya kamu dan Ali bebas dari hukuman."
Lena mengingatkan Tomi.
"Jadi karena itu Dave ninggalin aku tiba-tiba? "
Tanya Kimmy yang sudah hadir tak jauh dari meja mereka.
"Cepet banget ke kamar mandinya?"
Gea bertanya pada Miracle yang berlari ke pangkuannya.
"Tolilet yusak mommy." (Toilet rusak, mommy)
Jawab Miracle.
Hanya ibu dan anaknya yang bersuara. Sedangkan yang lain tercengang, tak mengira Kimmy akan mendengar hal ini.
Kimmy kembali duduk ke tempatnya dengan mata menatap tajam Tomi, Marcel dan Dave bergantian.
"Ada yang bisa jelasin ke aku? Kenapa ini bertahun-tahun dirahasiain dari aku?"
Tanya Kimmy dengan nada suara bergetar menahan tangis.
Tak ada sahutan. Tomi dan Marcel saling melempar tatapan agar menjawab keingintahuan sang adik, sedangkan Dave menunduk merasa bersalah merusak hari bahagia perempuan yang dicintainya tersebut.
"Lanjutin makannya! Aku permisi duluan."
Kimmy berdiri dan berjalan meninggalkan keluarganya.
Beberapa langkah ia menghentikan langkahnya dan berkata tanpa menoleh.
"Jangan ada yang nyusul aku! "
ucapnya dingin.