Mr.Snowman

Mr.Snowman
Perpustakaan



Marcel dan Tomi sudah berangkat mendahului adiknya membiarkan Kimmy terlambat bangun yang kelelahan karena tugas-tugasnya. Setelah bangun, Kimmy bergegas mandi dan sarapan. Kedua kakaknya tidak setega itu, diatas meja Tomi meninggalkan sarapan dan bekal, sementara Marcel meletakkan beberapa lembar uang untuk transport dan jajan Kimmy.


Kimmy berangkat menggunakan angkutan umum membuatnya terjebak kemacetan diberbagai tempat.


Harusnya gue gak usah ngambek, coba kalo bareng Kak Tomi, udah sampe nih.


Pikir Kimmy dalam lamunnya.


Empat puluh lima menit perjalanan, cukup membuatnya sangat terlambat.


Renata mengirim pesan pada Tomi, mempertanyakan keberadaan Kimmy.


Sedang Dave melihat kursi kosong di depannya, biasanya ada yang mengganggunya dengan ocehan konyol, kini hanya sepi.


Pelajaran yang sudah berjalan sekitar tiga puluh menit terhenti.


"Pagi Pak, maaf terlambat."


Ucap Kimmy pada Pak Rendy, dosen yang terkenal dengan aura pembunuh mental mahasiswa yang tak disiplin.


"Ini sudah bukan terlambat lagi. Kamu gak usah ikut mata kuliah saya hari ini."


Ucap pria separuh baya tersebut mengusir Kimmy dari kelasnya.


Kimmy keluar dengan tertunduk lemas. Ia menerima ganjaran atas kelalaiannya.


"Kimberly, mau kemana?"


Tanya seseorang yang suaranya sedikit Kimmy ingat.


Ia mengangkat bahu, tak tahu juga akan kemana.


"Sini ikut saya."


Kenny menarik tangan Kimmy untuk mengikutinya. Menuntun Kimmy ke dalam perpustakaan.


"Wooww gila sih buku-bukunya keren."


Ucap Kimmy tak lagi bersedih. Ia berjalan dari rak ke rak mencari buku yang sesuai seleranya.


Kenny tersenyum senang merasa berhasil membuat mood Kimmy membaik.


"Kamu senang, Kimberly?"


Tanya Kenny sambil terus memperhatikan Kim.


"Seneng buaaanget, thank you ya Kak."


Jawab Kimmy sambil membawa satu buku tebal dan mulai memilih kursi.


"Jadi kita temenan sekarang?"


Kenny tak mau menyia-nyiakan momen ini.


"Iya dong."


Jawab Kimmy sambil memberikan jabat tangannya.


Kini mereka asik membaca buku masing-masing dengan posisi duduk berhadapan. Diam-diam dibalik buku yang dibaca, mata Kenny terus memperhatikan wajah Kimmy.


Rambut yang dikuncir berantakan, baju milik Tomi yang kebesaran, tetap tak menutupi wajah imut Kim yang menggemaskan. Poninya dibiarkan turun menutupi keningnya. Blush on warna orange ia pulas tipis di pipinya. Sungguh kecantikan yang natural dimata Kenny.


Kimmy masih seperti biasa, tidak pernah menyadari apapun ketika sedang membaca buku. Kalau saja tak ada sekat antar waktu, ia berangan menghabiskan membaca buku setebal itu sekaligus.


Kenny makin mengagumi Kimmy, hobinya membaca, caranya berpikir, jenius. Sosok yang diidamkan Kenny selama ini. Ia mengimpikan pasangan yang sebanding dengan dirinya selama ini, supaya seimbang menurutnya. Manusia mulai berlalu lalang, sudah empat jam mereka disini tanpa jeda minum atau ke toilet sekalipun. Kimmy bisa menahan apapun asal buku yang ia sedang baca belum sampai di sampul belakang.


Di Pos Bahagia..


"Tadi Kak Kim kesini?"


Dave bertanya pada seluruh anak-anak yang sedang menikmati makanan darinya.


"Enggak."


Jawab mereka serempak.


Dave terlihat gelisah, seperti ada yang kurang di tempat ini.


"Telepon aja Kak."


Ucap Devi calon peramal masa depan. Seolah iya sudah mahir menjadi cenayang mengetahui apa yang membuat Dave tak tenang.


Dave berpikir sejenak


Nanti kalo gue telepon, dia salah paham.


Pikiran Dave mengurungkan niatnya menghubungi Kimmy.


"Kimberly, setengah jam lagi kelas mulai."


Ucap Kenny membuat Kimmy terkejut .


"Thank you, Kak."


Ucap Kimmy sambil berlari ke rak mengembalikan buku yang baru ia baca setengah, kemudian tergesa berlari keluar.


Kenny tersenyum melihat tingkah Kimmy.


Kimmy berlari sekencang-kencangnya ke Pos Bahagia, ia tiba dengan nafas tersengal.


"Snow...hufhttt...maaannn..Huft.."


Ia mengatur napasnya berkali-kali. Bahagia rasanya bertemu Dave dan anak-anak walaupun lelah berlari secepat itu.


Dave memberikan air mineral miliknya pada Kimmy tanpa berkata. Kimmy pun menenggak tanpa jeda. Ia habiskan air milik Dave.


"Darimana lu?"


Tanya Dave.


Jawab Kimmy sambil mengeluarkan bekal miliknya dan mulai makan.


"Kenapa tadi telat?"


Dave mulai menginterogasi Kim.


"Kesiangan, kemarin sampe rumah langsung kerjain laporan. Nih di cek."


Tukas Kimmy sambil mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tasnya.


"Ini kan tugas kelompok, harusnya kerjain bareng. Atau bisa kita bagi dua biar lu gak kesiangan kaya tadi."


Ucap Dave merasa tak enak hati pekerjaannya hampir semua diselesaikan Kim.


"Gak apa, santai."


Balas Kimmy sambil menyuap nasi ke dalam mulutnya.


Dave terlihat merasa bersalah karena fokus pertandingan kemarin, ia sampai melupakan tugasnya.


"Kak, Kak Dave belum makan daritadi mikirin Kak Kim loh."


Ucap Devi yang daritadi memperhatikan Dave membagikan makanan kepada mereka tanpa memikirkan dirinya.


Kimmy melirik ke arah Dave dan tersenyum dengan mulut penuh makanan.


Disodorkan sendok berisi nasi ke mulut Dave. Awalnya Dave menolak, namun karena anak-anak menyoraki dirinya agar menerima makanan dari sendok Kimmy, ia pasrah membuka mulutnya.


Kimmy bergantian menyuapi Dave dan dirinya sendiri. Dave mulai menerima perhatian dari Kimmy.


Kadang Kimmy berceloteh hal konyol, Dave ikut tertawa. Kimmy pun senang dengan sikap Dave yang mulai menghangat. Terasa ada angin segar yang menghampiri dirinya untuk makin dekat dengan pria yang ia juluki Mr.Snowman ini.


Mereka berdua secepatnya kembali ke kelas setelah selesai makan.


"Eh, gue gak mau punya hutang sama lu karena ngerjain tugas ini sendiri. Lu mau apa? Biar impas."


Tanya Dave sambil berjalan memasuki gerbang.


"Gue sebetulnya gak ngerasa lu berhutang, tapi kalo lu tawarin..gue mau."


Jawab Kimmy bersemangat.


Dave menyesal membuat penawaran dengan Kim, Ia baru teringat perempuan ini tak memiliki basa-basi sama sekali. Apa yang menjadi kemauannya langsung ia utarakan.


"Apa?"


Tanya Dave ragu.


"Gue mau liat lu latihan, setiap hari selama seminggu ini."


Jawab Kimmy. Ia serius menyukai Dave. Hanya ingin berlama-lama dengannya, maka diambilnya keputusan tersebut.


Dave menyetujuinya. Sebagai laki-laki sejati, ia tak mau menarik kalimatnya sendiri.


Kimmy tak bisa menutupi kebahagiaannya. Ia terus menerus tersenyum sendiri, mengundang kecurigaan Renata.


"Seneng ya dikeluarin dari kelas?"


Tanya Renata bingung.


"Iya.."


Jawab Kimmy sejadinya. Tak mau membuat banyak pertanyaan berjilid dari mulut Renata.


"Kenapa terlambat?"


Nah kan, pertanyaan Renata berlanjut. Bagus Dosen selanjutnya sudah mendendangkan suara sepatunya yang ringan dari luar pintu. Ruangan menjadi hening seketika.


"Siang semua.."


Suara Kenny membuat semua mahasiswa tersenyum lega.


"Siang Kaaakkk."


Jawab mahasiswa di kelas ini serempak, tak terkecuali Kimmy yang sudah menurunkan bendera perangnya.


Kenny mengajar hingga akhir mata kuliah hari ini.


Selama kegiatan berlangsung, tak didapati Kenny mencuri kesempatan memandang Kim. Ia orang yang serius dalam pekerjaannya.


Kimmy membereskan buku-bukunya sembari menunggu Dave selesai mengetik sesuatu di ponselnya. Mereka berdua keluar terakhir dari ruangan. Begitu juga Kenny, ikut menata kertas berulang-ulang, setelah tersusun rapi ia benahi lagi, sampai Kimmy lewat di depannya.


"Kimberly, mau ke perpustakaan lagi?"


Tanya Kenny yang menghentikan langkah Kimmy dan Dave tepat di depan mejanya.


"Mau, tapi gak sekarang."


Jawab Kimmy sambil cengengesan, membuat Dave terkejut.


Kemarin kaya anjing dan kucing, sekarang udah akrab.


Dave menajamkan tatapannya pada Kenny.


"Oh oke, boleh minta nomer handphone? Kalau nanti mau kesana bisa janjian."


Ucap Kenny menjalankan rencananya agar semakin dekat dengan Kimmy.


"Eheem.. Eheem... jadi ikut gak? buruan!"


Dave berdehem menghentikan obrolan mereka.


"Next time ya Kak. Aku buru-buru."


Ucap Kimmy sambil berlari kecil menyusul Dave yang berjalan mendahuluinya.