
Dave menatap punggung Kimmy. Ia merindukan perempuan yang selalu membuat hari-harinya dipenuhi tawa. Juga merindukan keluarga Kimmy yang sudah menjadi keluarganya. Namun akhir-akhir ini hubungan mereka kian menjauh. Menjadi asing satu dengan yang lain.
"Kim, sampe kapan hubungan kita kaya gini?"
Tanya Dave yang menahan Kimmy ketika hendak istirahat.
"Tergantung diri lu. Sampe kapan lu gak mau akui kalo hati lu masih untuk Jemima."
Jawab Kimmy.
"Lu emang gak bisa terima masa lalu gue ya? Gue makin yakin karena cemburu lu dorong Jemima."
Balas Dave.
"Kalo cuma mau salahin gue, gak usah coba-coba ngomong sama gue lagi."
Ancam Kimmy kemudian pergi. Ia kesal sampai saat ini Dave masih mengira dirinya menyerang Jemima tanpa alasan.
Kimmy menjumpai adik-adiknya di Pos Bahagia membawa beberapa cemilan kesukaan mereka. Tak lama Dave datang juga membawa makan siang untuk mereka. Tak ada obrolan antara keduanya, Kimmy sibuk bercerita dengan anak-anak perempuan dan Dave sibuk bermain dengan anak laki-laki. Bahkan di jalan kembali ke kampus pun sama. Tak ada kata yang terucap.
"Daaavveee kamu darimana?"
Tanya Jemima manja sambil bersandar di bahu Dave.
"Tuh malaikat lu. Malaikat pencabut nyawa."
Gerutu Kimmy sambil meninggalkan Dave.
"Je kan gue udah sering bilang jangan bersikap kaya gini. Tolong jaga perasaan Kimmy. Dia pacar gue."
Protes Dave pada Jemima. Wajah perempuan itu yang tadi sumringah seketika masam. Ia tak senang mendengar Dave mengakui Kimmy.
"Kamu ngasih harapan palsu ke aku?"
Tanya Jemima sedih.
"Gue gak pernah kasih lu harapan untuk perbaikin hubungan kaya dulu. Gue cuma bertanggungjawab atas kesalahan cewe gue ke lu."
Jawab Dave tegas. Ia memang dengan setia mengurus luka yang Kimmy buat, agar Jemima tak menjelek-jelekkan perempuan yang ia sayangi. Dave sangat tau persis tabiat Jemima, dengan followers sosial medianya banyak, tak jarang ia mengajak orang lain berpikir buruk mengenai orang yang memusuhinya.
Sepulang kuliah, Ali sudah menunggu Kimmy di depan gerbang. Wanita itu tak mengetahui bahwa dirinya sudah ditunggu.
"Kim.."
Ucap Dave di parkiran ketika bertemu Kimmy. Ia berencana mengantar Kimmy pulang, sudah lama juga rasanya tak pernah mampir menemui Marcel, karena Jemima selalu menemukan banyak alasan untuk membuat Dave sibuk dengan dirinya.
Apa? Gue gak salah denger tadi, Snowman manggil gue bukan Jemima?
Batin Kimmy tak percaya.
"Ya?"
Jawab Kimmy mencoba menghilangkan gugup.
"Dave kamu janji kan dua minggu ini anter aku."
Teriak Jemima dari kejauhan.
"Bye."
Ucap Kimmy sinis ke Dave. Lalu meninggalkan keduanya begitu saja.
"Kan gue bilang kalo belum sembuh. Itu udah sehat-sehat aja."
Tutur Dave keberatan.
"Gue bungkus kalimat yang pertama. Lagian kan tinggal seminggu lagi. Perhitungan banget."
Rengek Jemima.
Dave terpaksa mengikuti kemauan Jemima. Di luar gerbang, ia melihat Kimmy sedang berbicara dengan seorang laki-laki yang wajahnya tertutup helm.
"Loh itu Ali kan yang sama Kim?"
Tanya Jemima yang juga terkejut dengan apa yang ia lihat.
"Ali?"
Dave menggeram.
Tak lama Kimmy naik ke atas motor Ali dan mereka berlalu. Dave nampak kesal melihat lagi-lagi orang yang ia cintai dekat dengan Ali.
Mau apa lagi dia?
Tanya Dave dalam hati.
Paling jadi alat buat nyakitin Dave.
Gumam Jemima.
"Besok-besok lu gak perlu anter jemput gue lagi. Gue gak mau Dave salah paham."
Ucap Kimmy pada Ali.
"Emang Dave siapa lu? Bukannya baru tadi Kakak lu kasih izin buat pacaran?"
Goda Ali. Ia jelas mengetahui hubungan Dave dan Kimmy.
"Backstreet gitulah. Awas lu ngadu-ngadu."
Ancam Kimmy.
"Ouuhhh berati kalo Kakak lu gak tau, gue juga pura-pura gak tau. Jadi gue anggap lu belum punya pacar ya. Haha"
"Ihh gak gitu Ali."
Timpal Kimmy sambil memukul punggung Ali.
Ali mengantar Kimmy pulang sampai ke rumah, kemudian ia pamit segera pergi. Ali tak mau memaksa Kimmy menerima keberadaannya dengan cepat dan terpaksa. Tapi perlahan akan membuat Kimmy mencintainya sama dengan ia mencintai wanita tersebut.
Kimmy masuk ke dalam kamar, baru saja ingin merebahkan diri. Panggilan tatap muka dari Tomi membuatnya mengurungkan niat tidur siang.
"Dek udah makan?"
Tanya Tomi.
"Belum baru sampe, Kak."
Jawab Kimmy.
"Eh ngomong-ngomong tambah ganteng loh kakak ku ini."
Goda Kimmy.
"Dari dulu juga udah ganteng asal jangan disebelahin sama Marcel."
Timpal Tomi.
"Hahaha..Kapan pulang?"
Tanya Kimmy.
"Dua bulan lagi, itu juga cuma tiga hari di rumah."
Jawab Tomi, ditimpali senyum pahit dari wajah Kimmy.
"Marcel udah bilang ke gue, lu boleh pacaran. Tapi tetap dalam pengawasan kita ya."
Jelas Tomi.
"Dave aja gimana?"
Tomi melanjutkan perkataannya. Kimmy tercekat, ingin berkata ya Emang dia pacar gue. Tapi tak mampu.
"Ya udah gue cuma mau sampein itu. Selamat menuju dewasa gadis kecilku. I love you."
Ucap Tomi mesra.
"I Love you more, Mama macho ku."
Balas Kimmy kemudian sambungan telepon terputus.
Kimmy senang Tomi mengusulkan nama Dave sebagai kandidat pertama. Ia akan segera jujur pada kedua Kakak setelah hubungannya dan Dave membaik.
Keesokannya Ali tak menjemput sesuai permintaan Kimmy. Maka Marcel yang mengantar sampai ke depan pintu gerbang kampus.
Kimmy turun dan bergegas mencari Dave. Pria itu sedang duduk di kelas sendiri. Belum ada mahasiswa yang datang karena prlajaran dimulai empat puluh menit lagi.
"Pagi Snowman.."
Sapa Kimmy ceria. Ia merasa alam seakan mendukung niat baiknya.
"Mau apa? Mau bilang putus udah? Pura-pura keluar kota?"
Tanya Dave sinis.
"Enggak. Gue mau bilang .."
Belum sempat Kimmy berbicara, Dave memotongnya.
"Putus. Iya kita putus."
Ucap Dave melanjutkan. Kimmy terperangah. Ia tak menyangka hubungannya kandas secepat itu.
"Jadi bener ya gue cuma pelarian. Sekarang udah balik lagi sama Jemima, gue dicampakkin."
Ucap Kimmy sambil menangis. Ia memilih keluar untuk menenangkan hatinya.
Di taman kampus ia menangis. Renata menghampirinya setelah tadi melihat sahabatnya berlari keluar kelas. Kimmy menceritakan yang terjadi pada Renata sambil terisak.
"Gue kurang ngalah gimana sih Re, dia deket-deket sama mantannya gue diem aja."
Ucap Kimmy sambil terus menangis.
"Sini biar gue maki tuh dia. Seenaknya aja jadi manusia nyakitin temen gue!"
Gerutu Renata.
"Emang (hiks) lu (hiks) berani?"
Tanya Kimmy terisak.
"Enggak sih Kim. Takut."
Jawab Renata, Kimmy tertawa dalam isak tangisnya.
"Lu mau nangis atau ketawa?"
Tanya Renata.
"Dua (hiks) duanya hehe.."
Jawab Kimmy dengan mood yang berubah tak beraturan.