
"Pagi Kakakku yang super nyebelin."
Pagi-pagi sekali Kimmy sudah menghubungi Tomi melalui sambungan telepon.
"Halo, pagi juga Dek."
Sapa Tomi tak bersemangat.
"Kak Tomi sakit?"
Tanya Kimmy khawatir.
"Enggak Dek, cuma kurang tidur aja kayaknya. Ada apa Dek?"
Tomi membuang asap rokoknya.
"Gini Kak, Gue mau infoin. Kalo Kak Marcel udah setuju sama hubungan gue dan Dave."
Kimmy bersemangat memberitahukan kabar gembira ini.
"Selamat ya. Pandai-pandai jaga diri. Titip salam buat semua."
Ucap Tomi seraya mengakhiri panggilan.
"Halo kak, haloooo... yah kok mati?"
Kimmy kecewa mendapati panggilan terputus.
Dalam hati Kimmy terus bertanya-tanya apa yang sedang terjadi dengan Tomi. Biasanya ia akan antusias menerima telepon dari adik kesayangannya tersebut.
Mungkin ada bosnya atau mungkin hilang sinyal . Tapi dia kenapa bilang titip salam untuk semua? berarti emang niat putusin panggilan ? Ih nyebelin.
Gerutu Kimmy.
Pagi sayang, aku cinta kamu.
Pesan dari Dave di ponselnya membuyarkan kekesalannya.
Kita cuma tersekat satu ruangan, Dave.
Balas Kimmy memprotes.
Dave tersenyum membaca balasan dari Kimmy, ia segera beranjak dari kasur dan membuka pintu kamar Kimmy.
"Aku cinta kamu."
Kata Dave melalui celah pintu kamar Kimmy.
Kimmy membetulkan posisinya ,ia duduk di tepi ranjang tersenyum manis ke arah Dave.
"Mandi sana. Bau!"
Perintah Kimmy, Dave menunjukkan sebuah handuk yang ia sampirkan di bahunya.
"Apa susahnya sih bales kalimat yang sama?"
Protes Dave. Kimmy hanya menepuk dahi dan memberi kode Dave agar berhenti bicara.
"Aaarrgghhhhh aku iri. Belum sempat ngerasain kaya kalian."
Gea tiba-tiba keluar dari dalam selimut yang sedari tadi menyembunyikan seluruh tubuhnya.
"Emm, aku mandi dulu."
Ucap Dave salah tingkah. Gea dan Kimmy tertawa melihat kelakuan Dave yang menggemaskan.
"Hahahaha harusnya tadi aku gak usah nongol ya."
Ucap Gea menyesal. Kimmy hanya tertawa mendengarnya.
Untung Kak Gea keluar sebelum Dave masuk dan ngelakuin hal itu.
Batin Kimmy membayangkan Dave pasti akan menciumnya lagi.
**
Tomi tak pernah lagi merasakan tidur cukup apalagi tidur nyenyak. Pikirannya selalu tertuju pada Dayana, wanita yang sudah merajut mimpi bersamanya.
"Begadang lagi?? Astaga bisa sakit kamu begini terus."
Protes Wanda yang tengah mencari Tomi di kamarnya.
"Lu ngapain sih setiap hari bawel kaya nenek Lampir?"
Tomi kesal.
"Lu lupa gue pacar lu?"
Tanya Wanda sambil membereskan kamar Tomi yang kotor.
"Gue gak niat gitu. Lupain aja."
Jawab Tomi enteng.
"Enak aja. Gak bisa gitu."
Tolak Wanda.
"Gue itu cuma suka satu perempuan."
Ucap Tomi.
"Tau. Yang fotonya di dompet kamu itu kan?"
Tanya Wanda. Tomi tercengang.
"Kalo udah tau ya sudah."
Jawab Tomi.
"Dia juga kan yang buat kacau kamu sampe begini? Kalo gitu biar aku yang merapikan kekacauan ini."
Ucap Wanda.
"Haha, iya terimakasih nanti gue transfer ke rekening lu. Anggep bayaran lu selama bersihin kekacauan di kamar gue beberapa hari ini."
Ucap Tomi sambil menyesap kopi yang tadi dibawa Wanda.
"Kamu harus bayar lebih untuk itu. Karena bukan kekacauan ini yang harus dibayar. Tapi kekacauan di hatimu yang akan aku bereskan."
Ucap Wanda sambil menepuk-nepuk tangannya dari debu.
" Gak usah berterimakasih sampe begini. Kan jadi tambah lagi kerjaanku."
Gerutu Wanda sambil mengelap tetesan kopi di lantai dengan tisu.
"Lu gak usah urusin gue lagi."
Tomi mendorong Wanda keluar dari kamarnya.
"Gak peduli. Lu udah terlanjur nerima gue."
Ucap Wanda.
"Kita putus kalo gitu."
Kata Tomi.
"Gak bisa cuma sepihak. Kita masih pacaran."
Teriak Wanda.
"Nenek Lampir keras kepala!"
Balas Tomi seraya membanting pintu.
Ujian apalagi ini Ya Tuhan.
Lirih Tomi dalam hati.
Tomi mandi dan bersiap-siap untuk kembali ke tempat kerjanya. Wanda terlihat sudah lebih dulu berada disana. Ia sibuk memotong-motong buah.
"Tom, lu bantu Wanda dulu. Partnernya dia lagi sakit perut."
Perintah Kepala Chef.
Tomi terpaksa menurutinya. Ia mencuci tangannya dan berjalan ke arah Wanda. Perempuan itu tersenyum penuh kemenangan ke arahnya.
"Apa yang bisa gue kerjain?"
Tanya Tomi.
"Belajar cintai aku."
Jawab Wanda nakal.
"Berhenti menggoda. Kasih tau gue kerjaan mana yang belum selesai!"
Seru Tomi.
"Tuh."
Wanda menunjuk melon dan buah lainnya untuk membuat salad.
Tomi mengerjakannya tanpa banyak bicara. Sedangkan Wanda sesekali melirik kearahnya sambil mendengus kesal.
"Apa tiap hari kau sedingin ini dengan tim mu?"
Tanya Wanda.
"Jangan bertanya hal diluar pekerjaan."
Jawab Tomi dingin.
"Snowman!"
Gerutu Wanda.
"Apa lu bilang?"
Tanya Tomi tanpa sengaja mengiris telunjuk nya.
"Heh Tom berdarah itu."
Wanda bangkit dan mengambil kotak P3K, kemudian segera membersihkan tangan Tomi.
Tak berapa lama, seseorang yang menjadi partner Wanda dalam Gardemanger section, yaitu yang bertugas membuat dressing dan appetizer muncul. Ikut histeris melihat darah di tangan Tomi berkucuran.
"Urusin Wan. Lagian siapa yang masukin tim Roast kesini?"
Tanya perempuan tersebut dengan sedikit marah.
"Itu."
Wanda menunjuk Head Chef ditempat ini. Chef Raka yang tak lain teman Marcel.
"Ya sudah lu bawa dia dan obatin. Biarin si tua bangka ini urusan gue."
Ucap Mba Letty.
"Lu tuh kalo mau kasih bantuan ke tim ini ya dari pantry section dong. Masa Roast section masuk kesini ya gimana gak kebelah itu tangannya."
Letty melanjutkan protesnya.
"Dasar nenek sihir. Bagus gue cariin bantuan masih aja salah. Pantas lu masih sendiri sampe sekarang. Laki-laki mana yang kuat? Lagian siapa yang suruh lu kesini? awas ya semua makanan jadi bau kentut!"
Jawab Raka.
"Udah yuk keluar, kalo pasangan aneh ini beradu. Bisa terbang ni kapal."
Ucap Wanda sambil menarik tangan Tomi.
Raka dan Letty adalah dua orang yang tak pernah menyatakan perasaannya satu dengan yang lain. Keduanya merasa gengsi bila harus mengakui perasaan sama saja mengakui kekalahan. Karena Raka dan Letty awalnya adalah sepasang rival. Permusuhan keduanya akan memekak telinga siapa saja yang mendengarnya tetapi kepedulian diantara mereka begitu terasa. Seperti tadi pagi Letty sakit perut, Raka begitu setia mencari obat bahkan mencari pengganti Letty di timnya. Karena Raka akan meminta Letty beristirahat hari ini dengan gayanya yang sok bossy. Namun bukan Letty namanya kalau tak keras kepala menentang semua aturan Raka.
Wanda meniup-niup luka Tomi yang masih basah karena cairan antiseptik. Kemudian ia membalutnya dengan plester luka.
"Udah."
Ucap Wanda sambil merapikan kotak P3K. Ia kemudian berdiri dan hendak meninggalkan Tomi untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Thanks Wan."
Ucap Tomi.
"No problem. Lu kan pacar gue, udah seharusnya."
Jawab Wanda riang sambil berlalu dari Tomi.
"Hah mulai lagi."
Gerutu Tomi.