
Dave baru lima menit menunggu Kimmy, ia datang dengan gaya barunya. Persis remaja perempuan masa kini. Tak ada flanel kebesaran, tak ada muka polos tanpa riasan, tak ada kuncir kuda miliknya. Ia sedikit menebalkan riasannya, menggunakan lipstik berwarna pink cerah, rambutnya dibiarkan terurai namun diselipkan disisi telinga, belum lagi blouse biru dengan balloon sleves membuatnya terlihat feminim hari ini. Ia berkesempatan menggunakan semuanya, selagi Tomi tak lihat. Tapi tetap dengan pakaian yang sopan, menjaga harga diri kedua kakaknya.
"Snowwmaaaannnn.."
Kimmy berteriak untuk ketiga kalinya. Laki-laki yang ia panggil mematung tak memberikan helm yang dipegangnya.
"Flanel lu kemana?"
Tanya Dave yang terkesima dengan kecantikan Kimmy.
"Punya Kak Tomi itu, gue cuci.hehe"
Jawab Kim sambil naik keatas motor Dave.
Mereka berangkat bersama. Tak ada adegan berpelukan diatas motor. Kimmy selalu mengingat pesan Dave "Jangan pernah!".
Dave memperhatikan Kimmy dari spion motornya, tak ada ocehan, celotehan lucu atau apapun. Kimmy masih cemberut seperti saat ia bangun.
"Gak jadi mimpi indah?"
Tanya Dave memulai obrolan.
"Gak sama sekali. Gue malah mimpi bocah gendut yang mau jadi petinju itu."
Jawab Kimmy.
"Ya mungkin kangen."
Dave membuat dugaan perihal mimpi.
"Gue sebelum tidur udah berdoa mau ketemu lu di mimpi, malah dikasih ketemu dia. Dulu juga gitu waktu SMA gue suka sama cowo, tiap malem si gendut dateng ke mimpi gue. Gue kena kutuk kali ya?"
Oceh Kimmy tak berhenti.
Dave tersenyum, baru kali ini jelas-jelas ada orang mengakui ingin bertemu dengannya di dalam mimpi.
"Mungkin emang jodoh lu."
Ucap Dave dengan membawa segenggam doa yang menjadi harapan. Andai saja saat Kim cepat bertemu jodohnya, hidup Dave akan kembali damai.
"Sama aja lu kaya Kakak-kakak gue."
Timpal Kimmy tambah cemberut.
Mereka tiba di kampus, tepat sebelum mata kuliah pertama dimulai. Semua mata para adam tertuju pada perubahan Kimmy.
Dave yang peka mulai merasa risih, karena ia tepat disebelah seseorang yang menjadi pusat perhatian.
Beberapa orang sibuk berbisik, belum lagi yang mengenal Dave dengan citra buruknya mulai bergosip macam-macam mengenai hubungan kedua pasangan yang baru turun dari motor sport berwarna merah tersebut.
Kimmy dan Dave tak menghiraukan apapun, yang ada di kepala mereka hanya cara cepat sampai di kelas.
"Cantik amat lu, Kim. Ada angin apa jadi feminim gini?"
Tanya Renata yang langsung menghampiri Kimmy di pintu masuk.
"Abis dijemput pangeran bermotor."
Jawab Kimmy sejadinya, Dave yang berada di belakang keduanya menggeleng Benar-benar ratu gombal. Gumamnya sambil tersenyum.
Mata kuliah pertama dimulai, semua mendengar dengan seksama selama dua jam. Kemudian dua jam berikutnya, Kenny datang memberikan materi lain. Ia tak bisa terlalu fokus dalam pekerjaannya kali ini, terganggu dengan kecantikan Kimmy.
Melihat Kenny, Dave mulai merasakan adanya persaingan. Mata Dave mulai menatap tajam ke arah Kenny yang terus menerus memperhatikan Kimmy.
Kenny memberikan beberapa soal latihan mengenai materi yang sudah ia berikan tadi, kemudian ia berjalan berkeliling mengawasi dari kursi ke kursi, sampai ia tiba di kursi Kimmy.
"Kimberly, nanti istirahat mau ke perpustakaan?"
Tanya Kenny.
"Ma.."
Belum sempat Kimmy menjawab, Dave menendang kursi Kimmy.
"Sorry."
Ucap Dave yang dengan sengaja menghentikan rencana mereka.
Kenny berjalan lagi melanjutkan pengawasannya, nanti jam istirahat dia akan bertanya lagi.
Dave mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Kimmy.
Nanti istirahat tolong bantu bawa makanan ke pos. Agak banyak.
Pesan Dave pada Kimmy.
Ok.
Balas Kimmy singkat karena sedang fokus dengan soal latihan yang diberikan asisten dosen tersebut. Dave merasa lega menggagalkan rencana keduanya.
"Mau ke perpus bareng?"
Tanya Kenny.
"Next time ya Kak, aku ada janji."
Jawab Kimmy yang ikut kecewa karena sebenarnya ia ingin melanjutkan membaca separuh buku lagi dari yang telah ia baca kemarin.
Dave melihat raut wajah kecewa Kenny dari tempat duduknya, ia merasa puas artinya Kimmy telah menolaknya.
Dave menyusul Kimmy yang menunggunya di depan gerbang.
Dari kejauhan, terlihat beberapa mahasiswa jurusan teknik sedang menggodanya. Dave sangat mengenali mereka. Kawanan Ali, teman sekolahnya yang ia buat lumpuh dan juga membuatnya masuk kedalam jeruji besi.
Dave mendekat ke arah mereka, menyembunyikan Kimmy dibelakang tubuhnya yang besar.
"Pacar lu?"
Tanya Hendrik, teman yang sekarang sudah berubah menjadi musuh Dave.
"Bukan urusan lu."
Jawab Dave dan segera membawa Kimmy melanjutkan rencana mereka.
Hendrik tak berhenti sampai disitu, ia menarik tangan Kimmy.
"Gue cuma mau ingetin, cari yang lain aja. Dia itu mantan napi."
Ucap Hendrik pada Kimmy, membuat perempuan ini tersulut kemarahan, sedangkan Dave seperti terhunus mata pisau yang tumpul, sakit tapi kenapa tak langsung mati saja. Daripada menanggung masa lalu ini bertahun-tahun.
"Kenapa emang sama mantan napi? Hidup lu udah kaya paling bener aja di dunia ini. Urusin diri sendiri!"
Ucap Kimmy menggebu-gebu. Lalu pergi dengan menarik tangan Dave yang terdiam mendengar percakapan kedua orang dihadapannya.
Hendrik dan teman-temannya makin tertantang untuk mengganggu Kimmy, mereka akan mengadukan mengenai ini pada Ali.
"Jadi lu mau beli apa?"
Tanya Kimmy yang sudah lelah berjalan menyeret Dave.
Dave menunjuk salah satu resto ikan bakar kalimantan yang terkenal disekitar lingkungan kampusnya. Ia memesan beberapa bungkus paket makanan untuk anak-anak yang sedang menunggunya.
"Lu mau pesen apa?"
Tanya Dave pada Kimmy yang hanya melihat para pegawai restoran membakar ikan di dalam bambu.
"Gak. gue bawa bekel."
Kimmy menunjuk plastik yang dijinjingnya. Tapi matanya tetap melihat ke arah ikan yang sedang dibakar.
Dave mengetahui keinginan Kimmy, ia memesan satu lagi nasi dan ikan untuk dirinya.
Setelah selesai Dave membawa seluruh bungkusan makanan itu sendiri, tanpa bantuan Kim.
"Bukannya tadi kata lu butuh bantuan?"
Tanya Kimmy heran.
"Enggak jadi."
Jawab Dave dingin.
Sesampainya di pos bahagia, mereka membagikan satu persatu makanan. Kemudian Dave membuka miliknya dan Kim ikut membuka bekalnya.
Mata Kimmy terus melirik ke arah ikan milik Dave.
Dave tersenyum dan mengambil bekal Kimmy, kemudian mencampurkan kedua makanan mereka menjadi satu.
"Ehhh kok digituin?"
Tanya Kimmy panik.
"Biar bisa cobain ikan sekalian habisin bekal dari kakak lu."
Ucap Dave.
Keduanya terlihat romantis makan dalam satu wadah bersama.
"Kak, pinjam kamera Hp boleh?"
Tanya Gugun anak yang paling besar diantara yang lain.
Dave memberikan ponselnya, ia memang biasa mengambil foto-foto kebersamaan dengan anak-anak ini. Jadi tak menaruh curiga sedikitpun.
Diam-diam Gugun mengambil foto Dave dan Kimmy yang sedang makan bersama.
Tak hanya itu, ia mengambil beberapa foto Kimmy dengan berbagai sudut dan menyimpannya di galeri ponsel Dave.