
"Dave... "
Ucapnya lirih.
Sang pria baik penyelamat hidup kakaknya hari ini menoleh kearahnya. Keduanya terkejut saat tatapan saling memberi arti. Entah kerinduan, kemarahan, kekecewaan atau kesedihan. Tetapi buliran bening telah jatuh ke pipi sang wanita yang begitu mengharapkan kehadirannya sore tadi.
"Kimmy ..? "
Dave melangkah mundur, menjauhi wanita yang selama dua tahun ini mengusik kerinduannya.
Ia hendak hampir berlari, namun teriakan Kimmy mencegah langkahnya.
"DAVE! Gue minta tolong yang terakhir."
Dave memapah tubuh Tomi yang sudah tak sadar lagi, sesuai permintaan Kimmy. Ia pun memesankan kamar di hotel yang tak jauh dari klub malam ini dan membawa Tomi kesana.
Kimmy membasuh tubuh kakaknya yang sudah kotor karena keringat dan muntahan akibat pukulan-pukulan tadi. Sambil menangis ia pun mengobati luka sang Kakak.
Dave? Ya dia hanya duduk di pojok ruang meratapi gadisnya yang menangis. Ia tak berani mendekat. Sudah tau akan makin banyak luka jika ia memberanikan diri mendekatinya.
Kenapa gak pulang?
Dave menanyakan hal tersebut sebelum akhirnya membayar hotel untuk semalam.
Kak Marcel gak akan ampunin Kak Tomi atas kejadian ini apalagi dia bawa aku.
Jawab Kimmy gemetar.
Oke aku bantu asal gak ada yang tau tentang keberadaanku hari ini.
Dave bermaksud melindungi Kimmy dari ibundanya. Maka pertemuan mereka malam ini haruslah menjadi rahasia antara mereka berdua.
Selesai membasuh luka Tomi, ia pun tidur dengan memeluk kakak laki-lakinya itu dengan perasaan sayang. Takut kehilangan, jelas. Pengeroyokan yang dialami Tomi tadi membuatnya takut kehilangan Kakaknya tersebut.
"Tidurlah Kim. Gak usah takutin hal apapun yang gak terjadi. Ada aku disini."
Ucap Dave akhirnya setelah diam seribu bahasa. Tak sanggup lagi melihat wanita itu terus menangis ketakutan.
Tring tring ..
Dave mengangkat panggilan masuk di ponselnya.
Gue balik telat. Kalian duluan aja. Gak apa, gue terima.
Ucap Dave dibalik telepon.
"Baliklah Dave. Aku gapapa disini sama Kak Tomi. Kamu harus balik ke asrama kan? "
Ucap Kimmy.
"Gak apa, paling dikasih hukuman kecil."
Jawab Dave.
"Pergi Dave, udah banyak yang kamu korbanin karena cita-citamu ini. Perasaan aku, hubungan kita. Jangan sampai jadi hal yang sia-sia. Ku mohon kamu pergi."
Kimmy menunjuk pintu.
"Apa maksudmu? "
Tanya Dave, ia mulai gentar Kimmy mengetahui latar belakang dirinya memilih jalan hidupnya sekarang.
"Menurut Jemima, aku gak ada bedanya sama dia. Kami sama-sama hadir di hidup Ali karena kepentingan lain kalian. Terus aku tanya Ali, katanya cuma kamu yang berhak jelasin. Tapi tanpa nunggu penjelasanmu, aku bisa narik kesimpulan. Kamu tinggalin aku karena cita-citamu ini."
Jelas Kimmy, Dave menarik napas lega akannya.
"Iya kurang lebih seperti itu namun gak sesimple itu Kim."
Dave berjalan kearah pintu.
"Ya karena itu, kamu udah kehilangan kita. Jangan sampai kehilangan cita-citamu."
Ucap Kimmy lantang.
Seperti tersambar petir, hati Dave mencelos.
"Selamat atas pertunangan kalian. "
Ucap Dave seraya menutup pintu.
Kimmy segera menghubungi Ali. Ia yakin Ali masih menghabiskan lemburnya malam ini.
Aku kesana.
Kata Ali sebelum menutup teleponnya.
Dave yang sedari tadi duduk di lobby hotel, akhirnya meninggalkan tempat itu setelah dari kejauhan ia melihat kedatangan Ali. Baginya Ali adalah bentuk penjagaan yang sempurna untuk kedua orang yang sedang menempati kamar 182.
"Siapa yang bawa kalian kemari?"
Tanya Ali ketika pertama kali sampai di kamar Kimmy dan Tomi.
"Em, orang dari klub. Aku gak sempat kenalan."
"Oh.. ya udah yang penting kalian gak apa-apa. Kamu tidurlah. Nanti aku susul. "
Minta Ali.
Seakan ada malaikat yang ia percaya dapat menjaganya saat ia tertidur, ia langsung memejamkan matanya.
Dalam sekejap Kimmy telah tertidur pulas.
Ali mendekati ranjang, ia mengelus rambut Kimmy yang basah akibat keringat lelah mengurus Tomi.
"Siapa orang itu Kim sampai kamu harus bohong sama aku?"
Ali bergumam di telinga Kimmy yang sudah tertidur. Gelagat Kimmy sudah tercium daritadi oleh Ali. Namun Ali tetap menghargai apapun yang menjadi jawaban perempuannya sekalipun itu membohonginya.
Malam berlalu sangat cepat, Kimmy dan Tomi telah terbangun. Sedangkan Ali baru saja tertidur. Pikirannya tak tenang semalaman memikirkan apa yang Kimmy sembunyikan darinya. Gerakan menggigit jari adalah gerakan yang Kimmy lakukan jika berbohong pada saudaranya. Ali sudah sangat mengetahui itu.
"Haduh kepala gue pusing banget."
Keluh Tomi, namun tak digubris oleh Kimmy. Ia malah sibuk mengambil selimut dan meletakkannya diatas tubuh Ali yang tertidur di sofa.
Setelahnya ia mengambil handuk dan membasuh dirinya yang bau tumpahan alkohol akibat ulah Tomi.
Di bawah kucuran air yang menyegarkan kepalanya, ia berharap dapat melupakan bayangan pria yang bertemu dengannya semalam.
Aarrrggghh lupain! Ingat Kim, ada Ali!!!
Kimmy menggosok kencang kepalanya.
Di tempat berbeda, Dave mendapat banyak teguran hari ini. Baik dari teman seangkatannya maupun seniornya. Fokusnya tak terarah. Terkadang dia harus menerima hukuman karena kesalahan yang tak sengaja ia perbuat.
Dua tahun kita gak ketemu, banyak yang berubah. Kamu bukan anak kecil lagi.
Grr Dave, itu tunangan sahabat lu. Ingat!
Dave lagi-lagi tersenyum mengingat Kimmy tapi setelah itu merengut lagi mengingat posisinya sekarang.
"Lu kenapa sih Dave gak fokus? "
Tanya Wardana teman seangkatannya. Dave hanya mengangkat bahu enggan menceritakan kisahnya semalam.
"Terus kenapa tadi malam lu tiba-tiba ilang?"
Tanya nya lagi.
"Tersesat di pulau bidadari."
Jawab Dave asal.
"Haha terus baliknya? Kalo tersesat harusnya lama dong. "
Ledek Wardana kembali.
"Diusir sama bidadarinya. Jaka Tarub nya dateng."
Jawab Dave asal.
"Wkwkwk, lu tau gak sih ending ceritanya? Mereka sesaat doang berjodohnya. Berarti lu masih ada kesempatan."
Tukas Wardana, Dave terbatuk mendengarnya.
"Husshh, mereka harus bahagia."
Ucap Dave.
"Jangan bilang, ini sahabat sama cewe yang lu ambil first kissnya."
Wardana makin penasaran.
"Hmm"
Dave ogah memperpanjang, ia berdiri dari tempat duduknya. Namun Wardana justru makin mengejarnya menunggu penjelasannya.
"Secakep apa sih tuh cewe sampai kalian berdua harus mencintai satu orang yang sama? Disini banyak cewe Dave. Buka mata dan buka hati lu."
Wardana menepuk punggung Dave.
"Lu gak akan pernah nemuin alasan yang tepat untuk mencintai seseorang."
Jawab Dave.
"Seenggaknya lu jelasin kelebihannya. Biar gue paham. "
Ia masih merengek meminta penjelasan.
Sayangnya dia lebih banyak kelemahan, tapi itu yang buat gue selalu mau melindunginya. Tapi sekarang dia gak butuh itu, ada Ali yang selalu menjaganya.
Batin Dave mengingat Kimmy yang selalu mengusik hatinya bertahun-tahun lamanya. Entah sampai kapan perasaan ini berakhir baginya.
Jangan lupa Like, Comment dan Votenya yah 💕