Mr.Snowman

Mr.Snowman
Memperkenalkan kekasih



Dave dan Kimmy hampir bersiap untuk berangkat menuju universitas tempat mereka memupuk impian. Keduanya sudah bertengger diatas motor ketika Marcel berlari dan berteriak.


"Ehhh mundur! Jangan peluk-pelukan."


Marcel meminta Kimmy duduk menjauhi Dave. Namun Kimmy malah sengaja mengencangkan pelukannya.


"Dave."


Mata Marcel kini melihat sinis ke arah Dave. Memberi isyarat laki-laki itu harus bisa mengatur adiknya.


"Mundur Kim. Lepas. Nanti aja meluknya."


Bisik Dave. Kimmy langsung menuruti melepas pelukannya. Kemudian Dave segera menyalakan mesin motornya dan berlalu. Belum jauh dari pandangan Marcel. Kimmy kembali memeluk pinggang Dave.


"Anak itu."


Geram Marcel.


"Biarin, selama dia bisa jaga diri. Jangan terlalu keras."


Gea menarik tangan Marcel masuk dan mencium bibirnya.


"Huh kau sekarang jadi kelemahanku ya."


Gerutu Marcel sambil kembali melanjutkan ciumannya.


Gea merapikan dasi Marcel kemudian mengantar kembali pria dingin tersebut ke muka pintu untuk berangkat.


**


Kimmy dan Dave telah sampai di kelas mereka.


Pulanglah Dave, mami rindu kamu.


Pesan dari Anne.


Kebetulan. Dave memang mau pulang.


Dave membalas.


Dave memang berencana hendak mengenalkan Kimmy sebagai kekasihnya pada kedua orangtuanya.


Ia memperhatikan wanita yang dicintainya tengah serius dengan buku-bukunya tak jarang tangannya menggambar sesuatu.


"Tangan dan otakmu gak sinkron ya?"


Dave menarik kursi mendekati Kimmy.


"Ah Dave kan buyar. Aku lagi menghapal tau."


Protes Kimmy.


"Terus tanganmu?"


Tanya Dave sambil meraih kertas diatas meja. Terlihat gambar hiruk pikuk kelas di pagi ini.


"Kenapa kamu gak milih jurusan seni lukis aja?"


Tanya Dave lagi.


"Kadang hidup bukan cuma soal menyenangkan diri sendiri Dave. Ada tanggungjawab membahagiakan orang yang sudah menaruh harapan pada kita."


Jawab Kimmy membuat Dave tersentil. Perkataan Pak James berputar kembali di kepalanya.


"Kamu kenapa?"


Tanya Kimmy heran melihat Dave yang seketika bergeming. Dave kembali menarik kursi ke tempat duduknya semula. Ia enggan menceritakan apa yang menjadi beban pikirannya beberapa hari ini.


Kimmy tak lagi mempertanyakan apa yang membuat sikap Dave mendadak berubah hingga menjelang perkuliahan hari ini selesai. Ia percaya ada waktu Dave akan siap membicarakan segala sesuatu pada dirinya.


Dave jangan lupa ya. Mami tunggu.


Pesan dari Anne di ponsel Dave. Wanita yang melahirkan Dave tersebut begitu antusias menyambut kepulangan anak semata wayangnya, mereka sudah hampir tiga bulan tak bertemu. Setiap Dave pulang, Anne selalu tak ada di rumah. Begitu sebaliknya. Anne memesan beberapa menu makanan spesial dari restoran ternama untuk makan malam mereka.


"Kim, nanti kita mampir ke rumahku dulu. Aku mau kenalin kamu ke Mami. Sekalian makan malam disana."


Ucap Dave sesaat Kimmy hendak naik ke jok belakang motornya.


"Serius Dave? Antar aku pulang sebentar. Aku harus siap-siap dulu."


Kimmy tercengang dengan rencana yang tiba-tiba.


"Gak usah, nanti mami nunggu kelamaan. Akan susah lagi ketemunya."


Ucap Dave memberi pengertian.


"Tapi aku lusuh banget Dave. Liat deh rambutku lepek, mukaku berminyak, bau matahari lagi."


Kimmy tak percaya diri.


"Astagaaaaa, kamu gak mandi seribu tahun juga tetap cantik. Gak akan luntur cantikmu cuma karena gak mandi sore."


Ucap Dave membuat Kimmy tergelak.


"Gombal ah."


Jawab Kimmy cemberut.


"Aku gak gombal. Karena memang cantikmu berasal dari sini dan sini."


Dave menunjuk dada dan kepala Kimmy. Perempuan itu tersipu malu mendengarnya.


"Kalau gitu anter aku mampir ke toko kue yang di sebrang museum ya."


Kimmy mengajukan syarat. Dave menyetujuinya. Ia menarik tuas gas dan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Dan berhenti di toko kue yang ditunjuk Kimmy.


Tanya Kimmy ketika sudah berada di dalam toko. Dave mengangkat kedua bahunya menandakan ketidaktahuannya. Kimmy merasa heran, walaupun pada akhirnya ia mencoba mengerti hubungan keduanya.


Kimmy melihat buku menu dan memilih satu buah Opera cake dan satu buah lapis Surabaya.


"Itu sih kue kesukaanku."


Ucap Dave.


"Iya tau. Biasanya sesuatu yang disukai anak kemungkinan turun dari kebiasaan orangtuanya."


Jawab Kimmy.


Dave mencium kening Kimmy, ia begitu bangga dengan kekasihnya banyak mengerti kerumitan hubungan keluarganya. Setelah membayar, Dave kembali melajukan motornya.


"Keras Kepala!"


Gerutu Dave kencang.


"Aku yang mau berkunjung Dave. Ya aku dong yang bawa buah tangan ini."


Ucap Kimmy.


"Ya memang akan tetap kamu yang bawa kok. Mami juga gak akan nanya siapa yang bayar."


Seru Dave kesal.


Di depan kasir tadi keduanya sempat bertengkar perihal siapa yang membayar. Dave mengeluarkan kartu debit sedangkan Kimmy menggunakan pembayaran tunai. Namun karena kasir toko kue tersebut mendapat intimidasi dari tatapan mata Kimmy yang membunuh, ia terpaksa menerima lembaran uang milik Kimmy, sehingga membuat Dave kesal.


"Kamu kalau mau beliin mami mu, ya beliin nanti pas ulang tahun. Jangan ngerecokin pemberianku."


Kimmy tak mau kalah.


"Tiap ulang tahun mami gak pernah ada di rumah. Dia selalu ngerayain sama teman-temannya."


Jawab Dave datar.


"Kalo gitu kamu mesti pulang, kamu yang harus hidupin suasana di rumah."


Kimmy memberi ide.


"Kamu ngusir aku? Biar bebas sama Ali, gitu?"


Tanya Dave keluar arah.


"Kenapa sekarang dikit-dikit bawa Ali sih? Aku serius. Kalau kamu menginginkan sesuatu berubah. Mulailah dari diri sendiri dulu."


Jawab Kimmy membuat Dave tak dapat berkata-kata.


Tanpa disadari, kediaman Dave telah terlihat. Jarak mereka tak lebih dari lima puluh meter dari tempat itu. Dave menurunkan laju motornya. Ia memperhatikan ayahnya tengah turun dari dalam mobilnya.


"Om James..."


Kimmy berlari memeluk ayah Dave yang juga baru sampai sama seperti mereka.


"Kim, papiku juga laki-laki. Lepas dong."


Minta Dave sambil memberi penyangga di motornya agar berdiri tegak.


Kimmy dan James tertawa keras memperhatikan tingkah Dave yang kekanak-kanakan. Membuat kedua orang tersebut makin mengeratkan pelukannya. Dave menarik paksa tubuh Kimmy agar terlepas.


"Pencemburu. Sama Papi kok cemburu."


Goda James.


"Hei kalian udah sampai? Ayo masuk."


Suara wanita yang muncul dari balik pintu menghentikan kegembiraan mereka. Seketika wajah James berubah menjadi kaku dan menyeramkan. Begitu juga Dave, tawa dan tingkah konyolnya hilang.


Wooww, snowman is back.


Batin Kimmy saat melihat wajah Dave persis seperti pertama kali mereka bertemu.


"Wah ini siapa?"


Tanya wanita tersebut ramah.


"Kimberly, Tan."


Jawab Kimmy sambil mencium punggung tangan wanita yang ternyata adalah Anne Ibunda Dave.


"Pacar Dave."


Celetuk Dave menambahkan.


"Oh ayo masuk, pinter banget kamu cari pacar secantik ini Dave."


Ucap Anne memuji Kimmy.


"Bukan cuma wajahnya. Hatinya jauh lebih cantik."


Ketus Dave menyindir sang ibu.


Anne merupakan perempuan berumur empat puluh tahun, namun rupa dan tubuhnya persis seperti wanita yang berusia sepuluh tahun dibawahnya. Ia pandai menjaga penampilan. Tapi tidak menjaga hati persis seperti yang disinggung oleh Dave.


"Sudah, sudah. Papi mau mandi dulu."


James menengahi obrolan yang sudah jelas kemana arahnya.


"Iya, Aku juga mau mandi. Kamu tunggu sini ya."


Timpal Dave berbicara dengan Kimmy, namun matanya masih menatap ibunya dengan tak suka.