
Dugaan kedua Kakak benar adanya. Dua malam kedua gadis itu tidur berpelukan di dalam kamar. Gea terpaksa pindah ke kamar Marcel karena terkadang di alam bawah sadar mereka masih bertarung sangat menganggu kenyamanannya.
"Woiii iler lu tumpah di sprei gue!"
Kimmy membangunkan Wanda dengan teriakannya yang berisik. Wanda malah sengaja mengelap sisa liurnya di bedcover Kimmy.
"Hah"
Kimmy menghembuskan napasnya ke wajah Wanda.
Wanda memukul wajah Kimmy dengan bantal, Kimmy tak mau kalah, ia membalas. Begitu seterusnya hingga kamar berubah menjadi berantakan.
"Astaga kalian. Ayo mandi yang lain sudah siap."
Gea menegur dari celah pintu kamar. Ia sudah terlihat anggun dengan baju pengantinnya yang sangat santai namun elegan.
Kimmy dan Wanda berlarian ke kamar mandi berdesak-desakan saling mendahului.
PRIIITTTT
Tomi meniup pluit menghentikan kegaduhan yang mereka buat.
"Mandi sama-sama aja kalian kalo gak ada yang mau ngalah!"
Gertak Tomi keras.
Keduanya pun saling memandang dan mengangguk. Kimmy dan Wanda mandi bersama seperti anak kecil yang tak tahu malu.
Terkadang bergantian saling menggosok punggung. Dan keluar dengan tersenyum. Membuat lega seluruh anggota keluarga. Setidaknya dalam beberapa jam kedepan.
Baru semenit tertawa bersama, mereka berdua terdengar ribut lagi didalam kamar memperebutkan gaun.
"Lu kan bakal sering pake, Kim. Gue sekali doang."
Rengek Wanda sambil menarik gaun putih tersebut.
"Ini pilihan Kak Gea buat gue. Lu pilih yang lain di lemari gue kan banyak."
Minta Kimmy ikut menarik gaunnya.
Tomi lagi-lagi datang menengahi kedua perempuan yang masih memaki bathrope tersebut.
"Wan, itu punya adik gue kembaliin!"
Ucap Tomi sinis.
"Terus gue pake apa?"
Wanda terpaksa melepaskan genggamannya. Takut akan tatapan Tomi.
"Ah lu kenapa kemarin gak berangkat beli sih. Kim, boleh dia pinjam satu dari lemari lu?"
Tanya Tomi. Kimmy mengangguk mengizinkan.
Tomi memilih mini dress berwarna hitam untuknya.
"Tom, aku mau ke pesta pernikahan bukan mau berkabung."
Gerutu Wanda.
"Biar serasi sama jas gue."
Jawab Tomi asal agar Wanda diam. Namun perasaan Wanda sudah pasti berbunga-bunga.
Wanda meminta Kimmy mengabadikan foto dirinya saat ini. Pakaian ini memang terlihat biasa saja tapi pakaian ini bisa mengingatkannya pada perkataan manis Tomi padanya tadi.
Kimmy menggerutu setelah beberapa kali pose, Wanda tak puas juga dengan hasilnya. Hingga Kimmy mesti mengulang sampai mendapatkan foto sebaik ini.
"Kim, Wan .. yuk kita mau jalan."
Teriak Marcel dari luar.
"Duluan."
Teriak keduanya kompak.
Marcel masuk ke dalam mobil Dave. kemudian Ali ikut di dalamnya.
Sementara Tomi mengendarai mobil Marcel dan menumpangi mempelai perempuan serta kedua gadis berisik itu.
"Gara-gara lu kan gue belum ketemu Dave dari tadi."
Kimmy menyalahkan Wanda.
"Dek, mobil mereka cuma berjarak tiga mobil di depan kita."
Jawab Tomi tersenyum geli melihat tingkah adiknya yang sedang kasmaran.
"Tau nih. Yang mau nikah aja kalem."
Timpal Wanda.
"Aku deg-degan tau."
Jawab Gea polos.
Lima mobil berjalan beriringan mengantarkan kedua mempelai melaksanakan prosesi sakralnya.
Mobil pertama milik Paman Lukas beserta keluarganya. Mobil kedua milik ayah Gea, ibu beserta saudara tirinya. Mobil ketiga dan keempat adalah Ryo dan teman-teman ditempat kerja mereka. Dan terakhir Gea dengan kedua adik iparnya serta Wanda.
Mobil pertama sampai mobil ketiga telah memasuki kawasan diadakannya prosesi pernikahan. Sedang dua mobil terakhir terjebak kemacetan akibat raungan mobil pemadam kebakaran yang menghentikan laju kendaraan bersamaan.
Marcel begitu cemas menunggu mempelai wanitanya sampai.
"Sabar Kak, sebentar lagi mereka sampai."
Ali menenangkan Marcel yang risau. Lima belas menit kemudian mobil yang dikendarai tersebut akhirnya sampai.
Kini Dave yang dibuat tak beraturan degup jantungnya melihat kekasihnya begitu cantik keluar dari mobil.
Kimmy langsung berlari kearah Dave yang masih terkagum menatapnya.
"Dave, kenapa tinggalin aku?"
Tanya Kimmy manja.
"Tadi kamu jawab 'duluan' kan?"
"Sudahlah sekarang kita udah ketemu. Kenapa kamu lebih cantik dari pengantin perempuan? Apa kita perlu menikah juga sekalian?"
Tanya Dave menggoda. Kimmy mencubit pinggang Dave gemas. Sedangkan Ali terdiam mendengar kemesraan mereka. Ia memilih menjauh dan melepaslan kekesalannya.
"Dave tetap akan selalu satu langkah didepan gue dalam hal apapun."
Gumam Ali.
Setelah semua berkumpul, Ayah Gea mengantarkan putrinya kepada Marcel di hadapan Tuhan dan khalayak.
Janji suci pernikahan terdengar menggaung ditelinga setiap orang yang berada disana. Ada rasa haru bercampur senang.
Marcel menautkan cincin di jari manis Gea yang terlihat lebih kecil dari pertama kali mereka memesan cincin tersebut.
"Kenapa cincin ini tiba-tiba mengecil Ge?"
Tanya Marcel berbisik.
"Bukan. Tapi jariku tambah besar Cel."
Jawab Gea perlahan.
"Astaga kan saya bilang kalo makan jangan rakus."
Gerutu Marcel.
Seketika momen haru tersebut menjadi ricuh karena insiden ini. Seorang perempuan berjalan anggun ke depan memberikan cincin miliknya kepada pasangan tersebut.
"Pasti muat, aku lebih besar dari Kak Gea."
Ucap Dayana yang hadir dan memperhatikan mereka sedaritadi melalui kursi belakang.
Marcel memasangkan cincin tersebut di jari manis Gea dan berhasil.
"Thanks Day."
Gea dan Marcel bersamaan.
Dayana hendak kembali ke kursinya, seketika matanya bertemu tatap dengan mata teduh milik Tomi. Senyumnya yang hampir mengembang, diurungkan ketika Wanda menggelayut di lengan Tomi. Semburat kesedihan terpancar jelas di wajah Dayana.
Kamu sudah bahagia rupanya, salahku waktu itu memintamu pergi mencari kebahagiaan. Ah Tom, selamat tinggal.
Batin Dayana. Dayana kembali berjalan lurus kembali ke kursinya tanpa menoleh sedikitpun .
"Lepasin."
Tomi mendorong Wanda. Mata Tomi tak lepas dari tubuh indah Dayana yang terbalut corset dress.
"Kak, jangan nyakitin dua hati sekaligus."
Bisik Kimmy yang berada di sebelah kanan Tomi.
Ya dia memang sengaja menjadi sekat antara Wanda dan Kimmy agar tak membuat keributan saat acara berlangsung.
Tomi mengusap wajahnya. Terlihat jelas kesedihan di wajah Wanda.
"Sorry Wan."
Ucap Tomi merasa bersalah.
"Gak apa udah biasa. Lu sendiri yang nyuruh sandiwara kan? Gue cuma jalanin rencana lu kok. Di depan perempuan cantik tadi kan?"
Jawab Wanda datar.
Tomi tertunduk menyadari kesalahannya. Ia hanya akan menyakiti Dayana dan Wanda. Teguran halus Kimmy benar-benar menampar dirinya.
Selesai prosesi sumpah pernikahan, Gea keluar gedung dan mengajak semua yang hadir ikut serta menghadiri lempar bunga di taman dekat tempat mereka menikah.
Gea begitu bahagia mendapati perjuangan telah berakhir. berkali-kali ia menciumi Marcel. Dan Marcel membalas ciuman Gea dengan lembut.
"Lempar.. Lempar.."
Teriak seluruh tamu menghentikan aktivitas keduanya.
Semua berdiri di belakang Gea menunggu lemparan bunga jatuh ke tangan mereka yang belum menikah. Tradisi tersebut dipercaya sebagai harapan agar sang pemegang bunga dapat menyusul sang pengantin wanita.
"1..2..3.."
Bunga jatuh di tangan Tomi, namun dengan cepat ia melempar ke arah Kimmy.
Kimmy melempar kembali ke arah Tomi begitu seterusnya hingga bunga berhamburan.
"Lu harus menikah, Kak."
Ucap Kimmy sambil menggenggam kan bunga yang telah rusak ke tangan Tomi.
"Sama siapa?"
Tanya Tomi.
"Terserah asal lu jujur sama hati lu."
Jawab Kimmy sambil mencium pipi Tomi dan Tomi membalas menggendong adik kecilnya tersebut.
"Berapa kali sih gue harus cemburu dalam sehari?"
Sindir Dave. Kimmy dan Tomi tertawa bersama.
Tomi menyerahkan Kimmy yang masih di gendongannya ke tangan Dave.
"Sama kakaknya aja lu cemburu. Nih jaga Kimberly gue dengan baik."
Ucap Tomi, sambil merangkul bahu Ali. Menariknya menjauh dari kerumunan.
" Anggap aja nasib kita sama."
Ucap Tomi pada Ali. Mereka berjalan menyusuri lorong tempat diadakannya upacara khidmat tadi
Yang suka, jangan lupa diusap jempolnya dan dikecup kolom komentarnya.
💕