Mr.Snowman

Mr.Snowman
Terlalu sama



Dengan keresahan hati yang teramat, akhirnya Tomi memutuskan akan membawa Wanda pada pernikahan Marcel dan Gea. Ia mengira dengan hadirnya Wanda, membuat Dayana menghentikan sikapnya yang menyalahkan dirinya sendiri. Tomi ingin Dayana menganggapnya telah berbahagia.


"Sudah siap untuk besok?"


Tanya Tomi.


"Hmm."


Jawab Wanda seraya mengemasi barang-barang keperluannya selama dua hari ke depan dikediaman Tomi.


"Berlakulah seakan lu pacar gue."


Ucap Tomi.


"Gak usah pake kata 'seakan' aku emang pacarmu."


Jawab Wanda membanting keras tutup koper.


"Menurut lu."


Timpal Tomi.


"Oke, kalo ini sebuah sandiwara. Aku akan meminta bayaran untuk itu."


Minta Wanda.


"Apapun."


Jawab Tomi seraya meninggalkan kamar Wanda dan kembali ke dalam kamarnya. Wanda tersenyum penuh kemenangan.


Tomi berpikir berulang-ulang memantapkan hatinya membawa Wanda dan memperkenalkan sebagai kekasihnya. Mungkinkah itu menjadi keputusan yang benar?


"Hmm seburuk apapun masa lalumu, aku pasti terima Day. Sayang keras kepalamu melebihi apapun. Kau bahkan menyalahkan dirimu jika aku tetap tidak bergerak dari sisimu. Mungkin dengan cara ini, kau akan lebih baik dan melanjutkan hidupmu. Beranak cucu walaupun bukan denganku."


Lamunan Tomi membawanya ke dalam tidur yang dalam. Mimpi-mimpinya dengan Dayana menjadi mimpi favoritnya setiap malam.


Bulan dengan cepat berganti menjadi matahari. Malam berlalu meninggalkan mimpi, datang pagi yang membuat setiap orang berjalan dalam kenyataan semestinya.


"Heh bangun pemalas!"


Wanda melempar wajah Tomi dengan handuk.


"Lu tuh benar-benar nenek sihir ya? Bisa keluar masuk kamar gue seenaknya?"


Protes Tomi.


"Salah sendiri kenapa gak dikunci?"


Jawab Wanda yang sibuk mengemasi barang-barang Tomi ke dalam tas nya.


Tomi berjalan menabrak tubuh Wanda, perempuan itu sama sekali tak menghiraukan perbuatan Tomi padanya. Ia sudah terbiasa menerima perlakuan Tomi yang tak menghargai hubungan mereka.


"Nih biar sandiwara kita totalitas, atau kalo perlu untuk selamanya. Ah seandainya"


Gumam Wanda sembari memasukkan foto dirinya ke dalam dompet Tomi, membelakangi foto Dayana.


Setelah selesai dengan pekerjaannya, Dayana mengambil koper miliknya dan diletakkan di kamar Tomi.


Tak berselang berapa lama, para awak kapal berhamburan satu persatu turun dari kapal pesiar mewah tempat mereka bekerja.


"Tom, koperku jangan lupa disebelah tas mu."


Ucap Wanda sambil berlari mendahului Tomi.


"Astaga, gak ada Kimmy, ada dia."


Gerutu Tomi.


Tomi memesan taksi untuk mengantar mereka ke kediamannya. Wanda melompat-lompat terlalu gembira.


"Tolong naikkin ke bagasi ya Tom. Aku mau santai."


Minta Wanda sambil membuka pintu taksi. Tomi menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Wanda yang tak beda dengan sang adik


Wanda merangkul lengan Tomi menggelayut sambil kepalanya diletakkan di bahu Tomi. Berkali-kali Tomi menepis dan mendorong tubuhnya menjauh, berkali-kali juga Wanda semakin mendekat sehingga membuat Tomi menyerah.


Setengah perjalanan sudah Wanda tertidur di pangkuan Tomi. Tomi memperhatikan wajah Wanda yang tertidur di pahanya.


"Pantas akhir-akhir ini gue gak pernah merasa kesepian. Bahkan jarang menelpon si paru-paru kiri itu. Ternyata, tingkah lu mengobati rindu gue padanya. Ah Kimmy sayang, maafin gue gak maksud ngeduain lu."


Gumam Tomi sambil mengelus kepala Wanda, seperti yang ia lakukan jika Kimmy tertidur di sisinya.


"Kakaaaakk"


Teriak Kimmy ketika pintu taksi terbuka.


"Sshhh"


Tomi meminta Kimmy agar tak berisik dan membangunkan Wanda. Tomi mengangkat tubuh Wanda ke dalam kamar sang adik. Ia benar-benar merasa Wanda persis seperti Kimberly. Ada perasaan peduli yang tiba-tiba muncul di kepalanya.


Tomi keluar dari kamar setelah merebahkan tubuh Wanda dan mencari keberadaan adiknya


"Sayaaanngg.."


Tomi merentangkan kedua tangannya agar Kimmy menerima pelukannya.


"Isshh jijik. Udah urus aja sana pacar baru lu."


Ucap Kimmy ketus.


Marcel memeluk Tomi disusul Dave dan Ali. Menghangatkan suasana yang mulai menegang.


"Tuh gimana mau nikah? Adik gue aja pencemburu."


Ledek Tomi. Kimmy mengerucutkan bibirnya.


"Lu serius mau nikah sama dia?"


Marcel terkejut.


"Hhaa belum kepikiran itu. Gue lagi godain pacarnya Dave aja."


Mereka bercengkrama menceritakan apapun yang terjadi selama Tomi tak ada.


"Tom"


Wanda keluar dari kamar dan mencari keberadaan Tomi kemudian menggelayut manja di lengan Tomi.


"Ih jauhin Kak Tomi!"


Kimmy memisahkan tangan Tomi dan Wanda.


Semuanya menahan tawa melihat tingkah Kimmy. Tomi memperkenalkan anggota keluarganya satu persatu pada Wanda.


Dimulai dari Marcel dan Gea, Wanda menghampiri mereka secara bergiliran. Tiba di Dave dan Ali, Wanda mengenali kedua idolanya.


"Astaga Dave Norman , Ali Christian."


Wanda mengambil ponsel dari sakunya dan mengambil foto bersama kedua petinju kelas menengah tersebut.


Wanda menggelayut di lengan Dave. Wajah Kimmy terlihat lebih marah dari sebelumnya.


"Lepasin gak?"


Minta Kimmy.


"Lu lepasin pacar gue dulu."


Jawab Wanda menunjuk Tomi.


"Gak mau! Ini Kakak gue!"


Tantang Kimmy sambil menghujani pipi Tomi dengan ciuman-ciuman kecilnya.


"Emm...muuu"


Wanda menyodorkan wajahnya ke pipi Dave, hampir mencium pria gagah tersebut. Sengaja berniat membuat Kimmy kesal dan melepaskan Tomi.


Bruukk


Kimmy melompat ke tubuh Wanda, membanting dan menibannya tanpa ampun. Wanda pun membalas serangan Kimmy. Kini pergulatan kedua wanita itu ditonton oleh kelima lainnya.


"Astaga Cel, Tom pisahin dong."


Gea berteriak histeris.


"Kamu kenal Alice sahabat Kimmy sampai sekarang? Awalnya mereka begini."


Ungkap Marcel santai.


"Hmm betul, biarin aja. ini cara kenalan mereka, sebentar lagi juga lengket."


Timpal Tomi.


"Dasar dua Kakak gila! Dave, Al tolong pisahin mereka."


Gea meminta bala bantuan lainnya.


Dave menarik tubuh Kimmy dan Ali menarik tubuh Wanda. Kini keduanya meronta-ronta di pelukan para lelaki bertubuh atletis itu.


"Maju sini lu kepiting!"


Tantang Kimmy. Menyematkan nama panggilan untuk gaya bertarung Wanda yang banyak mencubit.


"Kurcaci dasar! Berantem cuma bisa gaya ngelitik kaki. Curang!"


Teriak Wanda tak mau kalah.


"Bawa masuk ke kamar Dave. Kepala gue sakit."


Minta Marcel sambil memijit mijit kepalanya.


Dave menggendong Kimmy yang masih meronta di pelukannya.


"Cara kamu cemburu lebih seram dari aku, Kim."


Dave memandang wajah merah kekasihnya yang masih marah. Ia pun terkejut dengan tingkah Kimmy yang menggemaskan untuknya


"Apa? Kesel ya gara-gara aku, gak jadi dicium sama kepiting?"


Tanya Kimmy kesal.


"Aku tadi mau menghindar. Tapi refleks kamu lebih cepat dari aku . Padahal tadi kamu masih sama bang Tomi."


Ucap Dave tertawa.


"Alasan! Kak Tomiii...."


Jawab Kimmy kemudian ia memanggil kakaknya yang bertanggungjawab atas kejadian ini.


Tomi datang dan memeluk Kimmy. sambil menasehatinya.


"Udah jangan berantem lagi. Kita cuma dua hari. Kalian terlalu mirip."


Ucap Tomi.


"Tom....."


Wanda berteriak memanggil Tomi.


Tomi berpindah dari kamar Kimmy menemui Wanda di ruang tamu.


"Iya Wan. Udah ya lu juga gue bawa kesini bukn untuk ribut sama Kim."


Ucap Tomi. belum sempat Tomi menyelesaikan pembicaraannya. Lagi-lagi Kimmy memanggilnya. Selagi berbicara kalimat yang belum penuh, Wanda memanggil Tomi lagi. Begitu seterusnya hingga Tomi kelelahan.


"CUKUP! Dave lu ajak Kimmy jalan. Al lu ajak Wanda makan atau apalah."


Bentak Tomi kemudian memberi instruksi agar pertengkaran itu selesai.


Jangan lupa jamah tombol likenya dan kecup manis kolom komentarnya