Mr.Snowman

Mr.Snowman
Jiwa yang belum terobati



Hari sudah pagi, Tomi memasak untuk satu keluarga besar ini. Ia terlihat makin handal. Kimmy membantunya di dapur, cita-citanya semakin bulat untuk ikut pergi berlayar dengan Tomi. Hal pertama yang menjadi alasannya untuk ikut adalah ia baru menyadari sedikit saja berjauhan dengan Kakak keduanya itu sangat menyakitkan.


"Lu cari passion lu sendiri. Jangan karena orang lain. Kemarin mau jadi Akuntan karena Marcel, sekarang mau jadi chef karena gue."


Ucap Tomi menasehati.


"Gue belum tertarik apapun Kak kalo itu harus tanpa kalian."


Jawab Kimmy sambil mencuci sayuran.


"Marcel sebentar lagi akan punya anak, mungkin dia gak bisa perhatiin lu kaya sekarang. Suatu saat gue juga. Lu harus mulai kembangin kemampuan lu."


Tomi masih terus menggurui sang adik.


"Sejak kapan lu ngomongin anak, pernikahan. keluarga?"


Tanya Kimmy penasaran.


"Semenjak gue jauh dari kalian. Gue gak bisa pungkiri lagi hari itu pasti akan terjadi cepat atau lambat."


Jawab Tomi dan seketika ia melepaskan pisau dari genggamannya dan berjalan menyentuh kedua bahu adiknya.


"Izinin gue jaga Dayana, Dek."


Minta Tomi mengiba. Ia seperti merasa ini sebuah dilema. Dan apapun yang dipilihnya akan membuatnya bersalah.


"Apaan sih lu Kak? itu bukan pilihan. Itu keharusan. Lu harus fokus bahagiain diri sendiri."


Ucap Kimmy seraya memeluk saudaranya.


Tomi berniat akan berbicara dengan Dayana nanti setelah sarapan. Ia harus mengungkapkan perasaannya.


"Kak, nanti mau fitting gaun kan?"


Tanya Kimmy pada Gea.


"Iya kenapa Dek?"


Tanya Gea.


"Aku, Ali sama Dave mau ikut."


Jawab Kimmy.


Ali hampir protes, ia hendak menonton acara tinju di televisi siang ini. Namun Dave menginjak kakinya memberi isyarat.


"Loh aku?"


Tanya Dayana tak dianggap.


"Temenin Kak Tomi dulu, dia kan baru sampe. Capek pasti."


Ucap Kimmy sambil mengerlingkan matanya.


"Baiklah."


Jawab Dayana pasrah.


Setelah sarapan kelima orang tersebut masuk ke dalam mobil Marcel. Kimmy duduk diantara Dave dan Ali. Kadang Kimmy mengobrol dengan Marcel, terkadang ia bercanda dengan Ali. Tapi tidak Marcel dan Gea . Keduanya kaku.


"Kalo Kak Marcel sama Kak Gea punya anak, yang ngajarin ngomong pasti kita, Al."


Kimmy menyenggol Ali menggoda kakak dan calon iparnya.


"Hahaha iya bener banget. Kalo berduaan di kamar, bisa dengar suara hati masing-masing kayanya saking heningnya."


Timpal Ali membuat gelak tawa.


"Kalo kita punya anak Al. Pasti cerewet."


Ucap Kimmy mengkhayal sembarang.


Keempat orang di dalam mobil tertegun mendengar ucapan Kimmy . Ali ikut berkhayal sedangkan Dave membatin kesal.


"Hush masih kecil ngomongin anak. Emang kamu mau nikah sama Ali?"


Tanya Marcel sedikit ragu.


"Bukan. Aku cuma berkhayal. Kalo punya anak sama Dave pasti anaknya bakal diem kalo di luar rumah, terus cerewet kalo di dalam rumah."


Ucap Kimmy melanjutkan khayalannya.


"Kok gitu?"


Tanya Marcel.


"Ya liat aja itu Dave kalo ngomong cuma sedikit, sekalinya ngomong meleleh aku."


Jawab Kimmy keceplosan.


Dave mengelus kepala Kimmy sambil tertawa kecil.


"Jadi kamu pilih Dave atau Ali sebenarnya, Dek?"


Tanya Gea.


"Gak bisa dipilih dua-duanya aku sayang."


Jawab Kimmy sambil menarik tangan kanan Dave dan tangan kiri Ali.


"Poliandri?"


Tanya Marcel.


"Apaan sih? aku kan gak lagi ngomongin pernikahan."


Jawab Kimmy tak mau menyakiti perasaan Ali. Ia tahu betul kemana hatinya berlabuh.


Di tempat kediamannya, Tomi mendapati Dayana sedang berkaca di meja rias Kimmy.


"Kamu narsis ya. Aku tau wajahmu cantik tapi gak usah dilihatin terus Day."


Ucap Tomi di celah pintu. Kemudian ia masuk dan duduk di tepi kasur.


"Justru aku jijik lihat diriku sendiri Tom. Ah sudahlah."


Jawab Dayana sedih.


Ucap Tomi. Dayana tak mau melanjutkan pembicaraan yang justru akan melukai hatinya.


"Kamu ada apa cari aku?"


Tanya Dayana.


"A..ku.. aku cinta sama kamu Day."


Ucap Tomi.


"Dari dulu kita sudah saling tau Tom. Terus untuk apa?"


Tanya Dayana.


"Akhir tahun selesai persidangan ceraimu. Aku akan melamarmu."


Jawab Tomi. Seketika Dayana membuang muka darinya.


"Aku gak bisa Tom."


Ucap Dayana.


"Kenapa? bukannya dulu kau yang minta?"


Tanya Tomi.


"Dulu sebelum aku sekotor sekarang. Dulu waktu belum satupun tubuhku terjamah."


Jawab Dayana.


"Banyak kok pria single yang menikah sama janda."


Ucap Tomi.


"Kau kira satu tangan saja yang sudah menyentuhku? Puluhan Tom puluhan."


Teriak Dayana histeris. Luka di wajahnya memang berangsur pulih tapi tidak jiwanya.


"Makanya aku bilang, aku jijik sama diriku sendiri. Tiap malam selama tiga bulan ini aku harus melayani nafsu bejat dua sampai tiga orang laki-laki."


Dayana menangis.


"Aku terima kamu apa adanya, Day."


Ucap Tomi memeluk tubuh Dayana yang masih bergetar ketakutan mengingat setiap kejadian.


"Gak Tom. Kau pantas bahagia dengan orang yang masih suci. Bukan sampah seperti aku. Jadi jangan sekali-kali berniat menikahiku. Masa depanku sudah hancur."


Ucap Dayana sambil mendorong Tomi agar melepaskan pelukannya.


Tomi tahu jiwa Dayana masih terguncang. Namun besok ia harus berangkat lagi. Bagaimana bisa membangkitkan perempuan ini dari keterpurukannya.


"Kamu berharga Day, sampai kapanpun kamu berharga untukku."


Ucap Tomi seraya menutup pintu meninggalkan wanita itu menenangkan dirinya.


Di sebuah butik gaun pengantin milik rekanan bisnis Marcel.


Gea mencoba baju pengantin yang sudah dipesan Marcel untuknya, ia begitu menawan. Kimmy mengambil banyak foto calon kakak iparnya itu. Marcel menggunakan tuxedo berwarna abu-abu. Ia terlihat semakin tampan. Jauh lebih tampan dari Tomi, Ali bahkan Dave.


"Om botak, aku boleh coba gaun yang ini gak?"


Tanya Kimmy pada seorang pemilik saham butik ini.


"Om botak, Om botak aja. Mulut lu sekolahin."


Tegur Ali.


Dave menahan tawa yang sudah ingin menggelegar. Begitu juga dengan Gea. ia menutup mulutnya dengan tangan. menahan agar tak keluar tawaan menghina.


Marcel menggeleng dan menepuk dahinya.


"Itu namanya Om Rindra."


Ucap Marcel memberitahu.


"Udah gak apa. Saya udah biasa. Coba aja Dek. Itu gaun pengantin. Emang kamu mau nikah?"


Tanya Om Rindra.


Kimmy tak menjawab, ia dengan senang langsung menuju ruang fitting dan mencoba gaun pilihannya.


Ia menari-nari kecil di depan kaca. Sudah lama memimpikan menggunakan gaun mekar berwarna kuning seperti ini, persis seperti Princess Belle kesukaannya. Ia keluar dan berjalan bak model.


"Ayo siapa yang mau jadi beastnya?"


Tanya Kimmy pada Dave dan Ali.


"Gue."


Kedua orang itu menjawab serempak.


"Itu kalian pilih baju di hanger itu."


Tunjuk Om Rindra. Ali memilih setelan jas berwarna cokelat sedangkan Dave menggunakan setelan jas berwarna biru persis seperti Beast di kartun Beauty and the Beast.


Keduanya terlihat tampan.


"Sejak kapan Belle punya Beast dua?"


Tanya Kimmy sambil tertawa cekikikan.


"Kak Gea tolong fotoin ya. Gantian."


Minta Kimmy.


Mereka bertiga berfoto bersama dengan tentu Kimmy berada di tengah-tengah.


"Dua kali lagi Kak. Satu foto sama Dave doang satu sama Ali doang."


Minta Kimmy. Marcel mengelus punggung calon istrinya agar sabar menghadapi permintaan adiknya.


Dengan Ali, Gea mengambil foto keduanya dari depan. Mereka berpose Ali memeluk Kimmy dari belakang.


Sedangkan dengan Dave, ia mengambil foto dari samping. Keduanya berpose saling bertatapan dengan kepala dan hidung yang menempel.