
Pagi hari Kimmy sudah berada di dapur, ia memasak cumi ala Lena favorit Ali. Membuat dua cangkir cokelat panas yang juga kesukaan Ali. Belum lagi ia mengganti sarung bantal, sprei dan selimut bahkan baju yang ia kenakan pagi ini berwarna biru tua kesukaan Ali.
"Kim ngapain?"
Tanya Gea yang hendak menyiapkan sarapan.
"Ini bikin sarapan untuk Ali."
Jawab Kimmy sumringah.
Gea yang merasa aneh kembali ke kamar menemui suaminya dan menceritakan kejadian tersebut.
Saat membuka pintu kamar, Marcel bertemu dengan Tomi dan menceritakan kembali.
"Kita biarin dulu, kalau dalam waktu seminggu dia masih begitu. Mungkin harus dibawa ke psikater."
Ucap Tomi.
"Huss sembarangan. Emang adik kita gila?"
Tanya Marcel.
"Ya belum sampai situ, makanya bisa kita cegah."
Jawab Tomi.
Keduanya pun setuju. Namun ketika hendak menemui Kimmy lagi, perempuan itu sudah tidak ada. Tomi berlari ke depan, sedangkan Marcel ke bagian belakang rumah. Keduanya panik mencari.
Tiiinnn..
Klakson sepeda motor mengejutkan kedua kakak beradik itu.
"Maaf kak, bang. Gue kesini cuma kuatir sama keadaan Kimmy. Apa dia baik-baik aja? "
Tanya Dave tak enak hati, takut kedua orang ini salah paham dengan maksud dan tujuannya.
"Ilang. Kimmy ilang, padahal tadi masih masak di dapur."
Jawab Tomi panik.
Sepagi ini, apa mungkin dia kuliah?
Batin Dave.
"Dia masak apa kak?"
Tanya Dave.
"Kata Gea sarapan untuk Ali."
Jawab Marcel.
"Kayanya gue tau kak dia kemana."
Jawab Dave langsung memutar kendaraannya.
"Dave kalo ketemu kabarin gue."
Teriak Tomi dan Dave hanya mengacungkan jempol.
Dave menarik kuat gas motornya. Jalanan pagi ini masih sepi untuk berkendara dengan laju maksimal. Berharap perkiraannya benar mengenai keberadaan wanita malang tersebut.
Selang tiga puluh menit Ia sampai di sebuah pemakaman, dari jauh sudah mematikan mesin motornya. Kemudian berjalan kaki di tengah pagi yang masih gelap itu.
Diperhatikannya sesosok perempuan sedang duduk di samping makam Ali.
Wanita itu jelas Kimmy. Perawakannya yang kecil dan rambut terurai sudah menjadi ciri khasnya sendiri di mata Dave. Belum lagi wangi parfum Gucci dari kejauhan sudah menyeruak memenuhi area tersebut.
Dave memperhatikan dari jarak yang tak terlalu dekat. Ia ingin mengetahui apa yang perempuan itu lakukan.
Lalu satu persatu Kimmy mengeluarkan bekal makanannya dan setangkai mawar hitam yang ia pesan tadi malam secara diam-diam.
Kemudian ia tancapkan di tanah.
"Ali aku kesini cuma mau sarapan deket kamu. Mungkin orang-orang mikir aku gila. Tapi aku sadar betul kamu sudah disana. Izinin aku ikhlasin kamu pelan-pelan ya Al."
Ucap Kimmy lirih.
Kemudian ia memakan bekalnya dengan lahap. Juga menyesap cokelat hangat yang ia bawa dari rumah.
Selesai dengan kegiatan anehnya, Kimmy berangkat menuju kampus dengan memesan taksi. Seperti ada sedikit kelegaan, ia dapat berkonsentrasi dengan kuliahnya. Namun senyum dan keceriaannya memudar.
Dave hanya membuntuti Kimmy tanpa menegurnya. Tatapan perempuan itu kosong, jelas tidak akan menyadari keberadaan Dave di dekatnya.
"Ish tanah makam Ali masih basah. Lo berdua udah deket lagi?"
Ucap Jemima menyindir di hadapan banyak orang.
Kimmy tak menggubris. Ia akhirnya mendapatkan angkutan umum yang sesuai dengan tujuannya. Meninggalkan Dave yang masih menghadapi Jemima.
"Kasian gak ada yang nawarin tumpangan."
Ledek Dave kemudian pergi menjauh dan mengejar angkutan yang Kimmy tumpangi.
Dari kaca belakang mobil, terlihat Kimmy termenung menatap jalanan. Dave tak sampai hati melihat perempuan itu menjadi pemurung. Namun ia tak dapat berbuat apa-apa, hanya membiarkan Kimmy merelakan kekasih hatinya secara perlahan.
...***...
Hari berganti Kimmy masih melakukan ritual paginya di makam Ali. Tak ada yang dihiraukan dari sekelilingnya termasuk Dave yang menyebranginya tatkala ia melanggar rambu pejalan. Ketika rambu lalu lintas pengendara bermotor masih hijau, Kimmy menyebrang tanpa berpikir. Membuat Dave harus kewalahan membantu menghentikan kendaraan yang masih melaju. Tak jarang Dave menerima hinaan akibat ulah Kimmy yang membahayakan banyak orang.
"Dave, lu gak perlu repot-repot lagi jagain Kim. Besok kita mau bawa dia ke psikiat**er."
Ucap Marcel dengan berat hati.
"Jangan Kak. Kimmy itu gak kenapa-kenapa. Dia cuma masih belajar untuk ikhlasin Ali."
Jawab Dave.
"Bener kata Marcel. Ini udah terlalu lama. Hampir sebulan begini. Waktu baru satu minggu, lu juga yang ngelarang. Gue takut tambah parah."
Timpal Tomi.
"Dia normal kak. Tiap di makam dia kaya Kimmy yang biasa."
Ujar Dave.
"Ya itu gak bener, Dave. Masa ngobrol sama makam?"
Tanya Tomi menggaruk kepala.
Dave pasrah jika ini merupakan keputusan kedua kakak Kimberly. Ia pun pamit pulang karena tak tega melihat Kimmy dibawa oleh mereka.
Sedangkan Kimmy yang mendengar pembicaraan ketiga orang tersebut merasa sedih, tak percaya kedua kakaknya meragukan kejiwaannya.
Ia mengemas pakaiannya ke dalam koper dan bergegas pergi dari rumah itu meninggalkan sepucuk surat.
Kak Marcel, Kak Tomi.. maafin Kim yang udah buat repot sebulan ini. Kimmy pamit nenangin diri. Kim masih gak nyangka kalian berdua bisa nuduh Kimmy gak waras.
Harusnya kalian berdua udah pernah rasain hal kaya gini. Waktu Kak Marcel ditinggal Kak Gea, Kakak mabuk-mabukkan sepanjang hari. Atau saat Kak Tomi merelakan Kak Dayana, Kak Tomi juga melakukan hal yang sama dengan Kak Marcel.
Kimmy cuma butuh waktu dan ruang untuk sendiri. Juga untuk menerima keadaan ini. Maaf kalau terlalu lama. Kasus kita berbeda Kak. Kimmy pun menyikapinya dengan berbeda Kak. Jangan cari Kimmy, Kimmy pasti baik-baik aja.
Tapi kalau mau kirim uang , biasa ya ke rekening Bank BAC. hehe.
Salam sayang,
Kimberly.
Kimmy pun pergi kerumah Magdalena. Mencari ketenangan disana. Mungkin dekat dengan Mama Lena, ia akan merasa lebih baik. Karena sama-sama merasakan arti sebuah kehilangan. Pada waktu yang sama dan orang yang sama.
Setelah membaca surat dari adiknya. Marcel dan Tomi merasa khawatir dan panik berlebih. Menyebabkan kedua saudara tersebut mengalami sesak bersamaan.
Gea dan Wanda mengambilkan minum untuk suami masing-masing.
"Dia kemana? "
Tanya Marcel setengah berteriak.
"Ini kan harusnya tanggal pernikahannya sama Ali. Dan dia bilang setelah menikah tinggal di rumah Ali. Mungkin dia disana."
Jawab Gea mengira-ngira.
Marcel segera mencari kunci mobil dan mengajak Tomi pergi bersamanya.
"Kalian tuh gak bisa baca ya ? Kimmy minta ruang sama waktu untuk sendiri. Udahlah, dia pasti bisa jaga diri. Jangan jadiin dia bayi kalian lagi."
Ucap Wanda marah.
"Bener kata Wanda, Pi. Kasih Kimmy waktu. Lagian juga di rumah tante Lena aman kok. Cuma tetep hubungi tante Lena untuk pastiin Kimmy disana."
Gea memegangi suaminya yang bersikukuh ingin berangkat.
Kalimat kedua perempuan itu meyakinkan mereka untuk mengurungkan niat mengganggu Kimmy sementara waktu.
Jangan lupa Like, Vote, dan Comment ya. 💕