Mr.Snowman

Mr.Snowman
Alasan



Menunggu ketiganya mandi, Kimmy memanggang beberapa potong roti untuk sarapan mereka, kemudian memberi toping selai kacang diatasnya. Tak ada keahlian Kimmy yang bisa memuaskan rasa lapar selain membuat roti panggang. Ketiganya sudah siap dengan penampilan mereka masing-masing. Marcel dengan kemeja slim fit berwarna merah, Tomi dengan kaos gelap berkerah V lengkap dengan sneaker, terakhir Dave mengenakan kaos hitam dan jaket kulit berwarna cokelat.


"Makan dulu nih."


Kimmy menyodorkan tiga tangkup roti ke mulut ketiganya. Masing-masing satu.


"Thanks ya Dek. Kak Marcel jalan dulu ada meeting."


Ucap Marcel dan mencium pipi adiknya yang masih harus beristirahat.


"Aku sih kalo jadi Kak Marcel mending terlambat."


Ucap Kimmy menghentikan langkah Marcel. Ia berbalik badan menanyakan maksud Kimmy.


"Gak inget semalam ngomong apa ke Kak Gea di depan toilet?"


Tanya Kimmy sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.


Marcel terdiam berusaha mengingat, tapi tak bisa. Ia benar-benar tak sadar malam tadi.


"Serius Gue ngomong sama Gea tadi malam?"


Tanya Marcel dengan muka memerah. Kimmy mengangguk.


"Aduh padahal pengen tau. Tapi harus buru-buru. Entar malem dilanjut ya."


Ucap Tomi berpamitan. Bersamaan dengan Dave yang juga ikut pergi.


"Gue ngomong apa Dek? Gak aneh kan?"


Tanya Marcel penasaran.


"Gak sih, sewajarnya aja nyatain suka ke perempuan tapi agak kasar."


Jawab Kimmy yang makin lama suaranya semakin dipelankan.


Marcel membeku, wajahnya merah bak kepiting rebus.


"Kakak bilang suka sama dia tapi sambil ngatain jalang .hahaha... cemburu sih cemburu tapi gak gitu juga."


Ucap Kimmy sambil tertawa lepas.


Marcel semakin malu, kalau boleh memilih tak dilahirkan hari ini lah saatnya. Ia memutuskan kembali lagi ke dalam kamar. Mengurung diri mencoba mencari alasan yang tepat jika bertemu Gea.


"Ceroboh banget sih gue. Apa gue bilang aja kemarin kerasukan roh jahat?"


Marcel memaki-maki dirinya sendiri.


Ia terus menggaruk-garuk kepalanya, berjalan mondar mandir di dalam kamar.


Kimmy yang menguping Marcel dari balik pintu cekikikan mendengar kalimat-kalimat putus asa dari sang Kakak.


"Jalan satu-satunya cuma jujur. Terus lamar."


Teriak Kimmy kemudian berlari seperti menghindari sesuatu. Benar saja Marcel melempar bantal keluar kamar.


Ia tak lagi mengingat meeting paginya. Yang di dalam kepalanya hanya cara merubah kejadian semalam dengan meminjam alat Doraemon, seperti mesin penghilang ingatan, atau mesin waktu atau bahkan pintu kemana saja. Jika seandainya kejadian semalam tidak bisa disetting ulang setidaknya dia bisa kabur ke belahan dunia lain yang jauh dari sini.


Kimmy yang sudah berada di atas meja belajarnya, mencari kesibukan lain setelah meledek Marcel, hendak mengusir kebosanannya selama beberapa jam ke depan karena tak bisa melakukan apapun, apalagi ada Kakaknya yang overprotektif itu. Ia baru tersadar mejanya sudah rapi, lalu tangannya mulai menarik kertas-kertas gambar wajah Dave yang ia buat. Diperhatikannya satu persatu dan Kimmy sadar telah kehilangan satu gambar yang baru dibuatnya kemarin sebelum pergi ke Cafe dengan saudara-saudaranya.


"Kok gak ada sih? Kan itu gambar paling susah. Susah nungguin dia ketawa lagi."


Ucap Kimmy heran. Mungkin jika gambar ekspresi Dave sedang marah yang hilang, ia tak akan sadar karena gambar itu terlalu banyak. Ia rajin menggambarnya setiap hari. satu hari terdapat satu gambar dengan perasaan mood Dave di hari tersebut. Diawal-awal pertemuan banyak sekali gambar Dave marah terhadap dirinya.


Ia bongkar seluruh isi kamar namun tak juga ketemu. Otaknya mulai memikirkan siapa orang terakhir yang masuk ke dalam kamarnya. Ya hanya Tomi pikirnya. Marcel sedang dalam kondisi mabuk semalam, jadi tak mungkin Kakak pertamanya itu yang menggendongnya saat tertidur tadi malam. Tomi diduga sebagai tersangka utama yang dirasa sangat mungkin mengambil kertas gambarnya setelah meletakkan tubuhnya di tempat tidur. Tapi untuk apa? Pikirannya kini bercabang kemana-mana.


"Dave"


"Ya?"


Respon Dave.


"Kamu pacaran sama Kimberly? Aku liat tadi malam di cafe depan."


Tanya Je tanpa basa basi


"Sorry Je gue buru-buru udah telat."


Jawab Dave sambil memarkirkan motornya.


"Kamu pikir aku gak terlambat? Aku rela terlambat demi nunggu jawaban dari kamu."


Ucap Je memaksa.


Tangan Dave mengepal, batinnya kesal dengan wanita ini. Baru segitu ia perhitungkan, seolah sudah berkorban banyak. Sama sekali tak memikirkan apa yang sudah Dave lakukan selama ia pergi seenaknya, memutuskan hubungan secara sepihak.


"My life is not your bussiness anymore."


Ucap Dave telak seraya meninggalkan Jemima.


"Da...ve.."


Ucap Jemima lirih.


Baginya penantian Dave beberapa bulan kemarin tak ada artinya. Tetapi ketika pria ini beralih, ia menginginkan semua perhatian Dave kembali pada dirinya, namun pada saat bersamaan juga membutuhkan Ali untuk memuaskan egonya.


Sebagai petinju yang digandrungi remaja seusianya. Popularitas Ali menukik kian tinggi, bukan hanya keahliannya dalam olahraga bela diri tersebut, tapi wajahnya juga mendukung para hawa untuk menjadikan Ali sebagai idola baru. Apapun yang ada di kehidupan Ali menjadi sorotan fansnya sebagai bentuk kecintaannya terhadap idola mereka. Hal tersebut di manfaatkan oleh Jemima yang saat itu baru saja mengetahui masa lalu kelam Dave. Ia menerima Ali setelah laki-laki itu menyatakan perasaan dengan suatu tujuan. Jemima merasa puas, ketika ada banyak yang mengetahui dirinya sebagai kekasih Ali. Hari-harinya tak lepas dari pujian, sanjungan dan yang paling penting pengikut sosial medianya bertambah. Tapi hatinya hampa. Tidak ada kasih sayang seperti yang Dave berikan, tidak ada perhatian bahkan pengakuan.


Ali yang mengetahui tabiat Jemima, memanfaatkan perempuan ini untuk menyakiti Dave. Hubungan keduanya dilandasi atas dasar saling menguntungkan.


"Al, tuntun aku."


Ucap Jemima manja setelah keduanya selesai mengadakan jumpa fans dengan penggemar Ali. Tepat malam setelah Ali mengalahkan Dave.


"Gak usah manja! lu cuma mau terkenal kan?"


Tanya Ali.


"Kok ngomong gitu?"


Tanya Jemima kembali.


"Kita cukup bermesraan di depan kamera, dan fans, selebihnya lu dan gue gak ada urusan."


Jawab Ali dingin masih sambil terus berjalan di lorong belakang sebuah hotel yang menghubungkan ballroom dengan valley.


"Apa alasan kamu pacarin aku cuma mau balas Dave?"


Tanya Jemima yang menyimpulkan perkataan Ali.


"Kalo lu gak setuju, ya sudah putus. Rencana gue udah berjalan baik."


Ucap Ali menantang. Ia sudah puas tadi mengalahkan mental Dave yang sok jagoan menurutnya.


"Enggak. Aku gak apa-apa. Jangan putusin aku."


Minta Jemima yang takut popularitasnya menurun.


"Ok. pulang naik taksi. Gue mau sendiri."


Kata Ali yang makin meremehkan Jemima karena keputusan pasrah perempuan cantik tersebut.


Jemima rela diperlakukan apa saja asal ia dapat memenuhi obsesinya menjadi terkenal.