Mr.Snowman

Mr.Snowman
Mengubur perasaan



Dave bergegas pulang ke rumahnya mengambil buku dan beberapa helai pakaian untuk menginap selama tiga hari di kediaman Kimmy. Diperhatikannya dengan seksama, rumah besar yang tak berpenghuni itu. Hanya ada foto-foto ia dan kedua orangtuanya terpampang di berbagai sudut. Memberi kesan kepada siapapun yang bertandang bahwa keluarga ini merupakan keluarga yang hangat dan dekat. Berbeda dengan kediaman Kimmy, begitu sederhana namun penuh kasih sayang.


Pukul tiga sore Dave sudah sampai di rumah Kimmy, ia mengetuk pintu kamar gadis tersebut namun tak ada jawaban juga.


Dengan ragu Dave memberanikan diri membuka pintu kamar yang tak terkunci itu, cukup melegakan melihat Kimmy sedang tertidur. kemudian ia berjalan mendekat, memastikan keadaan Kimmy yang semakin pucat dan suhu tubuhnya kian tinggi.


"Kim bangun , udah makan siang belum?"


Tanya Dave. Kimmy menggeleng lemah.


Dave berlari ke dapur dan menyiapkan makanan yang telah dipesankan Tomi padanya. Kemudian ia suapi Kimmy dengan hati-hati.


Keduanya saling menatap, perasaan Kimmy padanya belum benar hilang. Ia hanya menyimpan untuknya sendiri. Dave merasakan perasaan yang sama. Ritme jantungnya berdegup tak beraturan, ia mulai merasakan suka dan cinta yang datang bersamaan.


C'mon Kim semangat nguburin perasaan lu sama orang yang jelas-jelas gak suka apalagi cinta sama lu.


Kimmy menyemangati dirinya sendiri.


"Snowman, makan bareng aja yuk di meja."


Ucap Kimmy ingin segera menyudahi momen romantis yang telah lama ia khayalkan.


Dave mengiyakan, mengingat pesan Tomi lakuin aja yang dia minta asal mau makan. Mereka makan bersama tanpa banyak kata, Kimmy sedang tak bergairah untuk berbicara.


"Gue balik ke kamar lagi ya. Kalo siang sama aja mungkin kaya di rumah lu sepi. Nanti malem mereka berdua pulang rame lagi."


Kimmy berpamitan.


Dave berbaring di kamar Tomi sambil membaca buku mata kuliah bahasa asing milik Kimmy yang tadi ia pinjam. Sesuatu terjatuh ke atas wajahnya. Selembar kertas bergambar anime yang menampakkan seorang laki-laki berwajah tampan namun sorot matanya begitu tajam. Ia membolak-balikkan kertas tersebut mencari keterangan lain mengenai gambar ini. Akhirnya ia mendapatkan catatan kecil di pojok kiri bawah , bertuliskan Mr.Snowman.


Dave tersenyum ternyata ini adalah gambar wajahnya yang dibuat oleh Kimmy.


Tomi pulang pukul tujuh, yang dicari pertama adalah adiknya. Dave membuntuti Tomi yang ingin tahu juga keadaan Kimmy.


"Kakaaaakkk"


Ucap Kimmy manja sambil membuka tangannya minta dipeluk oleh Tomi. Ia sedang dalam posisi setengah berbaring.


Tomi memeluknya dengan penuh kasih. Diperiksanya kening sang adik dengan punggung tangannya.


"Mau apa biar cepet sehat?"


Tanya Tomi membujuk adiknya agar segera sembuh.


"Mau Kak Tomi jadian sama Kak Dayana.Hee"


Jawab Kimmy tertawa.


"Ihh disayang ngelunjak."


Ucap Tomi sambil mendorong tubuh adiknya agar melepas pelukannya.


Dave tertawa melihat kerukunan dua bersaudara ini. Tak lama Marcel kembali dan ikut melihat keadaan adiknya sambil bertanya hal yang sama.


"Mau apa Dek? "


Tomi bermaksud menanyakan perihal makan malam.


"Mau Kak Marcel nikah sama Kak Gea."


Jawab Kimmy manja.


Lagi-lagi Dave dan Tomi ikut tertawa. Sedang Marcel mengelus dada berusaha tak memarahi adiknya yang sedang sakit.


Kemudian keempatnya menghabiskan malam di ruang keluarga. Bertukar cerita hingga mendengarkan lawakkan Kimmy yang tiba-tiba sehat ketika kedua kakaknya pulang.


"Dave, bisa main drum gak?"


Tanya Tomi disela-sela obrolan mereka.


"Bisa."


Jawab Dave.


"Entar malem ikut gue yuk. Gue ada job di Cafe Olive depan kampus lu. Drummer cabutan sibuk semua."


Kimmy menggangguk agar Dave menyetujui. Ia senang melihat keduanya sudah akur.


"Aku boleh ikut gak?"


Kimmy bertanya pada ketiga orang pria di hadapannya. Ketiganya kompak menjawab TIDAK!


Kimmy terus merengek hingga membuat ketiganya menyerah dan akhirnya Marcel pun memutuskan ikut menjaga Kimmy.


Tomi dan Kimmy terkejut mendengar pertama kalinya Marcel mau pergi ke tempat-tempat yang menjadi tongkrongan anak muda. Keduanya menjadi bersemangat.


Mereka bertiga menunggu Marcel yang tak juga keluar dari kamarnya sejak selesai mandi.


Tak lama semenit sebelum kesabaran mereka hampir habis, Marcel keluar menggunakan kemeja dan celana formal. Membuat ketiganya tercengang.


"Mohon maaf bapak, kita mau nongkrong di cafe bukan kondangan atau menghadiri acara keagamaan."


Ucap Kimmy memperagakan gaya berbicara pelayan hotel.


Dave tertawa terbahak. Rasanya sudah lama sekali dirinya tak pernah selepas ini.


"Kalian pake hitam-hitam lagi berkabung?"


Marcel memprotes balik.


Kimmy langsung mendorong Marcel ke kamar Tomi dan meminta kedua laki-laki lainnya untuk mendandani Kakak mereka yang kurang pergaulan itu.


Marcel keluar dengan kaos biru dongker lengan panjang dan celana jeans persis dengan gaya Tomi. Membuat keduanya terlihat seperti saudara kembar. Sedang Dave memakai kaos hitam dan jaket denim sama dengan gaya berpakaian Kimmy malam ini padahal keduanya tak janjian.


Mereka berangkat bersama menggunakan mobil Marcel. Kimmy duduk dibelakang dengan Dave. Mendengarkan Dave yang sedang di briefing Tomi. Sedang Marcel hanya fokus menyetir.


Jalanan malam sudah lenggang, tak ada lagi kendaraan yang padat merayap, membuat perjalanan mereka lebih menjadi singkat. Kimmy hendak turun dari mobil ketika pintu mobil yang ia buka mengenai kepala seseorang yang sedang jongkok mengaitkan tali sepatu.


"Aduh."


Suara mengaduh dari luar pintu. Kimmy segera mencari sumber suara. Yang ternyata ditemukan ada di balik pintu mobil. Seorang laki-laki pengunjung cafe mengusap-usap kepalanya yang terbentur.


"Maaf Bang. Benjol gak tuh? Lagian abang ngapain duduk disitu? Emangnya di dalem gak muat?"


Tanya Kimmy panik sambil membuka ikatan rambutnya dan mengusap kening lelaki tersebut dengan rambutnya. Mengikuti cara-cara orangtua jaman dahulu.


Laki-laki tersebut mengurungkan kemarahannya, ia terhipnotis mencium wangi rambut Kimmy yang tergerai di depan wajahnya. Ditambah lagi melihat wajah perempuan yang polos dan terkesan tulus ini. Ia sama sekali tak mengatakan sepatah katapun.


"Kenapa Kim?"


Tanya Dave yang ikut memeriksa korban kecerobohan Kimmy.


"Dave?"


Ucap pria tersebut.


"Ali?"


Ucap Dave. Kimmy tersadar laki-laki yang terbentur adalah lawan tanding Dave yang tak memberinya ampun.


"Oh iya gue inget. Kalo gitu, sini gue benturin lagi kepalanya."


Tutur Kimmy emosi, namun ditahan oleh Dave.


Reaksi marah Kimmy menyedot perhatian Dave dan Ali bersamaan, rasanya keduanya gemas dan ingin menggigit pipi wanita ini.


Ali bangun dari posisinya dan menyentuh dagu Kimmy. Menggoda wanita yang menarik perhatiannya itu. Perempuan pertama yang bisa menahan kemarahannya.


Dave mendorong tubuh Ali dengan kasar.


"Ehmm.."


Tomi dan Marcel keluar dari mobil setelah daritadi hanya menonton dari dalam.


"Inget semudah gue ngerebut Jemima."


Bisik Ali di telinga Dave kemudian pergi.