Mr.Snowman

Mr.Snowman
Pilihan yang menguntungkan



Setibanya di rumah, Kimmy masuk ke dalam kediamannya tak menggubris sama sekali dengan Ali yang mengikutinya sedari tadi.


"Loh kalian gak balik bareng?"


Tanya Marcel keheranan.


"Hmm, kebetulan Kak Marcel ada disini. Aku mau bilang mulai hari ini hubungan kami udahan. Jadi sebenarnya ada yang perlu Kak Marcel dan Kak Tomi tau ... "


Ucap Kimmy yang belum sempat terselesaikan.


Jadi ternyata keputusan ini yang kamu ambil Kim? Celaka.


Batin Ali.


"Iya hubungan pacaran kami berakhir disini, karena gue dan Kim udah sepakat akan lanjutin ke jenjang yang lebih serius. Kami akan bertunangan."


Potong Ali sebelum Kimmy melanjutkan niatnya yang lain.


Kimmy terbelalak mendengar perkataan Ali.


"Apa sih Al?"


Tanya Kimmy kesal tak mengerti kemauan Ali.


"Dek, kalo kamu mikirin kuliah. Ya kan ini cuma tunangan. Belum menikah. Tapi kalau emang mau nikah ya gapapa, bisa konsultasi ke dokter kandungan untuk jaga jarak kehamilan."


Jawab Marcel membuat Kimmy dan Ali menganga lebar.


"Kak, aku mau ngomong sama Ali dulu."


Marcel mengikuti kemauan sang adik, ia berlalu dari tempat itu dan kembali ke kamar.


Kimmy bertolak pinggang dan memperhatikan Ali dengan tidak suka.


"Mau lu apa sih? Gue udah berpikir di taksi tadi untuk mundur. Sekarang tiba-tiba lu maju lagi."


Oceh Kimmy.


"Lu gak bisa mikir lebih panjang Kim? Taksi anter lu sampe sini tadi cuma setengah jam, masa depan lu gak bisa dipikirin cuma dalam setengah jam. Kalau tadi lu jujur, gue gak bisa bayangin siapa jodoh lu yang disiapin kedua kakak lu."


Protes Ali.


"Gue gak peduli, Al. Toh gue itu gak akan bisa berlama-lama milikin orang yang gue sayang. Mustahil! Orangtua gue pergi, Dave pergi, lu suka sama orang lain. Jadi gue akan terima di jodohin sama orang yang gue gak kenal sekalipun. Haha udahlah lu pulang aja. Jangan kasihanin gue."


Kimmy mengusap air matanya.


"Maafin gue."


Ali merengkuh tubuh Kimmy dan memeluknya erat.


"Gue gak akan rela lu dimiliki oranglain selain gue atau Dave."


Ucap Ali.


"Plin plan."


Ketus Kimmy. Ali memasang wajah tak mengerti.


"Jadi lu mau berbagi gue?"


Tanya Kimmy dan Ali menggeleng.


"Walaupun sama Dave? "


Ali kembali menggeleng kemudian mengangguk.


"Mmm, walaupun dengan Dave."


Ucap Ali mengulang.


"Terus cewe yang PDKT sama lu di tempat kerja? "


Tanya Kimmy.


"Kan dia gak tau gue punya pacar."


Ali terkekeh.


"Ih sebel, mulai besok sekantor kamu harus tau. Supaya gak ada yang kecentilan."


Ancam Kimmy, Ali hanya menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum melihat kecemburuan kekasihnya.


"Kamu? tumben enak di denger nih mulut nenek lampir."


Canda Ali.


"Kan sekarang udah pacaran beneran."


Kimmy tersenyum lebar.


Ada perasaan senang bercampur sesal, wanita yang dicintainya kini menjadi miliknya seutuhnya. Penyesalan yang tak kalah hebat, jika Dave mengetahui dirinya tak lebih dari seorang pengkhianat.


"Kamu tidur, besok pagi harus kuliah. Kalau gak ada lemburan pulang kerja aku kesini lagi."


Ucap Ali sambil mencium kening Kimmy.


Kimmy melepas kepergian Ali dengan sukacita, ia merasakan hidup kembali setelah pria itu mengisi kekosongan hatinya. Sedangkan Ali tak sadar berkali-kali berdecak tak percaya dirinya yang menjadi perebut satu-satunya harapan terbaik Dave.


Gue gak mau kehilangan lu dua kali Dave tapi juga kita gak bisa kehilangan Kimmy. Gue harap lu paham.


Batin Ali.


...***...


"Kak Kim.. "


Semua anggota lama Pos Bahagia memeluk Kimmy.


"Gimana? Asik kan sama kakak-kakak yang lain?"


Tanya Kimmy.


"Iya tapi kita kangen Kak Kim dan Kak Dave."


Ucap Gugun.


"Nanti kalau Kak Dave balik, Kakak sampein deh supaya main kesini."


Ucap Kimmy memberi janji. Semuanya berantusias.


Setelah kunjungannya, ia menghentikan sebuah taksi dan membeli dua buah tiket bioskop secara online.


"Mbak, sudah sampai."


Supir taksi menghentikan Kimmy yang masih tersenyum dalam lamunannya.


Kini ia berada di depan gedung setinggi empat puluh lantai. Ia tau persis kantor Ali berada di lantai dua puluh lima, namun ia lebih memilih menunggu di lobby utama.


Kamu pulang jam berapa?


Kimmy mengirim pesan singkat ke ponsel Ali.


Sebentar lagi, kamu mau dibawain apa?


Ali menjawab pesan Kimmy. Ia tersenyum dan tak berniat membalas lagi pesan Ali.


Dua puluh menit sudah Kimmy menunggu kepulangan Ali, pria itu kini terlihat sedang berjalan dengan santai sambil dikelilingi karyawan wanita yang menampilkan kemolekannya namun tak satupun berhasil mengalihkan pandangan Ali. Kimmy memandang tersenyum pria yang kini menjadi kekasihnya bertambah tampan 88% ketika mengenakan kemeja dan celana formal.


"Kimmy?"


Ali menghentikan langkahnya saat matanya mendapati gadis tersebut menatapnya dari kursi tamu. Sontak para perempuan yang berdiri dibelakangnya ikut berhenti dan menatap Kimmy dengan penasaran.


"Hay.. "


Kimmy menggoyangkan tangannya menyapa Ali. Pria itu berhasil menghentikan keterkejutannya dan tersenyum kemudian menghampiri dan menggandeng tangan Kimmy. Sesaat mereka akan pergi, sebuah pertanyaan terlontar begitu keras dan nyaring memenuhi isi ruangan.


"Dia siapa Al? "


Tanya salah seorang perempuan dalam barisan yang ikut membuntuti Ali mulai dari lift. Ali memutar badannya mencari sumber suara.


"Kenalin ini Kimberly, pacar gue."


Jawab Ali santun.


"Oh cuma pacar."


Celetuk yang lainnya.


"Gak juga, sebentar lagi kita tunangan. Nanti kalian mau diundang juga untuk jadi saksi? "


Tanya Ali yang peka akan maksud nyinyir keenam wanita itu.


"Gak deh Al makasih."


Jawab perempuan lainnya.


"Ya udah, gue permisi duluan."


Ali dan Kimmy menundukkan kepalanya bersamaan.


"Yah ini sih kalah sebelum perang sama lu semua."


Bisik seorang wanita yang masih terdengar di telinga Kimmy.


Ali dan Kimmy telah sampai ke tempat parkir dimana motor Ali dititipkan.


"Kamu kenapa ada disini?"


Tanya Ali sebelum naik keatas motornya.


"Kan aku bilang hari ini temen sekantor kamu harus tau kalau kamu itu pacar aku."


Jawab Kimmy terkekeh.


"Haha jadi cuma itu tujuan kamu jauh-jauh kesini?"


Ali mengacak rambut Kimmy.


"Gak juga-- nih."


Kimmy menunjukkan dua buah tiket bioskop di ponselnya.


"Oh ngajak nonton.. "


Ucap Ali.


"Our first date."


Bisik Kimmy.


"Hahaha, apapun untuk nona posesif."


Goda Ali. Kimmy memukul punggung pria itu setelah mendengar julukan yang disematkan untuknya.


Jangan lupa Vote, Like, dan Comment nya yah Readers 💕