
Kimmy berdandan sangat cantik pagi ini. Mereka bertiga hendak pergi ke acara pernikahan Dayana yang di gelar siang nanti.
Tok..Tok..Tok..
Kimmy berlari membuka pintu depan.
"Kalian sudah siap?"
Tanya Dave yang bertugas menjemput tuan putri dan Kakaknya.
"Sebentar Dave."
Marcel menyahut dari dalam kamarnya.
Cup
Dave mencium kening Kimmy yang semenjak membuka pintu tak bergeser hanya menggoyangkan badan dengan kedua tangan menyilang ke belakang. Menagih ciuman selamat paginya.
"Thank you Dave."
Bisik Kimmy sambil menjinjit dan mencium pipi Dave, sebelum Marcel keluar dari kamarnya.
Dave mengelus-elus kepala kekasihnya yang pagi ini terlihat sangat feminim.
Kemudian ketiganya pergi mengendarai mobil Dave. Kimmy asik memainkan ponselnya bertukar kabar dengan Tomi. Jarang-jarang ia dapat berlama-lama berhubungan dengan Kakak laki-lakinya itu, sinyal ponsel Tomi selalu buruk jika sedang berada di tengah laut.
Tring, Tring..
Panggilan telepon dari Dayana.
"Pagi Calon pengantin.."
Sapa Kimmy mengawali percakapan.
"Suruh Tomi jemput aku di pintu belakang."
Ucap Dayana mengejutkan Kimmy.
"Kak Tomi sudah tiga minggu ini berlayar, Kak."
Jawab Kimmy tak enak hati. Padahal ia sudah berjanji pada Dayana, apapun hal yang menyangkut Tomi harus diberitahukan kepadanya.
"Tega banget Tomi gak pamit sama aku."
Ucap Dayana seraya memutuskan panggilan.
Kimmy menceritakan apa yang telah Dayana katakan di telepon padanya. Kimmy dan Dave yang akan menolongnya dicegah oleh Marcel.
"Itu bukan urusan kita. Dayana sudah memilih. Dia harus tanggungjawab dengan pilihannya."
Ucap Marcel secara bijak. Dan mereka tetap melanjutkan perjalanan.
Ketika sampai di tempat pernikahan, terlihat wajah Dayana tak sebahagia pengantin lainnya kala menyambut hari bersejarah. Marcel, Kimmy, dan Dave memberikan selamat pada kedua mempelai.
"Selamat ya Kak Dayana."
Ucap Kimmy sembari memegang pipi Dayana yang membiru bukan karena blush on.
"Awww"
Rintih Dayana.
Ketiganya kini saling menatap. Mereka menebak-nebak apa yang dialami perempuan cantik itu. Mungkinkah ditampar orangtuanya ketika hendak kabur atau laki-laki disebelahnya telah menganiayanya?
Kimmy memeluk Dayana seakan darah mereka sudah menyatu, ia bisa merasakan kesakitan yang dialami Dayana.
"Pintu rumah kami masih terbuka untukmu."
Ucap Marcel yang ikut merasakan kepiluan Dayana. Dayana hanya mengangguk tak berani bicara banyak.
Ketika mereka turun dari pelaminan, tangan Marcel ditarik oleh seorang ibu-ibu paruh baya. Kimmy dan Dave mengikuti mereka menjauh dari tempat pesta.
"Tom, maafin ibu ya misahin kalian. Sekarang ibu nyesel. Baru hari pertama aja Dayana sudah dianiaya karena menangis terus dari tadi."
Ucap perempuan yang ternyata adalah Bu Tri, ibunda Dayana. Ia salah mengira Marcel adalah Tomi. Karena memang wajah mereka bak anak kembar hanya saja lebih tua dan lebih tinggi Marcel.
"Ibu minta tolong bawa Dayana pergi."
Tangis ibu Dayana pecah, ia dengan jelas melihat putri yang ia besarkan dengan penuh kasih sayang dipukuli laki-laki tak berperasaan itu.
"Maaf bu sebelumnya, saya Marcel Kakaknya Tomi. Tomi sendiri tidak disini karena sedang berlayar."
Ucap Marcel dengan lemah lembut. Ia melihat penyesalan yang mendalam dari raut wajah ibu Dayana.
"Makanya bu, jangan liat orang dari luarnya aja. Ibu udah mandang rendah Kak Tomi, sekarang liat menantu kebanggaan ibu."
Kimmy menyahut kesal. Ia mengetahui semua permasalahan dari mulut Dayana sendiri. Sudah lama rasanya Kimmy memendam kemarahan ini.
"Kim!"
Bentak Marcel agar Kimmy berhenti menyakiti perasaan orang setua Bu Tri.
"Gak perlu, Kak. Kita akan bantu cuma kalau Kak Dayana yang minta."
Ucap Kimmy sambil menarik Marcel dari pesta pernikahan Dayana.
Ketiganya masuk ke dalam mobil. Marcel memarahi Kimmy habis-habisan mengatakan sikap adiknya seperti seseorang yang tak punya aturan. Kimmy menangis bukan karena kemarahan Marcel, namun karena dirinya tak mampu membantu Dayana.
"Sekarang udah ngerti salahmu dimana?"
Tanya Marcel yang melihat Kimmy membersihkan airmatanya.
Jawab Kim masih pada pendiriannya.
"Keras kepala. Lain kali yang sopan berhadapan dengan orangtua."
Ucap Marcel mengalah. Ia tahu Kimmy tak akan senekat tadi bila hatinya tak benar-benar disakiti.
Dave memandang Kimmy dari spion tengah menggeleng-geleng melihat kerasnya isi kepala perempuan yang ia cintai. Tapi entah mengapa disetiap kemarahan Kimmy, Dave selalu merasa Kimmy menuangkan kemarahan di waktu-waktu yang tepat.
Matahari mulai turun ke dalam persembunyiannya, satu setengah jam mereka tidak berbicara sepatah kata pun setelah percakapan terakhir.
Marcel turun dari mobil dan langsung masuk ke kamar. Ia tidak suka pendapatnya di tentang adik perempuannya. Kimmy tak mau kalah, ia pun masuk ke dalam kamarnya.
Dave yang duduk di ruang televisi sendiri akhirnya memutuskan masuk ke dalam kamar Kimmy.
Ia mengelus punggung perempuan yang sedang berbaring tengkurap itu, lalu menciumi kepalanya.
"Es Krim cokelat?"
Tanya Dave.
Kimmy mengangguk dan langsung duduk. Mereka berjalan keluar mencari angin segar sekaligus membeli tiga buah es krim dan menghabiskannya di teras rumah. Dave sempat ingin memberikan satu pada Marcel namun pria itu sudah tertidur.
Dave menceritakan pengalaman bertinjunya pada Kimmy yang dengan asik mendengar.
"Besok gue ada tanding. Lu harus ikut."
Minta Dave di sela-sela obrolan.
"Iya, asal sekarang kita belajar dulu."
Ucap Kimmy memberi syarat.
Dave menurut, ia belajar bersama di dalam kamar Kimmy. Keduanya mendalami materi hingga tengah malam. Keduanya memang gila mengejar ilmu.
"Kenapa lu pilih jurusan ini?"
Tanya Kimmy.
"Em, bener mau tau? tapi janji jangan marah."
Ucap Dave.
"Iya, gak akan."
Kimmy melayangkan dua jarinya ke udara.
"Dulu Jemima bilang cita-citanya punya suami yang bekerja sebagai akuntan gitu. Ya terus gue kepikiran."
Ucap Dave mengingat.
"Jadi ini bukan minat lu? Jemima oh Jemima.."
Ucap Kimmy dengan nada bernyanyi. Ia kesal Dave harus menyebutnya.
"Bukan. Gue bilang kan mau jadi petinju. Gue gak mau kuliah tadinya. Tapi kalo gak gara-gara Jemima, gue gak akan ketemu perempuan aneh kaya lu."
Jawab Dave merayu. Ia tahu wajah Kimmy mulai masam.
"Jemima lagi, terus aja semua kebaikan yang terjadi karena Jemima. Malaikat lu."
Ucap Kimmy sambil meninggalkan meja belajar dan beralih ke tempat tidur.
"Tuh kalo mau keluar pintunya disana."
Kimmy melanjutkan kecemburuannya.
" Lu marah? cemburu?."
Tanya Dave yang menyukai Kimmy bila sedang mencemburui dirinya.
"Ayolah Kim, itu masa lalu gue. Katanya lu gak pernah terusik dengan masa lalu gue. Jemima juga salah satu dari masa lalu gue."
Ucap Dave sembari ikut tidur disamping Kimmy dan memeluknya. Wajah mereka kini sangat dekat.
Dan seketika Kimmy mencium bibir Dave dengan cepat. Membungkam mulut Dave agar berhenti berbicara.
"Jangan pernah sebut nama itu lagi."
Ucap Kimmy mengancam.
"*Oh kalo itu hukumannya. Gue akan dengan senang hati men*erimanya."
Ledek Dave.
"Jemima, Jemima, Jemima, Jemima..."
Dave terus menggoda Kimmy.
Muach
Kimmy mencium ganas bibir Dave sambil sesekali menggigitnya ia tak kuasa menahan kekesalan mulut Dave yang tak bisa diajari.
Dave merintih namun menikmati. Ia membalas ciuman Kimmy dengan gerakan lidahnya yang lentur. Kimmy memukuli dada Dave untuk berhenti.
"Makanya jangan mancing."
Ucap Dave seraya meninggalkan ruang kamar Kimmy.