
"Brengsek lu, Cel. Gak sportif cara lu."
Ryo memukul wajah Marcel sambil menghardiknya.
Gea hanya dapat menangis histeris melihat kekasihnya bertengkar dengan orang yang ia cintai.
"Gue gak sengaja. Lu paham kan? Sekarang gue cuma minta Gea. Gue akan nikahin dia."
Ucap Marcel sambil membersihkan darah di bibirnya.
"Enggak! Gue yang akan nikahin dia."
Ucap Ryo menolak. Ia sungguh-sungguh mencintai Gea.
"Kalo sampe Gea hamil. Lu mau urus anak kami? Biar gue aja!"
Tanya Marcel membentak.
"Oke kita tanya Gea aja sekarang. Dia akan milih siapa."
Tantang Ryo.
"Udah berhenti. Aku gak akan nikah sama kalian berdua."
Teriak Gea sambil berlari menjauh dari keduanya.
"Kenapa mereka berdua begitu egois? gak mikirin perasaanku sedikitpun."
Gumam Gea. Ia berjalan dalam derasnya hujan. Tak ada yang dapat dibanggakan dirinya. Keluarga, teman, bahkan dirinya semua begitu menyedihkan.
Marcel dan Ryo mengejarnya namun ia sudah tak ada. Hari itu terakhir keduanya bertemu perempuan yang mereka cintai.
Keesokan harinya Gea tidak pernah muncul lagi, menurut sesama rekannya bekerja, ia mengajukan pengunduran diri secara mendadak. Marcel mencoba mencari ke kediamannya. Namun keluarga Gea terkesan tidak peduli.
"Katanya nyusul ibunya. Tadi pagi sekali dia jalan."
Ucap saudara tiri Gea.
"Katanya? Keluarga macam apa ini?"
Sindir Marcel.
Marcel juga menemui ayah Gea, beliau mengatakan hal yang sama. Tidak tau Gea pergi kemana mencari ibunya dan terkesan sama saja dengan saudara tirinya.
Ge, kembalilah. Saya akan membayar semua perhatian yang tak kau terima dari keluargamu.
Batin Marcel berucap. Penyesalannya sangat dalam. Seandainya ia tau dari dulu mungkin tak akan begini keadaannya.
Marcel tak pernah berhenti mencari Gea. Ia akan menebus kesalahannya selama ini.
Maaf Cel, impianku memang membangun keluarga bersamamu. Tapi tidak dengan cara seperti ini. Kau hanya merasa bersalah dan pura-pura mencintaiku. Aku akan kembali jika hatimu telah yakin memilihku.
Ucap Gea di dalam kamarnya. Ia tengah bersiap pindah ke rumah neneknya. Mencari pekerjaan disana dan melupakan kejadian buruk yang menimpa dirinya beberapa hari ini.
"Dave, kamu inget dulu waktu kita SMA? Kalau kita disuruh lari pas pelajaran olahraga, kamu selalu nungguin aku. Padahal kamu bisa jadi yang pertama. Tapi selalu ngalah untuk aku."
Ucap Jemima yang sudah beberapa hari ini menggunakan berbagai alasan agar Dave mau dekat dengannya.
"Ingat."
Jawab Dave yang sedang mengendarai motor.
"Aku rindu masa-masa kita bersama."
Jemima melanjutkan perkataannya.
Dave hanya diam tak mengerti perasaannya sendiri bagaimana. Belakangan ini Kimmy pun tak pernah menghubunginya. Bahkan di Pos Bahagia keduanya tak pernah bertemu. Kata beberapa anak, Kimmy datang setiap pulang kuliah. Sedang Dave datang ketika jam istirahat. Di dalam kelas pun mereka tak bertegur sapa.
Padahal Dave hanya menunggu Kimmy mengakui kesalahan padanya, maka semua akan kembali baik-baik saja. Ia tak mau Kimmy menjadi orang yang keras kepala merasa benar ketika memang bersalah. Dave menginginkan kekasihnya menjadi orang yang dewasa dalam berpikir dan bertindak.
Sementara Kimmy tak menghiraukan Dave, ia salah paham dengan sikap Dave yang masih labil menurutnya. Selain karena sedang berseteru dengan dirinya, ditambah lagi kembali dekat dengan Jemima. Apalagi beberapa hari ini ia harus mengurus Marcel yang selalu mabuk ketika pulang kerja. Membuatnya benar-benar kelelahan.
"Gini nih kalo Mak Tomi gak ada. Gak ada yang bisa ngertiin Pak Marcel."
Gerutu Kimmy sambil menendang-nendang kerikil di depan kampusnya. Sudah setengah jam belum ada juga angkutan yang lewat.
"Aw"
Teriak kesakitan seorang pengendara sepeda motor yang lewat karena kerikil mengenai matanya. mendadak ia mengerem motornya dan hampir tergelincir.
"Aduuuh maaf bang. Sini sini aku tiup."
Ucap Kimmy sambil meniup-niup mata laki-laki yang tak sengaja ia sakiti.
"Ada masalah apa sih emangnya?"
"Lu kan Ali pacarnya Jemima."
Kimmy berhenti meniup dan mendorong wajah pria itu menjauh.
"Mantan!"
Jelas Ali sambil meringis.
"Ya udah lu pantes terima itu. Atau sekalian gue masukin batu kali ke mata lu?"
Tanya Kimmy sinis.
"Lu bisa manis sekaligus pahit barengan gitu sih?"
Protes Ali. Kimmy tak menghiraukan, ia berjalan menjauh.
"Kalo mata gue buta gimana?"
Tanya Ali, yang kemudian menghentikan langkah Kimmy dan kembali mendekat.
"Jangan dikucek! kedipin berulang sambil puter-puter bola mata."
Perintah Kimmy sambil membantu menarik kelopak mata Ali.
Jangan tanya perasaan Ali, kini jantungnya berdebar-debar. Dia menyukai Kimmy dari awal pertemuannya.
"Kok masih merah sih matanya?"
Tanya Kimmy mulai kebingungan.
"Tunggu sini!"
Ucap Kimmy kemudian ia berlari menuju minimarket membeli obat tetes mata untuk Ali.
Ia kembali dengan segera dan membantu menenteskan obat tersebut ke mata Ali. Tak lama sebuah kerikil halus keluar bersamaan dengan air mata.
"Makasih. Nama lu siapa?"
Ucap Ali sekaligus bertanya.
"Kimberly. Sorry soal tadi."
Jawab Kimmy seraya naik ke angkutan umum yang sudah berhenti di hadapannya.
Ali membuntutinya sampai ke rumah. Ia jelas-jelas menyukai perempuan ini, tak ada lagi niat membalas Dave. Urusan dengan rivalnya tersebut sudah selesai di atas ring ketika ia mengalahkan kekasih dari gadis yang ia sukai sekarang.
Ali menunggu hingga malam di tempat yang tak jauh dari rumah Kimmy, mencari tahu apa yang gadis itu lakukan dan dengan siapa ia tinggal. Keingintahuannya terhadap Kim begitu besar.
"Kakaaakkk..."
Kimmy berteriak dari dalam bersamaan dengan suara benda yang pecah.
Ali spontan masuk ke dalam rumah Kimmy dan melihat apa yang sedang terjadi. Marcel secara tak sadar melemparkan gelas ke arah Kimmy. Ali hampir saja memukul Marcel namun dicegah oleh Kimmy.
"Jangan ! Itu kakak gue. Bantu bawa masuk ke kamar."
Ucap Kimmy pada Ali. Ia tak peduli mengapa laki-laki itu ada di hadapannya. Yang pasti sekarang Kimmy membutuhkan kekuatan yang lebih besar untuk menangani Marcel.
Kimmy menangis seraya mengurus Marcel, dari mulai mengelap wajah dan tubuh Marcel dengan air hangat, kemudian mengganti kemejanya dengan kaos.
"Ada apa sih Kak sebenernya? Aku hampir gak tahan."
Kimmy berbicara sambil terisak.
Ali hanya memperhatikan dari pintu kamar. Mengawasi Marcel yang masih meracau tak jelas.
"Makasih ya. Lu pulang aja."
Minta Kimmy. Dirinya sekarang sibuk membersihkan pecahan gelas yang dibuat oleh Marcel.
"Dimana obat merah?"
Tanya Ali.
Kimmy menunjuk sebuah kotak di dekat ruang keluarga. Ali mengambilnya dan menarik Kimmy ke atas sofa.
Ia mengobati kepala Kimmy yang berdarah karena lemparan Marcel tadi.
"Tadi lu obatin mata gue. Sekarang gantian ya."
Ucap Ali lemah lembut. Kemudian ia menyeka air mata yang masih menetes dari mata Kimmy.