
Sudah berhari-hari Tomi menerima panggilan dari ayah Dayana. Menanyakan perihal kepulangan dirinya. Hari inilah saat yang ditunggu keluarga Dayana serta hari yang paling menyulitkan Tomi.
Setelah mengantarkan Wanda pulang, ia menyempatkan diri memenuhi undangan Pak Roy untuk makan siang bersama. Sesampainya di tempat yang mereka berdua sepakati yaitu sebuah restoran lokal yang menciptakan cita rasa berbagai makanan nusantara dari sabang sampai merauke.
Sepasang suami istri tersebut sudah duduk menunggu kedatangan Tomi dengan makanan porsi besar di hadapannya.
"Selamat siang Om, Tante, maaf saya terlambat."
Tomi menyapa kedua orang tua Dayana dengan santun.
"Tidak kok nak. Kami juga baru sampai."
Ucap Bu Tri malu-malu. Tomi menyatukan kedua alisnya, jelas wanita setengah baya tersebut sedang berbohong. Terbukti satu porsi besar soto babat tersebut telah dingin tak beruap lagi.
"Kamu mau pesan apa? Kita makan dulu."
Ajak Pak Roy.
"Saya cukup minum es jeruk aja, Om. "
Tolak Tomi halus.
"Saya sudah paham, pasti kamu bakal nolak. Tapi kalau saya sudah terlanjur pesan, gak mungkin ditolak kan? "
Pak Roy mencolek istrinya yang seketika sigap menuangkan soto babat porsi besar tadi ke piring yang lebih kecil dan disodorkan pada Tomi.
"Makanlah."
Ucap Bu Tri. Tomi yang tak enak hati, terpaksa mengikuti kemauan orang tua Dayana.
Makan siang yang terjadi begitu canggung, sesekali Tomi melirik kedua orang tua di hadapannya. Kejadian yang berlangsung setengah jam itu akhirnya dapat berhenti setelah Tomi mencuci tangan dan kembali dari toilet.
"Pasti kamu bingung kan kenapa Kami ajak ketemu? "
Tomi mengangguk atas pertanyaan yang dilontarkan Pak Roy.
"Perasaan kamu gimana sama Dayana?"
Tomi tersedak mendengar pertanyaan dari Pak Roy.
"Maaf? "
Tomi tak mengerti.
Kedua suami istri itu akhirnya menjelaskan maksud dan tujuan mereka untuk kembali menjodohkan Dayana dan Tomi.
"Maaf Om, Tante.. Saya minta maaf. Itu satu hal yang gak mungkin lagi untuk saat ini. Saya sudah punya orang lain yang harus saya jaga perasaannya."
Jawab Tomi tegas.
"Kamu tega Dayana gak menikah seumur hidupnya? "
Tanya Bu Tri menangis.
"Kenapa saya tega? Bapak lebih tega membiarkan Dayana bersama saya. Saya yang tak akan bisa membahagiakannya."
Tomi bangkit berdiri dan mengundurkan diri dari hadapan mereka.
Baginya ini adalah cukup, kedua orangtua tersebut sudah membuat hidup Dayana hancur. Ia tak akan lagi membiarkan dengan mengizinkan dirinya masuk ke dalam cinta yang bahkan sudah ia letakkan pada Wanda. Itu sama saja menghancurkan Dayana berkali-kali lipat.
"Tuh kan Pak, Tomi ndak mau sama anak kita. Mungkin karena Dayana sudah .. "
Bu Tri menangis tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
"Sudahlah Bu, anak itu yang terlalu sombong menolak putri kita. Bahkan banyak laki-laki yang mau berkencan dengannya."
Ucap Pak Roy sambil mengelus bahu istrinya.
...***...
"Kim, di depan gerbang ada yang jemput tuh."
Seorang berlari kearah Kimmy. Membuat perempuan itu melihat jam dipergelangan tangannya.
"Ali? Gak mungkin."
Hatinya mulai tak karuan. Ali tak mungkin menjemputnya, ia berbicara dengan jelas bahwa seminggu ini akan banyak tugas yang membuatnya harus lembur.
"Siapa sih? "
Tanya Kimmy penasaran.
"Ah liat aja sendiri. Orang yang udah lama gak anter jemput lu."
Jawab pria tersebut menambah keingintahuan Kimmy.
Dave?? Apa mungkin?
Khayalan Kimmy jauh menembus apapun yang ada di masa lalunya. Ada sesak yang tak dapat ia jelaskan. Apa yang harus ia katakan hari ini pasti dapat terjadi kapan saja.
Lu kan dulu yang ninggalin gue untuk Jemima? Gue disuruh nunggu sebagai sahabat? Ya gak salah dong kalo hati gue berpindah. Iya, gue gak setia. Masalah?
Kimmy bergumam sendiri di dalam hati sambil terus berjalan dan mendekati gerbang kampusnya.
"Ehm, ngapain lu nyari gue? Gue bukan siapa-siapa lu lagi. Lo yang bilang kan waktu itu kita cuma sahabat? Jadi jangan salahin Ali apalagi salahin gue! "
Oceh Kimmy tak berhenti.
"Heh Kutu! Lu ngomong apa sih? Udah keluarnya lama banget. Panas banget gue nunggu dari tadi. Dateng-dateng ngelantur. "
Ucap Pria tersebut membuka kaca helmnya.
"Loohhh Kak Tomi? Kok lu sih? Dari belakang mirip banget sama Dave."
Kimmy memeluk Kakak kesayangannya tersebut.
"Kaya gak seneng ya gue jemput? Kecewa karena lu pikir gue Dave dan ternyata bukan? "
Tanya Tomi.
"Em gak gitu, Kak. Gue seneng kok."
Kimmy memeluk Tomi lebih erat lagi.
"Sebaiknya lu lupain dia sampe ke akar-akarnya Dek. Jangan berharap sekecil apapun. "
Tomi memberikan helm kepada Kimmy dan mereka bergegas pergi dari tempat itu. Sepanjang perjalanan keduanya hanya terdiam, meratapi jalan pikiran mereka sendiri-sendiri.
Tiba di sebuah klub malam, Tomi menepikan sepeda motornya.
"Serius lu ngajak gue ke tempat kaya gini, Kak? "
Tanya Kimmy heran.
"Hm, udah dua puluh dua tahun kan lu? Lagian sama gue kok. Aman. Selebihnya gak boleh kalo gak ada gue."
Jawab Tomi dengan ancaman yang tidak main-main.
Tomi memesan dua botol minuman beralkohol serta segelas jus strawberry segar.
"Wah asik gue boleh nyobain ini juga."
Kimmy bertepuk tangan setelah pelayan meletakkan sebuah minuman beralkohol tersebut di hadapannya.
"Eeh siapa bilang? anak kecil minum ini."
Tomi menyodorkan jus strawberry tersebut dan menarik botol alkohol tadi.
"Ishh tadi katanya udah dua puluh dua tahun kan? "
Geram Kimmy.
"Ya maksud gue jangan sampe lu kudet banget seumur hidup gak pernah masuk tempat ginian. Tapi gak minum alkohol seumur hidup lu, gak apa-apa banget."
Tomi menenggak sebotol minuman tersebut dalam sekali teguk dan habis.
Kimmy patuh, tak mau mengambil pusing keputusan mutlak dari kakaknya tersebut.
Dua botol minuman habis dalam sekejap. Entah haus atau menikmati minumannya, ia memesan lagi botol ketiga dan keempat.
"Emang kenapa kalo gue munafik? Gue gak bisa lupain dia tapi juga gak bisa sakitin Wanda, gue sayang dua-duanya, Kim."
Tomi mulai meracau tak jelas.
"Hemm, tadi lu suruh gue cabut sampe akar-akarnya. Kayanya itu kalimat cocoknya buat lu Kak."
Seru Kimmy.
Tomi mulai turun ke tengah, ia menikmati alunan musik dengan brutal. Beberapa kali sengaja mencari keributan dengan pengunjung lain. Selang beberapa saat, Tomi sedang dikerumuni pemuda bergerombol yang hendak memukulinya.
Kimmy yang menyadari hal tersebut berlari menghampiri Kakaknya sebelum segala sesuatunya terlambat.
"Maaf ya semua. Kakak saya mabuk berat."
Kimmy menarik Tomi menjauh.
"Iya tau, tapi mabuknya rese."
Seseorang menghadang Kimmy dan melayangkan pukulan ke arah Tomi. Seketika yang lain pun, ikut mengambil langkah memukuli Tomi.
"Arrgghh lepasin Kak Tomi... "
Kimmy teriak mengiba namun tak satupun dari mereka mau melepaskan Tomi. Sampai ketika seseorang menghantam satu persatu orang-orang yang memukuli Tomi.
"Beraninya keroyokan sama orang yang gak punya daya."
Laki-laki tersebut menepuk-nepukkan tangannya setelah menjatuhkan lawan-lawannya dengan sangat singkat.
"Daveee.... "
Ucap Kimmy lirih.
Jangan lupa Like, Comment, dan Votenya ya Readers 💕