
"Lu mau makan berapa banyak lagi?"
Tanya Dave yang tak berhenti mengunyah macaron kesukaannya.
"Hahaha mumpung di traktir."
Timpal Tomi gembira.
"Mbak, bungkus dua kotak ya."
Ucap Dave pada kasir.
"Gue becanda Dave, gue kenyang. Gak usah dibungkus lagi."
Ucap Tomi.
"Bukan buat lu. Ini buat Kak Marcel sama Kimmy."
Jawab Dave.
"Oh gue pikir."
Tomi tersenyum malu.
Dave pulang ke rumah tiga bersaudara itu. Ia berniat menemani Tomi agar tak sering larut dalam kesedihannya. Dave tau betul rasanya ketika kecewa dan tak ada tempat mencurahkan isi hati. Walaupun ia juga tau bahwa kedua saudara Tomi tak akan membiarkannya bersedih.
Sesampainya di rumah Kimmy memeluk Tomi yang baru sampai. Ia sudah mengetahui apa yang terjadi dari Dayana. Perempuan itu tadi menghubungi Kimmy dan menceritakan kejadian tadi siang padanya.
Kimmy tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya mampu menjadi pendengar dan supporter yang baik bagi keduanya. Dave tersenyum gemas melihat tingkah Kimmy yang manja.
Tak lama Marcel datang menghampiri mereka dari dalam kamar membawa sebuah kertas. Ia memberikannya pada Tomi.
"Chef magang kapal pesiar? Haha lu ngeledek gue? Gue kan gak ada sertifikat, Cel."
Ucap Tomi membolak-balikkan kertas. Ia mengira Marcel sedang menertawakan cita-cita masa kecilnya.
"Head chefnya kenalan gue. Lu bisa langsung gabung abis wisuda besok."
Ucap Marcel, ia tahu betul ini keinginan Tomi sejak lama. Semenjak lulus SMA Tomi sudah bercita-cita menjadi seorang koki. Namun Marcel dengan keras menentangnya. Dulu ia beralasan, tak akan ada masa depan buat Tomi jika menekuni bidang ini. Pikiran Marcel pada waktu itu belum seterbuka sekarang.
"Lu beneran ngizinin gue?"
Tanya Tomi dengan tawa sumringah.
Marcel mengangguk, sedang Kimmy menampilkan ekspresi wajah berbeda.
"Kok Kak Marcel tiba-tiba berubah pikiran sih? Pokoknya Kak Tomi gak boleh kemana-mana."
Protes Kimmy sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"Dek, kamu gak boleh egois. Ini yang Tomi mau dari dulu. Inget kan?"
Marcel menasehati. Kimmy kembali membayangkan kejadian setelah Tomi lulus SMP dia pulang membawa selembaran penerimaan siswa SMK baru. Meminta pendapat Marcel bahwa dirinya akan masuk jurusan tata boga. Namun berujung pada bertengkarnya kedua remaja itu. Tomi mengalah, ia tahu isi kepala Marcel lebih keras untuk dipecahkan daripada isi kepalanya.
"Gak boleh. Nanti siapa yang masakkin kita makanan enak? siapa yang nyuapin aku? siapa juga yang mau maju belain kita kalo kenapa-kenapa?"
Ucap Kimmy matanya mulai berair.
"Gue."
Dave menjawab pertanyaan Kimmy.
"Lu gak bisa masak seenak Kak Tomi. Lu juga gak bisa jagain gue kaya Kak Tomi."
Kimmy mulai berdebat.
"Gue udah belajar masak dari Bang Tomi. Gue juga bisa jaga lu. Jangan egois Kim!"
Bentak Dave. Ia tahu yang dibutuhkan Tomi kali ini adalah pergi menjauh dari kenangannya dan Dayana.
Kimmy acuh, ia datang merengek ke Tomi sambil berlutut padanya.
Tangisnya pecah, ia akan kehilangan musuh sekaligus sebelah sayap pelindungnya. Tomi mendekap adiknya dengan erat. Ia juga tak dapat membendung air matanya.
"Maafin Kakak kali ini Kim. Izinin Kak Tomi pergi yah."
Ucap Tomi sambil menangkup kedua pipi adiknya. Air mata Kimmy kini turun membasahi kedua telapak tangan saudaranya.
"Katanya gak bakal tinggalin Kim. Kan Kak Tomi udah janji."
Kimmy terisak menangih janji.
"Iya, Kak Tomi gak ninggalin, cuma kerja. Nanti kalo lagi di darat pasti nemuin Kim sama Marcel."
Ucap Tomi berjanji.
Marcel tak tega melihat keduanya harus berpisah, tapi ia juga tau mengenai pernikahan Dayana yang menyakiti hati Tomi. Maka ia dengan rela melepaskan saudaranya agar menggapai mimpinya yang lain.
"Kak Tomi jahaaaaattttt!!! Kimmy gak mau denger apa-apa. Kimmy doain Kak Tomi ditolak karena masakkan Kak Tomi gak enak, bikin sakit perut, selalu keasinan."
Kimmy berteriak-teriak sambil menutup telinga kemudian membanting pintu kamar dengan kasar.
Tomi tertunduk meratapi sikap adiknya tersebut. Ia tahu mereka bertiga pernah berjanji tak akan meninggalkan satu sama lain.
Tapi hari ini, ia berkata lain.
"Gak usah dipikirin Tom. Besok juga udah baik lagi. Kan lu kenal dia."
Ucap Marcel menenangkan Tomi.
Kimmy menangis dalam kamar semalaman. Sudah dibujuk Marcel, Tomi, maupun Dave tak juga mau keluar. Bahkan sarapan pun ia tetap tak keluar. Setelah mandi pagi, ia bersiap-siap di dalam kamar dan tak hadir di meja makan. Bahkan Kimmy sengaja memakai pakaian-pakaian ketat yang Tomi tak suka. Kalo dia bisa seenaknya, kenapa gue enggak? Biar dia pikirin tuh gimana rasanya gak didengerin.
Gerutu Kimmy di dalam kamar.
Kimmy menunggu suara motor Dave dinyalakan, kemudian ia berlari keluar.
"Snowman, ikut."
Ucap Kimmy berlari dari kamar. Ketiga pasang mata melihatnya dengan tidak suka.
"Apa-apaan ini? Ganti baju lu."
Tomi memarahi adiknya.
"Bukan hak lu ngatur-ngatur gue. Lu mau pergi kan ? Sana pergi. Gak usah urusin gue lagi."
Balas Kimmy menahan tangisnya yang hampir pecah. Sesungguhnya ia tak mau mengatakan hal itu, namun kekecewaan yang dirasakan memberanikan bibir Kimmy menyakiti saudaranya sendiri.
Diatas motor, Kimmy terus menerus menangis. Menyesal telah mengucapkan kalimat tadi pada Tomi. Dave yang mengetahui hal itu, menarik kedua tangan Kimmy secara bergantian agar memeluknya.
Kimmy menyandarkan wajahnya di punggung Dave. Ia menangis terisak. Dadanya penuh sesak. Dave mengelus-elus punggung tangan Kimmy dengan tangan kirinya. Mencoba menguatkan wanita ini tanpa berkata.
"Kita udah sampe."
Ucap Dave agar Kimmy melonggarkan pelukannya.
Kimmy mengangguk dan segera membasuh air matanya.
"Lu bisa masuk angin kalo begini."
Dave melanjutkan ucapannya setelah turun dari motor dan memakaikan jaketnya ke tubuh Kimmy. Kemudian tangannya menarik tangan Kimmy untuk jalan bersamanya membuat semua mata tertuju kepada mereka. Tak terkecuali mata Jemima, Renata dan Kenny.
Kimmy tak bisa fokus pada materi kuliahnya. Ia sibuk melihat foto-foto kebersamaan dengan ketiga kakaknya di galeri ponsel miliknya. Dave memperhatikan dari balik punggung perempuan berambut panjang tersebut. Hatinya ikut rapuh melihat betapa kuat persaudaraan diantara mereka bertiga. Andai gue punya Kakak atau Adik, hidup gue gak akan sesepi ini.
Gumam Dave.
"Saudara Tomi, anda di terima magang di perusahaan kami. Kami menunggu secepatnya anda bergabung."
Ucap salah seorang koki profesional.
Diperjalanan ia terus memikirkan Kimmy. Waktu mereka tinggal satu minggu lagi. Setelah wisuda, Tomi akan segera berlayar.