Mr.Snowman

Mr.Snowman
Move on



"Kenapa Kimmy harus tunangan secepat ini?"


Tanya Wanda yang heran dengan rencana yang terbilang mendadak ini.


"Karena ini yang terbaik untuk dia. Aku maupun Marcel gak akan bisa tenang kalau Kimmy punya mertua sejahat Tante Anne."


Jawab Tomi sambil mengemasi barang-barang keperluannya. Dua hari ke depan dirinya dan Wanda akan menghadiri acara pertunangan adik kesayangannya.


"Kamu yakin?"


Tanya Wanda.


"Ya, kamu yang buat percaya keyakinan itu harus ada. Karena keyakinan kamu kan yang buat hati aku milih kamu sekarang?"


Tanya Tomi, Wanda hanya tersenyum malu ketika tatapan mematikan Tomi mendarat dimatanya.


Dua tahun lalu, setelah pernikahan Marcel merupakan hari terkelam juga hari terbaik untuk mereka yang terlibat di dalamnya. Sejak keluar dari tahanan sementara, Tomi, Dayana, Ali juga Dave menemukan tujuan hidup mereka masing-masing.


Setelah Dayana memutuskan agar Tomi menjauhinya demi keselamatan Kimmy, perempuan itu kini tengah meniti karirnya sebagai model di perusahaan majalah asing terkemuka. Bermodalkan wajah dan tubuh yang sempurna, ia mampu meraih ketenarannya dengan cepat.


Peramal itu bilang memang arus kita dipenuhi badai dan angin kencang bukan, Day?


Tanya Tomi sebelum menutup pintu taksi Dayana di depan kantor polisi.


Ya, dia juga bilang asal kita tidak berputar balik atau menabrak karang. Lihat perahu kita bahkan sudah pecah karena terlalu sering menabrak karang. Berhenti Tom, kalaupun kita masih bertahan, akan korbanin banyak perasaan. Terimakasih untuk hal-hal indah lima tahun ini.


Jawab Dayana terisak. Itulah kali terakhir mereka bertemu.


Selang sehari, Tomi memberi kesempatan pada Wanda untuk mengambil hatinya dari Dayana. Dengan gigih dan penuh keyakinan, sedikitpun Wanda tidak menyerah.


Sikap acuh Tomi masih bertahan untuk beberapa waktu, sampai akhirnya kejadian kecil di dapur menguatkan perasaannya pada wanita dihadapannya sekarang.


"Kalo sakit gak usah kerja! "


Tomi membentak Wanda yang berkeringat dan tidak berkonsentrasi dengan kerjaannya.


"Mba Letty mana?"


Tanyanya, kali ini sambil merebut pisau di tangan Wanda yang digunakan untuk memotong buah.


"Toilet."


Jawab Wanda singkat, seraya tubuhnya ambruk ke pelukan Tomi.


"Wanda.. "


Teriakan bersamaan dari seluruh tim. Tomi mengangkat tubuh perempuan itu dan membawanya ke kamar. Lalu menunggu sampai tiba seorang dokter yang sedang berada di kapal yang sama memeriksa keadaan Wanda. Dan dinyatakan bila Wanda hanya kelelahan hingga memerlukan istirahat tambahan.


"Wanda lu kenapa? "


Tanya Mba Letty yang baru mengetahui kejadian di dapur tadi.


"Gapapa mba, aku oleng doang. Sebentar lagi aku balik ke pantry."


Jawab Wanda tersenyum.


"Lu gak denger kata dokter harus istirahat beberapa hari?"


Ucap Tomi penuh penekanan.


"Gue baik-baik aja, lagian kasian mba Letty gak ada yang bantu."


Protes Wanda.


"Gue yang bakal bantu Mba Letty, Tim Roast ada semua. Jadi gue bisa pindah tim."


Tomi memandang Wanda dengan tatapan yang tak ingin dibantah.


"Em, em, udah deh lu berdua gak usah ribut. Gue bisa join sama Chef Raka. Lu temenin Wanda deh, jangan dipegangin doang."


Goda Mba Letty, membuat keduanya tersadar sedari tadi Tomi menggenggam tangan Wanda karena kekhawatirannya.


"Sorry."


Ucap Tomi setelah Mba Letty menutup pintu.


"Gapapa cuma begini doang."


Jawab Wanda seraya mengangkat tangannya yang masih digenggam Tomi.


"Bukan itu, Sorry karena gue, lu kecapean. Mulai besok gak usah pagi-pagi ke kamar gue untuk membereskan kekacauan karena mulai hari ini semua udah beres. Thanks Wan."


Wanda terlihat tak mengerti ucapan Tomi.


"Iya-- Lu udah beresin semua kekacauan di hati gue, Wanda."


Tomi memperjelas maksudnya. Wanda menutup mulutnya dengan tangan masih tak percaya kalimat yang keluar dari mulut Tomi.


"Makasih pacar."


...***...


Ali menatap pigura kayu di kamarnya, kisahnya dengan Dave terpampang jelas disana.


"Sorry, gue belum bisa jelasin sama lu. Terlalu susah dihubungin. Lagi juga kalaupun gue jelasin, gak akan ada alasan Dave, walaupun terpaksa, gue gak munafik menikmati pilihan ini."


Gumamnya pada salah satu foto Dave.


"Al, Kimmy udah nunggu dibawah tuh."


Lena telah berada di hadapan Ali yang masih lekat menatap foto Dave.


"Hmm, kita semua udah sepakat kan untuk jagain Kimmy sama-sama? Mama rasa Dave juga gak akan keberatan setelah tau maminya manusia super tega."


Lena menenangkan anak semata wayangnya, seolah tau apa yang ada dipikirannya.


"Tapi ketika Kimmy tau kalau kita semua sembunyiin rahasia darinya. Ali rasa dia bakal ninggalin Ali dan kembali ke Dave ma."


Ucap Ali tersenyum.


"Kalau hatinya sudah untuk kamu, dia akan tetap untukmu Al. Tapi sebaik apapun kamu, tapi hatinya untuk oranglain , hari ini gak mungkin terjadi."


Lena merapikan kemeja Ali dan menggamit lengannya agar turun bersamanya.


Pesta pertunangan ini, dihadiri oleh sahabat dan saudara keduanya. Kimmy menatap Ali yang turun bersama mamanya dengan senyum sumringah. Acara pengikatan ini sengaja dilakukan dengan cepat mengingat kedatangan Dave tinggal qdua tahun lagi.


Dua kakak overprotektif tak akan membiarkan adiknya kesusahan sedikitpun menghadapi calon mertua seperti Anne. Sebelum Ali menolak perjodohan ini, ia mengetahui ada kandidat lain yang akan menjaga Kimmy dari Dave dan ibunya. Niatnya hanya menjaga Kimmy untuk Dave, namun siapa sangka justru ketulusannya membawa sesuatu yang lebih besar yaitu perasaan cinta Kimmy yang beralih padanya.


"Aku kira kamu tadi mau lari kaya di FTV. "


Bisik Kimmy saat Ali sudah ada di sebelahnya.


"Biasanya kan perempuan yang begitu."


Balas Ali.


"Iya makanya, aku kira bakal jadi perempuan pertama yang ditinggalin pas engagement. "


Kimmy terkekeh.


"Shh"


Tomi yang berada di samping Marcel mengulurkan tangannya di belakang pria itu dan mendorong kepala adiknya.


"Apa sih lu?"


Kimmy menggosok-gosok kepala belakangnya. Belum sempat Tomi menjawab mata Marcel mengancam keduanya. Sehingga dapat dihentikan sebelum keributan menjadi makin panjang.


Acara berlangsung khidmat, setelah bertukar cincin dan berfoto. Para tamu menyalami keduanya, kemudian berjalan menuju ruang tamu yang hari itu disulap menjadi area makan prasmanan.


"Selamat ya dua kali dapet bekas gue."


Jemima memberi ucapan sinis.


"Deh yang ngundang lu siapa? Sodara bukan. Temen deket jangan sampe. Atau laper belum makan? Ya udah sana lanjut."


Kimmy terkekeh.


"Lupa lu? Gue mantannya Ali. Kurang deket gimana coba? "


Jemima tak mau kalah.


"Yaelah hubungan lu sama dia cuma untuk kepentingan politik."


Kimmy tertawa.


"Lo pikir lo enggak? Hahaha.. "


Jawab Jemima, Kimmy terdiam tak mengerti maksud perkataannya. Ali segera menarik tangan Jemima menjauh dari Kimmy.


"Lu kira kalo Kimmy tau yang sebenarnya ada manfaatnya untuk lu?"


Tanya Ali sinis. Jemima menggigil ketakutan baginya Ali adalah pria yang mempunyai kuasa atas dirinya, setiap perkataan Ali mampu menyihir Jemima menjadi lemah.


"Lo itu lagi nabur paku di depan lu. Bukan cuma orang disekitar lu yang kena, lu juga Je. " Ali menarik napas. "Lu kira kalo Kimmy tau apa yang terjadi? Dia bakal balik sama Dave. Apalagi kalau dia tau Dave berkorban untuk Tomi, kakak kesayangannya. Haha, habis lu Je."


"Bukan gue doang kan? Lu juga"


Jemima memberanikan diri mengintimidasi Ali.


"Gue? gue orang yang paling siap ngembaliin Kimmy ke Dave. Dan lu gak akan pernah dapetin apapun. Gue ataupun Dave."


Ali kembali kepada Kimmy dan meninggalkan Je yang mematung.


Jangan lupa vote, komen, dan likenya ya readers. 💕