
Hari ini keberangkatannya kembali bersama Wanda. Sebelum ia pergi, Kimmy menghentikan langkahnya.
"Kenapa Dek?"
Tomi memeluk adik perempuannya yang kini menghadang langkahnya.
"Gak suka ih, gak like.."
Ucap Kimmy mengikuti gaya salah satu artis. Tomi mengernyitkan dahi kemudian tertawa melihat tingkah adik semata wayangnya ini.
"Gue gak pernah ya kak ikut campur masalah lu. Tapi pas mabuk kemarin, lu sebut Wanda dan Kak Dayana. Gue gak suka lu main-mainin perasaan orang. Lu harus pastiin perasaan lu! "
Minta Kimmy tegas. Tomi membulatkan matanya, jelas-jelas ia malu ditegur seperti itu.
"Lu percaya sama omongan orang mabuk?"
Tanyanya menutupi kegelisahan.
"Gue udah dari bayi sama lu, Kak."
Ucap Kimmy memaksa penjelasan.
Kimmy benar. Pikirnya. Ia harus memastikan perasaannya pada Wanda. Apakah ia benar-benar mencintai wanita itu atau karena Wanda persis seperti adik kesayangannya ini, maka ia secara tidak sadar memupuk tanggungjawab menjaganya seperti menjaga Kimmy.
"Gue berangkat dulu."
Tomi berpamitan sembari mencium kening Kimmy.
"Jangan lupa pesan gue! "
Teriak Kimmy melambaikan tangannya.
Tiba Tomi dan Wanda bertemu kembali, keduanya saling melempar senyum. Mereka terlihat lebih canggung kali ini. Terngiang-ngiang perkataan Kimmy untuk menguji perasaannya namun dengan cara apa entah belum terpikirkan. Namun apa yang membuat Wanda bertingkah sama, mungkinkah ia mengetahui apa yang menjadi buah pikir Tomi sekarang.
"Kamu kenapa?"
Tanya Tomi membuka obrolan.
"Gapapa."
Jawab Wanda gemetar kemudian segera masuk ke dalam kamarnya.
Tomi yang mencurigai sikap Wanda segera mengikutinya. Ia menahan pintu kamar yang hendak ditutup Wanda dan memaksa masuk.
"Gimana kemarin liburnya?"
Tanya Tomi.
"Sama aja, gak ada yang spesial."
Wanda mengeluarkan isi tasnya untuk di tata kembali.
"Terus kenapa sedih?"
Tanya Tomi menarik tangan Wanda agar duduk dengannya.
"Bulan depan aku lamaran."
Jawab Wanda.
Tomi tersenyum-senyum sendiri salah mengartikan.
"Kamu kenapa?"
Tanya Wanda kali ini.
"Jadi kamu mau aku lamar?"
Tomi meledek Wanda.
"Serius Tom, kakek jodohin aku sama cucu temennya."
Seakan dunia berputar di kepalanya, Tomi tak mengerti apakah ini jawaban atas pertanyaan Kimmy tadi pagi? Tetapi mengapa begitu cepat?
LAGI?
Batin Tomi.
Ia kini bangkit dari duduknya dan dengan tatapan nanar menatap Wanda yang menunduk.
"Ok. Semoga kamu bahagia."
Ucap Tomi seraya keluar dan menutup pintu.
"Cuma kaya gitu? Kamu gak usaha pertahanin hubungan kita?."
Teriak Wanda dari dalam kamarnya kemudian menangis. Tomi mendengar namun tak menggubris perkataan Wanda. Ia memilih mengurus pekerjaannya.
Gak perlu pengujian, bahkan keluargamu sudah menemukan jawabannya untukku. Batin Tomi.
...***...
Setelah kejadian di klub, bukan hanya Dave yang tak fokus dalam latihannya, Kimmy dan Ali pun merasakan hal yang sama.
Ali memikirkan mengenai apa yang disembunyikan Kimmy dari dirinya. Sedangkan Kimmy semakin penasaran apa yang membuat Dave meminta pertemuan itu menjadi rahasia.
Kimmy menunggu kehadiran Ali menjemputnya hari ini sepulang kuliah di POS Bahagia. Sudah dua jam Ali tak juga datang, ia mencoba melihat ke arah tembok yang ditempeli foto-foto mereka bersama Dave dulu. Sudah lama ia enggan melirik kearah itu, rasanya sakit mengingat dan merindukan Dave. Namun hari ini tak ada rasa apapun, tak ada sakit atau rindu. Hanya memikirkan kemungkinan Dave merahasiakan pertemuan mereka malam itu.
"Kamu masih mikirin Dave?"
"Kapan kamu sampai? "
Kimmy panik.
"Lima belas menit lalu pas kamu gak bergerak mandangin foto itu."
Ali menunjukkan kecemburuannya. Namun apalah cemburu untuknya, baginya Dave masih berhak mengambil Kimmy darinya.
Ali tak menunggu Kimmy menjawab. Ia menarik tangan Kimmy untuk segera naik ke atas motornya. Rasa sakit yang tak bisa ia luapkan.
"Al, acaranya dimana?"
Tanya Kimmy memulai obrolan di perjalanan.
Malam ini Ali sengaja memintanya menunggu untuk membawa kekasihnya tersebut ke pesta ulang tahun sahabatnya sedari SMA. Namun mood nya berubah buruk ketika mendapati Kimmy menatap lama foto kemesraan dirinya dan Dave dulu.
Ali hanya terdiam tak menjawab. Ia mengarahkan sepeda motornya menyusuri jalan yang membawa mereka ke kediaman Kimmy.
Sesampainya di depan rumah, perempuan itu belum mengerti jika Ali sedang tidak baik.
"Kok pulang? Oh ganti baju dulu ya? "
Tanya Kimmy polos. Ali tetap diam.
"Kamu kenapa? "
Tanya Kimmy mulai kesal tak dipedulikan.
"Kenapa rumah gelap? "
Ali balik bertanya.
"Oh Kak Marcel sekeluarga lagi gathering kantor di puncak. Besok pulang."
Jawab Kimmy yang kembali ceria karena Ali akhirnya berbicara.
Keduanya masuk ke dalam rumah. Kimmy segera mengganti pakaiannya dengan sack dress berwarna merah.
Ia menarik tangan Ali untuk segera menghadiri pesta ulang tahun yang sudah sebulan belakangan ini Ali rencanakan agar Kimmy mengosongkan waktu.
"Cancel aja. Aku udah kirim pesan."
Ucap Ali menepis tangan Kimmy.
"Kenapa? "
Tanya Kimmy heran.
"Gak apa-apa. Aku capek."
Jawab Ali.
"Semenjak jemput aku di Pos Bahagia kamu aneh gitu. Tadi kita teleponan kamu masih baik-baik aja."
Kimmy menahan emosinya.
"Kalo kamu masih sayang sama Dave, kita batalin pertunangan kita Kim. Nanti aku yang cari alasan supaya kamu gak disalahin."
Jawab Ali.
"Terus aja kamu raguin perasaanku Al. Sampai kapanpun kamu akan tetap begitu."
Kimmy berlari ke dalam kamar dan membanting pintu dengan kencang. Ia lelah dengan sikap Ali yang selalu tak percaya terhadap perasaannya.
Ali mengetuk pintu kamar Kimmy namun tak ada sahutan. Perempuan itu menangis menutup wajahnya dengan selimut. Membuat Ali harus masuk tanpa izin darinya.
"Kim, udahlah. Kita selesaikan dengan kepala dingin. Aku gak bisa buat kamu bohongin perasaanmu sendiri. Kamu masih cinta sama Dave."
"Aku bakal bilang ke keluarga kita kalau aku yang mutusin hubungan ini. Kamu jangan takut."
Ali membujuk Kimmy yang perlahan menyudahi isak tangisnya. Kali ini ia benar-benar marah dan kecewa dengan perkataan Ali.
Kimmy keluar dari selimutnya dan berdiri di hadapan Ali kemudian dengan berani membuka dressnya dan menyisakan pakaian dalamnya.
"Kalau kamu masih gak percaya aku, sekarang juga tubuhku bisa kuberi sebagai jaminan Al."
Teriak Kimmy sambil menangis.
Ali menelan ludah, sungguh terkejut dengan sikap Kimmy yang tak terduga ini. Dengan cepat ia membalut tubuh Kimmy dengan selimut dan memeluknya.
"Malam itu Dave yang tolongin aku dan Kak Tomi. Tapi dia minta untuk merahasiakan pertemuan itu. Apa aku salah, aku cuma berpikir apa yang mengancam Dave sampai orang seberani dia harus sembunyi-sembunyi? "
Tanya Kimmy makin terisak dipelukan Ali.
"Maafin aku. Kamu jangan lakuin hal nekat kaya gini lagi. Pakai bajumu, aku tunggu diluar."
Dengan wajah memerah Ali melepaskan pelukannya.
***Maaf ya Readers Mr. Snowman, baru hadir lagi setelah melewati banyak hal yang bikin riweuh.
Semoga sehat selalu.
Oia mohon maaf lahir dan batin bagi yang merayakan 💕
Jangan lupa Like, Comment dan Votenya yah 💕***