Mr.Snowman

Mr.Snowman
Takdir Calon Pengantin



Kimmy keluar dari mobil, ia mencari keberadaan Dave. Namun sebelumnya ia berjalan ke arah pintu supir yang terbuka. Kimmy terkejut bukan main saat melihat bagian pintu tersebut telah melesak ke dalam. Tak hanya itu, sebagian badan mobil rusak.


Kimmy mendatangi kerumunan yang membantu mengevakuasi korban dari dalam mobil-mobil yang turut mengalami kecelakaan beruntun ini.


"Dave.. Dave... Norman.. "


Kimmy berteriak, berharap ada sahutan dari salah satu korban luka yang berbaring di tepi jalan tersebut. Namun nihil.


Ia memperhatikan satu persatu dari dekat namun kekasihnya tak juga ditemukan.


"Mana korban lain?"


Tanya Kimmy pada salah satu warga yang menangani evakuasi.


"Korban luka disini aja mba. Yang meninggal disana. Ditutup kain."


Jawab pemuda tersebut.


Kimmy berjalan lemah. Dave tidak ada di bagian korban luka-luka. Sambil menangis, ia mendekati dua jenazah yang disejajarkan.


Kimmy bertekuk lutut dan bersiap membuka kain putih tersebut dengan hati yang hancur.


"Kimberly.. "


Tiba-tiba teriakan seseorang dari belakang membuatnya berhenti membuka kain penutup tersebut.


Kimmy mencoba berdiri dan berlari sekuat tenaga mendekati asal suara.


"Kamu darimana? Aku tinggal sebentar udah hilang."


Tanya Dave cemas.


"Kamu, kamu yang darimana? Aku takut. Jangan tinggalin aku Dave."


Kimmy menangis dipelukan pria berbadan tegap tersebut.


"Aku habis diminta keterangan sama polisi tentang kecelakaan ini."


Jawab Dave masih tak mengerti apa yang terjadi dengan kekasihnya.


"Maafin aku ya Dave. Sikap aku belakangan ini gak enakkin buat kamu. Maaf.. "


Kimmy terus menangis.


"Kamu kenapa sayang? Justru aku yang mau minta maaf sama kamu. Gak dengerin omongan kamu untuk gak bawa mobil."


Dave menciumi kening Kimmy berulang kali.


Dave membawa Kimmy ke dalam mobil kembali. Menunggu kedatangan taksi yang sudah ia pesan. Untuk selanjutnya membawa mereka ke terminal terdekat dan melanjutkan perjalanan menggunakan bus travel.


Kimmy menenggak setengah botol air mineral yang Dave berikan sambil mendengarkan kejadian kecelakaan tersebut terjadi.


"Jadi tadi dari belakang aku, mobil putih itu melaju kencang sekali dan melewati batas, kebetulan dari arah berlawanan juga ada mobil yang sama kencangnya. Pas mobil ini nyalip mobil kita, mereka tabrakan. Dan itu nyenggol badan mobil kita sebelah kanan. Aku tetap gas kemudian banting setir setelah aman. Karena dibelakang banyak mobil dan terakhir mobil muatan berat itu (Dave menunjuk mobil pengangkut tanah yang terbalik). "


Jelas Dave.


"Terus dua orang yang meninggal itu? mereka yang nyalip? "


Tanya Kimmy.


"Bukan. Yang meninggal penumpang mobil yang terjepit badan mobil muatan berat itu. Kasian padahal mau ketemu keluarganya . Mereka juga mau nikah kaya kita."


Dave melemah.


"Kamu tau darimana mereka mau nikah?"


Tanya Kimmy susah payah menelan air minum.


"Itu di badan mobilnya ada stiker 'get married soon' terus ada gaun pengantin di dalam mobil. Aku langsung inget kamu."


Dave memeluk Kimmy dan menciumi keningnya bertubi-tubi.


Kejadian ini membuat keduanya saling mengkoreksi kesalahan masing-masing. Juga mengajarkan Kimmy dan Dave saling menjaga satu sama lain.


Namun kesedihan keduanya terhenti saat seseorang mengetuk kaca mobil Dave.


"Dereknya udah dateng. Taksinya juga. Ayo lanjut ke tujuan kita."


Ucap Dave.


"Ayo."


Kimmy bersemangat kali ini mengingat pernikahannya yang di depan mata. Walaupun perasaannya masih mengharu biru akibat kecelakaan ini dan juga kisah sepasang sejoli yang ditakdirkan sampai disini.


Kimmy menarik tangan Dave. Perasaan Dave jauh lebih terpukul ketimbang Kimmy. Ia melihat jelas kedua jenazah pasangan tersebut saat di evakuasi, ingatannya masih berandai jika dirinya dan Kimmy yang terpilih untuk berakhir bukan kedua orang itu.


Diperjalanan Kimmy menyandarkan kepalanya di dada Dave, sekali kali ia menoleh dan tersenyum kearah laki-laki itu. Berharap Dave tak melamun terus menerus. Namun Dave hanya membalas dengan mencium puncak kepala Kimmy.


Tiga jam perjalanan sampailah Kimmy dan Dave di kediaman keluarga Douglas. Mereka disambut hangat oleh keluarga itu. Si kecil Miracle menarik koper milik Kimmy ke dalam kamar dengan susah payah.


"Auntie Kimmy tidur disini ya."


Kimmy berlari mencapai tempat gadis kecil itu berdiri.


"Woooww kamar auntie balik lagi. Terus Miracle tidur dimana? "


Tanya Kimmy.


Tak butuh menjawab, Miracle meletakkan koper Kimmy begitu saja dan menarik tangan Kimmy untuk mengikutinya.


"Disini.."


Teriak Miracle antusias.


Kamar yang dulu tak terpakai dan dijadikan gudang, kini di sulap menjadi kamar tidur gadis penyuka moana tersebut. Kimmy masuk dan merebahkan diri di sebelah Miracle yang sudah terlebih dahulu tengkurap. Perjalanan tadi cukup melelahkan, kasur adalah tempat yang paling tepat mengurai rasa pegal di sekujur badan Kimmy.


"Aunt Kim tau kenapa Moana?"


Tanya Miracle.


"Karena rambutnya kriwil kaya kamu. Hehe"


Jawab Kimmy menebak.


"Salah. Karena Ekel dan Moana sama-sama punya Tui."


Miracle membenarkan jawaban Kimmy.


"Hahaha, maksudnya Papi mu seperti Tui ayahnya Moana?"


Tanya Kimmy geli.


"Yes. Tui sayang Moana, Papi sayang Ekel. Tapi dua-duanya menyebalkan auntie."


Ucap Miracle yang mulai kritis.


Kimmy membetulkan posisinya menghadap Miracle. Kali ini sangat antusias dengan cerita keponakannya.


"Kok gitu?"


Tanya Kimmy yang tak mendengar lanjutan cerita Miracle.


"Mommy bilang Papi sayang auntie Kim tapi sangat sayang. Sampai auntie gak bisa bergerak bebas."


Jawab Miracle.


"Kapan Mommy bicara kaya gitu?"


Kimmy makin penasaran.


"Setiap Papi mau larang auntie. Mommy selalu marah, Ekel pura-pura tidur Auntie. Ekel gak mau jadi kaya Auntie. Ekel mau menerjang lautan seperti Moana."


Miracle berdiri diatas ranjang dan merentangkan tangannya seolah ia sedang mengarungi lautan luas.


"Hahaha, oke oke. Auntie ngerti. Tapi Papi Marcel mu adalah yang terbaik di seluruh dunia. Dari masih sekolah, bukan hanya lautan, tapi seluruh dunia ada di pundaknya. Papimu kerja keras untuk membesarkan Auntie Kim dan Uncle Tom."


Kimmy lanjut menceritakan bagaimana anak semuda Marcel menjadi kakak yang penuh tanggung jawab. Menjadi tulang punggung keluarga di usia remajanya.


Miracle merebahkan tubuhnya lagi di samping Kimmy, ia sangat senang mendengarkan cerita tentang ayahnya yang dianggap sebagai otoriter.


Beberapa kali Miracle berceloteh "Wooww Papi hebat". Sampai Kimmy tertidur meninggalkan Miracle yang masih mengagumi ayahnya dari cerita-ceritanya.


Miracle berlari keluar dan memeluk Marcel sambil menciuminya.


" Loh auntie mu mana?"


Tanya Marcel .


"Tidur. Auntie Kim cerita dongeng, tapi auntie Kim sendiri yang tidur Pi."


Jawab Miracle sambil tertawa pelan.


"Pi, Ekel sayang papi. Papi jangan kerja capek-capek ya."


Miracle menciumi wajah tampan Marcel.


Semua yang berada di ruang tamu tertawa mendengar celotehan anak berusia 5 tahun tersebut.


Dave berpamitan dengan keluarga Kimmy. Ia hendak pulang menemui kedua orangtuanya. Sekaligus menyiapkan stamina untuk hari Sabtu ini. Meminang Kimmy menjadi istrinya.


"Jadi besok, lu bakal ngasih tau tentang Omen ke dia?"


Tanya Tomi sambil menyerahkan kunci motor miliknya agar dibawa Dave.


"Iya bang. Doain aja dia gak ngambek ngerasa dibohongin, karena tinggal seminggu lagi."


Ucap Dave.


Tomi menepuk bahu Dave. Mempercayakan segala sesuatu padanya. Ia percaya sejauh ini Dave dapat menangani adiknya.