Mr.Snowman

Mr.Snowman
Helm putih



Mereka berboncengan pergi ke sasana. Ditengah perjalanan, Dave memberhentikan motornya di sebuah toko yang menjual berbagai jenis helm.


"Pilih satu! Gue gak mau kena tilang gara-gara lu."


Ucap Dave pada Kimmy.


Dari sekian banyak motif helm yang tersedia untuk perempuan remaja seperti Kimmy, Ia memilih helm polos berwarna putih.


"Itu banyak yang lucu. Pilih aja yang lu suka."


Minta Dave.


Kimmy menggeleng tak mau menukar pilihannya, Dave pun tak mau memaksa. Ia mengambil helm dari tangan Kimmy dan membayarnya.


Di perjalanan, Kimmy terus mengelus helm pemberian Dave dengan wajah sumringah.


"Dipake, bukan diliatin."


Ketus Dave yang memperhatikan Kimmy dari spion motornya.


Kimmy memakainya dan tetap mengelus helm yang kini berada di atas kepalanya tersebut.


Sampailah mereka ke tempat yang dituju. Kimmy duduk memilih kursi di sudut sambil membawa masuk helm barunya.


Dave memukuli samsak dengan tenaganya yang besar. Seperti melihat seseorang yang ia benci dihadapannya.


"Kenapa helmnya terus lu elus, hah?"


Tanya Dave yang terganggu fokusnya.


"Ini kan dari lu. Bakal gue jaga."


Jawab Kimmy sambil memeluk helmnya.


"Itu cuma helm, Freak!"


Tukas Dave kesal melihat tingkah Kimmy yang aneh.


"Nah tu tau.. Helm aja gue jaga, apalagi hati lu."


Ucap Kimmy dengan gombalannya.


Dave merasakan perasaan yang aneh di dadanya, ada senang, sebal, gundah bersatu menjadi satu.


Ia mendatangi Kimmy kesal terus dipermainkan oleh perkataan perempuan tersebut.


"Lu beneran bisa jaga hati gue?"


Tanya Dave sambil mengangkat dagu Kimmy dengan telunjuknya.


Kali ini getaran dada Kimmy yang tak beraturan, ia ingin merasakan pingsan kali ini saja. Tapi tak bisa, dirinya sadar sepenuhnya. Ia diam, tak dapat mengeluarkan sepatah katapun, terkejut dengan reaksi Dave.


"Kalo gak bisa, jangan suka ngomong sembarangan."


Ucap Dave sambil melepaskan Kimmy dan berbalik badan kembali kepada samsaknya .


"Bisa kok."


Teriak Kimmy yang masih mengatur degupan jantungnya.


Dave tersenyum kecil, malas melanjutkan. Seorang Jemima yang kuat saja bisa melemah ketika mengetahui masa lalunya, apalagi seorang gadis manja yang jalan sedikit saja mengeluh, bisa-bisa mendadak meninggal mengetahui masa kelamnya. Pikir Dave mengecilkan Kimmy.


Makin keras ia memukul benda merah itu, ketika pikirannya kembali pada Jemima.


Kimmy tak memperhatikan tingkah Dave yang berlebihan itu, ia sudah mulai sibuk membuka laptop miliknya dan mengerjakan sesuatu disana.


Bahkan ketika Dave keluar meninggalkannya untuk membeli makanan ringan dan air mineral, Kimmy tak menyadarinya.


"Lu ngerjain apa?"


Tanya Dave yang datang dari luar mendekatinya, sambil memberikan sepotong roti dan cemilan.


Kimmy segera menutup laptopnya, tak mau sampai Dave melihatnya.


"Ada deh, nanti juga tau."


Jawab Kimmy pada laki-laki yang kini sudah duduk di sampingnya.


Mereka mengisi perut sambil memperhatikan seisi ruangan yang kosong ini, sampai ketika Kimmy tak tahan hanya mendengar suara kunyahannya keduanya, ia mulai bertanya


"Suka olahraga tinju udah lama?"


"Hmm.. dari kecil."


Jawab Dave sambil mengingat pertama kali sang ayah mengajaknya menonton acara olahraga kegemarannya di televisi. Sudah lama sekali rasanya.


"Hihi, dulu waktu kecil, gue juga punya temen badannya genduuutt bangeeett, cita-citanya mau jadi petinju, tapi gak tau dia dimana sekarang."


Ucap Kimmy mengingat anak laki-laki tambun, kakak kelasnya di sekolah. Pembela Kimmy ketika mendapat perundungan di sekolah. Orang kepercayaan Marcel dan Tomi dalam menjaga adik mereka ketika keduanya tak bisa.


"Hahaha jangan ngeremehin orang gendut, dulu gue juga gendut. Sekarang karena banyak latihan aja jadi begini."


Timpal Dave sambil tertawa mengingat dirinya ketika waktu kecil.


"Jadi lu bakal jadi petinju profesional nih?"


Tanya Kimmy, menghentikan tawa Dave. Merubah raut wajahnya menjadi sekaku sebelumnya.


"Gak tau, bokap gue minta gue nerusin profesi kebanggaannya. Tahun depan terakhir kesempatan gue masuk akademi kepolisian. Tapi sampe saat ini, gue belum ada keinginan kesana."


Dave menunduk menceritakannya.


"Kan bisa jalan barengan, gak perlu milih salah satu. Kalo lu suka, ini bisa jadi hobi kan?"


Ucap Kimmy memberi motivasi.


"Masalahnya ini menyangkut masa depan gue, masa ditentuin kemauan bokap gue?"


Dave mengajukan protes atas pemikiran Kimmy.


"Kenapa enggak? Banyak loh orang yang gak seberuntung lu. Jangankan diperhatiin kaya lu, sekedar mau ngobrol aja gak bisa."


Ucap Kimmy membandingkan dirinya dengan Dave.


Dave terdiam mendengar perkataan Kimmy. Beruntung darimananya? Diperhatikan bagaimana? Bagi Dave itu hanyalah sebuah aturan untuk mendompleng popularitas sang ayah.


"Emang orangtua lu sesibuk itu?"


Tanya Dave yang tersadar ucapan Kimmy seperti membandingkan mereka berdua.


Kimmy terdiam, tiap mengingat kedua orangtuanya ia selalu ingin menangis. Ia rindu belaian hangat dari sosok ayah, ia rindu pelukan ibu, Ia tak tahu rasanya di gendong ayah, disuapi ibu, semuanya belum sempat ia ingat, terlalu kecil bagi Kimmy untuk mengingatnya sebelum kepergian mereka untuk selama-lamanya.


Kimmy berdiri, tak mau menangis disini, tepatnya dihadapan Dave. Ia tak mau dikasihani, ceritanya bukan cara meminta perhatian dan kasih sayang dari orang lain.


"Udah kelar kan? Yuk balik."


Kimmy mengajak Dave pulang. Dave menyetujui dengan sejuta pertanyaan di kepalanya.


Kimmy sudah tak seceria tadi semenjak pertanyaan terakhir dilontarkan Dave. Ia diam saja diatas motor, tak tersenyum seperti awal keberangkatan. Dave terus memperhatikan dari spionnya. Ia tak mengerti kalimat mana yang salah ia ucapkan.


"Stooppppp..minggir minggir."


Kimmy berteriak membuat Dave mengerem motornya mendadak.


"Ada apa?"


Tanya Dave panik.


Kimmy tak menjawab dan langsung berlari ke dalam ruko sebuah percetakan. Ia mencetak desain stiker yang sejak tadi ia buat saat menunggui Dave berlatih.


Hanya sepuluh menit, ia keluar dengan raut wajah yang berbeda ketika ia masuk tadi. Kali ini ia tersenyum-senyum kegirangan. Berjalan menghampiri Dave yang masih menunggunya di atas motor.


Kimmy tak langsung naik, ia menyempatkan menempel stiker yang sudah ia cetak tadi di bagian belakang helm putih pilihannya.


Dave yang penasaran, akhirnya ikut tersenyum melihat Kimmy menempelkan stiker bergambar manusia salju dan matahari. Dibawahnya bertuliskan Mr.Snowman and Ms.Sunshine.


"Maksudnya apa?"


Tanya Dave yang masih sedikit tak mengerti arti tulisannya.


"Mr. Snowman ya lu sendiri, cahaya mataharinya gue. Jadi gue yang bisa luluhin lu nantinya. Kaya matahari ini."


Ucap Kimmy menjelaskan maksud tulisannya.


"Hahaha ratu gombal."


Dave tertawa terbahak mendengar ucapan Kimmy, namun dibalik itu ada keresahan yang teramat.


Ia mulai nyaman dengan perempuan ini, namun ia masih sangat mencintai Jemima. Lagi juga, ia tak mau ditinggal kedua kali hanya karena masa lalu. Lebih baik menunggu Je kembali, karena ketika kembali pasti ia sudah menerima Dave apa adanya. Begitu pikir Dave. Hanya ada perempuan itu di kepalanya.