Mr.Snowman

Mr.Snowman
Keluarga baru untuk Dave



"Gimana keadaan lu sekarang?"


Tanya Dave mengawali percakapan.


"Udah mendingan, cuma tinggal lemes sedikit. Lu harusnya gak usah repot-repot kesini sebentar lagi juga gue pulang."


Jawab Kimmy yang ingin cepat-cepat Dave pergi.


"Kenapa? Gak suka?"


Tanya Dave.


"Bukan gitu, tapi....Eh sebentar ada email."


Jawab Kimmy terputus.


Dering notifikasi ponsel, membuat Kimmy menghentikan niatnya menjelaskan keberadaan Tomi pada Dave. Ia merubah posisinya dari berbaring menjadi duduk, kemudian dengan serius membaca pesan email yang masuk.


"Terimakasih Tuhan. Aku senaaaaangggg..."


Teriak Kimmy sambil memeluk Dave secara tak sadar. Dave kebingungan menerima pelukan dari Kimmy, ia tak tahu harus bersikap bagaimana.


"Snowman, gue lulus seleksi beasiswa."


Ucap Kimmy sambil melepaskan pelukan, kemudian kembali memeluk Dave lagi dengan segera.


"K**IMBERLY!!!"


Bentak Marcel dan Tomi bersamaan yang melihat adiknya berpelukan. Kemudian mereka memisahkan keduanya secara cepat dan serempak, Marcel menarik tubuh Kimmy sedang Tomi menarik tubuh Dave.


Mereka kembali lebih cepat, karena Dokter mengatakan bahwa Kimmy sudah dapat dipulangkan. Maka mereka bergegas kembali ke ruangan Kimmy untuk mengajaknya pulang. Namun kali ini tidak bertiga, tetapi berempat. Dave diajak ikut ke rumah mereka untuk menjalani persidangan oleh Marcel dan Tomi.


Sepanjang perjalanan pulang, Kimmy tak diajak bicara oleh kedua Kakaknya.


Namun, ketika tiba dirumah, mereka mulai melontarkan berbagai macam pertanyaan yang tak biasa.


"Snowman gak salah kak. Aku yang meluk dia karena seneng liat email ini."


Terang Kimmy sambil menunjukkan bukti di ponselnya.


"Snowman? oh ini orang yang buat kamu nangis, karena kamu suka dia, tapi dia suka sama orang lain?"


Tanya Marcel tanpa basa basi.


"Ih Kak Marcel aku malu."


Ucap Kimmy tersipu sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Sejak kapan lu tau malu?"


Tanya Dave spontan.


"Iya, sejak kapan lu tau malu, Dek? biasanya juga malu-maluin."


Tomi ikut menimpali.


"Eh Eh eh..kompak."


Ucap Kimmy meledek keduanya.


Tomi dan Dave saling melirik sinis.


"Kamu udah dapet beasiswa yang kamu pengen. Sekarang waktunya fokus belajar. Gak ada pacar-pacaran."


Titah Marcel tegas tak dapat dilanggar.


"Iya aku gak pacaran, langsung nikah aja."


Timpal Kimmy terus ngeyel. Ia ingin segera kedua kakaknya menikah tak memikirkan dirinya. Dan hanya itu caranya, yaitu menikah duluan.


Tandas Tomi ketus.


"Sama dia."


Kimmy menunjuk kearah Dave. Ketiganya terkejut. Apalagi Dave, ia bukan hanya terkejut dengan pengakuan Kimmy, tapi juga penuturan Tomi yang mengatakan Kimmy tidak bisa apa-apa. Belum lagi obrolan ketiganya, seperti tidak ada sekat dan rahasia diantara tiga bersaudara ini.


"Gak bisa. Jodoh lu cuma si omen gendut. Betulkan Cel? Kita bakal tagih janji dia."


protes Tomi disusul anggukan Marcel.


Dave tercengang mendengar nama yang disebutkan oleh Tomi. Omen adalah panggilannya dari seorang teman kecil yang lebih senior namun sama nakalnya dengan dirinya. Namun Dave tak berkata apapun, ia merasa itu hanyalah sebuah kebetulan.


"Hahaha bercanda, Kak. Aku cuma temen sama Snowman. Kan aku udah bilang, dia suka oranglain. Aku pasrah kalian mau jodohin aku sama si gendut. gak apa-apa."


Ucap Kimmy tersenyum pahit. Tidak dengan Dave, ia merasa kecewa mendengar penuturan Kimmy. Disaat ia hendak membuka perasaannya untuk gadis itu, Kimmy malah menganggap dirinya hanya teman. Dave menyadari jika sudah terlalu banyak rasa sakit yang ia timbulkan di hati Kimmy, wajarlah menurutnya jika Kimmy menyerah.


Keempatnya mengakhiri diskusi dengan damai. Marcel dan Tomi mengizinkan Dave untuk berteman dengan Kimmy. Mereka memiliki jaminan yang sangat bisa dipegang, yaitu ucapan Kimmy. Sejak dulu adik perempuannya itu hampir tak pernah berbohong. Jadi jika ia bilang hanya sebatas teman, maka seterusnya akan menjadi teman. Dan jika ia bilang suka, maka seterusnya Kimmy berusaha mengejar. Kimmy sangat konsisten dengan perkatannya. Dibelakang sang adik, Marcel dan Tomi sering berceloteh, jika ucapan Kimmy bisa digadai, mungkin akan sangat mahal harganya. Lalu mereka akan tertawa sekaligus bangga dengan kejujuran adik bungsunya.


"Dek, besok gue balik malam, gue ada janji sama Dosen pembimbing. Maaf banget gak bisa nemenin lu di rumah."


Ucap Tomi.


"Kak Marcel?"


Tanya Kimmy mengenai ketersediaan waktu kakaknya yang paling sibuk.


"Sorry banget Dek, Kak Marcel udah taken kontrak sama perusahaan lain untuk seminggu ke depan, Jadi pasti pulang malem."


Jawab Marcel tak enak hati pada adiknya.


"Oh ya udah gak apa. Besok aku sendiri."


Ucap Kimmy menengahi kedua kakaknya yang sedang saling memberi tatapan mengancam.


"Besok gue aja bang yang jaga Kim. Pulang kuliah gue kesini."


Dave yang sejak tadi hanya mendengar, akhirnya menawarkan bantuan.


"Nah iya betul. Sekarang gue ajarin ya cara ngurusinnya. Jam dua lu pulang kuliah langsung suapin, biasanya dia gak makan tuh kalo gak disuapin. Terus jam lima kasih buah, ada di kulkas. Perhatiin juga, dia biasanya ngumpetin permen dibawah bantal, buang aja soalnya gigi dia lubangnya udah banyak. Malah kalo lu sempet, anterin dia periksa gigi, udah lewat enam bulan belum sempet gue anter. ..blablabla "


Masih banyak lagi tata cara merawat Kimmy yang diajarkan Tomi pada Dave.


Dave pusing memikirkan cara Marcel dan Tomi merawat Kimmy yang tak beda dari cara merawat bayi. Namun tetap ia hapalkan, agar tak ada kesalahan.


"Kalo tiga hari ini lu bener urusin adek gue, gue lupain masalah kemarin."


Tantang Tomi yang sebenarnya masih menyimpan kekesalan pada Dave.


Kimmy hanya tersenyum melihat Dave kebingungan, ia merasa bahagia dapat membentuk keluarga baru untuk Dave ditengah kesendiriannya. Ya, pada detik itu, ketika Kimmy mengetahui Dave sangat mencintai Jemima, Ia mulai mengangap Dave sama dengan kedua kakaknya.


"Udah kemaleman, lu nginep aja disini. Tidur sama Tomi."


Ucap Marcel pada Dave.


"Hah?"


Tomi hendak namun dihentikan tangan Kimmy yang menutup mulutnya.


"Ia besok kuliah bawa buku gue aja. Terus pakaian punya Kak Tomi banyak. Soalnya dia pemburu diskonan belanja online."


Tutur Kimmy sambil tertawa melihat wajah Tomi yang masam.


Dave menuruti perkataan Marcel. Sekali-kali ia ingin merasakan kehidupan lain diluar tempat tinggalnya yang besar namun selalu sepi.


Tomi mengetuk-ngetuk pintu kamar Marcel, ingin tidur dengan Kakaknya yang tak pernah berhenti bersabda jika bersamanya. Tapi kali ini tak apa ia rela memasang kedua telinganya dengan baik, ketimbang tidur dengan musuhnya tempo hari.


Namun tak dibukakan. Marcel sengaja memberi pelajaran pada Tomi agar belajar mengurangi emosinya. Sedang Tomi tak pernah habis pikir, bisa-bisanya Marcel berlaku baik pada orang yang telah mendorong adik mereka. Andai Tomi tau, Marcel juga pernah melakukan hal buruk tersebut pada Gea. Mungkin Marcel akan menerima bogem mentah dari Tomi seperti yang Dave terima.